Jeff POV
Kalau kalian ngira waktu gue nabrak dia itu adalah hal yang gue sengaja, kalian salah. Gue bener-bener gak sengaja karena gue emang lagi buru-buru ngantri ke kasir. Gue bahkan baru bisa natep wajahnya pas dia syok sambil nunduk ngeliat ke ponselnya yang gue tangkep. Satu yang ada di pikiran gue pas gue liat muka dia cengo karena—mungkin takut hapenya jatuh dan lecet-- dia ngegemesin banget. Banget. Gue gak bohong. Matanya melotot kecil dengan bibir sedikit terbuka. Dan pas gue balikin ke dia, dia buru-buru ganti ekspresi. Kali ini bukan gemes yang gue lihat, tapi manis.
Gimana cara dia natep gue sambil senyum kaku—mungkin dia kesel tapi dia gak bisa marah-marah ke gue— gue berani bersumpah dia punya aura berbeda. Dia manis, menarik.
Bagian gue bayarin dua puluh ribunya dia pun, itu bukan skenario yang sengaja gue susun. Niat gue emang anggep itu duit sebagai permintaan maaf karena abis nabrak dan jatohin hape dia. Tapi karena dia maksa buat bayar duit— karena dia bilang itu utang— gue sengaja nawarin barter pakai nomor Whats App. Yang ini aksi tanpa rencana.
Oke, lo bisa bilang kalau love at first sight is totally is a bullshit. Gue pun sependapat sama lo. Dan yang gue temuin di diri gue pas ngeliat cewek dengan kemeja hijau tua yang lengannya ia gulung sampai siku itu, jelas ini bukan love-- atau mungkin belum. Gue cuman tertarik. That’s it.
Sekali lagi gue tekanin, aura dia luar biasa. Gue yakin gue bukan orang asing yang pertama kali minta nomor hape dia. Karena sekali liat dia, bonus dengein cara dia ngomong, bonus ditatap pakai tatapan yang gue gak ngerti maksudnya apa, cewek ini berhasil bikin gue terhipnotis. Oke, ini lebay.
Dia pakai parfum yang— gue gak bisa jelasin. Tapi asli, aromanya gak norak malah bikin nyaman. Lembut. Kontras banget sama cara dia berpakaian yang terkesan agak tomboy apa lagi suaranya terdengar cempreng.
“Anna Jovanka.”
Dia tersenyum sembari menyebutkan namanya, lalu tangannya menyambut uluran tangan gue. Kami bersalaman beberapa detik sebelum gue bisa ngerasain kalau gue deg-degan abis. Anjir, gue juga gak ngerti kenapa bisa gak jelas begini.
Suaranya yang cempreng itu malah bikin gue bisa bayangin betapa gue bakalan betah sekalipun telponan sama dia enam jam dalam sehari. Wake up. Back to the reality, Jeff.
“Anjiiiing, sabi banget lo cari cewek!”
Adalah kalimat yang keluar dari bibir Bisma— salah satu temen perkumpulan gue —setelah gue ambil duduk di kursi sampingnya. Gue nyengir lebar banget entah untuk apa.
“Lo minta nomernya?” Ini suara Akbar, temen gue yang satunya lagi— yang kata para adik tingkat kami di kampus, Akbar ganteng banget kayak oppa Korea.
“Iya.” Jawab gue singkat sambil sibuk mengamati foto profil Anna di Whats App-nya. Perempuan itu berpose berdiri dengan satu kaki ia angkat ke belakang dinding, tangannya tenggelam di saku, tersenyum manis dengan almamater kampusnya.
“Gercep amat, bosku!”
Gue tertawa saja. Apa lagi setelahnya, Bisma, Akbar, dan Gana sibuk memaksaku memperlihatkan foto Anna karena katanya mereka tak bisa melihat dengan jelas wajah Anna saat perempuan itu bersamanya di depan kasir tadi.
Gue menolak. Tentu saja. Anna terlalu manis buat gue bagi-bagiin fotonya ke buaya-buaya di peternakan gue. Hahaha. Apalagi yang namanya Gana paling gak bisa liat cewek cantik dikit.
Gue sempet ngulas senyum ke cewek itu lagi pas tahu Anna bersama teman-temannya sudah beranjak dari meja mereka dan sepertinya sudah akan meninggalkan restoran. Ia mengangguk, membalas senyumanku.
Sumpah, kenapa dia manis banget, sih?!
“Udahan kali, Bor, kalau ngeliatin. Dianya udah belok masih aja lo perhatiin bekas jejaknya.”
“Natepnya dalem banget, Bro! Kayak ngeliat jodoh dari surga yang lagi jalan pakai gaun pengantin ke arah lo, ae.”
Gue gak tahan untuk tak terkekeh dengan kalimat Bisma yang terakhir. Gue menyunggingkan senyum tipis sembari melepas asap rokok didalam mulut. Menoleh pada ketiga temen gue, gue bersuara. “Kayaknya dia emang jodoh gue, sih.”
“Tahik.”
“Asoooy!”
“Anjeeer mujaerrr.”
Gue ngakak sekeras-kerasnya mendengar sumpah serapah dari mereka. Tapi kemudian Akbar dengan wajah seriusnya ngeliatin gue bikin gue salfok sama alisnya yang mirip ulet di pohon alpukat.
“Emang lo yakin dia gak punya pawang?”
Oh, f**k. Gue lupa sama yang satu itu.
**
Anna POV
“Lewat dokumen aja, jangan langsung, biar gak pecah gambarnya.”
“Kelamaan.”
“Ih, gak apa-apa dari pada burem gak bisa diposting!”
“Duh.”
Aku mendengus keras ketika mereka-- Denny, Gezya, Rara, dan Putri-- tak kunjung diam hanya perkara foto yang akan dikirim melalui galeri atau dokumen tersebut. “Blue tooth aja, dah, sekalian!” Selaku sebal.
Satu jam yang lalu kami baru selesai berkunjung ke Candi Borobudur. Sebenarnya destinasi kami selanjutnya sesuai list dafatr dari Gilang adalah ke museum, tapi aku dan Rara memaksa ke Candi Borobudur. Tadi di mobilpun kami sempat berdebat karena aku tak mau mengalah, dan Gezya serta Denny juga tak mau kalah.
“Jauh-jauh ke Jogja destinasi lo kayak rekreasi anak sekolah dasar tahu, gak?!”
Aku melotot tajam pada Gezya. “Ya bener, dong?! Jogja, mah, yang tenar, kan, Candi Borobudurnya. Gimana, sih?!”
“Tahu, tuh.” Sahut Rara disampingku ikut membela.
“Yang mau menang harus bayarin bensin, deh!” Putus Gilang membuat aku, Gezya. Denny, dan Rara menoleh serempak. “Apa-apaan, tuh? Bensin, kan, pakai duit iuran, Oncom?!”
“Kalau gak mau ya udah jangan berantem mulu makanya.”
Tapi sepertinya Rara memang sefanatik itu dengan Candi Borobudur. Perempuan yang hari ini memakai setelan berwarna merah muda dari atas sampai bawah itu mendengus kesal namun tangannya merogoh tas, mengambil dompet. “Gue aja yang bayarin bensin. Tapi beneran ke Candi Borobudur, kan?”
“Ra, serius lo yang bayar?” Tanyaku ragu. Masalahnya, ini membelikan bensin mobil, bukan sepeda motor. Aku tidak mau jika harus mengeluarkan uang iuran hanya berdua dengan Rara untuk mengisi tangki bensin mobil yang jarumnya saja sudah berada di garis merah.
“Gak apa-apa. Gue aja. Lo kagak usah iuran.”
Aku menyeringai senang. Lagi pula uang Rara memang banyak, jelas karena ia sudah bekerja. Lain lagi dengan aku yang fokus kuliah dan tidak punya pekerjaan sampingan. Ku biarkan Rara memberi beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada Gilang lalu kami pun berangkat kesana dengan Denny dan Gezya yang tetap memasang raut wajah sebal.
Usai pulang dari tempat salah satu dari tujuh keajaiban dunia tersebut, aku dan yang lain pergi mencari restoran terdekat lalu keributan kedua terjadi karena foto tadi. Untung saja kalau yang soal ini aku tak terlalu peduli. Kalau aku ikut berdebat, bisa-bisa pulang dari Jogja wajahku berkerut karena terlalu banyak marah-marah.
Tapi sebagai lelaki, Gezya dan Denny memang teman yang sangat menjengkelkan dan tak mau mengalah pada perempuan. Ini bukan pertama kali— tentu saja— bagi kami bertengkar dan berdebat satu sama lain. Tidak hanya denganku, tapi dengan Putri, Rara, dan yang lain, memang semua perempuan sepertinya pernah bertengkar dengan Gezya dan Denny. Walaupun bukan bertengkar yang membuat kami sampai bermusuhan, tapi tetap saja bikin hati gondok.
“Lo nanti kagak join kita?”
Aku menoleh pada Gilang yang menghadap ke arah jendela, mengamati jalan raya. “Lo ngomong ama gue?”
“Iye, anjir.”
“Oh. Kagak.”
“Mau kemana?”
“Jalan.” Jawabku singkat dengan mata fokus ke bawah menunduk pada ponsel sedangkan jemariku bergerak lincah di atas layar. Membalas pesan dari Jeff yang menanyakan aku sedang dimana.
“Sama yang kemaren?”
Mataku memicing. “Kok tahu?” Lalu aku melirik Putri yang sekarang sedang pura-pura menyedot minuman bersodanya. “Dikasih tahu Putri, ya?”
Gilang tak menjawab apapun melainkan menghisap sekali lagi batang nikotin lalu beralih menatapku. “Kenapa mau-mau aja diajak cowok asing jalan berdua? Malem-malem lagi.”
Nah, yang satu itu aku juga tak punya jawaban atas pertanyaan dari Gilang. Aku juga tidak tahu mengapa aku tidak takut, atau minimal ragu lah, diajak laki-laki asing untuk jalan berdua di malam hari. Tapi entah benar atau tidak, aku hanya merasa bahwa Jeff bukan laki-laki yang patut dicurigai. Itu saja.
“Dia ganteng jangan dijadiin alasan, ya.” Ujar Gilang membuatku memukul lengannya. “Bukan gitu!”
“Iya, terus?”
“Gak ngerti juga, sih.” Aku meringis padanya. “Pingin aja. Nambah pertemanan isn’t something bad, kan, Lang?”
“Pertemanan my ass.”
Aku langsung kesal begitu melihat Gilang seperti sengaja menjatuhkan suasana hatiku yang padahal dari tadi baik-baik saja itu. Lagian kenapa muka laki-laki itu terlihat kesal? Aku, kan, tidak melakukan apapun yang membuatnya sebal. Dasar aneh.
“Ya udah, sih, suka-suka gue. Orang gak bikin lo susah juga.”
“Belom aja.”
“Halah!” Balasku sengit.
Gilang menghela nafas sebelum meletakkan putung rokoknya ke asbak yang telah disediakan restoran. “Iya, deh, iya, terserah. Nanti dia jemput lo, kan? Nah, baliknya suruh nganter juga.”
“Iye, tahu.”
“Jangan balik ke hotel malem-malem.”
“Iya, Lang.”
“Nanti kalau ada apa-apa langsung telpon gue.”
“Bacoooot.” Jawabku emosi.
Gilang tertawa kemudian berdiri dan mengajak kami semua segera keluar restoran untuk kembali ke hotel.
**
“First date sama gebetan ketemu di Jogja cheeeck!”
Aku tertawa melihat Putri mengacungkan ponselnya di depan wajahku, ku tebak ia sedang mem-video. Aku menutupi kameranya agar tak berhasil mengabadikan kegiatanku. Rara sudah tertawa di atas ranjang karena Putri tak kunjung membiarkanku menggunakan blush on ku. Malah asik merecokiku dengan cie-cie seperti bocah TK.
“Minggir gak, lo?!”
Putri menjulurkan lidahnya mengejek padaku. Tak kehilangan cara, ku cubit lengannya keras-keras sampai Putri memekik kesakitan dan menjauh menghindari cubitan selanjutnya.
“Woe, a*u! Sakit banget, tolong!”
Kini giliranku yang memeletkan lidah. Aku kembali duduk di kursi yang derada di depan meja cermin dan memberi warna merah muda di pipi dengan brush. Kali ini aku sengaja tak memakai make up selengkap biasanya karena sedang malas berdandan.
Usai selesai, aku memakai sepatu flat shoes berwarna hitam dengan bagian atas terdapat bola kecil berbulu yang ku beli awal tahun ini. Aku duduk di tepi ranjang, tidak menggubris Rara dan Putri yang sedang asik memilih foto untuk diposting.
Anna J: Anna J already sent a location
Jeff : loh hotel giorine?
Anna J : iya
Jeff : what a coincidence
Anna J : jangan bilang...
Jeff : yes wkwk we’re on the same hotel
Anna J: oh my gosh
Jeff : haha
Jeff : aku tunggu di lobi aja kali ya?
Jeff : apa mau disamper depan pintu?
Anna J : lobi dong
Jeff : alright
Jeff : can’t wait to meet you
Aku menggertakkan gigiku gemas. Kenapa Jeff pakai bilang can’t wait segala, sih? Bikin besar kepala aja!
Aku berpamitan pada Putri dan Rara yang sudah menatapku jahil membuatku mendengus sambil tertawa. Sebenarnya aku tak sesenang itu, kok. Ya, ada senengnya tapi gak sebanyak yang dipikirkan dua temanku tersebut. Mereka bersikap seolah-olah Jeff adalah laki-laki pertama yang mengajakku jalan-jalan saja.
Aku menutup resleting tas sling bag di pundak kiriku sambil melengkah. Aku masih bisa berjalan santai, tapi tidak ketika aku menemukan Jeff dengan kaos hitam dan jaket berwarna putih tulang yang melapisinya. Aku bahkan bisa mendengar degup jantungku sendiri yang seperti gendang dipukul kencang-kencang. Bayangan pesan singkat yang dikirimkan Jeff kemarin malam, dimana ia mengatkan bahwa ia tertarik padaku langsung muncul di ekpala membuat aku yakin bahwa pipiku sedang terbakar kini.
Kemudian Jeff menoleh sendiri seiring aku yang mendekat. Ia menyunggingkan senyum yang—astaga, aku yakin kakiku melemas saat ini— lalu lelaki jangkung itu berdiri. Ku pikir aku sudah terlampau tiggi di antara teman-temanku yang lain. Tapi bahkan kini aku masih harus mendongak untuk menatap Jeff.
Aku menggigiti pipi bagian dalamku ketika Jeff menatapku lama tanpa bersuara. Aku balik menatapnya canggung, sebenarnya aku takut kalau dandananku hari ini terlihat buruk. Belum lagi Jeff yang terlihat tampan sekali malam ini membuatku sedikit minder. Aku mengerjapkan mata dua kali, membuat Jeff tiba-tiba berdeham sambil menggaruk tengkuknya entah untuk apa.
“Eung— jalan sekarang?”
Aku mengangguk mengiyakan. Kami berjalan keluar pintu utama. Ku kira kami berdua akan jalan kaki mengingat jarak dari hotel ke Malioboro tak terlalu jauh, mungkin hanya membutuhkan lima belas menit sampai dua puluh menit. Tapi ternyata Jeff membawaku ke tempat parkir sepeda motor di hotel. Kami berhenti di samping sepeda Vario Putih dengan plat nomor asli Jogjakarta.
“Kamu ke Jogja bawa sepeda motor?”
Jeff menoleh padaku lalu terkekeh kecil. “Enggaklah. Ini sepeda motor nyewa.”
“Serius?”
“Iya. Buat malem ini doang, sih. Ya kali aku bawa kamu jalan kaki?”
“Kamu nyewa buat malem ini doang?”
Kali ini Jeff menatapku dengan raut bingung. Dahinya mengenyit dan kepala mengangguk. “Iya. Kamu... gak biasa naik motor, ya?”
“Loh, bukan gitu.” Selaku cepat. “I mean, kita bisa jalan kaki. Ini deket banget, kan, ke Malioboro? Ngapain repot-repot sewa motor?”
Ketika tangan Jeff bergerak mengambil helm yang tersampir di spion, aku mengernyit lagi. “Jangan bilang kamu juga beli helm baru?”
Jeff langsung tertawa. Apa yang lucu, coba?
“Enggak. Ini sepaket sama sepeda motornya, kok.”
“Dapet dua?”
“Iya.”
“Ooooh.”
Aku sudah mengulurkan tangan untuk mengambil helm berwarna merah jambu di tangan Jeff namun yang ada laki-laki itu meninggikan helmnya membuatku tak bisa menjangkau walaupun berjinjit. Aku mengangkat satu alisku kebingungan. Tapi aku lansgung tahu maksudnya ketika Jeff mendekat dan memasangkan helm ke kepalaku.
Astaga, jantungku.
Aku diam saja bahkan ketika Jeff mengangkat daguku sedikit untuk memasang pengait helm. Ia memberiku senyum sebelum memakai helmnya sendiri dan menaiki motor putih di depan kami.
“Ann?”
Aku mengerjap sesaat membangunkan diriku sadar dari keterkejutan. “Ya?”
“Jadi berangkat, gak, nih?"
**
“Seingetku terakhir kesini belum one way gini.”
Aku menoleh padanya. “Oh, dulu one way?’
Jeff mengangguk.
Kami berdua berjalan menyusuri trotoar yang kata Jeff sudah dibuat satu arah. Jadi tidak boleh ada manusia yang berjalan melawan arus. Tiga puluh menit kami habiskan untuk melangkah kaki mengikuti keramaian serta berbincang dengan laki-laki di sampingku, aku bisa menyimpulkan Jeff adalah laki-laki yang pandai mencari topik, bisa membaur dengan orang baru dengan mudah, menyenangkan, serta berwawasan luas.
Mendapatkan banyak kelebihan pada pertemuan pertama dengan Jeff membuatku semakin pusing dan takut tak bisa menahan diri untuk jatuh cinta. Hehe. Serius. Smart is the new sexy tidak berlaku hanya untuk perempuan, tapi laki-laki juga.
Nyatanya Jeff yang tidak pernah kehabisan tema obrolan itu bisa saja menjelaskan hal-hal yang tak pernah ku mengerti sebelumnya. Ini membuatku mendapat wawasan baru. Seperti kali ini, ia yang tiba-tiba memberitahuku mengapa Yogyakarta disebut daerah istimewa. tentu dulu ketika masih sekolah di bangku SD, aku pernah mempelajari materi yang satu ini, tapi jelas sekarang aku sudah lupa. Aku tidak bisa mengingat sejarah-sejarah di masa lampau dalam jangka waktu panjang. Kecuali kenangan bersama mantan.
“Karena Yogyakarta punya kerajaan dan kesultanan yang mana itu bikin kota ini beda sama yang lain.” Ujar Jeff menjelaskan dengan sabar. “Tapi gak semudah itu juga bisa menetapkan Yogyakarta sebagai daerah istimewa. Itu aja sempet debat dulu dari pihak BP KNID sama petinggi di Yogyakarta.”
Aku terperangah. Kenapa, sih, Jeff kelihatan makin ganteng kalau pinter begini?!
“Laper, gak?” Tanyanya kemudian dan aku langsung menggeleng karena aku memang sudah makan sebelum keluar dengannya.
“Ya udah, temenin aku makan aja, deh.”
Aku suka dengan Jeff yang tak perlu bertele-tele seperti laki-laki lain yang mungkin akan mengalah, memutuskan perempuan yang bagian mengarahkan akan kemana. Jeff punya daya tarik yang kuat seperti magnet karena kepribadiannya yang menyenangkan dan tegas ini.
Kami masuk ke dalam warung tenda lalapan yang berada di kiri jalan trotoar. Ia memesan ayam goreng satu porsi dan jeruk hangat untuk dua orang.
“Rame banget.” Gumamku lirih pada diri sendiri yang ternyata masih bisa didengar oleh Jeff.
“Mau main tanya jawab, gak, biar enggak gabut?”
Jeff dan ide-idenya yang tak pernah habis.
Aku mengangguk tanpa ragu. Lagi pula ku pikir tanya jawab ini bisa membuatku mengenal lebih dekat dengannya. Ya, kali, aku jalan sama laki-laki yang umurnya berapa aja aku enggak tahu?
“Anna first.”
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Bukan ladies first, kawan-kawan. Menyenangkan sekali kalimat tersebut ku dengar dari bibir Jeff.
“Umur?”
“I’m twenty first. Semester lima.”
Aku mendelik kecil. “Aku kira satu angkatan sama aku? Jeff— eh, sorry-- aku gak pernah manggil ‘kak’ selama ini.”
Jeff tekekeh kecil— mungkin karena mukaku sedang badut sekali dengan raut wajah panik yang ku pasang. “You did, kok. Awal kita ketemu kamu manggil mas. Tapi, enggak— gak perlu minta maaf karena aku lebih suka kamu manggil Jeff.”
“Is it really okay?” Tanyaku ragu.
Dia mengangguk dua kali dengan segera seolah meyakinkanku bahwa ia tak masalah. Aku mengangguk setelahnya.
“Aku tebak kamu semester tiga?”
“Ih, kok tahu?!” Pekikku heboh. Duh, harusnya aku lebih bisa menjaga sikap di depan laki-laki tampan. Tapi Anna Jovanka mana bisa sok lemah lembut sedangkan hobinya saja teriak seperti orang hutan?
“Nebak doang. Bener, ya, berarti?”
“Iya.”
“Di?”
“Di Universitas Negeri Malang.”
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menyunggingkan senyum yang kian lama ku amati kian melebar. Aku memicingkan mata menatapnya curiga. “Kok senyum-senyum?”
“Such a fate, is it?”
“Apa?” Tanyaku tak paham.
“Aku kuliah di Universitas Brawijaya.”
“WHAT?!” Kali ini aku benar-benar teriak sampai beberapa orang di kursi lain menoleh. Aku segera menutup mulut dengan satu tanganku sedangkan Jeff terkekeh geli. “Jeff, are you kidding me?!”
“I am not.”
Demi apapun. Aku sedang merasakan kaget luar biasa, dicampur rasa senang, panik, semuanya jadi satu. Hei, kampusku dan kampusnya tetanggaan for God’s sake! Universitas Negeri Malang dengan Universitas Brawijaya hanya butuh waktu seputuh menit dengan jalan kaki jika dari gerbang utama UM ke gerbang utama UB. Astaga, kebetulan macam apa ini?!
“Bukannya kamu di Tangerang, ya?”
Ia mengangguk. “Aku kuliahnya di UB, tapi.”
“Ambil?”
“Hukum.”
wow.
“Ngekos?”
Dia mengangguk. “Cuman, kan, ini lagi libur panjang. Jadi aku balik ke Tangerang, gitu.”
Aku masih menatapnya tak percaya. “Gila, sih.”
“Hahaha. Kenapa emangnya?”
“Gak nyangka aja.” Jawabku kemudian berdeham, mengembalikan ekspresiku yang beberapa menit belakangan kacau agar jadi lebih tenang. “Oke, move.”
Tapi baru aku memikirkan apa lagi hal yang ingin ku tanyakan kepadanya selain ‘kenapa lo ganteng banget?!’, nyatanya seorang bapak-bapak datang ke meja kami membawakan pesanan menginterupsi kami. Aku menerimanya dan mengangsurkan piring berisi nasi dan ayam goreng pada Jeff sebelum mengucap terimakasih.
“Beneran gak makan, nih?” Jeff mencuci tangan pada mangkuk kecil berisi air dan potongan jeruk nipis.
Aku menggeleng.
“Gak lagi diet-diet, kan?”
“Enggaklah. Badanku udah kurus kering begini?”
Dia mengambil timun di ujung mangkuknya dan memasukkan ke mulutnya sendiri. “Enggak kurus banget, kok. Udah pas segitu.”
Aku tak menanggapinya. Memilih untuk meminum jeruk hangatku sedikit sebelum mengeluarkan ponsel dari tas yang ku taruh di atas meja. Ada beberapa pesan masuk namun aku hanya membuka dari yang paling atas, yakni dari Gilang.
Gilang : inget gak gue ngomong apa
Gilang : jangan pulang malem-malem
Aku mendengus kecil membacanya. Iya, tahu, kalau selama ini aku dan Gilang memang lebih dekat dari pada pertemananku dengan yang lain, kami juga selalu kemana-mana bersama-sama, berdua ataupun berlima. Ia sering membantuku saat aku ada di situasi sulit mulai dari hal receh seperti meminta uang untuk ke toilet umum sampai mengantar mama ke bandara pun aku selalu mengandalkannya. Tapi bukan berarti dia harus seprotektif dan sengatur ini, dong, ya?
“Kenapa?”
Aku mengangkat kepala dan menemukan Jeff yang memandangku dengan tatapan bertanya. Aku menggeleng kecil. “Chat dari temen doang. Disuruh gak balik terlalu malem.” Jawabku jujur.
Jeff menelan makanannya sebelum kembali berbicara. “Ehm— kamu... are you single?”
Aku mencoba membaca pikirannya, ingin ku geledah isi otaknya agar aku tahu alasan ia menanyakan statusku. Kalau yang dihadapanku adalah laki-laki yang biasa ku temui di kotaku, mungkin aku langsung tahu bahwa niatnya sudah jelas ingin mendekatiku dan ingin tahu apa aku sudah memiliki pacar atau belum. tapi kalau Jeff.. hei, aku saja tak yakin dia benar-benar memiliki crush kepadaku seperti yang dibilangnya kemarin. Mungkin saja ia hanya ingin memiliki teman baru, kan?
“I am.” Jawabku kemudian. “Ngomongin soal status, eung—pacar lo gak marah? I mean, look at us now. Kamu berdua disini sama aku—“
Jeff menggeleng dan terkekeh, lagi. “Aman, kok. Aku juga jomblo, soalnya. Lagian, Ann, kalau aku udah pacar, aku gak mungkin disini sama kamu, kan? Makan sama cewek lain di belakang pacar tergolong perselingkuhan dan aku gak tertarik untuk itu.”
Ugh, Jeff.
“Kenapa nama kamu gak langsung Jefri aja dari pada Jeff Rei?” tanyaku random mengalihkan pembicaraan.
Tangannya bergerak memanjang untuk mengambil tisu dan aku langsung mendekatkan kotaknya pada Jeff. Laki-laki itu mengelap tangannya yang basah usai mencuci tangan. “Eung— i don’t know.” Laki-laki itu menyengir membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan. “Gak pernah kepikiran buat tanya itu juga seumur hidup ke bokap-nyokap. Ask my parents one day if you meet them.”
“...”
Aku tak tahu apa maksudnya menyuruhku menanyakan pertanyaan random itu pada orang tuanya apa lagi dengan tambahan kalimat ‘kalau kapan-kapan ketemu mereka’. Aku tidak mau geer, tapi—sudah, lupakan sajalah.
Di sisi lain, aku sebenarnya sedikit merasa takut kalau first impression-ku di matanya sangat buruk. Karena pertama, aku ketahuan banget bloonnya saat dia bisa menjelaskan sejarah ini dan itu sedangkan aku benar-benar tak tahu apapun. Kedua, malam ini aku menjadi Anna Jovanka yang asli karena aku sangat-sangat cerewet. Aku baru sadar bahwa aku banyak bertanya padanya, banyak mengkepoi urusannya, menanya-nanyai kehidupan Jeff, dan lain sebagainya.
“Jeff.”
"Hm?"
“A-aku..” Duh, bingung lagi nanyanya. “Aku berisik banget, ya, dari tadi?”
Bukannya menjawab iya atau tidak, Jeff malah menyunggingkan senyum tipis, menatap tepat pada bola mataku sambil beranjak dari kursi, ia bersuara. “Aku suka cewek bawel.”
Halo, Anna, apa kabar detak jantungmu?
Kini aku percaya dengan isi lagu Adhitia Sofyan bahwa akan selalu ada sesuatu di Jogja yang membuatmu jatuh cinta. Karena malam ini, aku menemukan jawabannya,
***