Resminya kepergian Alfi dari hidupku cukup membawa perubahan padaku karena aku harus berusaha tidak apa-apa alias baik-baik saja di kelas dan itu sangat sulit karena hampir setiap hari kami bertatap muka, belum lagi banyak kelompok mata kuliah yang emmbuatku dan Alfi harus sering berinterakasi.
Bahkan ketika aku masih mencoba menata kepingan hatiku yang berserakan karena lelaki itu, Alfi dengan seenak jidat sudah mengenalkan kepada dunia bahwa ia memiliki pacar baru yang mana itu bukan Viga, malah bda lagi. Namanya Fira, perempuan cantik yang berada di jurusan yang sama dengan kami namun di kampus yang berbeda. Asalnya dari Bandung, mungkin.
Hal yang membuatku akhirnya bertanya-tanya adalah, mengapa cepat sekali? Mengapa Alfin tiba-tiiba sudah memiliki penggantiku dalam waktu kurang lebih satu minggu dan langsung mau meresmikan hubungannya dengan Fira dalam jangka waktu pendek padahal denganku dia tidak begitu. Bahkan setelah berbulan-bulan kami menjalin hubungan, kami berpisah dalam keadaan aku yang masih belum diberi kepastian. Ketidak-adilan macam apa ini?
Lalu satu informasi baru yang ku dapat ketika aku tak sengaja ikut bergabung di meja geng lain dari kelasku. Satu perempuan yang bernama Vier—entah sengaja atau tidak, ia mengatakan bahwa minggu kemarin—yang artinya ketika Alfi masih bersamaku, Alfin berani meminta nomor ponsel Fira ketika tak sengaja bertemu di kampus perempuan itu. Lalu kemarin, kata Vier lagi, tiba-tiba Alfi sudah berani mengantar Fira ke stasiun kereta Malang karena gadis itu akan pulang kampung—katanya.
Wow.
Bukannya itu kemajuan yang lumayan-- ralat, sangat pesat?
Aku benar-benar tak percaya bahwa Alfi ternyata sudah berusaha mendekati perempuan lain bahkan ketika ia masih bersamaku. Lalu ketika ia tahu bahwa aku sudah tahu tentang penggantiku dalam hidupnya, aku merasa Alfi seakan-akan berusaha menjadi-jadi dan mengomporiku. Aku tak tahu apa maksud lelaki itu. Apa gunanya melakukan itu padahal aku dan mantanku yang lalu-lalu saja tak pernah berusaha saling balapan bahagia usai kami berpisah malah setelah kami putus, beberapa bulan kemudian kami bisa menjadi teman akrab. Tapi mengapa Alfi bersikap sekekanakan ini sampai membawa Fira ke acara kampus kami padahal jelas dia bukan anak kampus sana. Alfi juga seperti sengaja menceritakan tentang Fira kepada Riko di depanku. Atau terlalu sering menjadikan foto Fira di status Whats App-nya.
Aku tak tahu apa karena sakit hatiku akan Alfi kemarin membuatku jadi sering memandang buruknya Alfi saja atau memang Alfi yang keterlaluan? Bahkan laki-laki itu beberapa kali seperti sengaja mengirim pesan alibi salah kirim di grup kelas yang isinya adalah chat dia dengan Fira.
Entahlah. Aku tak biasa menghadapi lelaki seperti itu di kehidupanku. Jadi ketika aku menemukan karakter laki-laki seperti Alfi-- jujur, membuatku dengan mudah melupakan Alfi karena terlanjur... eung—ilang feeling alias ilfeel—maaf, Fi, hehe.
Lalu seiring berjalannya waktu, dengan aku yang sudah tak menjadi milik siapa-siapa alias jomblo lagi, tentu beberapa kali aku merasa kesepian dan beberapa kali juga masih sering terbayang kebersamaanku dulu dengan Alfi.
Tapi semuanya tidak lagi ku rasakan saat suatu hari, salah satu temanku ketika SMA—Gilang, namanya, mengajakku untuk nongkrong bersama teman-teman lainnya. Aku yang kala itu memang sudah di Kota Batu karena jadwalku pulang dari kos adalah seminggu sekali, akhirnya ku iyakan. Kami ke Soden waktu itu, dimana tempat sederhana tersebut meninggalkan banyak kenangan kala SMA karena kami sering kesana.
Gilang yang ternyata membawa mobil membuatku akhirnya meminta dijemput. Ia menyanggupi mauku dan ternyata yang nebeng ke Gilang tidak hanya aku saja melainkan ada dua laki-laki lainnya yaitu Gezya dan Denny, juga ada Putri sebagai perempuan selain aku. Kami berlima ahhirnya berangkat bersama-sama. Dan semenjak hari itu, kami berlima lebih sering menghabiskan waktu bersama. Bukan sering lagi melainkan setiap malam minggu kami selau hang out berlima.
Kebiasaan itulah yang kami lakukan hingga akhirnya kami memutuskan membentuk grup dengan lima anggota yakni aku, Gilang, Denny, Gezya, dan Putri. Kami selalu menjelajah kafe-kafe dan warung kopi di kota kami setiap sabtu malam. Kebersamaan yang kami jalani membuat hubungan kami semakin erat satu sama lain.
Aku saja-- sejak memiliki mereka berempat, tak pernah lagi merasa kesepian karena tak memiliki kekaish atau gebetaN. Karena berteman dengan laki-laki seperti Gezya, Denny, dan Gilang, sudah cukup membuatku merasakan diberi banyak kasih sayang dan perhatian.
Tapi tak lama, ada satu sosok laki-laki yang datang ke kehidupanku. Namanya Royan. Ia masih satu kampus dan satu jurusan yang sama denganku. Malahan ia adalah teman semeja kantin dengan Alfi. Awalnya aku tak tahu bahwa dia menyukaiku sampai tiba-tiba Renata memberi tahuku bahwa Royan selalu mdengan tatapan berbeda dari pada ke yang lainnya.
Pertama kali mendengar itu, aku menyanggah Renata mentah-mentah karena aku dan Royan saja hanya pernah mengobrol dua kali dan itu hanya selama sekitar sepuluh detik. Itupun aku yang memulai perbincangan lebih dahulu karena aku ysedang menanyakan keberadaan Sinta—teman kos yang kamarnya ada di samping kamarku—yang satu kelas dengan Royan. Tapi beberapa hari kemudian di sore hari setelah aku melaksanakan sholat ashar, ada nomor tak dikenal yang mengirimiku pesan. Sebelum membukanya, aku melihat foto profilnya lebih dahulu dan ternyata itu Royan.
Dari situlah, kami mulai dekat. Bahkan Royan—menurutku, lebih perhatian dari Alfi. Ia selalu menjemputku kesana-kemari tak peduli sejauh apa jarak antara kosku dan kosnya. Ia selalu menyempatkan untuk mengabariku sesibuk apapun dia. Tapi tetap saja. Aku tak bisa membalas perasaannya karena; satu, Sinta memberi tahuku bahwa Royan sebenarnya memiliki kekasih di kota asalnya dan mereka sudah berpacaran selama tiga tahun— dan dengan itu, aku tak ada alasan untuk membalas perasaannya karena aku tak mau jadi orang ketiga di hubungan orang lain. Yang kedua, Sinta juga bilang bahwa tidak hanya aku yang sedang didekatinya, melainkan banyak perempuan yang sudah jadi korban sekalipun dia sudah punya pacar yang asli.
Dua alasan tersebut cukup membuatku mundur teratur dan tak mau menanggapi Royan lebih jauh. Lagipula aku juga tak mau mencari pengganti Alfi tetapi malah dapat teman Alfi sendiri. Bukan munafik, tapi aku tidak mau orang menganggapku perempuan murahan karena dalam satu kelompok pertemanan, aku pernah didekati dua diantaranya. Aku masih menyayangi harga diri dan reputasiku.
Omong-omong, setelah berpisah dengan Alfi, aku memang sering didekati laki-laki yang berbeda. Banyak yang mencoba mendekatiku. Dari yang masih kuliah sampai yang sudah bekerja. Dari yang tampan sampai yang tidak.
Seperti selanjutnya, aku yang didekati oleh karyawan di salah satu perusahaan di Malang bernama Mas Okin. Usianya sudah dua puluh tujuh tahun, ia tampan, dan mapan. Mama bahkan senang ketika tahu aku didekati oleh orang itu. Tapi aku tidak. Entahlah, sepertinya sekarang aku lebih pemilih. Bahkan aku sudah mencoba membuka hati pada Mas Okin, sudah pernah mengiyakan ajakan makan malamnya juga. Tapi jangankan menikmati, aku langsung beralibi bahwa temanku masuk rumah sakit untuk bisa segera kabur dari Mas Okin ketika kamia baru selesai beli tiket bioskop.
Laki-laki selanjutnya yang mendekatiku adalah mahasiswa di kampus terkenal yang letaknya di Surabaya. Namanya Dhika. Aku lupa siapa nama lengkapnya tapi yang jelas, dia sangat tampan. Saking tampannya, sampai teman-teman kosku yang pernah melihat fotonya mengira aku berbohong. Katanya aku mengada-ada. Dhika sangat tampan dan keren, kulitnya putih mulus bak selebgram, mahasiswa semester enam, punya pekerjaan cadangan yakni menjadi photografer. Kurang keren apa coba?
Hari pertama ia mendekatiku, aku saja bahkan terkejut karena bisa disukai laki-laki setampan dia. Aku mencoba meresponnya, tapi hanya berjalan selama satu minggu karena... ehm, ternyata ia hanya memiliki wajah yang bagus tapi tidak dengan kepribadian dan karakternya. Ia awalnya memang baik dan perhatian, tapi lama-kelamaan, ia berani mengatakan sesuatu yang bisa tergolong pelecehan. Laki-laki itu tak segan mengeluarkan kata-kata v****r yang -- demi apapun membuatku risih. Bahkan ketika ia sudah keterlaluan dengan meminta fotoku bertelanjang, aku langsung menangis. Takut. Merasa berdosa padahal aku tentu tidak memberinya. Bahkan nomornya langsung ku hapus dan aku memblokir semua akun sosial medianya. Aku tidak suka dengan lelaki yang tidak bisa menjaga batasannya. Delapan belas tahun aku hidup di dunia, mencium dan dicium pipi dengan lawan jenis saja tak pernah. Apa lagi sampai diperlakukan tidak sopan begitu.
Laki-laki yang selanjutnya datang ke kisah asmaraku adalah laki-laki yang mampu membuat kalian terkejut karena... dia adalah Riko. Ingat Riko? Ini Riko yang sama yang ku ceritakan saat kami ke Bromo, Riko yang dekat dengan Renata, Riko si teman dekat Alfi, Riko yang berada di kelas yang sama dengan kami. Benar, Riko yang itu.
Berawal dari aku yang menjual tiket konser Sheila On 7 dan Riko berminat, aku yang sebenarnya sudah sepakat untuk nonton Mas Duta dengan Dinda dan Putri alias dua temanku dari SMA itu pun akhirnya memilih menemani Riko karena lelaki itu tak punya teman yang mau diajak pergi ke konser bersama. Akhirnya atas dasar peri kemanusiaan dan tolong-menolong, aku menawarinya untuk berangkat bersamaku.
Semuanya berjalan biasa saja sampai ketika kami turun dari motor dan memasuki dome, Riko mulai suka merangkul bahuku. Awalnya aku pikir itu terjadi hanya karena ia mencoba melindungiku dari orang-orang yang ingin menyerobot dan mendapat tempat paling depan, tapi opini itu terpatahkan saat Mas Duta sudah muncul di panggung, Riko malah keenakan merangkulku terus-menerus dan menempelkan kepalanya pada puncak kepalaku. Sebenarnya, sebelum hari H tersebut, Riko memang sudah mengirimiku pesan secara intens. Dari mulai menanyakan tiket yang tak datang-datang hingga kemudian pesan darinya berubah jadi perhatian seperti ia yang menyuruhku agar tak terlalu sering begadang dan aku yang harus menjaga kesehatan.
Jujur saja, aku tak merasakan debaran apapaun atau tersipu karena ia merangkulku di tempat umum dengan Mas Duta yang menyanyikan lagu Hujan—apa lagi orang-orang disekitar kami pasti mengira bahwa kami adalah sepasang kekasih karena kelakuan Riko—tapi disisi lain, aku memang merasa biasa saja. Aku sudah sering skin ship dengan teman laki-lakiku apa lagi semenjak berteman dengan Gilang, Gezya, dan Denny. Aku sering menyandarkan kepalaku di bahu Gilang, atau Gezya yang tidur di pahaku, atau Denny yang sering memanggilku sayang. Jadi aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh lawan jenis dan tentu tiga sahabatku itu melakukan hal tersebut karena tahu kami murni teman.
Tapi beda dengan Riko. Sepertinya Riko mengira bahwa aku yang tak menolak dirangkul tandanya aku bersedia dekat lebih jauh dengannya. Karena setelah konser, hari-hari berikutnya Riko terus-terusan mengirimiku pesan lagi, bertukar kabar dan cerita, merayu, memberi perhatian, yang ku ladeni sebiasa mungkin. Aku kadang menanggapinya dengan candaan juga.
Sayangnya hubunganku dan Riko hanya berjalan selama kurang lebih satu bulan setengah karena—mungkin, mungkin Riko tahu bahwa selama ini aku tak berniat serius dengannya. Aku mungkin memang meladeni candaannya, tapi aku tak bisa membalas perasaannya dan ia sadar hal tersebut.
Mundurnya Riko dari kehidupanku tak banyak membawa pengaruh. Apa lagi besoknya, ada laki-laki yang mendekatiku llagi. Benar-benar besoknya.
Aku ingat bahwa laki-laki itu dulu sering berada di satu acara seminar yang sama dengan yang ku datangi. Mungkin tiga atau empat kali. Saking seringnya sampai aku hafal dengan wajahnya padahal aku yakin ia bukan mahasiswa kampusku. Sampai akhirnya ketika libur semester dua, tahu-tahu saat aku sibuk mencari sertifikat seminar, aku akhirnya mendaftar jadi peserta di seminar online yang dihadiri oleh lelaki itu juga.
Namanya Adam. Adam Malik. Hehe, familiar, kan, dengar namanya? Aku juga. Karena aku ingat pernah menjumpai namanya di buku pelajaran PKN dan IPS kala SD dan SMP.
Ketika seminar selesai dilaksanakan via aplikasi Whats App, ada salah satu peserta yang menanyakan keberadaan sertifikat, katanya ia belum dapat. Itu adalah Adam. Lalu aku iseng mencarikan namanya dalam tumpukan file yang diberi oleh para panitia. Karena aku berhasil menemukannya, aku langsung mengirimnya pada nomor tersebut. Yang ternyata ketika ku buka foto profilnya, aku langsung familiar. Kok kayak pernah ketemu. Dimana, ya?
Setelah ia mengucap terimakasih, ternyata ia lebih dulu mengenaliku.
Adam Malik : Kita sering ketemu di seminar-seminar sebelumnya, ya?
Nah, kan. Usai membaca itu aku langsung mengangguk setuju pada layar ponsel di depanku.
Anna J : Iya, hehe. Kayak familiar sama mukamu.
Adam Malik : Kita sering satu seminar
Adam Malik : Inget?
Mulai dari sanalah, ternyata aku dan Adam jadi makin sering bertukar pesan. Tapi awalnya hanya sekedar membagi info seminar karena masing-masing dari kami sedang mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya. Ini tuntutan kampus, omong-omong. Baru ketika memasuki dua bulan kemudian, Adam mulai menanyakan sedang apa aku, untuk yang pertama kalinya.
Perjalananku dengan Adam Malik ini terbilang cukup lemot. Bahkan tak ada kemajuan dari cara kami berkomunikasi. Terkesan biasa dan datar-datar saja. Hal yang baru aku ketahui setelah seminggu dekat dengannya adalah, dia asli Kalimantan, dia sedang mendaftar IPDN, dan dia...
Brondong!
Iya. Dia satu tahun lebih muda di bawahku. Badannya yang tinggi dan berotot itu tak membuatnya tampak lebih muda. Aku yakin orang-orang juga akan terkejut jika belum tahu Adam, maksudku jika awal bertemu dengan lelaki itu.
Dan ternyata saat kami mulai bertukar informasi tentang seminar satu bulan sebelumnya, dia ternyata sudah kembali ke Kalimantan Barat lagi. Jadi kedekatanku dengan Adam bisa dibilang hubungan jarak jauh. Kami tak pernah bertemu.
Tiga bulan kami dekat, malam itu, akhirnya Adam mengaku bahwa ia menyukaiku.
Adam Malik : Mungkin kamu udah tahu soal ini. I love you, Ann. Rasa nyaman setelah tiga bulan komunikasi sama kamu bikin aku ngerasain lebih.
Tapi, lagi-lagi aku juga tak mengerti dengan diriku sendiri. Benar dengan asumsiku dulu bahwa aku jadi tak bisa membuka hati lagi setelah disakiti Alfi. Nyatanya walaupun selama ini aku merasa kesepian dan mau berusaha menerima orang lain, aku masih tak bisa sepenuhnya memberi hati dan kepercayaan pada laki-laki lagi. Bukan. Jangan mengira aku gagal move on darinya. Aku benar-benar sudah seratus persen melupakan laki-laki itu. Aku sama sekali tak memiliki rasa apapun. Hanya saja aku memang tidak siap berhubungan lagi usai berpisah dengan Alfi.
Aku hanya membalas pesan Adam dengan emotikon tertawa, kukirim, lalu kulanjutkan dengan pesan panjang bahwa aku juga merasakan nyaman yang sama. Tapi untuk membalas pernyataan cintanya, aku masih belum bisa. Aku bilang bahwa aku sedang tak ingin terikat hubungan dengan siapapun. Aku tak peduli ia mungkin saja berfikir bahwa aku kegeeran seakan-akan ia sudah menembakku padahal belum. Tapi kurasa menjelaskan hal tersebut juga penting karena aku tak mau berlarut-larut menyakiti dan menggantungkan hati orang lain.
Syukurnya, setelah penolakan malam itu, aku dan Adam masih bisa berhubungan baik. Ia masih sering menanyakan keadaanku, mengingatkanku sholat, dan lain-lain. Tapi kesalahanku adalah, setelah hari itu, Riko juga kembali mendekatiku. Situasi ini membuatku terlihat seperti memainkan hati dua laki-laki karena aku meladeni chat dari mereka berdua. Padahal maksudku bukan begitu. Aku pikir aku sedang tak sedang menjalani hubungan resmi dan terikat dengan siapapun, jadi ini akan baik-baik saja. Toh, siapa tahu dengan begini aku bisa tahu kepada siapa sebenarnya aku bisa menjatuhkan hati.
Ada hal yang tak terlupakan dalam ingatanku ketika Riko kembali mendekatiku. Saat tengah malam kami masih saling bertukar pesan, tiba-tiba ia mengaku bahwa sebenarnya ia menyukaiku semenjak hari pertama masuk kuliah— sama seperti Alfi. Ia sudah bertekad mendekatiku tapi semua rencana di kepalanya gagal ketika Alfi—yang kala itu duduk bersebelahan dengannya—tiba-tiba menanyakanku pada Riko. Lelaki itu berusaha setenang mungkin sambil terus mengorek informasi. Tapi ternyata harapannya pupus ketika Alfi bilang bahwa ia juga akan mendekatiku.
Demi apapun di dunia ini, aku sama sekali tak pernah ada di posisi disukai dua orang dalam satu waktu. Aku yang dulu seorang Anna Jovanka—pusat perempuan yag tidak kan disukai karena aku jelek—sekarang bisa-bisanya menarik perhatian dua laki-laki yang berteman dekat. Haruskah aku bangga? Jawabannya tidak. Jangankan untuk bangga, senang saja aku tidak bisa. Yang ada aku langsung kaget dan menanyakan pada Riko apakah ia serius atau tidak. Ia bilang ia bersumpah bahwa ia sedang tiidak berbohong.
Aku tak bisa membayangkan jika Alfi tahu ini dari dulu.
Tapi aku juga melakukan hal yang sama seperti yang ku lakukan pada Adam Malik. Aku memberi tau Riko bahwa aku tak siap dekat dengan laki-laki lagi. Dan asal kalian tahu, aku berbicara itu bahkan sebelum ia mengungkap rasa sukanya padaku. Tapi sekali lagi, aku benar-benar tak peduli. Aku hanya mencoba melindungi hati masing-masing dari kami. Aku tak ingin menyakiti mereka lebih jauh lagi dengan bersikap seolah aku tak-apa apa dengan kedekatan kami selama ini padahal tidak seperti itu.
Malam setelah aku yang meminta Riko mengerti agar tahu batasan mendekatiku dan tidak berharap lebih dengan hubungan kami, ternyata aku tak bisa tidur. Bukan karena aku merasa bersalah atas apa yang ku lakukan dengan beberapa laki-laki yang mendekatiku belakangan. Melainkan aku mencoba mencari tahu mengapa aku sampai menutup hati seperti. Padahalpun, ketika aku sering membuka aplikasi i********:, kadang video-video yang muncul di beranda pencarianku adalah pasangan kekasih. Dan mellihat hal-hal seperti itu, sebenarnya aku iri. Tap ku pikir-pikir lagi, mengapa aku harus iri sedangkan setiap kali ada laki-laki yang mendekatiku, aku malah risih dan menjauh?
Oleh karena itu, hasil deep tought-ku kala itu menghasilkan kesan dan pesan yang ku pegang mulai dari sekarang. Bahwa ada banyak hal yang harus ku prioritaskan, ku urusi, ku matangkan, dari sekedar mencari laki-laki untuk memiliki kisah cinta yang indah dan romantis seperti orang-orang lainnya. Aku berharap aku bisa merubah kepribadianku menjadi Anna Jovanka yang lebih baik. Yang bisa menjaga hati, tubuh, iman, perkataan, dan perbuatannya. Aku tak mau hanya cantik dari wajah dan tubuh saja. Aku ingin orang lain akan menyukaiku karena karakterku yang mereka anggap baik.
Maka dari itu, aku memutuskan untuk fokus menyelesaikan kuliahku yang baru menginjak semester tiga ini. Aku ingin menaikkan IP-ku dari semester ke semester sampai aku lulus tepat waktu dengan nilai memuaskan. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menemani bapak di rumah, membagi waktu untuk dua adikku, dan sibuk berkarya karena semenjak enam bulan yang lalu, aku memang mulai giat menulis naskah dan menjualnya pada editor.
Ku pikir, dengan hidup sederhana dan menjauh dari hal-hal yang hanya akan membuatku semakin pusing dan terbebani, aku bisa fokus menata masa depanku. Banyak mimpi dan cita-cita yang harus ku kejar dan ku dapatkan dan tentu saja itu lebih penting dari pada sekedar mengurusi kisah percintaan.
**
Ketika aku berpisah dengan Royan, sebulan setelahnya adalah waktu tepat masuknya Corona ke Indonesia. Virus menyebalkan itu berhasil bertahan di negaraku bahkan sampai aku berkali-kali ganti gebetan. Yang lebih menyebalkan lagi, karena virus tersebutlah, aku yang seharusnya kuliah ke kampus, tiba- tiba peraturan dari rektorat menyuruh mahasiswa dan mahasiswi kuliah via ponsel karena demi menjaga keamanan dan kesehatan diri sendiri. Tapi aku terheran-heran karena ketika aku yang tak pernah keluar kemana-mana ini, bahkan ke warung saja tidak, mengapa kulitku semakin terlihat gelap?
Hhh. Entahlah. Karena hal itu pula aku jadi lebih senang berada di rumah, kuliah dari rumah, karena aku tak mau keluar dalam keadaan kulit yang menggelap seperti ini. Mungkin ini karena skin care ku sudah habis dan aku tak memakainya selama dua bulan karena tak ada pemasukan.
Sampai bulan September, Corona belum juga terusir dari Indonesia membuatku jenuh bukan main. Bedanya, bulan ini sudah mulai banyak orang yang keluar rumah. Dari mulai keluar untuk bekerja sampai rekreasi, hanya saja semua orang yang keluar rumah tetap harus memakai masker. Kalau ini masih bulan Maret atau bulan Juni, mungkin jalanan masih akan sangat sepi karena orang tidak berani keluar rumah.
Berita-berita di televisi terdengar snagat menyeramkan karena banyak korban yang positif Covid 19 padahal mereka selalu menuruti peraturan presiden bahwa tidak boleh keluar jika tidak penting, harus menjaga kebersihan, rajin olah raga, rajin mencuci tangan, dan lain sebagainya, tapi ternyata ada saja yang membuat mereka tertular.
Aku termasuk warga negara yang penurut karena jarang sekali keluar rumah kecuali belakangan ini yang mungkin dikarenakan presiden Indonesia memberi kelonggaran jadi aku muali berani nongkrong dengan teman-teman lagi, walaupun masih tak sesering dulu.
Malam itu, karena aku dan teman-teman mulai jenuh semenjak-- mungkin sekitar setengah tahun yang lalu adalah terakhir kali kami liburan bersama, akhirnya aku berencana mengajak Gilang, Denny, Gezya, dan Putri untuk ke liburan ke Jogjakarta atau Bali untuk melepas penat. Sesuai dugaanku, mereka—alias teman-temanku—yang pasti sama jenuhnya dneganku ternyata setuju. Kami berlima bahkan langsung mencari hotel dan sewa transportasi untuk di DP dengan destinasi Yogyakarta.
Namun sebelum kami mulai membuka aplikasi pemesanana kamar hotel dan travel, Gilang menyuruhku mencari satu teman perempuan agar sama-sama tiga perwakilan dari masing-masing jenis kelamin. Aku menuruti mau Gilang dan menawari Rara—Mutiara Hikmah—apakah ia mau atau tidak. Bersyukur ia mau walaupun ia mengajukan persyaratan yakni ia hanhya akan pergi jika di akhir tahun alias bulan Desember. Setelah banyak diskusi dan debat tanggal serta bingung akan naik kendaraaan mobil travel atau kereta api, akhirnya semua pemesanan sudah kami lakukan.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku liburan ke Jogja. Dulu setelah Ujian Nasional di bangku Sekolah Dasar, aku dan kawan-kawan juga berlibur ke Kota Budaya tersebut. Tapi apa yang diharapkan dari gadis kecil saat itu dulu? Aku sudah lupa betapa indahnya Kota Yogyakarta dan kemana saja destinasiku dulu saat kesana. Maka dari itu, ketika aku sudah menemukan kepastian bahwa aku dan teman-teman akan liburan akhir tahun ini, aku sangat semangat. Aku suka menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Apa lagi sampai menginap beberapa hari. Malam hari, biasanya kami akan melakukan deep talk and deep thought yang merupakaan kegiatan kesukaanku. Saking bersemangatnya, aku sampai langsung mencatat apa saja yang harus ku bawa dan tak boleh ketinggalan padahal kami berangkat masih tiga bulan lagi. Aku juga sudah berusaha semakin giat menabung agar tak membawa uang terlalu sedikit untuk bisa membeli banyak oleh-oleh.
Di atas sana, Tuhan sedang tersenyum. Entah senyum macam apa tapi yang pasti, Dia menyiapkan kejutan untuk Anna Jovanka.
**