ternyata bukan gilang

3339 Words
“Ngenalinnya sebagai temen aja apa pacar, nih? Pertanyaan Jeff membuat Anna langsung menoleh ke belakang, melihat Jeff yang membawa satu kantung plastik beriis dua martabak manis sedangkan wajahnya menyeringai jahil. Anna hanya mendengus. “Bilang Aja kalau kamu Jeff.” jawabnya acuh sebelum menaiki akhirnya mereka melapas sepatu dan mengetuk pintu. “Assalamualaikum!” teriak Anna sambil tak berhenti mengetuk pintu. “Wa alaikum salam, bentar!” Lalu tak lama pintu dibukakan dan yang muncul adalah adik terakhir Anna, satu-satunya adik laki-laki yang cewek itu miliki. Moreno Febriansyah. Bocah laki-laki cilik itu malah diam memandangi sosok tinggi emnjulang di depannya alias Jeff, mungkin heran siapa dia. Jadi Anna langsung masuk rumah tanpa menunggu dipersilahkan oleh adiknya. Baru Anna akan bertanya kemana ayah dan mama, ternyata yang sedang dicari langsung muncul ke ruang tamu. Anna menyalimi tangan ayah dan mamanya, diikuti Jeff yang melakukan gerakan sama. Terlihat mama Ica, alias ibu tiri yang selama ini diceritakan Anna tersenyum manis. “Siapa namanya?” “Jeff, tante.” ujar kekasih Anna kemudian ikut duduk di samping Anna saat ayah menyuruh mereka untuk duduk. “Pacarnya Anna, ya?” Jeff hanya meringis, tak berniat mengiyakan atau menggeleng. Sedangkan matanya langsung melirik kecil ke arah Anna yang pura-pura tak tahu. Lalu ayah menanyakan mereka dari mana yang langsung di jawab Anna dengan jujur. Mereka berbincang cukup lama, menanyakn Jeff asli mana, kuliah dimana, umur berapa, semuanya ditanya. Untung saja Jeff ini tipe laki-laki sopan jadi tak mengeluh. Lalu tiga puluh menit kemudian, martabak yang dibawa Jeff dan Anna sudah berada di piring yang disediakan oleh adik perempuan Anna, si Fannya Salsabilla juga baki yang berisi dua gelas teh untuk Anna dan Jeff. Seiring dengan Jeff yang masih berbincang dengan ayah dan mama, Anna beberapa kali melirik Fannya, adiknya, yang menyeringai mengejek kepadanya. Anna hanya melengos tak peduli banyak. Pasti adiknya itu senang bukan main karena ada cowok ganteng main ke rumah, atau mungkin sennag karena akhirnya sang kaka membawa laki-lai ke rumah untuk diperkenalkan pada keluarga. Entahlah. Yang pasti selama ini memang Fannya lah yang tahu kisah asmara sang kakak versi lengkap karena walaupun tak tinggal serumah, Anna sellau mencurahkan isi hatinya pada sang adik, begitu pula sebaliknya. “Anna, tuh, gak pernah bawa cowok ke rumah. Kamu yang pertama.” ujar Mama Ica tiba-tiba membuat Anna memusatkan perhatiannya pada sang ibu dan sang kekasih. “Saya aja tahunya dia cuman pernah gak bisa lupain si Ardam. Iya, kan? Adam, kan, Fan, namanya?” Mama lanjut bertanya dan kali ini yang ditanya adalah Fannya yang jelas tahu jawabannya. Tapi syukurlah karena Fannya lebih memilih untuk pura-pura tak tahu karena Anna pun belum pernah menceritakan tentang Ardam Sein pada Jeff. Anna kira sudah cukup satu jam untuk menjenguk keluarganya, jadi ia mengajak Jeff untuk pamit undur diri yang langsung diiyakan Jeff. “Ya udah, te, aku pamit pulang, deh, ya.” ujar laki-laki itu sopan sambil berduru dan mendekat pada Mama Ica untuk menyalimi tangannya lalu bergerak mendekat pada ayah Anna juga. “Kok buru-buru? Padahal masih jam delapan, loh, ini.” “Iya, dia balik ke Malang soalnya. Tkaut kemaleman.” jawab Anna pada pertanyaan sang ibu sambung. “Kapan-kapan Anna nginep rumah, sini, ya, Ann.” Anna mengangguki permintaan ayahnya sambil tersenyum seraya mengucap salam dan berjalan menuju mobil. ** “Kamu gak terlalu deket sama keluarga yang disini?” Tanpa menoleh, Anna menjawab pertanyaan laki-laki di jok sebelah yang sedang mengemudi pelan itu. “Deket, sih. Cuman, ya, enggak sedeket sama Bapak sama Mbak Nia.” Jeff mengangguk-anggukkan kepala. “Udah dari kapan, sih, ikut Bapak?” “Dari baru lahir.” “Hah? Serius?” “Iyaaa.” Lalu Anna akhirnya menceritakan pada Jeff bahwa memang sejak lahir, Ibuk alias nenek alias suami Bapak memang mengadopsi Anna untuk tinggal di rumah mereka saja. Jadi itu alasan mengapa Anna lebih dekat dengan Bapak dari pada ayah kandungnya sendiri. “Lagi pula aku juga gak nyesel, sih, malah bersyukur yang ada karena Ibuk ngambil aku dari ayah sama mama. Nyaman ikut ibuk, tahu, Jeff.” Anna sengaja tak menceritakan lengkapnya. Hal-hal buruk yang terjadi pada kehidupannya, semua kisah pahit yang pernah ia alami, Jeff sepertinya belum cukup dekat untuk ia bagi kisahnya. Karena Anna memang bukan berasal dari keluarga yang harmonis. Ia tumbuh dalam keluarga yang penuh drama dan luka. Jika sudah saatnya,  Anna pasti akan menceritakan semua tanpa terkecuali pada sang kekasih. Kapan-kapan. Jika sudah tepat waktunya. Tapi sepertinya Jeff peka terhadap perubahan suasana hati Anna yang tiba-tiba nada bicaranya menandakan bahwa perempuan itu tak ingin membahas tentang keluarganya lagi. Anna tak mau Jeff mengorek lebih jauh. Karena Jeff yang mengerti, akhirnya Jeff ebrdeham sebentar sebelum kemudian ia mengalihkan topik obrolan. “Ann, pas kamu ketemu Akbar di malem tahun baru, menurut kamu Akbar gimana?” Anna meletakkan ponsel yang sedari tadi ia mainkan di paha, lalu menoleh pada Jeff. “Kak Akbar?” Jeff mengangguk. ‘Ya, gitu. Gak gimana-gimana.” “Dih, yang bener, dong, jawabnya.” “Eung---, keliatannya, sih, bad boy, gitu.” Jeff tertawa. “First impression kamu gitu?” Anna mengangguk. “Dari cara dia natap mata orang, ngajak ngomong, ngajak kenalan, apa lagi penampilan dia mendukung jadi buaya darat. Bener, gak, nih, first impression dari aku?” Jeff mengangguk. “Seratus persen akurat. Dia emang gudangnya cewek. Dari SMA udah terkenal suka gonta-ganti gebetan. Gebten, loh, ya, bukan pacar.” Anna menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Untung yang jadi pacar Anna bukan Akbar, tapi Jeff. “Tapi sebenernya dia udah gak gitu, sih. Sekarang, kan, dia pacaran sama Sevya, tuh, nah sebelum dia ketemu Sevya dia emang buaya, tapi—“ “Setelah ketemu kak Sevya udah taubat?” tebak Anna. “Nah, right.” “Ih, kayak di novel remaja aja konfliknya.” Jeff tertawa lagi. “Tapi beneran, deh, Ann. Semenjak sama Sevya, Akbar bener-benr seratus persen berubah. Eh, gak seratus juga, sih. Mungkin sembilan puluh lima, dong. Soalnya dia kalau ketemu cewek cakep juga masih suka ngedipin mata atau ngajak kenalan gitu. Cuman, ya, emang dia udah gak sampai minta nomer apa lagi lebih, udah enggak pernah kayak gitu.” “Keren, dong, kak Sevya bisa bikin kak Akbar sampai berubah.” “He-em. Padahal Sevya nya juga gak bisa dibilang cewek baik-baik, sih. Orang kerjaannya kelauar masuk kelab, tapi gak tahu, deh, kenapa bisa begini. Emang jodoh gak ada yang tahu, kan?” Anna mengangguk setuju. “Kenapa tiba-tiba bahas kak Akbar, sih?” Jeff dia beberapa saat entah memang karena ia sedang sibuk memutar kemudi atau sengaja diam sebelum akhirnya Jeff bersuara lagi. “Menurut kamu, Akbar ganteng, gak?” “Hah?!” Anna hampir tertawa melepaskan tawanya karena mendengar pertanyaan Jeff. “Apa banget, deh, Jeff, kamu tanyanya.” “Ganteng, gak?” desak Jeff ingin Anna menjawab pertanyaannya. “Emang selama ini ada orang yang bilang Kak Akbar jelek?” Dilihatnya Jeff menggeleng sembari tetap fokus menghadap jalanan. “Nah, ya udah.” “Jadi ganteng?” Anna sebenarnya merasa aneh jika harus memuji lak-laki lain di depan pacarnya sendiri. Tapi mau gimana lagi? Jeff, sih, tanya mulu. “Hmm.” Anna akhirnya hanya menggumam membenarkan. “Ganteng mana sama aku?” “Idih, apa, sih, Jeff tanyanya?” Anna benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Jeff saat ini. Untuk apa dia menanyakan hal-hal receh seperti itu pada Anna. “Aku, kan, nanya, Yang.” “Aneh banget nanyanya.” “Ganteng siapa?” desak Jeff lagi membuat Anna tertawa geli. “Ganteng pacar aku, dong.” “Serius, nih?” Anna menoleh pada Jeff yang menatapnya tajam dengan alis menukik, sangat kontras dengan bibirnya yang hampir gagal menahan senyum karena Anna menjawab begitu. “Serius. Ngapain, sih, kamu tuh tanya pertanyaan gak jelas gitu? Gak ada benefitnya banget, topiknya.” “Ada tahu.” “Apa, coba?” Jeff melirik Anna sekilas. “Kamu gak tahu aja waktu aku ngenalin kamu ke Akbar, aku deg degan setengah mati, takut kalau kamu kecantol ke dia.” “Hahahah. Ngapain amat?” “Biasanya cewek-cewekgitu, Yang, soalnya. Ada, nih, di SMA, cewek aku tiba-tiba digosipin naksir aku. Akunya juga peka, sih, orang dia suka banget ngasih aku bekal tiap hari. Terus pas dia nyamperin aku ke kelas buat ngasih bekal dan ada Akbar di sebelahku, tiba-tiba besoknya aku liat dia ngasih coklat ke Akbar, dong? Apa, tuh, coba namanya kalau dia gak oleng gara-gara abis liat Akbar?” Anna langsung tertawa. “Terus, terus? Kamu sama Akbar ribut, dong?” tebaknya atas kelanjutan cerita Jeff. Jeff mendengus sembari mendorong kening Anna yang mendekat untuk menjauh. “Kamu, tuh, kebanyakan baca novel, yang. Aku, kan, gak suka sama ceweknya dari awal, jadi ya biasa ajalah. Yang ada malah seminggu kemudian Akbar bilang dia malah udah nidurin itu cewek. Hnggg— dasar sinting emang, tuh, bocah. Padaha kalau aku malah seneng waktu tahu dia suka sama Akbar.” “Kenapa gitu?” “Risih, tau, digosipin anak di sekolah dikira pacaran sama dia. Nah, makanya aku takut kamu juga tiba-tiba belok ke Akbar.” “Ya, bedalah aku sama cewek yang kamu ceritain. Aku, mah, gak gitu.” “Gak gitu gimana?” “Gak asal suka sama cowok cuman karena dia ganteng. Apa lagi pas tahu kalau kak Akbar ternyata suka gonta-ganti cewek. Udah kapok, tahu, deket sama cowok kayak gitu dan selalu berakhir gagal. Gak mau lagi.” “Siapa? Si Ardam yang tadi disebutin mama kamu itu?” Tubuh Anna langsung menegang kaku. Aduh, kenapa Jeff inget segala, sih, sama nama Ardam? Bukannya Anna masih suka atau bagaimana dengan Ardam., tapi ia tak bisa menampik fakta bahwa Ardam memang laki-laki yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Butuh empat tahun lebih ia baru bisa melupakan Ardam Sein. Bayangin aja. Ia hanya takut kalau kembali membicarakan Ardam, kalau nanti tiba-tiba perasaannya malah terombang-ambing gimana? Kan, malah kasihan Jeff. Secara dulu ketika ia masih bersama Alfi Dierga saja ia bisa beberapa kali sadar bahwa perasaannya bimbnag hanya karena bertemu Ardam di jalan. Hhhh. “Eung—bukan. Bukan gitu.” Jeff menoleh sekilas padanya. “Bukan gitu apanya?” “Ardam bukan cowok kayak gitu.” “Oh, dia cowok baik-baik? Gak kayak Akbar?” “Ya enggak bisa dibilang cowok baik-baik juga, sih—“ “Dia mantan kamu, ya? Sampai mama kamu kenal dia, gitu.” “Bukan.” Anna tampak tak ingin membicarakan Ardam. Seakan-akan, “heh, mending bahas keluerga gue yang rumit jalan ceritanya kayak sinetron seribu lima ratus episode dari pada disuruh bahas Ardam.” Tapi beda dengan Jeff yang terlanjur penasaran. Dan melihat perempuan di sampingnya yang tak nyaman membicarakan tentang si Ardam-Ardam ini, tentu alah membuat Jeff curiga, dong. Pasti ada apa-apa, ya, kan? Kalau gak ada apa-apa pasti Anna biasa aja, dong, ya? “Terus?” “Gebetan doang? Dia deketin kamu terus ninggalin sebelum kalian jadian?” ujar Jeff mencoba menebak-nebak. “Enggak gitu, juga.” Anna lalu tiba-tiba berdecak. “Ck. Udah, deh, jangan bahas orang lain. Males banget, tahu, gak?” Jeff jadi menaikkan alisnya bingung, dahinya berkerut dalam. “Loh, kenapa tiba-tibe bete, sih, kamu?” Anna diam. Suasana hatinya sudah memburuk saat ini. Entahlah, mungkin nama Ardam Sein memang masih sebesar itu pengaruhnya untuk Anna. “Yang.” “Apa?” Anna menjawab panggilan Jeff dengan nada malas. Mmebuat Jeff semakin bingung di buatnya. “Perasaan kamu ke dia belum selesai, ya?” “Apaan, sih, Jeff, suka ngaco gitu kalau ngomong?” “Aku nanya, yang. Emangnya perasaan kamu ke dia belum selesai apa gimana, kok kamunya sekali ditanya soal cowok itu langsung bad mood banget gini.” Anna diam tak menanggapi. Bahkan perempuan itu mengalihkan pandangan ke luar jendela di samping kepalanya. Tak ingin menatap Jeff apa lagi menjawab pertanyaannya walaupun ia tahu Jeff sedang menunggu jawaban. Anna bisa mendengar Jeff menghembuskan nafas, entah jenis helaan nafas apa yang dikeluarkan Jeff tapi selanjutnya yang ia rasakan adalah mobil memelan seiring dengan usapan lembut di puncak kepalanya. Anna masih enggan menoleh. “Kamu malah ketahuan kalau masih ada apa-apa tahu, yang, ke dia, kalau kamunya langsung begini.” Lampu merah di depan membuat Jeff tak menyia-nyiakan kesampatan. Usai ia menghentikan mobil di barisan belakang dari mobil-mobil di depan yang lain, ia langsung mengambil tangan kiri kekasihnya, diusapnya lembut punggung tangan perempuan itu. “Kamu bisa cerita ke aku soal apapun, yang, kamu tahu itu, kan? Sekalipun sekiranya itu nyakitin aku.” Anna akhirnya memilih menoleh walaupun ia masih enggan bicara apa-apa. Anna bisa melihat senyum lembut yang terulas dari bibir Jeff untuknya. Tatapan teduh laki-laki itu membuat Anna semakin dikejar rasa bersalah. Kenapa pula ia harus mendadak mellow gara-gra nama Ardam sein, sih?! pikir Anna jengkel. “Aku gak mau bahas dia, Jeff...” Anna jadi berpikir bahwa hari haid nya akan segera tiba karena mendadak matanya memerah menahan tangis. Hatinya bergemuruh setiap kali mengingat Ardam Sein. Padahal demi Tuhan, Ardam dan Anna tak memiliki kenangan apapun yang bisa diingat, satu pun tidak ada. Apa yang membuat Anna sampai secinta ini kepada Ardam? Jeff yang sudah tahu bahwa Anna akan menangis, yang terlihat dari mata kekasihnya yang berkaca-kaca dan siap meneteskan cairan bening kapan saja, langsung bergerak merengkuh tubuh Anna, mengusap belakang kepala Anna seiring dengan Anna yang sudah menangis di pelukannya. “Aku gak suka kamu bahas dia....” Jeff mengecup puncak kepala Anna dan emngangguk mengerti. “Iya, aku salah. Maaf, ya? Aku gak bakalan bahas-bahas dia lagi.” Anna semakin terisak di pelukan Jeff. Padahal jika Jeff mengira Anna menangisi Ardam, laki-laki itu salah. Anna semakin tersedu menangis karena ia merasa bersalah pada Ardam. Ia merasa bersalah karena hatinya kembali goyah hanya karena teringat wajah Ardam. Lelaki itu masih saja membuat Anna begini walaupun batang hidungnya tak pernah muncul di hadapan Anna. “Udah, gak boleh nangis. Nanti cantiknya ilang.” Anna menajuh dari pelukan Jeff perlahan sambil mengusap sudut matanya yang basah. Ia menatap Jeff yang masih setia mengusap puncak kepala Anna untuk menenangkan, masih dengan senyum tulus yang setia bertengger di bibir laki-laki itu. Ann, jadi bukan Gilang yang seharusnya aku waspadain keberadaannya, tapi Ardam.   **   Notice me Take my hand Why are we Strangers when Our love is strong? Why carry on without me? And every time I try to fly I fall Without my wings I feel so small I guess I need you baby And every time I see You in my dreams I see your face It's haunting me I guess I need you baby I make-believe That you are here It's the only way That I see clear What have I done You seem to move on easy And every time I try to fly I fall Without my wings I feel so small I guess I need you baby And every time I see You in my dreams I see your face You're haunting me I guess I need you baby I may have made it rain Please forgive me My weakness caused you pain And this song's my sorry At night I pray That soon your face will fade away And every time I try to fly I fall Without my wings I feel so small I guess I need you baby And every time I see You in my dreams I see your face You're haunting me I guess I need you baby   **   Jeff padahal sudah menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Anna, tapi bukannya perempuan itu segera membereskan isi tasnya yang ada di dash board mobil, Anna malah diam tak bergeming dari sana. Jeff mengernyit bingung, “gak turun?” “Aku pingin ngomong sesuatu sama kamu.” Jeff yang kali ini jadi terdiam. Sadar betul bahwa Anna akan membicarakan tentang laki-laki yang bahkan Jeff tak tahu yang mana wajahnya dan tak pernah juga ia dengar nama itu keluar dari bibir Anna selama ia dekat. Ia ingat bahwa Anna memiliki mantan gebetan bernama Adam, tapi bukan Ardam. Atau telinganya yang salah dengar saat itu? “Ardam bukan mantan aku.” Adalah kalimat pembuka Anna. Dan Jeff tidak berniat bersuara apapun, belum berniat mengomentari apapun apa lagi Anna masih mendefinisikan Ardam dalam kalimat sependek itu. Diamnya Jeff membuat Anna memutuskan untuk kembali berbicara tanpa menunggu balasan. “Dia juga bukan gebetan aku. Aku sama dia gak pernah ada hubungan apapun selain aku yang suka sama dia tapi dia enggak. Kalu kamu bingung dan tanya kenapa kami gak pernah ada hubungan tapi aku sampai kayak gini kalau inget dia, jawabanku adalah... aku juga gak tahu, Jeff. Aku juga gak tahu kenapa di antara beberapa mantanku yang lainnya, malah Ardam yang bisa bikin aku sulit lupa sama dia. Ini udah empat tahun lebih sejak aku berusaha buat stop-in perasaanku ke dia, tapi... nihil. Nyatanya nama dia masih ngasih efek buruk aku bahkan sampai detik ini.” Anna mengambil tangan Jeff yang terkulai lemas di atas paha cowok itu, Anna menatap Jeff yang diam saja walaupun tatapannya tak mengintimidasi sama sekali. “Aku minta maaf buat ini, Jeff... Aku juga gak tahu kalau tiba-tiba moodku jadi buruk pas kamu bahas dia.” “... jadi kamu belum bisa lupain dia?” Jeff pun rasanya enggan sekali memanggil dan menyebut nama lelaki yang bisa-bisanya mengisi otak Anna saat Anna sedang bersamanya. Anna diam sesaat. “Jujur, aku gak pernah lagi kepikiran Ardam sejak lama. Apa lagi mulai aku deket sama aku, aku bener-bener gak pernah sekalipun coba stalk akun sosial media dia, kepikiran pun enggak pernah, Jeff. Bener-bener baru kali ini.” “That means your heart still too fragile to hear his name, am i right?” “...” Jeff lalu manggut-manggut, memutuskan mengambil kesimpulan sendiri. Toh, ia tak seenaknya melakukan penghakiman atas perasaan Anna, ia bisa menyimpulkan dari apa yang ia lihat dan ia dengar dalam satu hari ini. Semuanya sudah jelas. “It is. Kalau gak begitu, mana mungkin kamu sampai nangis cuman gara-gara aku bahas dia.” “Aku nangis gak cuman gara-gara dia, Jeff. Aku makin nangis karena aku ngerasa bersalah sama kamu.” “Are you?” “I am!” Tapi setelah itu Jeff malah diam. Ia diam dengan tatapan lurus ke arah Anna dengan pandangan tak terbaca. Mungkin pikirannya  sedang kusut, tak tahu harus apa dan bagaimana. Ia ingin hubunganya dengan Anna berhasil, sesaui apa yang selama ini ia impikan, ia ekspetasikan. Maka dari itu, sesuai dengan pengalaman-pengalamannya yang sudah-sudah, bahwa kepercayaan dan komunikasi adalah hal yang paling utama dalam suatu hubungan, Jeff memilih menghela nafas. Ia mengangguk mengerti. Ia coba enyahkan rasa tidak nyaman dlama hatinya karena memikirkan seperti apa sebenarnya isi hati Anna, apakah kekasihnya itu benar mencintainya, ataukah ia hanya dianggap sebagai cadangan menunggu Ardam agar mau menoleh padanya. Segala pikiran-pikiran buruk yang mampir ke kepala Jeff ia coba musnahkan. Anna sudah mencoba jujur dengan tak menutup-nutupi perasaannya, dengan mau dan bersedia untuk menceritakan hal tersebut kepadanya padahal kala pun Jeff yang ada di posisi Anna, pasti juga tak mudah mau mengaku bahwa hatinya masih terlalu rapuh untuk mengungkit masa lalunya. Tapi Anna mau. Apa yang lebih penting dari sebuah kejujuran dan kepercayaan selain ini? Jadi Jeff juga harus mengapresiasi usaha Anna. Laki-laki dengan kaus hitam itu akhirnya merentakan tangan walaupun tak terlalu lebar karena ruang di mobil yang tak luas. “Peluk, sini, Jeff-nya.” Anna tak tahan untuk tak berkaca-kaca mengetahui betapa Jeff selalu berusaha dewasa dan menengahi setiap masalah dengan sudut pandang yang berbeda. Lelaki itu selalu mengalah, mulai dari hal-hal kecil yang emmang sudah maklum jika dilakukan para pasangan di luar sana, sampai hal-hal seberat ini. Coba kalau ini bukan Jeff, coba kalau ini adalah laki-laki lain, mana mungkin bisa menahan emosinya agar tak meledak saat mengetahui bahwa kekasihnya masih tak sepenuhnya melupakan laki-laki dari masa lalu? Sudah seribu kali Anna katakan, bahwa ia memang beruntung karena ini Jeff. Karena saat ini yang memeluknya adalah Jeff Rei Jericho. Bahwa Jeff yang memang akan selalu membantunya keluar dari semua hal di dunia yang orang pikir tak akan mampu menemukan jalan keluar melalui jalur. Tapi Jeff selalu punya sudut pandang berbeda dan Anna selalu mengucap syukur atas itu. Anna menumpahkan tangis harunya di d**a Jeff, memeluk pinggang laki-lkai itu erat da Jeff tentu tak diam saja. Ia bisikkan kalimat pemanis di telinga kekasihnya seraya mengusap lembut punggung gadis itu agar berhenti menangis dan merasa bersalah. “Udah, gak papa, Ann...” Anna menggeleng di d**a lelaki itu. “Kamu kenapa-napa! Jangan bohong, deh.” Jeff sempat-sempatnya tertawa walaupun diakhiri dengan hadiah kecupan pada samping kepala gadisnya. “Iya, aku kenapa-kenapa. Tapi gak papa. Apa yang harus aku khawatirin selama kamu masih disini sama aku, ya, kan?” Anna semakin menangis karena merasa bersalah. Ia mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang dari laki-laki itu, tak seharusnya Anna egois dan tega menyakiti laki-laki sebaik Jeff hanya untuk Ardam Sein yang bahkan pernah menanyakan apa kabar hatinya saja tidak. “Maaf, Jeff...” “Iya, Sayang, iya. Minta maaf mulu dari tadi, perasaan? Minta maaf sekali lagi aku cium, nih.” “Gak papa.” “Hahahaha. Ya udah, sini.”   **   [Midnight at 11.00] Jeff Rei Jericho : yang, kirimin link cerita kamu dong Jeff Rei Jericho : yg kamu bilang kamu nulis naskah itu loh Anna Jovanka mengernyit membaca pesan laki-laki itu sebelum akhirnya terkekeh kecil di antara gelapnya ruangan kamar Anna yang lampunya sudah ia matikan itu. Lagian, random banget, sih, si Jeff jam segini tiba-tiba keinget sama naskah Anna? Anna Jovanka : iya bentar Anna Jovanka : https://asdfghjk.38jg****.com Anna Jovanka : tuh Jeff Rei Jericho : hehe makasih Jeff Rei Jericho : kamu tidur gih Jeff Rei Jericho : aku mau begadang baca tulisan kamu Anna Jovanka : baca besok aja jeff Anna Jovanka : udah malem gini kamu mau tidur jam brp coba? Jeff Rei Jericho : gapapa, nanti jam satu paling udah ketiduran sendiri sambil main hp Jeff Rei Jericho : udaaaah kamu sana tidur hush hush Anna Jovanka : ih ngusiiiir Jeff Rei Jericho : haha bercanda ngusirnya Jeff Rei Jericho : tp nyuruh tidurnya beneran Jeff Rei Jericho : good night pacarnya Jeff Anna Jovanka : good night pacarnya Anna Jeff tersenyum membaca balasan dari sang kekasih. Ia meninggalkan ruang chat bersama Anna setelah menekan link penghubung cerita milik perempuan itu. Tanpa mendownload aplikasinya, Jeff mulai memfokuskan diri pada bacaan tersebut walaupun Bisma dan Akbar tak bisa diam. Baru ia membaca sinopsis dari cerita tersebut, Jeff langsung mengernyit. “Nama tokohnya Ardam. Ini Anna nulis... cerita soal Ardam?”   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD