all your little things

3962 Words
Dari pagi, Anna masih belum berhenti membantu segala sesuatu yang disiapkan Mbak Nia untuk nanti malam. Keluarga mereka sebenarnya bukan tipe orang yang menyambut tahun baru dengan hal meriah atu appaun. Bahkan biasanya mereka tak menunggu hingga jam dua belas hanya untuk melihat kembang api, mereka tidur tetap pada jam-jam hari biasanya. Tapi khusus untuk malam ini, Mbak Nia sengaja belanja banyak bahan untuk dimasak. Setidaknya malam nanti bisa dimakan bersama-sama sebagai teman nonton televisi. Pafi tadi usai mereka melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim yakni sholat shubuh, Anna menemani Mbak Nia untuk ke pasar membeli jagung, mentega, roti, daging-dagingan, dan masih banyak lagi. Usai ke pasar, keduanya membagi tugas untuk mmbersihkan rumah sampai pukul setengah sembilan lalu dilanjutkan dengan mengolah bahan masakan. Semuanya selesai sekitar pukul dua belas siang dengan Anna yang sudah menguap sepuluh kali. Perempuan cantik itu kembali ke kamar usai memastikan semuanya sudah beres, malah sebenarnya yang belum beres adalah kamarnya karena ia belum sempat membersihkan kamar. Tapi Anna tak peduli, karena sekembalinya ia ke kamar, ia langsung merebahkan punggung di ranjang dan mulai memejamkan mata. Rasa lelah dan mengantuk yang sudah berpadu menjadi satu membuat Anna hanya butuh waktu beberapa detik sebelum ia benar-benar terlelap. Anna dibangunkan Mbak Nia pukul empat ketika Bapak juga sudah pulang dari pasar. Omong-omong soal pekerjaan dan profesi yang digeluti, keluarga Anna bukanlah keluarga yang ebrgelimang harta dengan orang tua pemilik perusahaan atau contoh orang kaya lannya. Mereka hanya hidup berkecupan dan itu saja sudah membuat Anna bersyukur. Toh, selama ini jika Anna membutuhkan atau menginginkan sesuatu, ia juga bisa mendapatkannya. Entah langsung atau harus menabung dulu. Bapak punya toko di Pasar Besar Kota Batu. Ia menjual barang elektronik seperti TV, LCD, DVD, dan lain sebagainya. Tapi karena usianya sudah tua, Bapak memang sudah jarang ke pasar. Apa lagi mereka tinggal satu rumah dengan Mbak Nia yang syukurya emmiliki pekerjaan mumpuni, setidaknya bisa mencukupi kebutuhan di rumah. Juga Anna yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai penulis dengan gaji yang lumayan. Dan karena ini akhir tahun, Bpaak memang tadi pagib berniat membuka toko. Katanya hanya mengisi waktu luang karena ia tidak memiliki appaun yang bisa dilakukan di rumah. Sedangkan Mbak Nia tentu saja libur karena ini akhir tahun. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar namun bayarannya lumayan.  Usai melaksanakan sholat Ashar bersama-sama, Anna bergegas untuk mandi karena seharian badannya belum tersentuh air. Anna sempat menengok Mbak Nia yang sudah asik di dapur dengan beberapa adonan di meja dapur. Hanya butuh wkatu lima belas menit sebelum Anna bergabung di ruang tengah untuk menontron salah satu film layar lebar Indonesia yang memang selalu diputar di beberapa stasiun televisi karena hari besar. “Lah, jam segini udah ganti piyama?” Mbak Nia menaruh kue donat gula di meja depan Anna. Anna mengangguk polos. Memang kenapa kalau aku memakai piyama? Kan, ini, juga piyama, bukan bikin? Pikirnya ngaco. Jadi sambil mengangkat satu alis tinggi-tinggi, Ana bertanya pada tantenya yang awet muda tersebut. “Emang kenapa?” “Kayak udah mau tidur aja.” “Lah, orang udah senja juga. Bentar lagi malem, ya, jelas, dong, aku udah mau tidur.” “Gak begadang?” Aku menggeleng. “Males, ah.” Kemudian percakapan selesai disana. Hening di antara mereka tak berisikan suara apapun selain televisi yang menampilkan wajah Iqbaal Ramadhan dan Vanessa Pricilla beradu akting di salah satu film genre remaja yang digandrungi para manusia tersebut. Bahkan sampai sudah bersama-sama melakukan sholat maghrib, dilanjutkan sholat isya, mereka masing-masing akan kembali ke ruang tengah. Walaupun sebenarnya yang asik menikmati film hanya Bapak dan Iqbal, sedangkan Anna dan Mbak Nia malah asik bermain ponsel. Hingga tak lama kemudian, ketika Anna baru saja menengok pada arah jam dinding di dekat dapur yang menunjukkan pukul tujuh malam, suara ketukan pintu beberapa kali dari arah ruang tau membuat perhatian mereka sama-sama teralihkan. “Siapa?” tanya Mbak Nia yang langsung disela oleh Bapak. “Ya, gak ada yang tahu, Nia. Wong, semuanya pada disini.” Mbak Nia meringis sedangkan Anna akhirnya mengalah untuk berdiri karena Iqbal tak mau disuruh dengan alasan, “aku lagi nonton kembaranku main film.” “Aku aja yang bukain.” Ujar perempuan dengan piyama bergambar kartun berwarna merah muda dan kuning itu kemudian mengambil pisang goreng di meja dan melangkah menuju pintu dengan mengunyah. “Hai.” Anna melotot terkejut usai pintu ia buka lebar. Hah? Apa-apaan ini? Ini siapa? Ini halu atau apa? Pikir Anna saking tak percayanya. “Loh, kamu...” Anna abhkan sampai tak bisa berkata karena lidahnya kelu. “Kok kamu disini, sih?!” Di hadapannya, Jeff dengan kemeja flanel merah dan celana panjang serta kantung plastik putih di tangan kanan yang entah apa isinya menyengir lebar. “Soalnya aku mau—“ “Loh, kok tamunya gak disuruh masuk?” Tiba-tiba suara Mbak Nia menginterupsi perbincangan keduanya. Anna yang masih juga belum pulih dari keterkejutannya hanya mengerjapkan mata pelan bahkan sampai Jeff sudah tersenyum dan menyalimi tantenya. “Temennya Anna?” Jeff mengangguk sopan. “Jeff, tante.” Ujarnya memperkenalkan diri. Anna masih diam seperti orang ling lung walaupun Bapk juga sudah muncul dan tersenyum lebar menyambut tamu dan Mbak Nia udah menerima bingkisan makanan dari Jeff. “Loh, ada tamu. Sini masuk, le.” “Ann, buatin minum.” Kata Kak Nia menyuruh Anna. Anna mengangguk patuh menurut sedangkan Jeff dengan cepat langsung menyela. “Enggak usah, Tan, aku mau langsung balik, kok.” “Loh, belum juga satu menit duduk?” tanya Bapak. “Iya, keburu malem, Pak. Saya... kesini niatnya mau ngajakin Anna tahun baruan bareng sama temen-temen saya yang lain. Kira-kira...” Jeff menggaruk hidungnya terlihat gugup. “Boleh, gak, Pak?” Anna terpaku di tempat. Hanya bisa mengerjapkan mata melihat pemandangan di depannya. Jeff dan Bapak yang sedang berbincang tak pernah terpikirkan oleh perempuan itu. Bahkan, hei, ini saja pertama kalinya ada laki-laki yang ke rumah Anna. “Kira-kira pulang jam berapa?” Jeff melirik Anna sekilas. “Mungkin habis acara kembang api selesai.” “Jam dua belas lebih?” Anna terlihat ikut gugup juga karena Bapak banyak bertanya walaupun sesungguhnya ia ingin tertawa melihat wajah Jeff yang seperti takut salah jawab. “Iya, Pak. Hehe.” Bapak diam, malah menolehkan kepala ke Mbak Nia. Mungkin maksudnya ia meminta pendapat dari Tante Anna itu karena bapak juga tak tahu harus mengizinkan atau melarang. Lalu Mbak Nia tersenyum. “Ya udah boleh. Asal bener habis acara uama langsung pulang, ya?” Jeff mengangguk semangat dan meyakinkan bahwa ia tak akan melanggar janji dan kesepakatan mereka. “Dan jangan aneh-aneh.” Titah Bapak dengan sok garang tapi Anna tahu beliau hanya bercanda dengan memasang ekspresi seperti itu wlaaupun pesannya juga tidak bisa diabaikan. “Ann, kamu mau pergi pakai piyama doang?” Anna yang ditanya langsung menepuk jidat sampai lupa. Ia meringis dan berpamitan pada Jeff untuk ganti baju sedangkan Jeff malah menahan tawa. Sesampainya di kamar, Anna malah sempat-sempatnya duduk di tepi ranjang. Ia masih kaget. Masih syok karena ada Jeff di rumahnya. Tak ayal ia memang senang bisa kembali bertemu dengan lelaki itu. Tapi tetap saja, ia tak percaya bahwa Jeff ternyata menghabiskan tahun baru di Malang. Ia lalu berdiri usai menenagkan degup jantungnya. Dengan senyum yang masih terpatri di bibir sebagai bentuk bahagianya yang membuncah, Anna membuka lemari lebar-lebar, mengambil baju berwarna semburat dengan lengan panjang karena ia tahu malam ini dingin kemudian bawahan hitam. Ia mengganti baju dengan kecepatan maksimal, tak enak jika membuat Jeff menunggu terlalu lama. Ia memakai bedak tabur tipis di wjaah, mengoleskan blush on, lip gloss, dan maskara lalu merapikan rambut. Ia emngambil sepatu di rak, ia memilih warna hitam agar senada dengan celananya lalu mengambil tas sling bag kecil untuk ia letakkan di bahu. “Udah?” tanya Mbak Nia dan Anna mengangguk. Jeff menyalimi Bapak dan Mbak Nia lalu berpamitan, dan Mbak Nia serta Bapk juga kembali memberi nasihat yang diulang-ulang sampai Anna mendengus kesal. Jeff mengangguk patuh. Usai mereka keluar dari pintu, Anna dibuat kaget karena ia kira Jeff membawa motor. namun ternya laki-laki itu membawa mobil. Satu keterkejutan lainnya menyusul saat Jeff mengatakan bahwa Abram, Akbar, dan Bisma sudah emnunggu di kafe. Anna kaget lagi. “Loh, ada temen-temen kamu?” Jeff mengangguk. “Kenapa?” “Gak papa, sih. Kirain kamu kesini sendirian.” “Maunya tahun baruan berdua doang sama aku, ya?” Goda Jeff membuat Anna langsung memukul pelan bahunya. “Bukan gitu.” Jeff tertawa kemudian membukakan pintu mobil untuk Anna. Anna meatap laki-laki itu skeptis. “Gak usah dibukain, atuh, Jeff.” “Gak papa.” Ujar Jeff. “Cepetan masuk.” Anna menurut dan Jeff langsung menutup pintu kemudian berlari keci mengitari mobil. sai keduanya sama-sama sudah duduk nyaman dan memakai sabuk pengaman, Anna menoleh pada Jeff. “Kamu, kok, gak bilang kalau mau ke Malang?” Jeff melirik Anna sesaat sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang macetnya minta ampun. “Biar kejutan. Kaget, gak?” “Banget.” “Hehe.” “Kita mau kemana?” tanya Anna saat Jeff membelokkan kemudi ke arah kiri. “Ke kafe di Malangnya.” “Bakalan lama di jalan, dong? Macet gini.” Sebenarnya niat Anna bukan mau protes, ia malah hanya merasa takut jika Jeff kelelahan menjemput Anna dari Malang ke Batu lalu ke Malang lagi. Apa lagi ini malam tahun baru dan jalanan sangat macet. “Makanya aku jemput kamu jam segini. Biar nanti sebelum kembang apian kita udah sampai kafe dan sempet nongkrong sama anak-anak.” “Kenapa gak bawa motor aja?  Kan kalau pakai motor bisa nyelip-nyelip.” “Ini mobil emang aku titipin di kos dari jaman sebelum liburan. Soalnya pas aku pulang ke Tangerang abis Ujian Akhsr Semester itu, aku baliknya bareng Akbar. Lagian masa malem-malem ngajakin kamu keluar naik motor? Malang dingin, tahu.” “Kan aku udah biasa.” “Gak papa. Lagian kalau kena macet enak di mobil dari pada di motor.” Mereka baru mendapat seperempat perjalanan ketika sudah setengah jam ebrangkat dari rumah tadi, Anna dan Jeff sudah banyak bertukar cerita. Mulai dari apa kabar rencana Tasya dengan Jeff, keseharia laki-laki itu dan temannya, kapan Jeff akan masuk kuliah, begitu pula Jeff yang menanykan mengapa Anna tumben sekali tidak menghabiskan malam tahun baru dengan Gilang yang membuat Anna akhirnya menceritakan permasalahannya dengan Denny. “Mungkin itu cara Tuhan buat nunjukkin ke kamu mana temen yang bener baik dan mana yang abik cuman di depan.” Kata Jeff membuat Anna jadi sedih lagi teringat kelakuan Denny dan Gezya. “Jangan sedih lagi, dong?” Anna menoleh pada Jeff dan memberikan senyumnya. “Iya, enggak.” “Kalau mau hidupin MP3-nya, hidupin aja, Ann.” Kta Jeff membuat Anna girang karena pasalnya, Anna memang hendak bertanya pakah ia boleh menghidupkan MP3. Suasana hening dan kemacetan kota membuat Anna ingin mendengar lagu untuk menikmati malam mereka. “Beneran gak papa? Nanti kamu gak fokus nyetirnya.” “Gak papa, serius. Biasanya Akbar sama Bisma malah nyetel musik rock kenceng banget di mobil.” Akhirnya Anna memasang blue tooth dan menyambungkan ke MP3 di mobil Jeff. Ia mengetikkan satu lagu yang akhir-akhir ia memang suka ia dnegarkan. Lalu tak lama, intro lagu mulai terdengar di dua pasang telinga dalam mobil dan Jeff langsung menoleh pada Anna. “Suka 1975?” Anna menganggguk antusias. “Kok tahu ini lagu 1975? Jangan bilang kamu juga suka?” Jeff tertawa sambil tangan kriinya terangkat untuk menygar rambutnya sendiri ke belakang membuat laki-laki itu terlihat seratus kali lipat lebih tampang. “Siapa, sih, yang gak jatuh cinta sama lagu 1975?” “Demi apa, sih, Jeff?!” Anna bersuara antusias.  Perempuan itu snagat menyukai laki-laki yang berada satu selera musik dengannya. Membayangkan ia dan Jeff bisa menyanyi bersama setiap hari walau dengan suara pas-pasan tentu hal yang menyenangkan. Lihat, tambah satu hal lagi yang jadi alasan Anna jatuh cinta pada Jeff. Lalu ketika sudah memasuki reff, Anna bergumam lirih. “And all i do is sit and think about you, If i knew what you’d do...” “... Collapse my veins wearing beautiful shoes.” Sambung Jeff setelahnya. Mereka saling bertukar pandang sesaat sebelum sama-sama tersenyum manis. “Its not living if it’s not with you.” Iya, Ann, it’s not living if it’s not with you. “Selain 1975, suka sama apa lagi?” tanya Jeff usai membiarkan suara Matty Healy mengisi ruang mobil menyanyikan lagu selanjutnya berjudul Be My Mistake. “Suka One Direction.” Jawab Anna cepat dan tak perlu berpikir karena ia sangat fanatik dengan lima orang dalam band dari negara barat itu. Kali ini Jeff yang langsung terkejut. “Ann? Serisu?” “Mh-mm. Kenapa, sih? Kamu suka One Direction juga?” Jeff menggeleng cepat. “Sabrina juga suka One D.” “Sabrina?” tanya Annamalah mengernyit karena Jeff menyebutkan nama perempuan. “Adik aku.” “Eh beneran?!” “Iya. Waktu aku bilang ke kamu kalau aku abis ngasih foto kamu ke ayah sama ibu, itu Sab juga bilang ke aku kalau aku disuruh nanyain ke kamu, kamu suka One D apa enggak, soalnya caption di postingan i********: kamu ada yang pakai lirik One D, gitu katanya.” Anna tertawa. Ia ingat betul postingan terbarunya di aplkasi tersebut yakni ketika foto di Yogyakarta memang mengambil lirik dari lagu band kesayangannya. Anna ikut senang mendnegar adik Jeff mempunyai selera yang sama. “Pasti dia seneng banget, deh, kalau ektemu kamu.” Kata Jeff kemudian. “Soalnya dia biasanya cerita-cerita ke aku soal One D tapi aku mana paham.” “Aku juga bakal senenglah kalau ketemu yang sefandom sama aku.” Jeff melirik Anna sekilas sambil menambah kecepatan gasnya karena jalanan mulai lenggang. “Makanya cepet ke rumah biar ketemu Sab.” “Hffff.” Jawab Anna meniup poni-poninya ke atas membuat pipinya menggembung lucu. Jeff langsung tertawa. Tangan kiri laki-laki itu bergerak ke atas puncak kepala Anna seiring dengan tawa yang masih berada disana. “Gemes banget, sih, Ann.” Anna menghela nafas perlahan. Emang udah hukum alam,ya, yang diacak rambut yang berantakan malah hati? **   Anna menarik ujung kemeja Jeff saat keduanya berjalan hendak masuk pintu kafe. “Jeff...” Laki-laki jangkung itu jadi menoleh. “Hm?” “Takut....” “Hah? Takut apa?” Anna menggigit bibirnya sedetik sebelum membalas tatapan Jeff yang terlihat penasaran dengan tingkah laku Anna. “Takut ketemu temen-temen kamu.” “Hah? Hahahaha.” Jeff langsung tertawa. “Takut kenapa? Mereka enggak gigit, Ann.” “Aku cewek sendiri?” Jeff menggeleng. “Mereka bawa ceweknya sendiri-sendiri, kok.” Laki-laki itu tersenyum lembut menatap Anna lalu menggandeng tangannya. “Udah, ayo. Gak bakal diapa-apain. Suwer, deh.” Anna menurut. Perempuan dengan setelan pakaian kasual itu menemukan wajah teman Jeff yang memang paling diingat Anna karena memiliki muka paling tampan di antara lainnya. Anna tidak munafik, bahkan Jeff saja yang sudah ganteng masih kalah ganteng. Namanya Akbar. Seiring dengan langkah Anna dan Jeff yang mendekat, Anna memperhatikan meja bundar besar yang di duduki Akbar. Ada tiga laki-laki dan dua perempuan disana. Anna jadi mengernyit, apa salah stau dari teman Jeff ada yang jomblo? Kasihan, dong, kalau gak punya pasangan sendiri padahal yang lain bawa pacar masing-masing. Batin gadis itu iba. “Ini yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga.” Seru Bisma lebay dan Jeff hanya terkekeh sambil bertos-ria dengan satu-satu temannya. Anna juga ikut menjabat tangan mereka dengan canggung dn senyum kaku. Duh, Anna tak pernah berada di situasi seperti ini. “Ini yang namanya Anna?” Tanya Akbar ketika Anna sudah duduk di kursi sebelah kanan Bram, sedangkan kursi kanannya sendiri adalah milik perempuan yang tadi memperkenalkan diri bernama Maura. Jeff mengangguk usai meminum satu gelas soda yang sudah dipesankan teman-temannya. Lalu laki-laki tersebut menoleh pada Anna. “Ann, ini yang aku bilang namanya Bisma.” Ujar Jeff mengenalkan laki-laki yang memakai jaket tebal. Anna tersenyum menyapa karena jarak mereka jauh jadi ia tak bisa menjabat tangan untuk mengenalkan diri. “Halo, Kak.” Bisma balas mengangguk dan tersenyum. “Ann, kenalin, nih, pacar gue. Lovin namanya.” Lovin tersenyum manis membuat Anna malah langsung gemas melihatnya karena perempuan putih dan kecil itu memiliki wajah seperti anak PAUD. “Aku Lovin.” “Anna, Kak.” “Oh, udah jadi pacar, Bis, sekarang?” Ledek Akbar tapi dibalas seringai oleh Bisma dan senyum malu-malu oleh Lovin.  Beda lagi dengan Anna yang malah senang memandangi interaksi antara Bisma dan Lovin. Walaupun scara fisik mereka malah terlihat age-gap jauh padahal seumuran karena badan Bisma yang besar sekali dan badan Lovin yang imut dan unyu, Anna bisa membayangkan jiak Lovin pasti sangat dimanja jika dengan Bisma. “Kalau yang kayak kulkas berjalan ini namanya Abram.” Ujar Jeff membuat Anna kembali menoleh ke samping kiri dan mengalihkan perhatian dari pasangan lovey-dovey Bisma dan Lovin. Ia menatap aki-laki yang ditunjuk oleh Jeff dan Anna hampir bergidik ngeri karena Abram menatapnya seperti dengan tatapan tak suka. Anna menagngguk takut-takut. “Hai, kak Bram.” “Bram, jangan diliatin begitu, dong!” Seru satu perempuan cantik yang duduk di kanan Anna. Maura. “Ann, sorry, ya. Abram itu kalau ngeliat suka kayak orang mau hipnotis orang gitu emang.” Jelasnya membuat Annamengangguk mengerti. Serem amat. Anna tak tahu sebenarnya Maura ini perempuan milik Abram atau Akbar. Kalau disuruh mendefinisikan Maura, satu kata yang langsung muncul di kepalanya adalah cantik banget. Anna bisa menebak kalau Maura adalah tipe mahasiswa yang disukai oleh banyak laki-laki karena selain punya kecantikan yang natural, Maura juga sosok yang ceria dna mudah bergaul. Ah, Anna jadi iri. Anna berbisik lirih pada Jeff. “Kak Maura ini... pacarnya siapa?” Jeff terkekeh geli. “Abram.” Anna melotot. Yang benar saja Abram yang wajahnya menyeramkan, kaku, dingin, tajam, suka mengintimidasi itu malah pacaran dengan Maura yang super duper ceria dan menyenangkan? Iya, sih, ganteng dan cantik emmang cocok disatukan bersama. Tapi sifat mereka sangat kontras alias bertolak belakang! Anna kemudian mengamati Abram yang ternyata sedang berbincang dengan Maura. Lalu diamatinya juga tangan Abram yang beberapa kali menyingkirkan poni Mura saat perempuan itu menunduk untuk menyeruput minuman. Atau ketika Maura asik berceloteh dan Abram dengan setia mendengarkan bahkan sampai bertopang dagu menyimaknya. Dari hal tersebut saja Anna langsung bisa menyimpulkan bahwa Abram emang snagat menyayangi Maura. Ah, pasangan yang cocok. Abram boleh saja menatap perempuan lain dengan tajam dan tatapan tak enak dilihat seperti yang laki-laki itu lakukan pada Anna tadi. Tapi lihat saat Abram berhadapan dnegan Maura, Abram langsung berubah menjadi sosok yang hangat dan tatapannya lembut. “Nah, kalau yang ini—“ “Gue Akbar.”  Sela laki-laki tampan itu bahkan niat sekali sampai berdiri dri kursi dan mengulurkan tangan pada Anna. Anna tersenyum lalu membalas uluran Abram. “Anna, Kak.” “Iya, tahu. Jeff udah sering cerita soal lo.” Jawabnya membuat Anna melirik ke Jeff yang pura-pura tak mendengar. “Udah kali, woi, salamannya?!” Jeff tiba-tiba memaksa Akbar melepas tangan yang ebrtautan di depan wajahnya ini. Akbar terkekeh geli emlihat eklakuan sahabatnya,s edangkan soal Akbar, Anna bisa menyimpulkan kalau laki-laki itu memang sangat tampan dan berpotensi jadi buaya darat. Apa lagi Akbar tipe laki-laki yang suka menggoda permepuan. Tebakan Anna selanjutnya adalah Akbar yang pasti masih jom— “Akbar udah punya pacra, Ann. Cuman gak dibawa aja kesini.” Jeff tiba-tiba menoleh ke Anna dan menjelaskan hal tersebut sekaan-akan tahu bahwa Anna sedang memikirkan status Akbar. Bukan maksud Anna untuk punya niat tersembunyi karena tahu laki-laki setampan Akbar masih jomblo atau apa, Anna hanya sedang menebak-nebak saja. “Muka kamu keliatan kayak lagi penasaran.” Jelas Jeff usai Anna memberinya tatapan ‘kok tahu kalau aku lagi mikirin soal itu?’ Anna menyengir saja sedangkan Jeff malah langsung mendnegus. “Cewek lo kemana, sih, Bar, kok tumben lo gak bawa Sevya?” tanya Jeff. Akbar menghembuskan rokoknya ke arah lain. “Clubbing sama temen-temennya.” What the freaking freak?! Ingin Anna langsung mengumpat begitu mendengar Akbar dengan santainya menjawab begitu. Oh, jadi pacar Akbar ini tipe cewek yang suka ke bar? Ya, cocoklah, sama Akbar yang kelihatnnya juga cowok nakal. “Lo gak join?” tanya Bisma. Akbar menggeleng. “Nanti aja balik dari sini gue jemput dia.” “Lo jadi nginep bareng sama Sevya?” Heh?! Anna menganga. Dan Akbar yang mengangguk dengan santai itu malah membuat Anna hampir tersedak. Ya Tuhan, konyol sekali model pacaran Akbar dan Sevya? Batin Anna kaget. ** “Aku ke toilet dulu, ya.” Jeff yang tiba-tiba berdiri dan menepuk puncak kepala Anna pelan membuat Anna jadi mengangguk meski ia  lebih ingin karena takut jadi asing tak dekat dengan yang lain selain Jeff. Tapi mana mungkin Anna bilang mau ikut. Yang ada dikira mau aneh-aneh. “Ikut, woe.” Yang bersuara barusan tentu bukan Anna. Melainkan Akbar. Kemudian dilihatnya punggung dua laki-laki tersebut menjauh . Untungnya, Lovin dan Maura langsung mengajak Anna mengobrol walaupun sepertnya Abram terlihat tidak terima karena Maura lebih memilih Ana dibanding dirinya. “Semester berapa, Ann?” “Baru tiga, Kak.” Kemudian mereka membicarakan sesuatu yang ringan-ringan sjaa sambil seseklai melemparkan candaan untuk mencairkan suasana. Suasana terang benderang di kafe juga banyaknya pelanggan yang datang ke tempat itu membuat Anna berjanji akan kesini lain wkatu mengajak Gilang, Putri, dan yang lain karena memang nyaman sekali. Tapi tiba-tiba lampu terang itu berubah jadi warna kuning sedikit remang dalam sekejap membuat tidak hanya Anna tapi beberapa pengunjung lain juga memekik kaget. Lalu satu lampu di atap-atap menyorot ke arah panggung kecil di depan kafe yang Anna tadi sudah menyadari dari awal bahwa kafe ini menyediakan live akustik. Tapi yang membuat Anna dua kali lebih terkejut adalah Jeff dan Akbarlah yang berada di atas panggung. HAH? Katanya ke toilet?! Mereka mau nyanyi?! Emang suaranya Jeff enak? Anna tentu jadi mengerjpkan mata berusaha memfokuskan penglihatannya, meyakinkan apa yang ia lihat ini benar atau tidak. Kemudian satu tepukan di bahu Anna membuat ia menoleh pada Maura yang tiba-tiba mengulas senyum untuknya. Lalu ia mengamati Bisma, dan Lovin yang sama-sama menatpnya dengan mengulas senyum. Apa sih, maksudnya? Bisma malah mengedikkan dagu menyuruh Anna fokus menonton penampilan Jeff dan Akbar. Anna menurut walaupun masih bingung. Ia memperbaiki posisi duduknya kemudian menatap ke depan. Jeff terlihat mengetuk dua kali mikrofon di hadapannya kemudian mengecek sound. “Tes, tes.” “Ehm, selama malam semuanya.” Anjir, Anna tidak ingin berlebihan tapi suara berat Jeff di mikrofon mampu menggetarkan hati Anna apa lagi saat para pengunjung dengan kerasa menjawab salamnya. “Malaaaaam!” Di belakangnya— walau tidak terlalu jauh jaraknya dengan Jeff—Akbar sedang merundukkan kepala membenahi bass juga sesekali terlihat mencoba menggenjreng. Mungkin latihan sedikit sebelum benar-benar bermain dan mengeceknya. Tapi setampan apapun Akbar, di mata Anna, laki-laki dengan kemeja flanel itulah yang mampu mengambil alih fokus otaknya. Jeff terlihat tampan dengan duduk di atas kursi tinggi dan mikrofon di depan bibir, apa lagi kemejanya terlihat digulung hingga lenganan laki-laki itu menggendong gitar membuat Jeff semakin terlihat keren. “Buat ngerayain satu setengah jam menyambut pergantian malam tahun baru, gue mau nyumbang satu lagu boleh, gak?” “Boleeeeeh!” “Boleh, dong, ganteng!” “Sepuluh lagu juga gue jabanin!” Koor ramai dari para pengunjung terutama dari perempuan-perempuan tersebut membuat Anna jadi gagal menahan tawa. Ia bisa membayangkan kalau Jeff suatu hari nanti jadi penyanyi beneran. Pasti penggemarnya akan didominasi oleh para perempuan yang menggandrungi ketampanannya. “Tapi to be honest, lagu ini gue bawain buat satu cewe yang tadi gue jemput buat tahun baruan bareng. Cewek yang manis banget bikin gue betah liatin wajahnya tapi i don’t have any idea kenapa dia suka banget insecure.” Anna langsung gelagapan mendengar Jeff bilang begitu. Bukan geer, tapi memang siapa lagi yang dimaksud Jeff jika bukan dirinya? Ia merona malu sambil menggigit bibir yang malah membuat kekehan keluar dari bibir Jeff melalui mikrofon. Anna bisa merasakan bahwa bisik-bisik para pengunjung membuat kafe semakin ramai karena mencari perempuan yang dimaksud Jeff. “Gak perlu nyariin ceweknya yang mana. Cuman gue yang boleh liatin.” “ULUH-ULUUUUH!” “Pwiiiwit.” “Huuuuu!” Koor serta siulan berada dimana-mana. Maura menyenggol bahu Anna sambil tersenyum menggoda membuat Anna makin malu. “Bisa sweet juga, tuh, bocah.” Komentar Bisma yang tak ditanggapi siapapun. “Here we go. Enjoy it.” Lalu intro dari gitar Jeff memenuhi telinga Anna. Baru nada pertama terdengar dari gitar Jeff, Anna sudah tahu betul lagu apa yang akan ia bawakan. Anna tak bisa berhenti tersenyum ketika Jeff terang-terangan menatapnya. ”Your hand fits in mine like it's made just for me But bear this mind, it was meant to be And I'm joinin' up the dots with the freckles on your cheeks And it all makes sense to me I know you've never loved the crinkles by your eyes When you smile You've never loved your stomach or your thighs The dimples in your back at the bottom of your spine But I'll love them endlessly. I won't let these little things slip out of my mouth But if I do, it's you, oh, it's you, they add up to.” Jeff mengulas senyum manis, memberikan tatapan hangatnya sebelum satu kalimat keluar dari bibir Jeff seakan ia ingin Anna tahu dan sadar tentang betapa tulusnya Jeff menyanyikan ini untuknya. “I'm in love with you and all these little things.”   **   You can't go to bed without a cup of tea Maybe that's the reason that you talk in your sleep And all those conversations are the secrets that I keep Though it makes no sense to me I know you've never loved the sound of your voice on tape You never want to know how much you weigh You still have to squeeze into your jeans But you're perfect to me I won't let these little things slip out of my mouth But if it's true, it's you, it's you, they add up to I'm in love with you and all these little things You never love yourself half as much as I love you And you'll never treat yourself right, darling, but I want you to If I let you know, I'm here for you Maybe you'll love yourself like I love you, oh And I've just let these little things slip out of my mouth 'Cause it's you, oh, it's you, it's you they add up to And I'm in love with you and all these little things I won't let these little things slip out of my mouth But if it's true, it's you, it's you they add up to I'm in love with you and all your little things
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD