Anna Jovanka tahu bahwa kekasihnyalah yang bertugas menyetir untuk kepulangan mereka dan teman-temannya ke Tangerang. Maka dari itu, karena tak ingin mengganggu, ia sengaja tak membalas pesan apapun yang masuk ke ponselnya dari Jeff Rei Jericho. Sengaja. Ia hanya tak ingin menganggu konsentrasi Jeff untuk menyetir. Dari Malang ke Tangerang tetu bukan jarak yang pendek, itu perjalanan jauh. Walaupun mungkin— atau sudah pasti akan ada jam pergantian untuk menggantikan Jeff mengemudi, entah Abram, Bisma, atau Akbar, tapi intinya Anna tak mau mengganggu.
Hal yang dilakukan Anna usai Jeff berpamitan padanya untuk pulang ke kota asal lewat telepon tadi, gadis itu membuka pesan masuk yang hadir, selain dari Jeff, tentu saja. Di baris paling atas ada nama adik perempuannya, Fannya Salsabilla, yang mengiriminya pesan singkat berupa panggilan untuknya.
Fannya S : kak
Anna J : hm
Satu menit kemudian usai Anna sedang berkelana asik di aplikasi lain, panggilan masuk menginterupsinya, dari Fannya. Ia menekan tombol hijau. “Halo?”
“Kak, cerita, dong soal Kak Jeff.”
“Idih, apaan?”
Anna mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Benar-benar tak paham mengapa adiknya menelepon hanya untuk bialng begitu. Anna kira ada sesuatu yang lebih penting yang sedang terjadi di rumah mereka. Tapi dasar, adiknya si Fannya itu memang memiliki sifat centil. Harusnya Anna tak terkejut mengetahui bahwa kapan saja, sesegera mungkin, ia sudah pasti akan ditanyai soal ini. Sebenarnya Anna dan Fannya memiliki satu sifat yang sama yaitu sama-sama tidak bisa kuat iman kalau melihat laki-laki tampan.
“Ayo, doooong, pelit amat.”
“Bocah gak boleh ngurusin kisah asmara orang yang lebih tua.”
Dari seberang sana, Fannya mendengus. “Aku udah SMA, tahu! Biasanya juga kakak cerita-cerita. Dulu suka cerita soal Ardam, Alfi, Royan—“|
“Sstt. Diem, deh, lu.” Kesal perempuan yang siang itu menggunakan kaos oblong oversize dan celana selutut.
“Jadi? Orang mana?”
“Ye, kan, ayah kemarin udah tanya ke Jeff dia asli mana, masa kamu gak denger?”
“Aku, kan, di dapur bikinin kalian berdua teh.”
Oh, iya. Jadi usai Anna melengos karena adiknya ini sungguh penasaran terhadap Jeff, Anna pun mengalah. “Asli Tangerang. Ketemu di Jogja, di—“
“Ketemunya gimana?”
“Ya, bentar, dong, dek. Ini juga mau cerita. Makanya jangan dipotong-potong.”
Fannya terkekeh kecil. “Ya, maap. Namanya juga semangat.”
“Jadi, tuh, aku sama dia ketemu di salah satu kafe di Jogja gitu, awalnya dia nabrak aku sampai hapeku hampir jatuh terus dia nangkep, untung aja gak beneran jat—“
“Ih, kok kayak di FTV, sih?! Ngarang, ya?”
Anna memutar bola matanya jengah. “Dek...”
“Hehe. Oke, oke. Lanjot.”
“Terus udah gitu doang, baru pas dia antri ke kasir, dia baris di belakangku, kan, tuh, terus ternyata uangku kurang buat bayar makanan, terus dianya tiba-tiba mau bayarin kurangku, dengan alasan merasa bersalah soalnya abis bikin hapeku hampir jatuh.”
“Sumpah, kayak sinetron banget.”
“Tapi akunya gak mau, Putri kakak suruh ke Gilang minta uang buat gantiin uang yang dibayarin Jeff tadi, eh dianya malah bilang kalau diganti pakai nomer aja.”
“Terus, kakak kasih?”
“Iyalah.”
Di seberang sana, Fannya terbahak keras membuat Anna mengernyit. “Pasti karena kakak gak tahan liat wajah cakep dia, ya?”
“Hhhh, serah.”
“Terus, terus, akhirnya chatingan tiap hari?”
“Iya. Kita aja sempet jalan ke Malioboro besoknya, terus karena makin deket walaupun cuman lewat chat, akhirnya kemarin tahun baruan dia ke Malang ngajakin keluar itu.”
“Berarti belum terlalu lama, dong, ya, deketnya?”
Anna mengangguk walaupun ia sadar bahwa adiknya tak bisa melihat gerakan kepalanya itu.
“Kok cepet banget udah pacaran aja? Udah pacaran, kan, kak?”
“Iya.”
“Padahal dulu kaalu sama mantan-mantan gebetan kakak, pasti digantungin dulu berapa abad, baru deh...”
“... ditinggalin.” sambung Anna sambil mengerucut sebal bibirnya membuat Fannya langsung terbahak lagi. “Iya, anjim.”
“Tapi menurut kakak Kak Jeff orangnya gimana?”
Anna berdeham sebentar. “Eum.. baik, sih, so far. Mungkin karena belum terlalu lama kenalnya, makanya sampai sekarang belum nemu jeleknya dia.”
“Masa, sih? Dulu sama Kak Alfi baru deket seminggu aja udah bisa nyimpulin satu yang jelek dari dia. Masa sama yang sekarang enggak?”
Anna berdecak. “Serius, dek. Aku aja juga bingung kenapa, nih, cowok sabar banget, sih, ya Allah.”
“Emang iya sabar banget?”
“Iya!” seru Anna langsung semangat untuk menceritakan. “Ya ampun, dek, kamu harus tahu. Kemarin aja aku tiba-tiba keinget Ardam, kan, pas pulang dari rumah ayah, terus aku nangis di mobil, mungkin karena Jeff bingung kenapa tiba-tiba aku bete sampai nangis, akhirnya dia tanya ke aku, terus aku jawab pakai alasan sebenarnya—“
“HAH?! Kakak jawab kalau sebenarnya kakak masih suka keinget Kak Ardam?”
“He-em.”
“Gila banget, sumpah!”
Anna mengangguk setuju dengan pendapat adiknya. Ia sadar kemarin ia memang gila. Mengakui perasaannya ke Jeff bahwa ia masih suka memikirkan laki-laki lain adalah hal tergila dalam suatu hubungan.
“Terus Kak Jeff marah?”
“Nah, itu dia. Aku tadi, kan, bilang ke kamu, kalau Jeff sesabar itu. Ya, kemarin itu contohnya. Dia aja malah nenangin aku yang lagi nangis, dek. Dia bilang gak apa-apa aku masih suka kepikiran Ardam yang penting aku masih mau di samping dia dan gak ninggalin dia.”
“Sinting?!??!?”
Anna jelas tahu mengapa Fannya Salsabilla sampai sekaget itu. Memang kalau Jeff Rei Jericho ini adalah tipe manusia yang berbeda dengan manusia lainnya. Anna yakin seratus persen— bahkan mungkin tidak hanya Anna saja, semua orang di muka bumi yang tahu respon Jeff kemarin usai ia menceritakan pengakuannya, pasti juga berpikir bahwa Jeff bodoh mau saja tetap bertahan di samping Anna yang jelas-jelas masih labil hatinya.
Apalagi Fannya juga tahu betapa rumitnya hubungan sang kakak dengan mantan-mantannya dulu. Banyak laki-laki yang pernah mendekati dan menjalin hubungan dnegan Anna tapi tak pernah satupun yang bisa sesabar Jeff. Anna hanya berharap bahwa sikap Jeff yang seperti ini akan berlau selamanya. Bukan hanya karena ini awal dari hubungan mereka, belum menuju satu bulan perjalanan bahkan.
“Aku gak tahu, ya, dek, ini aku aja yang geer atau gimana. Tapi aku ngerasanya dia kayak sayang banget gitu, loh, sama aku.”
“Tapi dari muka Kak Jeff emang gak keliatan laki-laki yang nakal apa gimana gitu, kok, kak. Dia emang keliatan baik. Apa lagi kalau udah berani nemuin ayah sama mama kayak kemarin. Udah pasti niatnya berarti gak main-main, kan?”
“Ya, semoga aja.” jawab Anna lirih sambil mengamini dalam hati. Anna pun maunya begitu.
“Aku kemarin kaget banget waktu Reno bilang kalau kakak ke rumah bawa cowok, abis kayak ikut seneng aja, gitu. Finally, setelah sekian purnama, akhirnya ada juga cowok as your boyfriend dateng ke rumah ngenalin diri di depan ayah sama mama.”
Anna tertawa kecil mendengar antusiasme dari sang adik. Dari banyaknya teman yang ia miliki di dunia ini, mulai dari teman yang hanya sekedar tahu nama sampai teman yang benar-benar dekat dan kemana-mana bersama, Anna memang lebih suka mencurahkan isi hatinya pada sang adik perempuannya ini. Selain Fannya bukan tipe yang suka membocorkan rahasia, Fannya emmang pendengar yang baik. Walaupun kadang beberapa kali rahasianya juga bisa terbongan karena Fnany keceplosan atau sengaja ia ceploskan karena sedang sebal dengan Anna.
Omong-omong soal Fannya, mari banyak mengetahui tentang perempuan kecil yang satu itu. Fannya adalah gadis yang tumbuh dengan sempurna— bentuk tubuhnya ideal, benar-benar bagus dan molek di usianya yang bahkan belum tujuh belas tahun— selain itu, Fannya juga cantik. Anna tidak suka mengakui ini tapi demi apapun, Fannya memang lebih cantik dari Anna. Fannya memiliki pipi tembam, badan molek, kulit kuning, tipis, dan rambut yang lebih lurus dan halus dari pada kakaknya, sedangkan Anna memiliki mata belo, badan kurus, rambut lurus namun tidak selurus Fannya, dan sebenarnya warna kulit di antara mereka, memang lebih bagus milik Fannya. Hal inilah yang beberapa kali membuat Anna merasakan iri hati karena Fannya jelas jauh lebih cantik darinya karena meniru sang mama kandung yang punya perawakan sama sedangkan Anna meniru ayahnya sama persis.
Tapi anehnya, dari banyak hal yang membuat Anna iri terhadap Fannya, beberapa kali juga Fnanya mengaku pada kakaknya bahwa sebenarnya Fannya iri pada Anna. Katanya, karena Anna lebih beruntung. Anna jelas langsung penasaran, beruntung dari mana yang dimaksud sang adik. Lalu Fannya menjawab, “kakak, kan, lebih disayang ayah sama mama. Kalau kakak salah, kakak gak pernah dimarahin, coba kalau aku yang bikin salah? Terus kalau kakak minta apa-apa, pasti ayah sama mama berusaha menuhin maunya kakak, coba kalau aku sama reno yang minta, udah pasti nunggu lebaran monyet baru diturutin. Kakak dibebasin, kemana-mana boleh, jam berapapun pulangnya gak apa-apa. Aku? Mana pernah diijinin keluar main sama temen. Padahal aku ijin keluar buat kerja kelompok aja gak dibolehin. Mungkin karena ayah sama mama tahu kalau kakak emang lebih pinter dari aku, selalu ranking tiga besar, banyak bantu masalah di keluarga, apa daya aku yang begini.”
Begitu kata Fannya dulu.
Dan semua kalimat Fannya yang keluar hari itu, tak ada satupun yang ditepis Anna karena memang semuanya benar. Anna memang selalu dipenuhi maunya, dipuja-puja karena lebih pintar secara akademis di antara adik-adiknya semua, dibebaskan, tidak dikekang, dan lain-lain. Padahal menurut Anna, semua itu ada alasannya. Apa lagi kalau bukan karena Ayah hanya berusaha menebus kesalahannya karena ayah tak pernah benar-benar berperan sebagai ‘ayah’ selama ini. Maksud Anna, selama ini ia tinggal dengan kakek dan neneknya, jadi yang dianggap Anna sebagai orang tua dan yang lebih disayanginya jelas kakek dan nenek. Karena hal itu, gak mungkin, dong ayah punya hak marah-marah ke Anna misal kalau Anna begini dan begitu. Mereka saja tak terlalu dekat.
Jadi di antara banyaknya alasan Anna dan Fannya saling iri satu sama lain, Anna hanya bisa menyimpulkan bahwa memang semua manusia sellau memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ia mungkin bisa saja iri dan dengki pada Fannya karena lebih cantik, tapi siapa kira ternyata Fannya juga pernah iri padanya karena Anna lebih disayang?
Perihal pendidikan, Fannya Salsabilla saat ini sedang menduduki bangku SMA tahun pertama alias kelas sepuluh di jurusan IPS. Ia meneruskan pendidikan di sekolah Anna dulu. Anna sengaja memilihkan sekolah dan jurusan untuk Anna. Dan jangan tertawakan Anna alasan ia berbuat begitu karena...
Anna hanya ingin Fannya dekat dengan adik Ardam Sein yang sama-sama sekolah disana dengan jurusan yang sama.
Dulu ketika SMP, dengan wajah Fannya yang memang jelas tak bisa dikatakan jelek, Anna sering menjadi lapak curhat sang adik bahwa Fannya didekati beberapa laki-laki. Dan itu juga termasuk adik Ardam Sein yang mana ternyata berada di satu kelas yang sama dengan adiknya.
Dunia begitu sempit, bukan?
Bahkan setelah Anna mengetahui informasi tersebut, besoknya Anna langsung rajin emngantar dan menjemput Fannya sekoalh hanya karena ingin bertemu dengan Ardam Sein yang kata Fannya juga sering antar-jemput adiknya.
Sebucin itu.
“Terus pas kakak udah pulang, ayah sama mama komen gimana soal Jeff?” tanya Anna kemudian.
“Ayah nanya ke mama, Kak Jeff, tuh, pacar Kak Anna, bukan? Terus mama jawab iya karena, kan, ini pertama kalinya kak Ann bawa cowok ke rumah, udah pasti pacaran, mama bilang gitu. Terus ayah bilang kakak pinter cari pacar, soalnya kak Jeff sopan dan keliatan baik, terus mama nambahin ganteng pula, terus si Reno ikut ngomporin.”
Anna terkekeh kecil, “ngomporin gimana?”
“Reno bilang keliatannya kak Jeff kaya soalnya bawa mobil.”
Anna sontak melotot dan menggeleng-geleng tak percaya. “Astaga, matre amat.”
“Pokoknya keluarga kayak udah srek gitu, deh, sama Kak Jeff. Ayah juga sempet doain semoga kalian emang bener jdooh soalnya kata ayah waktu gak sengaja liat Kak Jeff ngeliatin Kak Ann, itu ngeliatnya kayak penuh cinta, gitu.”
Anna langsung tertawa terbahak-bahak. “Idih, apaan banget bahasanya?”
Tapi walaupun gadis itu tertawa, sebenarnya hatinya menghangat. Apa lagi usai benar-benar tawanya reda, Anna langsung tersneyum, merasakan bahagia karena respon dari keluarganya, dari bapak, Mbak Nia, ayah, mama, juga adik-adiknya tak ada yang bermasalah semua. Entahlah, Anna tak tahu apa ini karena Anna baru mengenalkan laki-laki ke rumah untuk yang pertama kalinya jadi semua orang berusaha menghargai hubungan mereka atau memang Jeff yang berhasil mengambil hati orang tuanya? Semoga saja jawabannya adalah pilihan kedua.
“Mama, tuh, kak, yang paling seneng.”
“Kenapa emangnya?”
“Kakak gak inget emangnya dari dulu mama bilang pingin punya menantu orang jauh? Jadi pas tahu kalau kak Jeff bukan asli Kota Batu atau Malang, jelas dia girang banget.”
Mama sambung Anna itu memang terobsesi untuk memiliki menantu dari orang jauh karena mama suka travelling. Mama punya pendapat kalau anak-anaknya berhasil mendapatkan menantu jauh, pasti mama bisa jalan-jalan ke sana, gak stuck disini-sini aja.
“Tapi, kak...”
“Hm?”
“Mama seneng, pasti bapak enggak. Kan, bapak udah tua, kalau diajak berkendara jauh-jauh pasti juga capek semualah badannya. Apa lagi misal kakak nikahnya baru tiga tahun agi, kan bapak udah makin tua, nih, masa bapak diajak naik kereta ke sana?”
Anna mendengus, kenapa adiknya ini sudah membicarakan pernikahannya dengan Jeff, coba? Anna saja belum pernah kepikiran kesana. “Ya, kita doain semoga bapak umur dan sehat selalu, dek.”
**
Jeff sudah sangat sebal pada semua orang di dalam rumahnya. Bayangkan saja, berjam-am Jeff berada di perjalanan untuk pulang ke Tangerang sampai laki-laki itu merasa bahwa pantatnya sudah hilang saking panasnya, sesampainya laki-laki itu di rumah, ia disambut seisi rumah yang terlihat sangat kotor; piring kotor dimana-mana, krim kue yang berceceran di meja, tepung di dapur, kemasan-kemasan makanan ringan yang tak berada di tempatnya, dan masih banyak lagi. Jeff ini walaupun laki-laki tulen, tapi ia sangat mengutamakan kebersihan. Jeff membenci segala sesuatu yang kotor dan berserakan seperti keadaan rumahnya saat ini. Maka dari itu, ia langsung memarahi Sabrina yang sedang berada di kolam renang belakang bersama teman-temannya. Tak peduli adiknya akan malu, Jeff meminta Sab untuk membersihkan rumah sebelum ayah dan ibu pulang dari rumah nenek.
Usai memarahi sang adik, Jeff baru meninggalkan seisi ruangan kotor dan masuk ke dalam kamarnya yang tentu saja bersih dan wangi walaupun ia tinggal selama satu minggu penuh karena ia sengaja mengunci kamar. Laki-laki itu bergegas mandi membersihkan diri karena keringat yang menempel pada tubuhnya selama perjalanan dan terkena matahari panas. Sekitar pukul setengah delapan malam, yang artinya baru satu jam Jeff tertidur usai mandi wlaaupun belum membereskan barang-barang di kopernya ketukan— ralat, gedoran pintu kamarnya terdengar memekakkan telinga. Mata Jeff sangat berat untuk terbuka, ia bersumpah. Tapi amna bisa ia diam saja sedangkan suara cempreng di depan pintu kamar terus memanggil namanya menyuruh membukakan pintu.
“Kaaaaaaaaaaak! Buka!’
Dok, dok, dok, dok, dok.
Jeff mengerang kesal sambil bangun dan melompat dari tidurnya, tak sabar ingin memarahi Sabrina yang dengan kurang ajarnya membuat waktu Jeff beristirahat jadi terganggu.
“Sab, lo, tuh—“
“Mana kado buat aku?”
Jeff tahu kekacauan rumahnya hari ini, sampah yang berserak dimana-mana itu memang Sabrinalah pelakunya. Memang selalu begini setiap tahun, Sab akan membawa teman-temannya ke rumah, walaupun tak akan lebih dari angka sepuluh jumlahnya, untuk membuat kue dan merayakan pesta ulang tahun kecil-kecilan karena ayah tak pernah mengizinkan Sab merayakan ulang tahun di luar rumah. Tapi tak bisakah Sab mengerti bahwa kakaknya baru pulang dari perjalanan jauh dan butuh tidur? Mengapa harus meminta hadiah detik ini?
“Ya Tuhan, kamu bener-bener gak bisa nunggu sampai besok, Sab? Bela-belain gedor-gedor pas kakak lagi—“
“Ya, kan, ulang tahunku sekarang. Masa ngasih kadonya besok? Untung-untungan aku gak ngambek ke kakak karena kakak sama sekali belum ngasih ucapan dan doa buat aku—“
“Udah didoain, cuman lupa belum diucapin.” ujar Jeff memotong kalimat adiknya. Sepertinya adik dan kakak ini sedang adu sela kalimat karena dari tadi mereka berdua selalu tak membiarkan lawan bicaranya menyelesaikan kalimat.
“Kapan?” tanya Sabrina skeptis.
“Ya, masa kalau kakak doain harus bilang-bilang kamu, sih? Gak ikhlas itu namanya!”
Sabrina mendengus. Ia angkat tangnnya untuk menengadah pada sang kakak. “Ya udah mana kado buat aku?”
Jeff hampir saja mengumpat sebelum akhirnya memilih diam dan menghembuskan nafas keras-keras. Ia berbalik badan, kembali memasuki kamar meninggalkan Sabrina di ambang pintu. Ia menghampiri koper di sudut kamarnya yang ia taruh tepat di bawah kasur. Lalu Sabrin aikut menghampiri kakaknya. Perempuan cantik nan tomboy itu duduk di karpet, bersila, meniru kakaknya yang sekarang sibuk membuka koper.
“Nih.”
Jeff menyerahkan satu kotak berukuran sedang yang tak terbungkus kertas kado. Sab mengernyit karena dari luar, kotak tersebut hanya bertuliskan judul bahwa isi didalamnya adalah bohlam. Ia mneoleh pada kakaknya dengan alis berkerut. “Kakak beliin aku lampu bohlam?”
“Hm.”
“Iiiiih, buat apa, coba? Aku, kan, gak butuh—“
Jeff langsung menggeram kesal. “Sab, shut the damn up. Buka dulu baru komentar.”
Dengan raut wajah cemberut sudah yakin bahwa isi dari kotak itu hanyalah lampu, tak ada hal lain, mungkin yang spesial adalah hargaya saja yang bahkan masih tertera di kemasan luar dan Jeff malas mencopotnya, Sabrina buru-buru membuka kardus kecil tersebut.
Mata Sab langsung melotot lebar. Mulutnya menganga dengan ekspresi berlebihan. Lalu gadis yang rambutnya terikat tinggi seperti Ariana Grande itu menoelh pada sang kakak. “KAK DEMI APA LUCU BANGET????!!!!!”
Jeff melengos melihat reaksi yang diberikan sang adik.
“IH KOK BISA NEMU BARANG SELUCU INI SIH KAK?!”
“YA ALLAH PANTESAN HARGANYA HAMPIR SEJUTA ORANG GEMES BANGET???
“IH DALEMNYA BISA KEPUTER-PUTER!”
“LOH KAK YA AMPUN ADA LAGUNYA KALAU DI PENCET GINI!!!”
Sang kakak hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal itu, heran mengapa adiknya seberlebihan ini. Padahal itu kan cuman lampu yang bis aidup, terus dalemnya ada logo One Direction, terus kalau dipencet tombol ke samping, ada lagu-lagu One Directionnya walaupun tidak banyak namun bisa bunyi.
Jeff yang sedang duduk bersila itu hampir saja terjengkang ke belakang sata tiba-tiba Sabrina memeluk lehernya erat dari samping. “Kaaak Jeeeeff, makasih, ya! Huhu, sumpah seneng banget, pokoknya ini the best gift of my my life EVER!”
Jeff menumpu badannya pada satu tangan yang ia buat menyangga tubuh, kemudian satu tangannya yang bebas ia gunakan untuk menepuk-nepuk punggung adiknya. “Iya, iya, sama-sama. Selamat ulang tahun, ya, dek. Udah makin tua artinya lo gak boleh makin nakal.”
Sabrina melepaskan pelukannya. “Emangnya aku bocah ngasih tahunya begitu. Eh, kak, by the way, kakak tumben banget beliin kado yang bisa nyenengin aku begini? Biasanya, kan, beliin buku, tas sekolah, sepatu sekolah.”
“Itu dipilihin Anna.”
“Kak Anna?! Kak Anna pacarnya Kak Jeff? Eh, serius?!”
Jeff mengangguk lempeng. Lalu tercengang ketika Sab tiba-tiba merogoh celananya dan mengambil ponsel dari sana. Baru Jeff akan marah karena adiknya bersikap lancang dan sembarangan ambil ponselnya, wajahnya sudah ditodong ponsel oleh Sab. “Bukain pass word, nya.”
“Ogah. Ngapain, sih, Sab, balikin gak?!”
Jeff mencoba meraih ponselnya namun gagal.
“Ulang tahun kak Anna kapan?”
Jeff mengernyit mendengar pertanyaan sang adik namun tak ayal ia tetap menjawab. “10 November. Kenapa?”
“Tahun?”
“Dua ribu. Kenapa, sih?”
Sabrina langsung memasukkan enam digit tersebut ke kolom kode ponsel namun ia langsung mengernyit saat ternyata tebakannya salah.
“Kalian jadian tanggal berapa?”
“Tanggal satu kemaren.”
Sab baru akan memasukkan angka nol, satu, nol, satu, dua, dan satu saat fokusnya langsung pecah dan ia segera menoleh pada Jeff serta melotot lagi. “HEH KAKAK UDAH JADIAN BERARTI?!”
Jeff mengangguk sambil menyeringai.
“Kok gak kabar-kabarin, sih?”
“Ye, ga penting banget?!”
Sabrina hanya cemberut lalu memasukkan enam digit ke ponsel Jeff. Enter, dan... terbuka. Sab sudah akan meledek Jeff karena terlihat norak menggunakan tanggal jadian bersama kekasihnya untuk pass word ponsel tapi ia lebh terkejut lagi karena Jeff memasang wallpaper dengan kekasih barunya tersebut.
“Sumpah, Kak Jeff bucin banget, ew, kode pakai tanggal jadian, wallpaper pake selfie berdua.”
Jeff melirik sang adik malas tanpa berniat menjawab sepatah katapun. Tapi matanya mengamati apa yang Sab lakukan di ponselnya. Hanya berniat jaga-jaga saja jika adiknya melakukan aneh-aneh.
“Ih, kak Anna ekspresinya begini tapi, kok, tetep keliatan cantik, sih?!” komentar Sab saat dilihatnya wallpaper ponsel sang kakak.
“Iyalah, pacar gue. Kalau elo yang pose gitu, pasti jadi buruk rupa, ye, kan?”
Sab tak menanggapi hinaan sang kakak. Jemarinya langsung mencari aplikasi berwarna hijau, menekannya, kemudian tanpa mencari kontak Anna karena Jeff sudah mengepin kontak sang kekasih, Sab langsung menekan tombol panggilan video.
“Sab, ngapain, sih, video call tiba-tiba?!”
Jeff berusaha mengambil ponselnya seklai lagi, tapi juga gagal sekali lagi. Sab menghindar dari kakaknya, ia memeletkan lidah. “Pinjem bentar, mau bilang makasih doang masa enggak boleh?”
Akhirnya Jeff diam karena ternyata alasan adiknya adalah baik. Ia mengamati Sab yang berpose ke kamera seiring menunggu Anna mengangkat panggilannya. Hingga suara tut-tut ke empat, wajah Anna muncul di layar membuat Jeff ikut tersenyum padahal sudah jelas kekasihnya tak tahu dimana Jeff karena ponsel yang diboikot Sabrina.
“Hai, Kak Ann! Aku Sab, adiknya kak Jeff.”
Anna disana mengerjap-ngerjapkan mata, lalu mengangguk sambil tersenyum karena dirinya memang sempat bingung siapa perempuan yang sedang mengambil alih ponsel Jeff. “Hai, Sab. Salam kenal, ya.”
“Kak, makasih banget, ya, udah milihin kado super duper lucu banget buat aku. Huhu, serius, deh, aku seneng banget, tahu, dikasih ini! Soalnya biasanya kak Jeff ngado barang-barang yang aku gak suka. Cuman kali ini doang yang kadonya bisa bikin aku teriak-teriak kesenengan.”
Jeff mendengus mendengar kalimat berlebihan dari snag adik, tapi lain lagi dengan kekasihnya yang justru terkekh kecil. “Iya, sama-sama. Syukur, deh, kalau kamu suka. Soalnya kata Jeff kamu suka One Direction, jadi aku milih yang itu.”
“Iya, kak! Aku directioners garis keras!”
“Sama., dong? Aku juga directioners.”
“Ih, serius?!”
Anna mengangguk semangat. “Kak, demi apapun kita harus cepet-cepet ketemu biar bisa fan girling bareng!”
“Hahaha. Kamu, dong, sini ke Malang.”
Sab cemberut. “Yah, kalau aku, mah, mau ngapain ke Malang? Kakak, dong, yang ke Tangerang.”
“Lah, ya, sama. Aku mau ngapain coba ke Tangerang?”
“Kenalan sama calon mertua, dong, Kak! Sama ayah ibu aku!”
Jeff langsung menahan tawanya ketika Sabrina dengan gamblangnya bilang hal-hal sensitif seperti itu. Ia memberikan dua cungan jempol pada Sabrina, mendukung adiknya untuk menyuruh Anna kesini.
Anna tertawa canggung. “Hehe, iya, deh. Kapan-kapan, ya.”
“Siap, kak, ditunggu, ya! Nanti aku kasih masuk ke kamarku, dindingku banyak fotonya Harrry Styles!”
Tahu bahwa percakapan Sabrina sepertinya akan memanjang kemana-mana, Jeff jadi tak sabaran. Ia langsung merampas ponsel miliknya dari tangan Sab membuat adiknya melotot tapi Jeff tak peduli. Dikira yang ingin berbicara dengan Anna hanya Sab saja? Jeff lebih-lebih!
“Udah, kan, bilang makasihnya? Kalau udah, balik ke kmaar kamu sekarang. Kakak mau pacaran dulu.”
Sab berjengit tak percaya. “Idih, apaan, sih, ganggu amat? Balikin, gak?!”
“Kamulah yang ganggu? Ini kamar siapa? Hape siapa?”
Sab cemberut, kemudian berteriak seakan-akan Anna bisa menolongnya. “Kak Ann, Kak Jep nih nyebelin!”
Tapi Anna mana bisa membantu. Jadi gadis di seberang sana hanya bisa tertawa sembari menegur Jeff.
“Jeff, kasih ke Sab, dong. Kamu, kan, bisa vidcall sama aku nanti-nanti.”
Jeff ternganga tak percaya. “Apaan, kok malah bela si Sab? Sab, keluar, gak?!”
“Gak!”
“Sab...” Jeff menatap datar ke arah Sab, yang mana sebenarnya Jeff versi marah-marah adalah lebih baik dari pada yang langsung memasang wajah poker face begini. Jadi dari pada Sab terkena semprot, ia akhirnya mengalah. Ia beranjak dari duduknya usai melambai pada kamera ponsel Jeff, pada Anna yang langsung tersenyum.
“Nanti au DM di i********:, ya, Kak Ann! Kasih aku nomer Whats App kakak, bair kita bisa vidcall-an sendiri tanpa ADA SETAN YANG GANGGU!” teriak Sab menyindir Jeff yang bodo amat. “tutup pintunya, Sab, sekalian!” pesan Jeff ketika Sab sudah sampai di ambang pintu.
“BAM!”
Pintu langsung dibanting dari luar.
Jeff beranjak dari duduknya, memilih tiduran di ranjang sambil menatap kamera ponsel. Laki-laki itu memasang senyum manis, padahal baru kemarin mereka bertemu tapi Jeff sudah merasa rindu.”Kamu lagi ngapain?” tanya Jeff saat dilihatnya Anna sedang sibuk menunduk.
“Lagi buka laptop.”
“Mau nulis naskah?”
Anna bergumam membenarkan. “Hmm.”
Jeff diam, mengamati wajah serius Anna yang terlihat dua kali lebih cantik saat fokus begini. Lalu perhatian Jeff teralih pada jaket yang dipakai Anna. Senyum Jeff langsung melebar kian prah. “Cie, ternyata gak cuman aku doang yang udah kangen?”
Anna membenarkan letak ponsel yang ia taruh bersandar pada boneka. Anna mengernyit pada Jeff. Bingungnya berlaku hanya sebentar saat kemudian ia menunduk, menatap jaket Jeff yang sedang ia pakai dan ia langsung mengerti.
Jaket yang diberi Jeff untuk Anna saat mereka masih di Malioboro, yang kata Jeff sebagai kenang-kenangan agar Anna selalu ingat oleh laki-laki itu. Anna akhirnya ikut melengkungkan senyum manis, menatap Jeff yang masih senantiasa menatapnya juga. Mereka bertukar pandang beberapa saat sebelum Anna berdeham. “Emang lagi kangen, kok.”
“Bisa ngaku kangen juga ternyata? Seneng, deh, dengernya.”
“Kamu mau tahu sesuatu, gak?”
Jeff mengernyit. “Hm? Apa?”
“Jaket ini belum aku cuci dari dulu.”
“Ann?” Jeff langsung ternganga tak percaya. “Demi?”
Anna mengangguk sambil tertawa. “Kalau dicuci takut bau kamu ilaaaang.”
Jeff mendengar itu sampai tak bisa berkata apa-apa lagu. Gemas tingkat dewa dengan kekasihnya itu. “Ann, jangan gemes-gemes, ya, kita masih tiga minggu lagi baru bisa ketemu!”
“Hahahaha.”
**
Well, I wish that you would call me right now
So that I could get through to you somehow
But I guess it's safe to say, baby
Safe to say that I'm officially missin' youOoh, can't nobody do it like you
Said every little thing you do, hey, baby
Said it stays on my mind
And I, I'm officially missing you