seribu tahun lagi

3352 Words
Berapa tahun usia Jeff sekarang jika bulan depan ia sudah baik semester enam? Coba hitung. Kalau ada yang menjawab selain angka dua puluh satu, maka mereka salah. Dua puluh satu tahun Jeff Rei Jericho sudah resmi menjadi manusia yang numpang tidur di bumi milik Tuhan, Jeff kira sudah banyak pengalaman dan pelajaran yang ia lalui. Jeff sudah pernah bilang bahwa ia memang hidup dan tumbuh di antara didikan yang baik dari orang tua. Ayah dan Ibunya adalah tipe orang tua yang menjadi impian para anak di luar sana. Mereka merupakan pasangan harmonis dan Jeff adalah anak yang beruntung, tentu saja. Jika di dalam rumah sudah tercentang bahwasanya Jeff baik-baik saja, namun  bukan berarti Jeff juga selalu bahagia saat keluar pintu rumah, kan? Seperti Tuhan yang menciptakan hitam dan putih, hidup dan mati, maju dan mundur, serta antnim-antnim lainnya sebagai dua macam warna di dunia, begitu pula dengan bahagia. Ada sedih, ada duka, ada pahit dalam kehidupan itu sudah pasti. Masalah yang mampir silih berganti itu tak hanya terjadi pada satu orang saja, Tuhan Maha Adil. Itu juga yang dirasakan Jeff selama dua puluh satu tahun ia hidup. Mungkin orang disekitarnya bisa saja berkomentar betapa beruntung jadi Jeff yang tak kekurangan kasih sayang dari orang tua, minta ini dikasih, minta itu dikasih, perekonomian keluarga selalu tercukupi, banyak teman dimana-mana, diberkati wajah tampan, kelakuan juga tidak minus, ia memiliki kepribadian baik, a, b, c, sampai z kelebihan selalu diagungkan oleh orang lain dari Jeff. Padahal mereka lupa, bagaimanapun Jeff juga bisa sedih, juga pernah menangis, juga pernah kalut, juga pernah merasa dunia ini tak adil. Namanya juga manusia. Itu wajar. Jeff juga pernah bertengkar dengan teman saat SMP karena dituduh mencuri padahal ia tidak, lalu pulang ke rumah, sang ibu bertanya mengapa di bawah mata Jeff ada luka biru, kemudian Jeff menjawab jujur bahwa ia baru brtengkar dengan teman karena dituduh mencuir, lalu sang ayah emosi – bukan karena tahu putranya berbohong, sang ayah jelas tahu bahwa anaknya memang tak melakukan perbuatan keji itu, tapi ayahnya tidak menyukai Jeff yang terlihat main fisik dengan orang lain. Keluarganya menjunjung tinggi rasa kekeluargaan, dan main tangan bukanlah jalan keluar yang baik. Akhirnya Jeff mendapat hukuman dengan tak diberi uang saku dua minggu penuh, tak diantar juga tak dijemput. Ayahnya bahkan tak mau mengajak ia mengobrol selama itu. Memangnya hal seperti itu tidak bisa membuatnya sedih? Jeff bahkan sampai menangis di sujudnya karena tak tahan dengan sikap ayahnya yang seakan-akan menganggap ia tak ada. Padahal hanya dua minggu. Padahal Jeff tak mencutr. Tapi bagaimanapun ia memang salah dan ia pantas diberi hukuman. Satu paragraf tersebut hanyalah satu masalah kecil yang pernah Jeff hadapi. Masih banyak hal lainnya yang pernah Jeff sebut sebagai ‘masalah dan cobaan hidup’ sebelum ia menyebutnya dengan ‘pengalaman dan pelajaran hidup’. Jangan kira masalah hidup Jeff cuman sekedar itu-itu aja. Ada saatnya dia bener-bener berada di tiitik paling rendah. Tapi, seriously, emangnya harus Jeff cerita kesana kemari kalau di lagi sedih, lagi ada masalah? Memangnya harus Jeff nunjukin ke orang-orang muka sedih, muka galau? Enggak, kan? Orang-orang hanya too early to give judge dengan bilang kalau Jeff selalu ceria, gak pernah punya masalah, gak pernah curhat. Dan berbekal hasil refleksi serta evaluasi Jeff atas masalah dari kehidupannya yang telah lalu, begitu pula dengan masa lalunya pada segi hubungan asmara, Jeff juga berpikir demikian. Banyak pelajaran— banyak sekali pelajaran yang bisa ia ambil dari hubungannya dengan Bella dulu, dengan Sierra, apa lagi dengan Tasya. Dari tiga pahlawan dari masa lampau tersebut, Jeff jadi lebih mengerti bagaimana cara menghargai sebuah hubungan, paham apa arti suatu ikatan, mengerti cara menyelesaikan masalah jika diterpa batu, dan lain-lain. Hal itulah yang ia terapkan untuk hubungannya saat ini. Sejak bersama Tasya, lebih tepatnya saat ia sudah naik kelas dua belas dan masih memiliki ikatan dengan Tasya, Jeff sudah pernah berpikir jauh, Jeff sudah pernah memiliki niat untuk serius dengan Tasya, setidaknya Tasya berhak tahu bahwa ia tidak sedang menjalani hubungan ‘hanya pacaran’. Tapi naas, semua ekspetasinya gagal bergitu saja hanya karena alasan tak mau terbentang jarak di antara dua manusia tersebut. Lalu ketika ia tahu bahwa hatinya juga baru berlabuh ke Anna, Jeff juga sudah memperingatkan diri sendiri bahwa ia tak boleh lagi bermain-main dengan perempuan. Ia hanya akan lanjut mendekati Anna jika memang Jeff merasa nyaman dan benar-benar cocok. Lalu tak butuh waktu lama saat Jeff akhirnya malah sudah memiliki rasa sayang untuk gadis itu. Malam dimana ia memikirkan bahwa ia kana segera bertindak meresmikan hubungannya dengan Anna, Jeff berusaha meyakinkan diri sendiri. Bener cewek ini yang lo mau? Bener, gak, lo sayang sama dia? Jeff selalu mengatakan pada dirinya sendiri. Di usia yang sudah kepala dua, Jeff tidak boleh bermain dengan perasaan wanita, sekalipun ia masih remaja, sekalipun kata Akbar masa depannya masih panjang untuk memikirkan yang lebih jauh, tapi Jeff tak sependapat. Ia tak ingin hanya asal memacari perempuan, tak ingin hanya asal nembak karena tak mau berstatus jomblo. Perempuan yang akan dipilihnya harus benar-benar karena hatinya ingin dan butuh. Jeff ingin jika suatu saat ia menyayangi seorang permepuan, perempuan tersebutlah yang kana jadi gadis terakhir pengisi hatinya. Dan itu berlaku saat ia tahu bahwa ia juga sudah mencintai Anna. Maka dari, berbekal perasaan sayang yang berbalas, Jeff juga selalu menyiapkan apa yang harus ia lakukan jika suatu hari nanti hubungannya diterpa angin, apa yang harus ia lakukan jika suatu sata nanti ia begini, atau Anna begitu. Memang kalian kira mengapa Jeff memikirkan hal seperti ini matang-matang jika bukan karena Jeff ingin hubungannya dengan Anna bisa berakhir ke jenjang yang lebih serius? Sebut saja apa yang dipikirkan Jeff ini kejauhan, belum saatnya, masih remaja labil. Tapi mari berkaca pada hubungan ayah dan ibunya yang malah terjalin sejak sekolah menengah pertama kelas tiga itu. Mereka berhasil melalui gelap untuk melangkah pada sesuatu yang cerah, kan? Ayahnya berhasil membuktikan bahwa keseriusan dan ketulusan tak akan berakhir mengecewakan. Ayahnya adalah role modelnya. Jangan tanya apakah sebenarnya Jeff tidak sakit hati saat Anna mengaku bahwa hatinya masih terasa nyeri jika seseorang membahas nama laki-laki yang Jeff tahu bernama Ardam itu. Tnetu saja jawabannya adalah, “ya, sakitlah, jelas.” Kecewa, sedih, panik, takut, semuanya bersarang jadi satu di benak Adam. Ia sedih karena nyatanya gadis yang ia cintai masih memiliki perasaan untuk orang di masa lalunya, ia takut jika suatu saat Anna kembali goyah terhadap perasaannya pada Jeff, ia panik karena takut, ia kecewa. Tapi pakah Jeff berusaha mengatakan itu keras-keras di depan wajah Anna? Apakah laki-laki itu meluapkan kekacauan dari dalam hatinya? Tidak. Jeff memilih diam. Memilih menenangkan Anna, merengkuh tubuh gadis itu, mengatakan semuanya akan baik-baik saja, walaupun sebenarnya Jeff Rei Jericho lah yang berhak ditenangkan. Hatinya berdenyut sakit. Tapi lagi-lagi, demi cita-cita dan impiannya, Jeff memilih mengalah. Tak apa. Ia hanya perlu terus berada di samping Anna, menjaga perempua itu, memberinya kasih sayang sampai dirasa cukup dan mampu menghilangkan nama Ardam, kan? Lalu semuanya akan kembali baik-baik saja. Begitu, kan? Semoga. ** Jeff sudah memberi tahu kekasihnya bahwa besok pagi ia akan kembali ke Tangerang bersama empat orang temannya: Akbar, Abram, Bisma, dan kekasih Abram yakni Maura. Atas pengumuman penting itu, akhirnya, sebagai pacar yang baik, siang pukul setengah dua, ia sudah tiba di apartemen laki-laki itu— namun kali ini mereka tak akan hanya berdua karena semuanya sedang full team disana. Full team yang dimaksud disini adalah empat orang yang tadi telah disebutkan, tetap tak ada Sevya dan Lovin. Tapi Anna justru senang kalau tak hanya berdua. Lebih tepatnya menghindari dosa karena Jeff suka dekat dan menempel padanya, lalu alasan kedua karena ia dan Maura— atau yang biasa ia panggil Kak Mo itu sudah berteman dekat. Tapi nyatanya walau tak berdua, Jeff sellau bisa mnecari kesempatan untuk berduaan. Seperti saat ini, Anna sibuk melipati pakaian milik Jeff untuk dimasukkan ke dalam koper sedangkan Jeff hanya bertugas untuk mengeluarkan pakaian dari lemari. Keduanya sedang berada di kamar tamu yang satu minggu ini ditempati oleh laki-laki itu dan Akbar, sedangkan Bisma tidur bersama Abram di kamar utama. Semuanya sudah menyiapkan koper masing-masing, tadi saja Maura juga membantu Abram begitu walaupun banyak ngomelnya karena Abram sama sekali tak membantu yang ada malah tidur-tiduran. “Udah ini doang?” tanya Anna ketika Jeff akhirnya duduk di sampingnya usai mengeluarkan semua pakaian dari lemari. Laki-laki itu mengangguk. “Aku emang gak banyak bawa pakaian. Orang seminggu ini lebih banyak pinjem punya Abram.” “Ya udah aku tutup berarti, ya, kopernya?” Jeff mengangguk lagi, membiarkan Anna menutup rapat koper hitam miliknya lalu laki-laki itu berdiri lagi guna mengangkat koper untuk diletakkan berjejer dengan milik Abram di belakang pintu kamar. Setelahnya, Jeff memilih duduk di karpet dengan menyandarkan punggung di kaki ranjang sedangkan Anna berada di atasnya. “Padahal kamu gak ngapa-ngapain, cuman bagian ngeluarin pakaian tapi kenapa kamu yang ekliatan capek banget, deh?” Di bawah, Jeff langsung terkekeh. “Sebelum kamu kesini aku sama anak-anak abis bersih-bersih apart, tau, yang. Kamu gak nyadar emangnya hari ini apartnya kinclong banget abis aku pel?” “Enggak ngamatin, sih.” Jeff mendengus mendengar jawaban snag kekasih. Anna yang tangan kanannya ia gunakan untuk bermain ponsel itu tiba-tiba lengannya ditarik dari bawah oleh Jeff. Jeff memberi gigitan kecil pada lengan gadis itu membuat Anna berdecak. Iya, hanya berdecak tida merintih karena memang tidak sakit. Lagi pula Jeff memang hanya berniat bercanda saja, karena gemas lebih tepatnya. Anna memilih menumpukan kedua tangannya di kedua bahu Jeff. Perempuan yang sedang emmbalas chat dari Putri itu jadi membalas pesan dengan Jeff yang bisa melihat kegiatan Anna dengan ponselnya karena posisi mereka berdua yang ebgitu. Apa lagi Anna menumpukan dagu di atas kepala Jeff. “Lagi kenapa Putri?” tanya Jeff mungkin usai membaca pesan kekasihnya dengan sang sahabat itu. “Ditinggal nikah sama cinta pertamanya.” Jeff tertawa. “Masa sih?” “Iya, nih, liat.” ujar Anna sambil menggulir layar ke atas, emnampilkan lebih banyak chat Putri dari awal tadi. Jeff mungkin benar-benar mau membaca chat panjang itu karena lelaki itu ikut scroll ke bawah. “Kasian banget.” “He-em. Padahal si cowoknya, tuh, gebetan jaman masih duduk di bangku SD, tau, Jeff. Tapi Putri poteknya sampai begini.” “Ck, ck, ck. Damage-nya gede, kali.” Anna tak menanggapi lagi. Jemarinya keluar dari ruang chat dengan Putri,lalu keluar dari aplikasi pesan tersebut, kemudian karena tak tahu mau membuka aplikasi apa lagi, ia memilih membuka fitur kamera, mengarahkan kameranya dengan tangan memanjang agar mampu menampung dua wajah. Anna langsung memasang senyum manis mengahadap kamera begitu pula dengan Jeff. Kalau pose pertama, memang selalu menjadi pose ternormal dan terformal, hanya sama-sama tersenyum. Baru, deh, kalau kedua dan selanjutnya, pasti udah mulai ganti-ganti ekspresi. Apa lagi perempuan yang selalu tak bisa hanya memotret satu kali. Akhirnya Anna mengganti posisi jadi mengerucutkan bibir yang diikuti Jeff. Laki-laki itu meniru ekspresi Anna tapi lebih dijelek-jelekkan. Mungkin Anna dan Jeff sudah berganti pose sebanyak sepuluh kali sampai Jeff akhirnya berkomentar. “Udahan, kek. Udah seribu foto, tuh.” “Idih, mana ada.” Anna melihat hasil-hasil selfie mereka berdua. Lalu selanjutnya ia memberikan ponselnya kepada laki-laki yang duduk di karpet itu. “Nih. Kamu yang megang.” “Astaga, yang?” Jeff menganga tak percaya. “Yang tadi gak ada yang bagus emang?” “Ada, SIH. Tapi aku pingin foto yang dari bawah gitu, lo. Jadi double chinnya keliatan. Hahaha. Kan, lucu.” Jeff tak berkomentar lagi. Ia menuruti permintaan kekasihnya, menaruh ponsel di atas paha lalu Jeff dan Anna menunduk menghadap kamera. “Kurang deket. Layarnya biar full face, gitu, loh, Jeff.” “Gini?” ujar Jeff smabil mengangkat ponsel lebih dekat. “Nah, gitu.” Anna menaruh dagu di pundak Jeff dan menunduk. Kedua memasang ekspresi konyol lalu Jeff memencet lingkaran di layar untuk dipotret. Lai-laki dengan kaos oblong dan celana pendek itu langsung membuka galeri untuk mengecek hasil barusan. Jeff kemudian menyengir, “lucu juga hasilnya.” “Nah, iya, kan?!” seru Anna langsung semangat. “Emang pinter, nih, aku kalau cari angle walaupun muka kita keliatan jelek, hahaha.” Jemari Jeff sibuk menari dengan lincah di atas layar ponsel kekasihnya dan Anna tentu ikut mengamati itu. Ternyata Jeff sedang mengirim foto-foto mereka ke aplikasi Whats App Jeff sendiri. Ponsel lelaki itu bergetar membuat tangan kiri Jeff langsung merogoh celana, mengembalikan ponsel Anna, lalu sibuk dengan ponselnya sendiri. Perlu diketahui bahwa usia hubungan mereka dekat yang sudah hampir satu bulan setengah itu, ini baru foot pertama mereka yang mereka punya. Benar-benar foto pertama karena mereka selalu lupa untuk mengambil gambar saat berdua. Untung saja Anna tadi tiba-tiba membuka fitur kamera. Anna tersenyum kecil saat dilihatnya Jeff sedang mengganti wallpaper ponselnya dengan foto mereka berdua barusan. Walupun tak bisa dibilang wajah mereka sedang bagus disana, tapi malah terlihat lawak dan konyol, namun Anna senang. Ia jadi gemas pada laki-laki itu. Jadi sebagai tanda terimakasih, Anna menunduk untuk memberi kecupan di pipi kanan Jeff. “Gemes banget, sih, Jeff, sampai dibikin wallpaper segala.” Jeff mendongak menatap Anna yang sudah menjauh, sudah duduk tegap tak menunduk lagi. Jeff menunjukkan senyum lebar pada Anna sampai giginya yang rapi terlihat. “Gemes banget, sih, Ann, tiba-tiba ngasih cium.” Jeff membalik kalimat pertama Anna jadi kali ini Anna ikut memberi cengiran. “Gak papa, dong.” Jeff yang masih mendongak hingga sebenarnya ia merasa lehernya pegal itu tiba-tiba menunjuk bibirnya sendiri. “Yang ini?” “Apa? Kenapa?” tanya Anna pura-pura polos dan tak tahu. Padahal sudah jelas ia tahu apa yang dimaksud dan diminta Jeff. “Gimme a smacker.” Anna tersenyum geli sebelum menyampirkan rambutnya ke belakang telinga dan menunduk memberi satu kecupan di bibir Jeff yang mengerucut itu. “Ini juga.” pinta Jeff sambil menunjuk pipi kirinya. “Kan, yang ini belum.” Anna menurutinya. “Ini, ini.” Kali ini laki-laki tampan itu menunduk dahinya dan Anna kembali merunduk. Memberi kecupan lamat-lamat di kening Jeff usai menyingkirkan poni laki-laki itu yang berjatuhan. Setelahnya, Jeff balik badan. Masih duduk bersila di karpet namun posisi duduknya tidak lagi membelakangi Anna melainkan menghadap perempuan itu. “Jadi sedih, deh, udah mau pisah lagi sama kamu.” kata Jeff dengan raut wajah tertekuk. Anna tersenyum, tangannya bergerak mengusap pipi Jeff. “Kan, tiga minggu lagi kamu udah balik ke Malang. Udah mulai masuk kuliah.” “Kamu kira tiga minggu gak ketemu aku bisa gak kangen?” Anna tertawa. “Jangan lebay, deh.” “Idih, dikatain lebay, masa? Awas aja, ya, kalau malah kamu yang ngerengek-ngerengek bilang ketemu.” Anna tertawa lagi. Padahal hatinya juga merasakan sedih yang sama seperti Jeff, benar-benar tak siap diterpa rindu. Satu minggu dihabiskan bersama Jeff membuat perpisahan kali ini terasa lebih berat. “Ikut ke Tangerang aja, yuk?” Anna langsung menghadiahi pipi Jeff dengan tamparan kecil membuat Jeff mengaduh dan menatap kekasihnya dengan raut wajah tak percaya. “Lagian, ngomongnya ngaco banget?!” “Ngaco dari mana, coba? Orang aku serius. Kan, kamu bisa tidur di kamar Sabrina. Lagian Ayah Ibu juga pasti tahu kalau aku gak bakal aneh-aneh sekalipun seatap sama kamu. “....” “Katanya mau ke Tangerang ketemu Ayah sama Ibu?” “Ya, enggak sekarang juga, dong, Jericho..” “Terus kapan, dong?” “Nanti-nanti, pokoknya gak sekarang. Lagian hari libur tinggal berapa minggu doang, aku mau di rumah aja nemenin Bapak.” Jeff menghela nafas. Memilih mengalah. Lagi pula ia memang tak bisa seenaknya mengajak Anna ke Tangerang, dong. Ia masih tak berani pamit ke Bapak memintanya mengizinkan sang cucu agar ikut ke Tangerang, menginap beberapa hari. Belum lagi ayahnya yang pasti akan curiga mengapa tiba-tiba membawa gadis cantik ke rumah, menginap segala. Ynag ada pasti dituduh sudah menghamili anak orang. “Kalau aku udah balik ke Tangerang, kamu jangan nakal, ya.” tutur Jeff sembari memainkan jemari-jemari Anna. Tatapannya lurus pada sang kekasih yang setiap hari selalu terlihat cantik di matanya. “Emang aku mau nakal gimana, sih, Jeff?” “Jangan lirik-lirik coowk lain.” “Mana mungkin.” “Jangan keseringan hang out sama cowok. Sekalipun Gilang. Bukannya aku mau jadi pacar yang posesif atau apa, aku ngebolehin kamu nongkrong sama temen cowok, kok. Tapi jangan sering-sering, apa lagi kalau berdua.” “Iya, Jeff.” “Dijaga kesehatannya. Banyakin makan wortel atau minum jus wortel kalau harus kejar target buat naskah.” Anna mengangguk-anggukkan kepalanya menurut beberapa kali, terlihat menggemaskan di mata Jeff. “Harus sering makan nasi biar gemukan. Pokoknya nanti kalau aku udah balik ke Malang, kamu harus gemukan, ya?” “Doain, dooooong.” ujar Anna sambil mengerucutkan bibir. “Kmau kira aku gak pengen gemuk? Pengen, tahu!” Jeff tertawa. Dicubitnya pipi Anna sebelah kanan. “Gak boleh begadang juga. Sesekali boleh, tapi jangan sering-sering.” “Iya, iyaaaaaaaaaaa. Pokoknya pesen yang kamu kasih ke aku, juga aku balikin buat kamu. Aku gak mau kamu aneh-aneh kalau pas jauh sama aku.” Jeff tersenyum dan mengangguk. Ia mengecup punggung tangan Anna beberapa kali sampai berbunyi. “Siap, komandan.” Perhatian Anna teralihkan saat di sudut kamar ia menemukan gitar berwarna putih bertuliskan nama Abram. Anna lalu berceletuk. “Jeff, ada gitar, tuh.” Jeff memgangkat kepala, menoleh ke belakang ke arah pandangan Anna tertuju. “Iya, punyanya Abram sengaja ditinggal di Malang. Kenapa? Mau dinyanyiin?” Sudahkah Ana pernah bilang bahwa Jeff adalah laki-laki yang super peka? Contohnya, ya, ini. Cuman dikasih tahu kalau ada gitar aja Jeff langsung tahu kalau Anna ingin dinyanyikan Jeff. Karena Anna mengangguk cepat untuk menjawab pertanyaan si cowok, Jeff akhirnya berdiri. ia ambil gitar tersebut sembari menutup pintu kamar yang terbuka lebar. Tidak ditutup rapat, sih, takut kalau ada setan lewat malah jadi gawat, atau yang ada diceng-cengin anak yang lain karena dikira ngapa-ngapain. Padahal maksud Jeff agar Anna bisa mendengar suaranya menyanyi dan bermain gitar di antara berisiknya suara Akbar dan Bisma di luar. Jeff mengambil duduk di tengah ranjang, bersila sama seperti Anna yang sudah bergabung di tengah-tengah kasur berukuran besar itu. Ia menggenjreng asal satu kali sebelum menatap Anna yang terlihat antusias menatap balik ke arahnya. Jeff terkekeh kecil, tangan kanannya ia gunaka n untuk menarik belakang kepala Anna agar mendekat sebelum meninggalkan kecupan singkat di pelipis gadis itu. “Mau dinyanyiin apa?” “Terserah kamu.” jawab Anna singkat. “Pokoknya harus spesial buat aku.” Jeff menggenjreng gitarnya sekali lagi, kali ini matanya terlihat menatap benda-benda di seisi ruang kamar guna mencari ide dan inspirasi. Lagu apa yang akan ia nyanyikan untuk perempuan cantik di hadapannya ini. Lalu usai Jeff tahu jawabannya, ia menunduk, memasang ancang-ancang siap bermain gitar membuat Anna tersenyum walaupun hatinya sudah berdebar ingin tahu lagu apa yang akan dibawakan Jeff untuk dirinya. Padahal mereka sudah sering melakukan hal yang lebih dari ini, tapi entah mengapa Anna masih saja sering merasa berdebar jika melihat Jeff. Beruntung sekali perempuan itu sampai bisa membuat Jeff jatuh cinta padanya. Anna masih tak bisa menebak lagu apa saat Jeff sudah mulai memainkan senar gitqar. Tapi satu detik usai Jeff mulai membuka mulut mengeluarkan suara merdua ynag selalu membuat telinga Anna dimanjakan, Anna langsung tersenyum sangat lebar. "Do you love the rain, does it make you dance When you're drunk with your friends at a party What's your favorite song, does it make you smile Do you think of me?" Anna memang tak hafal lagu ini. Tapi ia jelas tahu lagu siapa dan judulnya apa. Ia juga benar tahu makna yang terkandung di dlama lirik lagu tersebut. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mengikuti irama lagu. "When you close your eyes, tell me, what are you dreamin' Everything, I wanna know it all." Jeff menatapnya lembut sambil mengulas senyum tulus sebelum akhirnya sampai di bagian reff. "I'd spend ten thousand hours and ten thousand more. Oh, if that's what it takes to learn that sweet heart of yours. And I might never get there, but I'm gonna try. If it's ten thousand hours or the rest of my life. I'm gonna love you.." *** Dear Jeff Rei Jericho, Aku gak pernah capek buat jatuh makin jauh setiap harinya ke kamu. Aku sellau bersyukur sama Tuhan karena kamu yang akhirnya berhasil bikin aku berani buka hati setelah sering disakitin. Jeff, terimakasih banyak. Makasih karena kamu adalah Jeff dan bukan orang lain. Makasih karena selalu ngasih aku kasih sayang yang gak pernah habis ataupun berkurang. Aku juga mau kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu-- as you sang for me that day, for thousand hours more, i'm gonna love you.  Semoga apa yang kita lewatin sekarang dan seterusnya di depan, kita bakalan berakhir bersama, berdua, selamanya. Sincerely yours, Anna Jovanka. ** Do you miss the road that you grew up on Did you get your middle name from your grandma When you think about your forever now, do you think of me? When you close your eyes, tell me, what are you dreamin' Everything, I wanna know it all I'd spend ten thousand hours and ten thousand more Oh, if that's what it takes to learn that sweet heart of yours And I might never get there, but I'm gonna try If it's ten thousand hours or the rest of my life I'm gonna love you I'm gonna love you Ooh, want the good and the bad and everything in between Ooh, gotta cure my curiosity Ooh, yeah I'd spend ten thousand hours and ten thousand more Oh, if that's what it takes to learn that Sweet heart of yours And I might never get there, but I'm gonna try If it's ten thousand hours or the rest of my life I'm gonna love you I'm gonna love you And I'm gonna love you I'm gonna love you
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD