akhir yang sama

3509 Words
Selain aku mundur dari peran dram ayang seharusnya ku mainkan, ternyata aku juga mundur dari acara SAMBA. Tak lain dan tak bukan alasanku adalah penyakit asma yang ku miliki.  Aku tidak bisa banyak beraktivitas karena aku mudah kelelahan dan punya asma semenjak SMP. Maka dari itu, dengan berat hati, aku harus membuat surat izin bahwa aku tidak mengikuti acara pada kakak panitia. Karena ini akhir semester dan sudah tidak ada mata kuliah selain acara-acara perlombaan yang di adakan oleh pihak fakultas, maka kebanyakan kegiatanku di kampus hanya melihat teman-temanku latihan drama yang ektika k*****a naskahnya, eung—menurutku itu sangat menye-menye. Bukan karena aku tidak mau atau cemburu karena Alfi dan Viga harus terlibat adegan-adegan bermesraan tapi skenarionya memang sinetron sekali. Seperti adegan benda jatuh lalu Alfi dan Viga mengambilnya bersamaan dengan tangan saling bersetuhan dan tatap-tatapan beberapa detik, adegan mengelus kepala, adegan melemparkan gombalan maut, memanggil sayang, dan lain sebagainya. Hari pertama ketika latihan, aku menghampiri Alfi yang duduk dengan Riko dengan pandangan malas. Aku mengambil duduk di sampingnya membuat ia mengalihkan perhatian dari Riko disana. “Kusut banget mukanya?” Ledekku karena ia memang terlihat tidak enak dipandang. Dia mendengus. “Kenapa, sih, kamu harus nolak dijadiin tokoh utama? Padahal aku udah seneng banget dipasangin sama kamu.” Aku terkekeh geli melihatnya. “Aku gak bisa akting.” “Males banget tahu, gak, dipasangin sama Viga.” Aku mengernyit mendengar itu. “Kenapa?” Karena setahuku, selama ini Viga adalah tipe teman yang baik dan menyenangkan. Tak ada yang salah dari kepribadiannya selain ia yang terlahir terlalu cantik. “Masa’ abis voting tokoh minggu lalu, sorenya dia langsung negchat aku nanyain kapan latian. Padahal, kan, dia sendiri tahu kalau yang bagian nulis naskah aja belum selesai.” Aku baru akan menimpali ketika ia ternyata mendahuluiku. “Terus abis itu dia ngechat tiap hari. Ada aja yang ditanyain.” “Masa, sih?” Tanyaku tak percaya. Ia mengangguk sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia membuka kode pass word ponslenya lalu mencari kontak Viga disana. Setelahnya, ia menunjukkan chat-chat disana padaku. Dan dahiku semakin mengernyit antara bingung dan tak percaya dengan cara berbicara Viga yang seperti perempuan... eung—genit? Lalu hal itu semakin jelas ketika aku tahu bahwa hari pertama latiha, Viga melakukan terlalu banyak skin ship dengan Alfi apa lagi Viga sesekali melirik Alfi malu-malu. Anjir, apa-apaan perempuan itu? Aku bersyukur karena Alfin bukan tipe laki-laki yang mudah tergoda padahal Viga hari itu memakai baju ketat menonjolkan bagian dadanya yang kupikir percuma saja dia berkerudung jika lekuk tubuhnya tetap bisa dipandang sedemikian rupa. Aku bisa melihat Alfi yang risih karena Viga berusaha menempelkan lekuk tubuhnya pada Alfi. Aku menahan tawa saja. Tapi jujur, ada sedikit rasa marah pada benakk u mengetahui Viga berusaha menggoda Alfi. Dia sudah tahu sejak lama jika aku dan Alfi sudah dekat dari jaman Kartini.  Lalu apa maksudnya bertindak seperti ini? Tapi demi menjaga hubungan baik dengan teman,  aku berusaha sekeras mungkin untuk tak berpikir negatif tentang Viga dan memahmai bahwa mungkin ini hanya sebatas hubungan panggung.  Viga hanya berusaha membangun kemistri untuk memaksimalkan perannya sebagai kekasih untuk Alfi seperti yang tertulis pada skenario. Tapi nyatanya sekuat apapun aku berusaha, yang ada dari hari ke hari Viga semakin menjadi-jadi. Perempuan itu tak sungkan menatap Alfi terang-terangan saat Alfin jalan bersamaku, atau Viga yang setiap hari meminta latihan drama padahal aku tahu itu hanya alibinya. Sampai suatu hari, aku yang baru keluar dai toilet dan akan mencuci tangan ternyata menemukan Viga di depan cermin sedang membenahi kerudungnya  Lalu tiba-tiba ia menoleh padaku. “Ann, sori, ya, tadi kayaknya gue berlebihan akting pegangan sama Alfi. Itu cuman akting, kok, lo gak usah masang wajah judes karena cemburu gitu.” Aku mengangkat alis tinggi-tinggi. Tak mengerti maksudnya mengatakan hal itu apdaku secara tiba-tiba sekali. Aku menatapnya sekilas lalu kembali berkutat dengan lipstick di jemariku. “Biasa aja, sih, gue.” Lalu tanpa berpamitan atau sekedar say good bye, aku langsung melenggang pergi dari sana. Tak mau jadi makin emosi karena melihat wajah menyebalkan perempuan itu.   **   Hari jumat telah tiba yang artinya siang nanti, para mahasiswa angkatanku akan berkumpul di lapangan kampus memulai SAMBA. Sebenarnya aku sedih, sih, karena tidak bisa ikut mereka bersenang-senang disana. Aku malah hanya bisa memandnagi mereka yang sekarag sibuk menata barisan dari balkon kosku. Silanya, Renata malah mengiming-imingiku dengan mengirimkan foto kegiatan mereka disana yang membuatku semakin iri. Sebelum mereka memulai acara, Alfi sudah mengirimiku pesan bahwa ia mungkin akan sangat sibuk dan bisa menghubungiku lagi besok atau nanti malam jika yang lain sudah tidur karena kakak panitia menyuruh mereka tidak bermain ponsel selama kegiatan. Aku iyakan saja dan ku beri ia semangat. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar ketika ku lihat acara semakin meriah dengan orang-orang yang mulai berjoget ria lewat musik yang dimainkan sangat keras. Hari senin ketika kami sudah mulai masuk kuliah lagi, aku langsung menemui Renata karena kau yakin perempuan itu membawa segudang topik selama SAMBA berlangsung untuk digosipkan. Kami berdua melangkah menuju toilet setelah turun dari sepeda motornya. Di depan cermin, ia mulai emnegluarkan lipstik untuk memoles bibirnya yang terlihat pucat sedangkan aku merapikan kemeja. “Gue makin item gak, sih?” Tanya Renata sembari menunjukkan kedua telapak tangannya di cermin dan aku melihat dari pantulan.    Aku meringis. “Iya, sih, dikit. Tangan lo, doang, tapi. Muka lo kagak.” Lalu ia menceritakan betapa menyebalkannya panas matahari saat siang kala SAMBA kemarin membuat Renata hampir pingsan karena kelelahan. Tapi katanya, itu worth it karena malamnya mereka bersenang-senang dan sangat menikmati acara. Ku lihat Renata menyeringai ekcil sebelum emmulai bercerita. Perempuan yang hari itu memakai kemeja garis-garis berwarna kuning dan putih itu menatapku dengan binar semnagat. “Lo tahu, gak, sih? Masa’ sepanjang SAMBA, si Viga nempelin Alfi mulu, anjir!” “Hah? Nempelin gimana?” “Waktu kita duduk buat nontonin kakak tingkat yang lagi di panggung, gue lihat si Viga sampe ngambil tempat Iqbal biar bisa duduk di sebelah Alfi. Belum lagi pas drama di panggung. Gila, Viga kelihatan banget genitnya, ew!” “Anying?!” Balasku tak percaya. Tapi harusnya aku tak terkejut karena bahkan malam kedua SAMBA saja, ketika aku bersiap untuk mematikan lampu kamar kos dan beranjak tidur, Viga tiba-tiba mengirimku pesan yang siinya membuat ternganga tak percaya. Viga mengirimi foto selfie dengan Alfi dan mereka berdua duduk berdekatan. Memang bukan foto intim, sih, tapi aku hanya bingung mengapa Viga tiba-tiba mengriimiku begitu. Apa ia ingin membuatku terbakar cemburu atau apa? Dan malam setelah aku menerima kiriman foto tersebut, aku langsung mengirimi Alfi foto yang sama tanpa caption apapun. Tak butuh waktu lama untukku menerima balasan dari laki-laki itu. Alfi Dierga : iya, tadi emang foto bareng Alfi Dierga : Viga bilangnya kamu yang nyuruh Aku memelototi ponselku tak percaya. Hah? Apa katanya? Aku yang menyuruh? Kapan? Buat apa? Lalu ku jelaskan pada Alfi bahwa aku sama sekali tak pernah menyuruh perempuan itu foto selfie mereka berdua apalagi menyuruhnya mengriimkannya padaku. Untuk apa, coba?  Kemudian dengan santainya, Alfin membalas pesanku dnegan kalimat seperti ini. Alfi Dierga : Kayaknya dia sengaja Alfi Dierga : Kayaknya lagi, dia suka sama aku Tapi setelah membaca itu, aku tak marah pada Alfi. Aku malah senang karena ia selalu berusaha jujur dan menyampaikan apa yang ia rasa padaku seperti chat tersebut. Aku bilang padanya bahwa aku sependapat dengannya. Tapi jujur saja, jauh dalam lubuk hatiku, ada rasa takut yang ku rasakan karena bagaimanapun aku kalah segala-galanya dari Viga. Dan karena itulah aku takut jika suatu saat Alfi berpaling dariku. Anna Jovanka : jadi gimana? Alfi Dierga : Gimana apanya? Anna Jovanka : ya respon kamu kalau disukain cewek cantik macem Viga Alfi Dierga : ya emang aku harus gmn? AnnAlfi Dierga : aku emang lagi suka sama cewek tapi bukan dia Oke, apakah aku pernah bilang bahwa selama berbulan-bulan kami menjalin hubungan tanpa satus, Alfi tak pernah sekalipun mengungkapkan perasaannya padaku? Iya. Kami berdua sama-sama belum pernah mengutarakannya. Kalau aku jelas tak mau memulai lebih dulu. Jadi membaca pesan seperti itu dari Alfi, tentu membuat pipiku merona dan aku tak bisa menahan senyum.   ** Hari-hari setelahnya, aku emmutuskan untuk tak memperdulikan keberadaan Viga karena kau tidak mau semakin emmebncinya. Alfi sudah banyak menceritakan padaku bahwa perempuan ittu masih sering mengiriminya pesan. Dan karena aku tak mau sampai bertengkar, maka ada baiknya aku sedikit menghindar dan meminimalisir pikiran negatifku. Malam ketika Alfi tidak menghubungiku sama seklai, tiba-tiba sekitar pukul sebelas hampir dini hari, ada notifikasi masuk di ponsel yang membuatku langsung meraih benda persegi panjang itu. Alfi Dierga : Ini Anna? Dahiku langsung mengernyit membaca itu. Apa maksudnya Alfi mengirimiku pesan tidak jelas. Eh, atau mungkin hanya sedang menggodaku? Anna Jovanka : Menurut kamu aja Alfi Dierga : Bener gak, ini Anna Jovanka? Alfi Dierga : Gue Johan, temennya Alfi Eh? Cepat-cepat ku balas pesan itu karena bingung mengapa ponsel Alfin ada di tangan orang lain. Anna Jovanka : Iya, saya Anna, temennya Alfi Anna Jovanka : Ada apa ya, mas? Alfi Dierga : Jangan bilang Alfi kalau gue lagi bajak hapenya Alfi Dierga : Gue mau cerita sesuatu ke elo Anna Jovanka : Oh, okay. Silahkan. Alfi Dierga : Lo bener cewek yang ke Bromo bulan kemaren sama dia, kan? Anna Jovanka yang fotonya dibikin wallpaper di hape Alfi? Alfi Dierga : Gue tadi mau ngechat elo tapi bingung banget cari namanya di ponsel dia, ternyata kontak lo gak dinamain, cuman dikasih emot love doang Uh-oh, aku baru tahu tentang yang stau itu. Kenapa aku baru sadar bahwa Alfi memperlakukanku sangat manis? Alfi Dierga : Belakangan ini tiap Alfi ke tongkrongan sama anak-anak, yang dia ceritain elo mulu sampe gue enek dengernya Alfi Dierga : Dia pernah cerita ke gue kalau waktu di Bromo kemarin,dia udah niat nembak lo disana sambil beliin bunga Edelweiss Alfi Dierga : Tapi ada beberapa alasan yang bikin dia ngurungin niatnya. Pertama, dia takut lo tolak karena kalian masih jalan berapa bulan doang. Kedua, dia takut elo mikirnya elo jadi pelampiasan doang secara kan dia abis putus sama Puspita terus langsung dkeetin lo. Padahal sumpah dah Ann, dia tuh gak niat jadiin lo pelampiasan. Alfi Dierga : Initinya dia belom siap kalau elo tolak Alfi Dierga : Gue gak pernah liat Alfi sebucin ini sama cewek-cewek dia sebelumnya selain lo Alfi Dierga : Lo harus tahu seberapa menjijikkannya Alfi kalau lagi senyum-senyum sambil ceritain elo Alfi Dierga : Dia bilang elo beda, gak kayak mantan-mantannya dia. Alfi Dierga : Elo sering ngingetin dia sholat, sellau ngingetin dia buat gak banyak ngerokok dan ngopi apalagi keluar malem Alfi Dierga : Kalau lo tahu, dulu pas jaman si Alfi pacaran sama Puspita, dia selalu diajak ceweknya nongkrong di atas jam dua belas malem. Belum lagi si Pus nya juga gak pernah sholat. Bedalah pokoknya sama elo Alfi Dierga : Heh, Ann. Dibaca mulu dari tadi. Bales, dong. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali setelah membaca chat dari Johan tersbut. Senang itu pasti setelah mengetahui bahwa Alfi sudah akna memberi kepastian dari bulan lalu wlaaupun tidak ajdi. Apalagi dia sudah emngenalkanku dan membangga-banggakanku di depan teman-temannya. Tapi, disisi lain, aku sebenarnya belum siap melangkah lebih jauh dengan laki-laki tiu mengingat insecure-ku belakangan ini sedang parah-parahnya. Lalu segera ku ketik balasan disana sesuai dnegan apa yang ku rasakan. Anna Jovanka : Sbeneernya kalau ngomongin perasaan, apa yang dia rasain ke gue berbalas kok, Mas. Gue juga sayang sama dia. Tapi ada ebebrapa hal juga yang belakangan ini jadi pertimbanagn buat gue nerima Alfi. Anna Jovanka : Gue lagi insecure banget smaa cewek-cewek di sekeliling dia, Mas. Lo pasti udah tahu Puspita secantik apa. Belum lagi di kampus banyak cewek yang nempelin dia. Bahkan ada kating-kating cewek sampe minta foto ke dia pas SAMBA kemarin Anna Jovanka : Gue gak secantik mereka, Mas. Gue minder. Llau entah bagaimana ceritanya, sepertinya tiba-tiba ponsel Alfi kembali apda sang pemilik sehingga Alfi menelfonku. Ia meminta maaf karena Johan dnegan lancang menceritakan semuanya yang seharusnya aku tidak tahu, ku bilang tidak apa-apa. Lalu dia yang sepertinya sudah membaca keseluruhan balasanku itu langsung memintaku untuk tidak lagi merasa minder karena bla-bla-bla. Malam itu, sekalipun kami sama-sam asudah saling mengutarakan perasaan, tapi nyatanya Alfi belum juga memberiku kepastian.   **   “Lo udah denger dari Fitri?” Adalah kalimat yang dikeluarkan Sasa dari bibirnya ketika aku baru saja duduk di kursi perpustakaan dengan Renata dan Nanad disana. Omong-omong, Fitri adalah salah satu teman di kelasku. “Hah? Apaan?” “Lo sadar gak, sih, selama ini Fitri sama vIga kayak selalu diem-dieman sejak awal kuliah?” Aku menggeleng polos karena memang tak pernah mengamati interaksi keduanya. “Ternyata, Ann, pas jaman pendaftaran kuliah, si Viga sama Fitri itu sempet berantem gara-gara Viga jadi pelakor di hubungan Fitri!” “HAH?!” Aku memekik kaget. “Serius?” Nanad mengangguk cepat memebnarkan kalimat Sasa. Lalu siang itu yang seharusnya kami buat untuk mengerjakan tugas malah kami jadikan bergosip. Jadi awalnya, kemarin saat Sasa mengerjakan tugas kelompok dengan Fitri, Fotri tiba-tiba bertanya apakah benar Alfi sedang menjalin hubungan denganku atau tidak. Lalu Sasa mengiyakan. Fitri kemudian menitipkan saran pada Sasa untukku. Katanya, aku harus berhati-hati dengan Viga karena dulu, Fitri-pun pernah menjadi korban tikungan Viga. Hubungan Fitri dengan kekasihnya saat itu yang sudah ebrjalan hampir menginjak dua tahun kandas karena Viga datang. Llau tak berhenti disitu, sintingnya, Viga yang emrasa menang dari Fotri akhirnya kegirangan saat tahu bahwa mereka berdua berada di kelas yang sama. Dengan tak tahu malunya, Viga malah sering emmanggil Fitri sebagai p*****r di tempat umum padahal—hei, siapa yang lebih pantas disebut p*****r di antara ia dan Fitri?! Aku melotot tak percaya. Pasalnya, wlaaupun aku tahu Viga emmang sedikit genit, tapi Viga bukanlah tipe-tipe perempuan yang suka bicara kasar sepertiku. Bahkan aku dan Renata yang bisa disebut ratu-bicara-kotor-di-kelas saja tak pernah memanggil perempuan lain sebagai p*****r. “Gila?!” Aku masih ternganga. Renata mengedikkan bahunya merinding. “Sumpah, ngeri banget, dah, tuh anak?! Kayak punya muka dua, gitu, ih!” Aku, Sasa, dan Nanad mengangguk setuju. “Sumpah, mulai sekarang, lo harus jagain Alfi ketat dua puluh empat jam biar Viga kagak berani macem-macem. Jangan sampe lo pisah sama Alfi karena pengaruh Viga! Amit-amit, deh, tuh cewek.”   **   Semenjak mendapat informasi tersebut, aku sekarang memang sedikit was-was kepada Viga. Bahkan aku sudah benar-benar menjauhi dan tak berinteraksi dengannya. Malah Renata sudah menceritakan ini pada Riko yang dibalas Riko dnegan kalimat, “gak kaget, sih. dari modelannya aja sekalipun dia keliatan kalem, tapi tatapan dia kayak cewek nakal.” Sampai suatu hari, ketika aku dan delapan teman deketku berkumpul di rumah kontrakan Nanad, tiba-tiba Niken memberitahu kami bahwa Viga menjelek-jelekkan geng kami. Viga bilang bahwa ia sering kami bully. Tentu saja kami langsung bertanya-tanya kebingungan, “kapan kami membully-nya?!” Riche sebagai tokoh paling bar-bar diantara kami langsung emosi dan meminta Viga untuk menemui kami besok setelah jadwal kelas di gazebo taman kampus. Tentu saja kami marah mendengar itu. Karena Viga menjelek-jelekkan nama kami tidak hanya pada satu orang melainkan banyak orang yang sudah tahu. Sampai-sampai ada angkatan di atas kami yang tahu tentang tiu. Belum lagi, malamnya, tiba-tiba Viga membuat Snap di Whats App rekaman video berupa ia yang bilang pada ibunya bahwa ia besok akan dilabrak oelh sembilan temannya. Lebih jelasnya begini, di rekaman video itu, Viga sedang bercermin ke arah kamera dan ia cerita disana. Aku tebak ibunya berada di belakang punggungnya. “Bu, besok ada sembilan orang yang mau neglabrak aku.” “Loh, ngapain kok main labrak-labrakan?” Viga terlihat mengedikkan bahu. “Gak negrti juga ngapain. Payah banget, gak, sih, Bu, mereka? Beraninya keroyokan.” Melihat status tesebut, tentu di grup Whats App kami, Bil, Riche, dan Niken langsung marah-marah. Maksudnya apa coba dia bilang di snap begitu? Cari tenar? Ingin orang tahu bahwa teman-temanku adalah orang yang bar-bar dan suka keroyokan? Siang tepat setelah aku dan teman-teman melaksanakan sholat dhuhur, kami bersembilan duduk di gazebo sambil amkan siang. Di gazebo samping, ada Alfi, Riko, dan beberapa laki-laki dari kelas kami yang sepertinya emmang sudah pasang badan takut jika ada adegan jambak-menjambak. Padahal mana mungkin kami akan seperti itu. Dikira kami anak kecil apa? Viga datang setelah satu jam lamanya kami menunggu. “Duh, kok gue takut, ya?” Ujar Sofia dan Ais si anggota terkalem dari kami. Aku sempat terkekeh geli mendengarnya. “Ini bukan Perang Dunia, guys. Santai, dah.” Ujarku menenangkannya. Bil menyarankan agar kami ebrsembilan tidak menemui Viga secara berbondong-bondong seperti ini. Jadi yang maju hanya Bil, Renata, aku, Niken, dan Riche. Aku tahu sekalipun teman-teman gengku terkenal bar-bar, mereka tak pernah berusaha mencari musuh kalau tidak diganggu lebih dahulu. Seperti tebakanku, Bil tanpa basa-basi langsung menanyakan menu utamanya. “Kapan gue sama temen-temen gue nge-bully lo?” Viga memandang kami satu-persatu sebelum menjawab. “Ya, kayak gini apa nanya kalau bukan bully?” “Sebelum ini, kapan kita nge-bully lo?” Ulang Bil. “Lo sering nyindir-nyindir gue di kelas. Seakan-akan gue pelakor dan lo sering manas-manasin gue pake Anna sama Alfi!” Aku dan yang lainnya malah semakin kebingungan. Renata berdecak malas karena—haha, sudah pernah ku bilang bahwa Renata paling benci drama sedangkan Viga adalah ratunya. “Kapan, astaga?!” Tanya Riche gemas. “Coba, kapan kita pernah nyindir-nyindri elo?” Demi Tuhan, kepalaku langsung pusing mendnegar Viga yang benar-benar tukang emmbolak-balikkan fakta. Aku dan teman-temanku memang tak menyukai Viga karena sikap perempuan itu yang egnit pada Alfi, tapi sekalipun kami tak eprnah membulinya. Dan apa-apaan itu tadi? Nyindir? Hei, kalau kami menyindir, kenapa dia ngomong ke orang-orang kalau kami mem-bully? Bully dan menyindir adalah dua hal yang berbeda! Kemudian apa yang keluar dari Viga selanjutnya adalah hal-hal yang semakin tak masuk akal membuat aku dan teman-temanku semakin jengah dan muak. Bil memilih menyudahi  perbincangan siang itu karena Viga tetap tak mau mengaku salah dan kami malas ribut dengan ratu drama. Sehingga Bil dan yang lain memilih pergi sedangkan aku tetap menetap disitu. Ada yang harus ku bicarakan pada Viga mengenai cerita Alfi ekmarin malam bahwa Viga menyatakan perasaannya pada Alfi. Disini niatku tak melabrak, aku hanya ingin memperjelas semua. Mungkin Alfi sadar bahwa ada yang tak beres sehingga laki-laki itu menghampiriku dan ikut duduk disana bersama Viga. Tapi baru aku akan membuka suara, Viga tiba-tiba mendahuluiku dan apa yang ia katakan adalah hal yang tak pernah ku duga-duga sebelumnya. Sambil menyeringai, Viga memandangku remeh. “Gue baru tahu kalau ternyata elo yang deketin Alfi duluan.” What the f**k is she talking about?! “Alfi yang cerita sendiri itu ke gue.” Aku langsung menolehkan kepalaku cepat mengahap Alfin yang kini ikut membalas tatapanku. Aliran darahku rasanya memanas melihat cara Viga meremehkanku dan kalimatnya yang seakan membunuhku perlahan. Hal pertama yang emmbuatku marah adalah, Alfi cerita apda Viga bahwa akulah pihak yang mendekatinya pertama. Padahal Demi Tuhan, aku tak emrasa melakukan itu! Hal keduanya adalah, kenapa Alfi bisa sampai curhat-curhat ke Viga? Apakah selama ini Alfi dan Viga memang sering berbalas pesan satu sama lain di eblakangku? Dengan suara hampir pecah karena merasa dipermalukan Alfi di depan musuhku sendiri, aku bersuara. “Aku, Fi, yang deketin kamu duluan?” Aku tak tahu apa yang dipikirkan Alfi saat itu sampai lelaki tersebut malah emnganggukkan kepalanya membenarkan kalimat Viga. Aku menatapnya dengan binar sakit hati dan air mata yang siap menetes kapan saja lalu berganti melirik Viga yang sedang melirikku penuh senyum kemenangan. Aku kalah.   ** Setelah hari itu, komunikasiku dengan Alfi benar-benar kacau. Aku menangis setelah sampai di kamar kos. Renatalah yang menenangkanku. Aku ebnci bagaimana Alfi mempermalukanku dengan membolak-balikkan fakta di depan gadis-yang-menyukainya dan aku benci melihat Viga yang bsia-bisanya menyeringai padaku karena merasa menang. Sakit hatiku tak sembuh dalam sehari. Bahkan sampai berhari-hari kemudian, aku dan Alfin sangat jarang berinteraksi. Baik secara langsung ataupun lewat ponsel. Berkali-kali Renata emminatku untuk sabar dna tak gegabah mengambil keputusan karena aku yang ingin menyerah atas hubungan-tanpa-kepastian yang ku jalani dengan Alfi ini. Berkali-kali pula Renata selalu bilang padaku bahwa ini hanyalah kerikil ekcil dlaam sebuah hubungan. Ia meyakinkanku bahwa Alfi ebnar-benar menyayangiku dan tak akan tergoda dengan perempuan seperti Viga. Hal itulah yang membuatku akhirnya memilih memaafkan Alfin dan akhirnya kami berhasil menjalani hari-hari seperti biasanya. Akupun berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak ingin mengungkit-ungkit Viga. Hingga pada suatu siang dalam satu minggu kemudian, ketika aku dan teman-temanku memilih langsung menuju tempat parkir motor setelah selesai kelas, aku berpamitan pada Alfi untuk pulang lebih dulu dengan Renata. Lelaki itu mengangguk dan bilang bahwa ia juga akan langsung ke kos Agil tanpa ke kantin dulu seperti biasanya. Aku memutar knop pintu kamar ksoku dan langsung menutupnya dari dalam. Usai mengambil daster dan mengganti baju dengan cepat karena aku ingin segera tidur siang, baru aku akan menuangkan pembersih wajah pada kapas saat tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan video dari Dinda, salah satu teman kosku. “Ya, Din?” Tapi Dinda tak kunjung menjawab. Perempuan itu malah membalikkan kamera menghadap meja-meja kantin di depannya. Aku emngernyit tak paham selama beberapa detik sampai akhirnya aku tahu apa yang sedang Dinda coba tunjukkan. Disana ada Alfi dan Viga duduk di satu meja kantin, saling berhadapan, dan berbicara dengan raut wajah yang... tak terbaca. Entahlah. Tapi yang pasti, jantungku langsung berdegup cepat. Aku sampai lupa mengucap terimakasih pada Dinda karena sudah diberi informasi menyakitkan itu sebelum akhirnya dengan buru-buru, aku mengganti bajuku lagi dan langsung lari ke kampus. Dengan nafas masih tersengal-sengal, aku langsung menuju ke kantin dan mengabaikan sapaan dari beberapa teman kampusku. Aku langsung mengambil duduk di samping Dinda. Dari kursiku saat itu, aku bsia melihat Viga yang sudah menangkap keberadaanku. tapi bukannya panik karena kepergok, Viga malah seakan-akan menantangku. Perempuan itu hanya melirikku sekilas sebelum asik mengobrol dengan Alfi yang masih memunggungiku. Hingga entah apa yang membuat Alfi tiba-tiba menoleh dan menangkap keberadaanku. Aku mencoba bersikap santai walaupun berakhir gagal total karena pandanganku mulai buram akibat retinaku tertutup cairan bening yang siap tumpah detik itu. Aku bisa menangkap raut Wajah Alfi yang berubah panik detik itu juga. Aku hampir meloloskan atwa sinis di bibirku. Mengapa harus panik jika ia tak merasa bersalah? Tanpa mau mendengarkan penjelasannya seperti adegan-adegan sinetron, aku langsung melenggang pergi keluar dari kantin, menangis sembari berlari menuju kso Dinda yang paling dekat dengan Alfi yang mengejarku. Aku tahu Alfi akan berusaha menjelaskan, akan meminta maaf, aku memohon eksempatan lagi, atpi hatiku sudah mati rasa. Aku paling benci perselingkuhan dan Alfi tidak bsia menghargai prinsipku. Aku menyayanginya tapi bukan berarti aku akan memberinya kesempatan lagi untuk menyakiti hatiku. Lagi-lagi, untuk kesekian kali, kisah cintaku gagal di tengah jalan.   **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD