sesuatu di jogja

3287 Words
Lagu Adhitia Sofyan yang terputar di radio berjudul Sesuatu di Jogja menemani perjalanan kami ke Heha Sky View yang saat ini sedang digandrungi oleh kaum muda. Jujur, aku tak pernah mendengar lagu ini sebelumnya, baru kali ini. Tapi di pertama kali mendengar saja aku sudah jatuh cinta. Aku terbawa suasana malam hari di jalanan kota budaya.   Terbawa lagi langkahku kesana Mantra apa entah yang istimewa Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja Dengar lagu lama ini katanya Izinkan aku pulang ke kotamu Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja   Gilang—sebagai sopir kami hari ini bersenandung pelan membuatku melirik kecil. Bukannya apa, aku malah mendengus melihat lelaki gondrong di sampingku yang mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama lagu. “Iya, ngerti, ini suasananya lagi enak banget. Tapi bisa, gak, nyetirnya gak sepelan ini? Gak nyampe-nyampe.” Protesku. Di belakangku, Denny ikut berseru. Putri dan Rara juga mengangguk setuju. Sedangkan Gezya asik mendengkur di bangku paling belakang. “Tahu, nih! Bisa-bisa dua jam baru nyampe.” Gilang menggerutu kecil tapi kemudian menuruti untuk menambah kecepatan mobil. Aku dan Putri sudah asik memboikot lagu di Spotify untuk diputar.  Aku tahu empat temanku yang lain terganggu karena selain aku dan Putri tak sadar diri dengan suara yang tak ada merdu-merdunya ini, kami malah teriak-teriak di mobil, sesekali berjoget kecil, dengan tangan memegang mic khayalan. “You and me and all our friends!” Teriakku sambil menoleh ke belakang, ke arah Putri, alisku terangkat menyuruh Putri melanjutkan lirik, mengajak duet berdua. “I don’t care how much we spent! Baby, this is what the night is foooo....” “...oooor!” “I know nothing’s making sense! For tonight let’s just pretend!” “I don’t want to stop so give me mooooo...” “....OOOOOOOOR!” Kami berdua teriak mengikuti intonasi  suara surga milik Harry Styles membuat Gilang langsung berdecak keras dan mematikan MP3 pada detik kemudian. Selanjutnya tangan lelaki itu menjitak kepalaku. “Berisik!” “Fu—“ Aku hampir mengumpat kalau saja Gilang tidak langsung menutup mulutku dengan telapak tangan besarnya. “...ood.” Lanjut Gilang membuat kami berlima tertawa. Butuh waktu sekitar lima puluh dua menit dari Malioboro untuk mencapai destinasi restoran Heha Sky View. Setelah memarkirkan mobil dengan benar, aku membawakan rokok dan pemantik milik Gilang lalu membuka pintu dan turun. Aku berjalan di samping kiri putri dan di samping kiriku ada Gilang yang sibuk menenteng dua ponsel, satu milikku karena ia sedang menghidupkan tethering. Ada banyak street food di lantai satu yang menarik di mataku. Kalau aku tidak salah baca, sepertinya tadi di internet bilang bahwa lantai duanya lebih bagus lagi dan digemari kalangan remaja milenial. Sesuai gambar dan ekspetasiku, Heha Sky View memang secantik dan se-instagramable itu. Kami mengambil duduk di pinggir menghadap jalanan Jogja karena itu memang spot utama disana. Rara dan Putri sudah sibuk memilih menu, sedangkan Gezya dan Denny asik main game di ponselnya— yang mana ini membuatku malas karena... hei, ya kali jauh-jauh ke Jogja cuman buat ngegame? Gilang sudah siap menghidupkan rokok sedangkan aku asik memotret pemandangan. Ketika kertas menu sudah tertulis sesuai keinginan kami berlima, Denny dengan menyebalkannya menyuruhku berdiri untuk mengembalikan kertas pada kasir. Jujur, aku paling tidak suka disuruh berdiri kalau sudah terlanjur duduk, hehe, mungkin karena sudah PW alias posisi wenak duduk di bangku kafe dan tiba-tiba disuruh angkat kaki. Tapi aku tahu, mengeluarkan protes juga akan jadi hal yang sia-sia karena tidak akan ada yang mau berdiri juga. Jadi aku menarik tangan Putri, memaksanya mengantarku ke kasir dengan menenteng kertas dan bulpoin setelah meminta uang pada Gilang. Biasanya memang setiap kali kami nongkrong atau makan bersama, Gilanglah yang akan mengeluarkan dompet. Tapi saat perjalanan pulang, kami berempat—karena biasanya Rara tidak ikut— akan mengganti uangnya. “Kirimin ke gue, dong, foto pas di mobil.” Ujar Putri setelah aku menunjukkan hasil selfie bersama-sama ketika perjalanan tadi.  Aku mengangguk dan memilih foto di galeri. Hal itulah yang membuatku tiba-tiba oleng saat ada seseorang yang menabrak bahuku dari arah belakang. “Put!” Aku memekik pada Putri karena ponselku hampir jatuh ke lantai kalau saja manusia yang menabrakku tersebut tidak segera menangkapnya. Bukannya langsung tenang, aku malah makin panik. Karena, satu, itu ponsel yang baru sekitar enam bulan yang lalu dan jika ada sedikit saja luka disana, mungkin aku akan menangis dan suasana hatiku akan memburuk detik itu juga. Demi Tuhan aku butuh waktu satu tahun untuk menabung dan membeli ponsel tersebut. Lalu yang kedua, panikku dikarenakan takut jika orang— yang ternyata laki-laki— itu membawa kabur ponselku. Oke, mungkin ini terdengar berlebihan tapi memangnya apa salah jika aku berpikir begitu karena ini pertama kalinya aku ke negara orang? Tapi semua kekhawatiranku langsung lenyap pada detik dimana aku mengangkat kepala untuk melihat wajah laki-laki tersebut. Pernah melihat adegan FTV dimana ada perempuan yang terpana melihat laki-laki? Seperti itulah gambaran kira-kira tatapanku saat melihat wajahnya. Tinggi, tampan, tidak berkulit putih tapi kulitnya bersih,  rambutnya terlihat berantakan tapi malah membuat daya tariknya semakin bertambah, ia memakai hoodie abu-abu tua dengan celana jeans. Dan dari jarak sedekat satu langkah pendek tersebut, aku bisa mencium harum parfum dari tubuhnya. Beuh, wangi bener?! Dan aku benci laki-laki yang wangi karena... Anna Jovanka lemah terhadap yang satu itu. Cowok wangi tiu seperti bisa menghinoptis para wanita agar nyaman tanpa berbuat sesuatu satu pun. “Sorry, sorry.” Ucapnya sama panik. “Ini hapenya. Sorry, ya?” Aku berdeham sambil mengangguk. Menerima kembali ponselku dari tangannya, “Iya, enggak apa-apa.” Aku mengajak Putri kembali melanjutkan jalan ke kasir yang ternyata mas-mas tersebut antri tepat dibelakangku. Haduh, aku sudah lama tidak merasakan debaran karena melihat laki-laki tampan. Dan jarak kami yang tak jauh ini membuatku semakin gemas karena aku masih bisa merasakan aroma wangi disana. “Ini aja, Kak?” Aku mengangguk pada mbak pegawai kasir tersebut. “Berapa totalnya?” “Seratus tujuh puluh lima ribu, Kak.” Aku mengeluarkan uang yang ku taruh di saku belakang celanaku, meluruskan uang disana dan menghitungnya. Lalu tanganku langsung tegang dan kaku karena uang yang diberikan Gilang ternyata kurang. Aku menoleh cepat pada Putri, berbisik lirih takut laki-laki dibelakangku ini mendengar. Kan, tengsin. “Put, bawa uang dua lima ribu, gak?” Putri melongo. “Gue kesini aja kagak bawa dompet.” Sialan. “Ya udah, lo tunggu sini biar gue nyamperin Gilang lagi. Uangnya kurang, nih.” “Gesek atau tunai, Kak?” Tanya mbak pegawai mungkin tidak sabaran menungguku. “Eh, iya, bentar, Mbak—“ “Kurangnya pake uang saya aja.” “Eh?” Aku dan Putri— ditambah mbak kasir serentak menoleh pada laki-laki yang tahu-tahu sudah berada di sampingku sambil mengeluarkan satu lembar warna biru lima puluh ribu. “Kurangnya berapa tadi?” “Eh. eh.” Aku langsung panik dan menghentikan pergerakan tangannya. “Jangan, Mas. Anu—ini saya baru mau ambil dompet di teman saya. Gak usah—“ “Di belakang banyak yang antri, Mbak. Gak apa-apa pakai uang saya dulu.” Potongnya lagi dengan tersenyum kalem kemudian membuatku melirik ke arah belakang. Aku meringis menemukan banyak manusia disana memang sedang mengantri. “Gilang g****k banget, dah, malu-maluin aja.” Gerutu Putri disampingku yang tak ku tanggapi sama sekali karena aku masih tengsin abis. Usai aku mendapatkan nomor meja dan mengucap teriamkasih pada kasir dan mas laki-laki yang membantuku tersebut, aku minggir menunggu si Mas Wangi selesai memesan miliknya diluar antrian, sedangkan Putri berjalan menjauh untuk mengambil uang di Gilang untuk mengganti hutang barusan. Ku lihat laki-laki itu berjalan menghampiriku dengan tangan sibuk menyakukan dompet di celana. Aku tersenyum tidak enak padanya. “Bentar, ya, Mas, temenku lagi ambilin uangnya. Maaf jadi ngerepotin.” Dia terkekeh kecil sambil menyugar rambutnya. Buset, ganteng bener ya Allah?! “Sebenernya gak usah diganti gak apa-apa, Mbak. Itung-itung buat permintaan maaf soalnya bikin hape Mbak ampir jatuh tadi.” Aku tak tahu harus menjawab apa. Lagi pula berbicara dengan laki-laki tampan membuatku kikuk dan lidahku kelu karena sellau salah fokus pada wajahnya. Hal yang terjadi berikutnya membuat jantungku mencelos bukan main karena ia menarik lengan tanganku pelan dan lembut— walau tidak menyentuh kulitku karena aku memakai kemeja panjang-- tapi tetap saja. Aku menoleh padanya kebingungan tapi kemudian aku baru sadar bahwa ia hanya menghindarkanku dari gerombolan orang yang akan lewat. Ketika aku masih tak bisa bersuara, beruntung kemudian Putri datang dan langsung memberikan uangnya padaku. Aku mengerjapkan mata masih syok seiring dengan aku yang menghitung kembali uang lima ribu-an dari Putri. Kenapa harus uang receh-receh, sih? Batinku sempat protes. Setelah memastikan jumlahnya ada lima, aku tersenyum sembari menyerahkan uang tersebut pada Mas Wangi. “Ini, ya, Mas. Maaf uangnya receh.” Ucapku sambil meringis tak enak. Dia mengangkat kedua tangannya di samping kepala seakan-akan jika menyentuh uang dariku, tubuhnya akan meledak. “Loh, Mbak, saya bilang gak usah diganti.” “Loh?” Aku jadi ikut bingung. “Lah, kan, tadi saya pinjem uang masnya?” “Gak apa-apa, Mbak.” “Yah, jangan, dong, Mas. Utang itu harus—“ “Gini, deh.” Sepertinya lelaki itu memang hobi memotong kalimat orang. “Mbaknya ngerasa utang sama saya, kan?” Aku mengangguk tanpa ragu. “Gimana kalau bayarnya gak usah pakai uang.” “...” “Tapi pakai nomor Whats App mbaknya aja?”     **     “Enak banget lo maen ke Jogja langsung dapet gebetan?! Ganteng pula!” “Lah, anjing, lo dapet cowok baru?!” “Anjir, napa dah gue gak se-lucky elo?!” Adalah kalimat-kalimat yang dikeluarkan teman-temanku saat Putri dengan mulut embernya menceritakan kejadian barusan kepada mereka. Aku memijat pelipisku yang pusing dan setengah malu karena mejaku dengan meja Jeff— iya namanya Jeff, dia sempat memperkenalkan namanya padaku usai kami bertukar nomor—hanya berjarak tiga meja. Iya, sih, memang aku sedang sangat-sangat senang. Iyalah, siapa yang enggak senang dimintain nomor hape sama cowok ganteng? Tapi aklau kelakuan para temanku seperti ini juga pasti malu. Apa lagi ketika aku melirik kecil ke arah seberang dan menemukan Jeff juga sedang melirikku sambil terkekeh kecil. Ah, bisa gila! Aku segera menyelesaikan minumanku ketika Gilang mengajak kami kembali ke hotel. Tanpa melirik lagi, aku langsung berjalan cepat disamping Putri dan menyeretnya menuruni tangga. Haduh, belum apa-apa saja aku sudah salah tingkah duluan hanya karena tahu dia sedang menatapku terus menerus. “Santai, Ann, santai. Masih aja nyengir, tuh, mulut.” “Tahu, dah, kering gigi lo lama-lama.” Aku mencubit lengan Gilang dan Denny keras-keras sebelum membuka pintu mobil. Gilang langsung menghidupkan MP3 usai memberi uang pada tukang parkir. Jika biasanya aku ikut ribut berrebut lagu apa yang akan diputar, kali ini aku membiarkan Gilang bertengkar dengan Putri. “Indie aja, hadoh!” “Koreaaaaaa!” “Tadi pas berangkat, kan, udah lo blokir MP3 gue!” “Ye, bodo amat.” Putri maju untuk merebut ponsel Gilang emmbuat aku terdorong semakin menempel pada kaca mobil. “Muter lagu apa, ya?” Putri malah diam dengan posisi menungging yang enggak banget dan membuat Gilang berdecak karena kalah dan harus mengalah lagi pada Putri. Aku membenarkan posisiku agar nyaman sebelum bersuara. “Day 6 aja, Put. Lagi mood yang cinta-cintaan, nih.” “Ye, oncom!” “Sombong banget, Siti!” “Sok banget, dah, yang abis kenalan sama cowok gans.” Aku hanya tertawa jumawa. Padahal sebenarnya aku memang hanya sedang ingin mendengar suara Jae, tak bermaksud membawa-bawa kejadian tadi. Mereka berlima saja yang sensitif karena mereka semua jomblo. Hah! “Tapi, Ann. Kalau gue boleh saran...” Aku menoleh ke belakang pada Rara yang memfokuskan pandangannya pada ponsel tapi sambil terus berbicara. Omog-omong, Rara ini yang paling normal diantara yang lain. Dia malah yang palig susah diajak gesrek walaupun ia memiliki selera humor yang rendah. Info tambahan, sebenarnya Rara juga tidak jomblo. Hanya belum mendapat kepastian dari bosnya— iya, Rara ini bekerja di perusahaan besar yang letaknya di Kota Surabaya dan dia sedang didekati oleh bosnya sendiri yang terpaut usia sepuluh tahun dengannya— Jadi perempuan itu kuliah sambil kerja kantoran. “Mending jangan berharap banyak-banyak dulu, deh. Bukan gimana-gimana, ya... cuman, kan lo juga baru ketemu tadi. Iya akalu dia jadi ngechat lo? Kalau enggak? Atu mungkin dia ngechat lo padahal dia udah punya pacar?” Aku sudah membuka mulut namun ku urungkan ketika Rara sudah menatapku. “Bukan gue ngehalangin elo, cuman.. ada baiknya gak banyak berharap, kan? Lo sendiri yang dulu juga sering ngingetin gue. Lebih baik mencegah dari pada mengobati, right?” Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku pada Rara. “I got it, Ra. Thank you so much.” Dia membalas senyumku sebelum kemudian aku kembali menghadap depan, menyandarkan punggung, dan mulai terpejam— bukan untuk tidur, tapi untuk mengontrol diriku sendiri, karena bagaimana pun benar kata Rara, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Aku tidak mau kecewa. Diiringi suara Yuna— aku tidak tahu sejak kapan lagu Day 6 berganti jadi Yuna— yang menyanyikan lagu berjudul Crush, aku mantapkan hatiku bahwa tidak akan tertarik dengan lelaki secepat ini hanya karena ia tampan. Love at first sight is a totally bullshit. Apa lagi pernah ku dengar bahwa bukannya laki-laki tampan biasanya adalah siluman buaya darat? Demi menjaga keutuhan hatiku, ku putuskan untuk menghilangkan wajah Jeff dari kepalaku. I feel a little rush I think i’ve got a little crush on you I hope it’s not too much But, babe, when i’m with you i hear it My heart singing La la la la la la La la la la la la...   **   “Serius dichat?!” Putri yang awalnya sedang mengoles krim malam pada wajahnya di depan cermin jadi melompat ke tengah ranjang usai aku mengangguk. Ia menggoayangkan lenganku dengan heboh membuatku mengernyit. Kenapa nih anak heboh anget, dah? “Dia ngechat gitu doang aja keliatan ganteng banget, anjir!” Seru Putri membuat aku terbahak. Rara yang baru keluar dari kamar mandi bengong melihat Putri dengan wajah fokus melihati ponselku. “Ada paan, neh, rame-rame?” Aku mengedikkan bahu sedangkan Putri langsung semangat menajelaskan. “Beneran? Cie...” Ledek Rara membuatku mendengus. Aku berlulut di atas kasur untuk menggapai ponselku di tangan Putri. “Siniin. Ganggu amat, lo, Put.” Aku menyandarkan punggung pada kepala ranjang, menggigiti bibir bawahku menahan agar tak tersenyum terlalu lebar. k*****a sekali lagi pesan singkat dari nomor yang belum ku simpan kontaknya tersebut. 08** **** **** : halo ann 08** **** **** : ini jeff Jemariku terdiam di atas layar, memilih kata yang tepat untuk menjawab, sebelum akhirnya bergerak mengetik disana. Anna J : hai jeff Anna J : saved ya Centang biru muncul tak lama kemudian. Karena Jeff tak kunjung menjawab, aku mematikan ponselku dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah. Ku cermati wajah polosku usai menghapus sisa make up, setelah itu menghembuskan nafas dengan pelan. Selalu begini. Insecure-ku selalu menyerang lagi di malam hari. Bisa-bisanya Jeff yang seganteng itu menyukai perempuan sepertiku? “Ann, dibales, nih, sama Jeff.” Teriak Putri membuatku bergegas menutup pouch putihku dan keluar dari kamar mandi. Aku duduk di depan meja cermin usai Putri meletakkan ponselku di meja tersebut. Aku menyemprot toner pada wajahku yang sudah kukeringkan dengan handuk—aku tidak membawa kapas, omong-omong. Selama menunggu wajahku kering lagi, aku mengetik kode ponselku untuk membukanya. Jeff : i saved yours too Jeff : udah pulang? Apakah aku pernah bercerita tentang tipe laki-laki yang ku sukai selain wangi? Selain tinggi dan harum, aku juga suka laki-laki yang bisa bermain gitar, memiliki selera musik yang bagus, dan pandai berbahasa Inggris. Entah mengapa itu menambah kesan keren saja di mataku. Aku tidak terlalu bagus untuk berbicara bahasa barat, jujur saja. Aku hanya mengerti sedikit kosa kata, tapi aku juga seberapa kali akan menambahkan Bahasa Inggris di dalam kalimatku. Dan Jeff memiliki satu lagi kriteria lelaki yang ku sukai. Anna J : baru sampe di hotel Jeff : hotel? Jeff : jangan bilang kamu bukan asli Jogja? Anna J : i am hehe Jeff : serius? Jeff : lagi lburan doang? Anna J : hooh Anna J : kamu asli Jogja? Jeff : bukan juga. aku Tangerang Jeff : kamu orang mana? Anna J : Malang Setelahnya, Jeff kembali hilang. Tulisan online di kontaknya sudah menghilang dan aku keluar dari ruang ruang obrolanku bersamanya. Aku memilih mengecek pesan masuk dari yang lain, membalasnya satu bersatu. Kebanyakan dari teman kampus yang mengajakku liburan dan ku jawab iya, asal aku sudah pulang ke Malang. “I USED TO THINK THAT I WAS BETTER ALOoOOooNE!” Suara cempreng Putri membuatku kaget luar biasa. Aku melotot padanya karena Putri menyanyi dengan nyaring membuat Rara juga tiba-tiba tertawa terbahak mendengar suara yang tidak enak didengar tersebut. “Eh, besok jadwalnya mau kemana, sih?” Tanya Putri kemudian berbaring di sampingku. Omong-omong, sebenarnya kamar hotel ini hanya boleh diisi oleh dua orang. Tapi demi menghemat biaya, kami memutuskan untuk dibagi jadi tiga saja. Lagi pula perempuannya hanya kami bertiga. Ya kali ada satu yang harus tidur sendirian? Kalau aku, sih, ogah. Rara mengedikkan bahu dan ikut berbaring di samping Putri yang artinya aku tidur di pojok kanan di samping nakas. “Nurut aja, dah, gue. Gilang, kan, yang bagian nyusun destinasinya?” “Iya.” Jawabku singkat karena Putri malah sudah tertidur dengan suara dengkuran halus. Aku dan Rara bertukar pandang sebelum kemudian tertawa. Gila, bukannya barusan perempuan itu bernyanyi sambil teriak-teriak? Kenapa sekarang malah sudah tertidur pulas begini? “Ann, ambilin ponsel gue di samping lo, dong. Gue mau foto komuknya dia.” Aku menuruti kemauannya. Sempat ku intip ponsel Rara lalu aku tersenyum mengejek. “Panggilan tak terjawab dari gebetan, tuh.” Rara hanya tertawa saja sebelum membuka fitur kamera dan mendekatkan ponsel ke wajah Putri. Dasar, ya. Dari jaman SMA, Rara lah yang memang selalu mengumpulkan foto-foto aib anggota kelas kami. Maka dari itu, sekarang pun aku ajdi was-was, takut kalau aku tidur lebih dulu, Rara malah memotret wajahku juga. Ponselku berdenting satu kali menandakan pesan baru masuk.  Ku raih ponsel dan membaca balasan dari Jeff. Jeff : Are you free tomorrow? Aku mengernyit membacanya. Benakku sudah sibuk menduga-duga. Sejujurnya aku tak mau geer, tapi dari pertaannya, aku bisa menebak satu. Apakah laki-laki itu akan mengajakku keluar? Belum juga selesai aku mengetik balasan, satu pesan lagi kembali masuk. Jeff : lusa pagi aku udah balik ke Tgr Jeff : would you mind if i ask you to go out w me tomorrow night? Setelah membacanya, aku tak langsung membalas. Aku malah menggulir layar ponsel mencari nomor Gilang. Aku mengetik cepat disana. Menanyakan kemana destinasi kami—aku, Gilang, dan yang lainnya besok. Tapi Gilang malah centang satu alias ponselnya mati. Jadi aku memilih menelpon Denny dan suara tut-tut dari ponselku membuat Rara menoleh. Perempuan itu mengangkat satu alisnya dan bertanya. “Nelpon siapa?” “Denny.” Aku baru akan menyapa halo pada  lelaki di seberang sana tapi Denny malah langsung menyemprotku tiba-tiba. “Anjir, ya, lo. Gue lagi main malah ditelpon!” Aku meringis. “Sori, sori, gue gak tahu.” “Apaan, cepet?!” “Gilang suruh buka Whats App, please.” “Iye.” Dan sambungan telepon langsung diputus oleh Denny. Aku mendengus kencang. Jelas saja Denny tak pernah punya pacar. Pasti para gebetannya lari kabur semua karena dinomor duakan dengan game. Karena Gilang tak kunjung membalas juga, aku memilih meladeni Jeff terbeih dahulu. Anna J : kemana Jeff : Malioboro? terserah kamu aja, sih. “Lah?” Aku bermonolog. “Dia yang ngajak tapi gak tahu kemana, gimana, dah.” “Ann, lo ngomong sama hape?” tanya Rara menoleh padaku lagi. Aku menyengir saja. “Dia ngajak lo hang out?” Rara ini memang pandai membaca situasi rupanya. Aku menganggukkan kepala dua kali membenarkan pertanyaannya. Ku lihat Rara yang kini ikut mengangguk-angguk. “Emangnya gak ptakut diapa-apain?” Iya, sih. Sebenarnya aku juga  tidak berpikir semudah itu untuk menerima ajakannya. Karena yang pasti, dia adalah orang asing. Kami baru bertemu satu kali, dalam jangka waktu pendek, tidak banyak mengobrol, aku belum mengenalnya luar dalam. Tidak ada yang tahu, kan, dia orang baik atau jahat? Setelah menggunakan kurang lebih lima belas menit waktuku untuk memikrkan jawaban apa yang tepat untuk ku berikan pada Jeff, akhirnya aku mengetik balasan lagi. Anna : not really sure aku free besok Ku lihat dia kembali mengetik. Jeff : aku gak yakin kita bisa ketemu lagi setelah aku balik ke Tgr. ikr mungkin kamu takut mau jalan sama aku karena kita baru kenalan tadi but, don’t i look like have a crush on you at the first sight? bcs i do. hehe. so that is why i want have a once good trip at Jogja w you. ASTAGA! Mataku melotot sejadi-jadinya melihat balasan panjang dari Jeff. Apa laki-laki itu sudah gila dengan mengungkapkan perasaannya pada perempuan asing secepat ini? Aku menggigiti kukuku saking gugupnya. Munafik bila aku tak merasakan senang karena hatiku saja rasanya sudah berbunga-bunga. Anna J : u shock me Jeff : sorry hehe Jeff : aku gak pinter basa-basi Jeff : so, is it yes or no? Aku bingung sekali. Jujur saja aku memang ingin bertemu lagi dengannya. Apa lagi jalan-jalan ke Malioboro malam hari bersama crush bukankah akan sangat terasa menyenangkan? Pun jika aku dan Jeff berakhir sebagai teman saja, aku juga tidak akan apa-apa karena memang sedikit 'tidak mungkin' berharap banyak pada lelaki setampan dirinya. Sudah pasti di Tangerang sana lebih banyak perempuan yang lebih cantik dariku. Iya, enggak, iya, enggak. Tapi, kan, Malioboro di bulan Desember gak bakal sepi? Mungkin gak apa-apa kali, ya, ngeiyain dia? Gak bakal diapa-apain, kan? Anna J : call Jeff : glad to know that Jeff : send your hotel loc tomorrow Jeff : i’ll pick you up at 7 pm Jemariku membuka pesan masuk dari Gilang yang mengirimkan list destinasi besok seharian. Lalu tanpa mengamati satu persatu, aku langsung mengirimi balasan. Anna J : gue skip jadwal keluar malemnya ya lang hehe Aku hendak langsung mematikan ponsel ketika satu pesan lagi muncul dari Jeff. Jeff : have a good night anna. Bibirku melengkungkan senyum namun memutuskan untuk tak membalas pesannya. Aku mneruh ponsel di atas nakas sebelum berbaring di atas kasur, membenarkan letak selimut, dan mulai terpejam. Have a good night, Jeff.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD