Di atas rooftop kafe yang bisa dibilang memang lumayan luas dan lebar, para pengunjung sedang mengamati langit yang malam ini terlihat tidak hanya berwarna gelap namun ada percikan warna api sebagai penyambutan pergantian malam tahun baru. Beda dengan Abram, Bisma, Akbar, Maura, dan Lovin yang menempati salah satu meja agar lima orang itu bisa duduk, Jeff memilih mengajak Anna agar berdiri di dekat pembatas atap yang membuat keduanya dapat menikmati jalanan ramai di Kota Malang. Semua pengunjung memang dibebaskan untuk duduk dan berdiri, omong-omong.
Anna terlalu bersemangat malam ini menanti detik-detik kembang api yang paling besar akan diletuskan. Berdiri di samping laki-laki yang belakangan menjadi pengisi ruang hatinya, ditemani angin malam yang tak terasa dingin malah yang ada pipi Anna kian menghangat, wangi parfum Jeff yang menguar membuat Anna malah merasa semakin rindu padahal manusianya sudah berada disini, Anna bahagia.
“Lima!”
“Empat!”
“Tiga!”
“Dua..”
“Satu!”
Kembang api yang katanya paling besar itu diletupkan diiringi bunti terompet-terompet dari beberapa pengunjung. Dari jarak yang sebenarnya lumayan jauh, Jeff bahkan bisa mendengar Akbar berteriak mengucapkan kebahagiaan yang sama. Tentu ini juga berlaku pada Anna dan Jeff yang sedang dimabuk asmara.
Diselingi dengan keramaian di sekitar mereka, Anna yang masih berpegangan pada pagar pembatas mengangkat kepala membalas tatapan hangat nan lembut milik Jeff. Laki-laki tampan itu tersenyum, tangan kanannya terangkat menyingkirkan rambut kecil yang beterbangan di pipi Anna, diselipkannya ke belakang telinga. “Happy new year,” ucapnya sembari memberikan usapan halus di pipi perempuan manis itu.
Anna balas tersenyum lebih lebar menampilkan gigi-giri rapinya, menatap Jeff penuh raut senang. “Happy new year, Jeff.”
Jeff yang gemas jadi tiba-tiba tertawa, percuma saja ia baru merapikan rambut gadis di sampingnya kalau sekarang laki-laki itu kembali membuat berantakan puncak kepalanya. “Lucu banget,’ ujar Jeff kemudian menarik bahu Anna mendekat, merangkulnya dari samping, membuat jarak antar pinggang mereka mendekat. Jangan tanya apa Anna tidak kaget. Perempuan itu tentu saja terkejut. Mereka berdua belum pernah sedekat ini. Ia belum pernah dirangkul Jeff begini. Tapi Anna memang pandai meneymbunyikan perasaannya, ia hanya putra-pura bingung dengan kelakuan Jeff, ditatapnya pria itu dengan dahi berkerut tapi Jeff juga pura-pura tak tahu. Jeff sibuk mengamati kembang api dengan lengan tangan yang masih bertengger nyaman di bahu Anna.
Anna menggigit bibir, menahan senyumnya agar tak menyengir lebar kemudian ikut menghadap ke depan.
“Makasih, ya.” Ujar Anna tiba-tiba. Tangan gadis cantik itu terangkat untuk menggenggam tangan Jeff yang ada di bahunya. “Buat malem ini.”
“Aku yang makasih.” Balas Jeff dengan menolehkan kepala pada Anna. Ditatapnya Anna yang asik menatap lurus ke depan, Jeff mengulas senyumnya lagi. Laki-laki itu merasakan bahagia luar biasa. Anna selalu membuatnya merasakan debaran dan degup jantung yang tak biasa tapi anehnya Jeff suka. “If i spent this new year event not with you, tonight would feel like nothing.”
Anna tertawa geli tanpa menoleh. Perempuan itu tak tahu, Jeff sedang gugup setengah mati atas pikirannya yang sedang saling melemparkan gagasan. Ya atau tidak, ya atau tidak. Tapi Jeff bukan laki-laki yang suka membuang kesempatan, jadi matanya bergerak melihat sekeliling, ke arah orang-orang yag sibuk bercengkerama antusias atas malam ini, atau bahkan ada yang sudah membuka beer dan joget bersama karena kafe sedang memutar lagu Yellow Claw yang berjudul Till It Hurts itu. Jeff mengeratkan lengannya, membuat Anna jadi semakin mendekat padanya dan satu kecupan hadir di pipi kirinya.
Anna bahkan tak sempat memikirkan apapun saking cepatnya Jeff mengecup pipinya. Jeff menjauh pelan, membiarkan Anna masih ternganga karena syok dengan perbuatannya. Sedetik, dua detik, Jeff menemukan Anna sudah bisa mengerjapkan matanya dan perlahan menoleh ke arahnya.
“Jeff...”
Anna yang mungkin sudah menemukan kesadarannya itu langsung memukul lengan Jeff membuat cowok tersebut menajuh. “Ini tempat umum astaga, Jericho!”
Jeff tertawa, kali ini tak lagi menghindari pukulan Anna karena ia berhasil menangkap kedua tangan perempuan itu. “Oh, kalau bukan tempat umum boleh?” godanya membuat Anna langsung menggeleng cepat. Bukan itu maksudnya!
Anna mencebik kesal, tapi karena lampu terang di atas rooftop membuat Jeff mampu menangkan rona merah malu dari pipi yang baru dikecupnya itu. Ah, Anna-nya tersipu. “Ish.” kata Anna sembari mendorong Jeff pelan agar tak dekat-dekat dengannya.
“Iya, iya, maaf deh...”
“Tau, ah.”
“Gak ada yang perhatiin kita, Ann. Serius, tapi aku udah liat-liat dulu.”
Anna semakin merengek kecil merasa malu karena Jeff terus membahasnya. Kedua tangan Anna terangkat menutupi kedua wajahnya. “Duh...”
“Hahaha. Kamu kenapa, sih?”
“Malu, tahu!”
“Baru juga pipi.”
“Jeff Rei!”
“Hahahahaha. Iya, iya, ampun!”
**
Jeff sebenarnya sedikit merasa tak enak karena ia sudah pasti tidak bisa memulangkan Anna tepat waktu karena pertama, ini sudah jam setengah satu dini hari dan Jeff baru berpamitan pada teman-temannya untuk pulang lebih dulu. Kedua, jalanan lebih macet dan ini lebih parah dari pada saat mereka berangkat tadi, Maka dari itu, usai Anna dan Jeff masuk mobil, Jeff bruu-buru menyuruh Anna mengirimi tantenya pesan bahwa sepertinya mereka akan terlambat pulang.
“Langsung telepon aja, coba, kalau dichat gak diread.” Saran Jeff. “Sini aku aja yang bilang.”
“Enggak usah, aku aja.”
“Aku aja.” Putus Jeff tak mau dibantah karena lelaki itu merasa bahwa Anna malam ini emmang taggung jawabnya. Ia yang sudah berjanji bahwa Anna akan pulang maksimal setengah satu dini hari. Tapi yang ada pukul setengah satu mereka malah baru naik mobil.
“Halo, tante?”
“Oh, Jeff?”
“Iya, ini Jeff. Tante, maaf banget, ini jalanan super macet, aku sama Anna bahkan baru keluar tempat parkir. Eung— kayaknya baru sejam lebih naympai rumah.”
Suara Jeff tak berkhianat bahwa ia sedang takut dan gugup. Ya, jelaslah, siapa yang tidak takut kalau pertama kali ketemu keluarga gebetan tapi udah telat mulangin ceweknya? Jeff hanya takut tidak diberi kepercayaan lagi oleh kakek dan tante Anna.
“Iya, iya. Nggak apa-apa. Tante gerti, kok, ini tadi tante juga baru keluar buat beli minuman aja macetnya setengah mati.” Jelas Mbak Nia panjang lebar. “Yang penting pulangnya selamat.”
Bahu Jeff langsung lemas, merasa lega luar biasa karena tante Anna bisa mengerti.
“Maaf, ya, Te...”
“Iya, Jeff.”
Lalu usai mengucapkan salam dan terimakasih, Jeff memberikan ponsel di tangannya kepada sang pemilik. Anna langsung terkekeh geli karena melihat raut wajah pias milik Jeff. “Kan, aku udah bilang. Mbak Nia, tuh, asik, kok, orangnya. Gak posesif kayak tante-tante di sinetron.”
Jeff mengangguk setuju sambil memutar persneling mobil. “Takut banget aku. Udah parno aja kamu gak bakal dibolehin keluar lagi sama aku.”
Anna tak menanggapi, hanya terkikik kecil sering tangannya membuka galeri, melihat foto-foto hasil jepretannya memotret langit dan kembang api tadi.
“Bapak sama Tante dibeliin apa, nih?”
Anna menoleh. “Gak usah. Di rumah banyak makanan.”
“Roti-rotian suka, gak? Di depan kayaknya ada toko roti gede, gitu.” Ujar Jeff tak menanggapi penolakan Anna.
“Gak usah, Jeff. Dibilangin di rumah, tuh, banyak begituan.”
“Ya udah, mampir ke Indomaret aja.” Ujar Jeff sebelum membelokkan kemudi ke arah kanan.
Hanya butuh satu atau dua menit sebelum mobil Jeff sudah terparkir rapi di depan supermarket. Ia mencabut kunci mobil. “Ikut ke dalem, gak?”
Anna mengangguk sembari memasukkan ponsel ke tas dan menyelipkan tali sling bag di atas pundak. Keduanya berjalan beriringan memasuki supermarket yang untungnya tidak terlalu ramai. Yang jelas ramai hanya jalanan dan trotoar saja.
“Ambil apa aja yang kamu suka. Aku ke toilet bentar.” Kata Jeff sambil menepuk kepala Anna pelan. “Ish, suka banget nepuk-nepuk kepala dikira aku anak anjing?”
Jeff tertawa saja seraya berlalu dari hadapan Anna. Perempuan itu mengambil beberapa makanan ringan dan dimasukkan ke dalam keranjang. Untung saja Jeff tadi tidak belok ke toko roti karena di rumah Anna memang sedang banyak roti karena Mbak Nia yang tadi pagi beli roti banyak untuk dibakar. Kalau cemilan begini di rumah malah tidak ada.
“Udah?”
Anna berjengit kaget sampai hampir menabrak lemari pendingin minuman di belakang punggungnya. “Ih, kaget!”
“Kaget mulu dari tadi.” Ujar Jeff sambil mendorong pinggang Anna sedikit maju agar Jeff bisa membuka lemari minuman.
“Lagian kamu suka ngagetin.”
Jeff memasukkan minuman kemasan teh cincau ke dalam keranjang Anna, lalu menarik keranjang tersebut dari tangan Anna untuk dibawanya. “Titip, ya.”
“He-em.” Jawab Anna dan membiarkan Jeff membawa keranjang yang berisi camilan milik Anna semuanya.
“Kamu beli ini doang?” tanya Jeff karena Anna sekarang hanya diam mengikuti langkah laki-laki itu. Anna mengangguk.
Atas jawaban Anna, Jeff jadi langsung memasukkan makanan ringan di kanan dan kirinya secara asal ke keranjang milik Anna membuat Anna mengerjap bingung. “Kamu mau beli sebanyak itu?”
“Buat tante sama bapak. Ayo ke kasir.”
Sebagai laki-laki yang baik, tentu Jeff memaksa Anna untuk memasukkan kembali dompetnya ke tas karena Jeff yang akan membayarnya. Anna tentu juga sudah menolak dengan keras kepala karena tak mau dibayari tapi Jeff juga akan lebih keras kepala lagi.
Mereka berdua masuk mobil usai lagi-lagi Jeff selalu menyempatkan membuka pintu untuk Anna. Baik pintu Indomaret mau pun pointu mobil. Anna masuk dengan bibir cemberut dan beberapa kali Jeff menangkap Anna mencebik.
“Kenapa, sih?”
“Kamu, kan, udah bayarin makanku di kafe tadi.”
“Iya, terus?”
“Harusnya kali ini aku yang bayarin.”
Jeff memutar mobilnya untuk menghadap jalan raya dan siap-siap melajukan gas. “Ya udah, besok-besok kalau kita keluar lagi, kamu yang bayarin.”
“Mana ada besok? Kamu aja di Malang cuman semalem.”
Jeff melirik Anna sekilas. “Kata siapa? Orang aku di Malang seminggu.”
“Ih, serius?!” Pekik Anna kaget.
“Iyaaaa.”
“Kok gak bilang-bilang?”
“Ya, ini barusan, kan, bilang.”
“Ish.”
Jeff tertawa. Mobilnya melaju sangat pelan karena macet yang masih tak bisa dielakkan. Bahkan Jeff hanya mengemudi dengan tangan kanan sedangkan tangan kriinya merogoh ke kursi belakang untuk emngambil kantung plastik. Anna langsung mengakkan tubuh. “Mau ngambil apa? Sini biar aku ambilin.”
“Minumku.”
Anna memutar badannya menghadap ke belakang. “Nyetir, tuh, pakai dua tangan, Jeff. Bahaya tahu—“
Anna tak jadi melanjutkan ucapannya. Begitu pula dengan tangannya yang ikut berhenti. Tatapannya mengarah pada buket bunga berukuran besar disana emmbuatnya bingung. Ia melirik ke arah Jeff yang sekarang juga ikut menatapnya. Seperti tahu bahwa Anna sedang bingung, Jeff menyunggingkan cengiran di bibir.
“Punya kamu?” tanya Anna.
Tangan krii Jeff ia gunakan untuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Iya, dari aku buat kamu. Maunya, sih, aku kasih nanti kalau udah nyampe rumah. Tapi keburu ketahuan.”
“Buat aku?” tanya Anna lagi, memastikan.
Jeff mengangguk dua kali. Laki-laki it akhirnya memilih menepikan mobil ke pinggir jalan. Tepatnya ke jejeran ruko yang sedang tutup dan untungnya ada lahan ksoong di depan yang bisa ia gunakan untuk memarkirkan mobil.
Anna masih diam, tak berniat untuk sekedar membuka mulut untuk menanyakan mengapa Jeff berhenti lagi padahal mereka baru setengah jalan. Sampai akhirnya Jeff mematikan mesin mobil, lalu memutar tubuh untuk mengambil bunga di jok belakang yang tidak jadi Anna ambil tadi.
Jeff memperbaiki posisinya untuk menghadap Anna yang masih setia mengamati pergerakannya dengan kening berkerut. raut bingung di wajah Anna sangat kontras dengan pikirannya yang kalut karena menebak-nebak, ada sebagian hatinya yang punya harapan atas apa yang akan terjadi setelah ini, namun jantungnya yang berdegup kelewat cepat membuatnya gelisah dan tak bisa duduk dengan tenang.
“Ann.” Panggil Jeff padahal Anna sudah jelas-jelas memberi perhatian pada laki-laki di hadapannya seutuhnya. Laki-laki tampan itu menyerahkan bunga di tangannya dengan senyum manis yang terulas. Mendorong buket cantik itu ke arah Anna agar si perempuan segera menerima.
Anna mengambilnya dengan tangan ragu-ragu. Matanya tak lepas dari Jeff barang sedetik. Tangan Jeff bergerak mengambil kedua tangan Anna untuk di genggamnya erat dan emnaruhnya di atas paha Anna. Diusapnya lembut punggung tangan milik Anna sebelum Jeff menghembuskan nafas lirih, berusaha menyingkirkan gugup di hatinya.
“Mungkin kamu udah tahu kalau aku suka sama kamu bahkan dari awal kita ketemu. Apa lagi aku juga sering bilang itu, ya, kan? Tapi kali ini, aku mau kamu juga tahu kalau aku gak cuman suka. Aku sayang sama kamu. Sayang banget sampai rasanya pingin pindah ke Malang aja biar bisa ketemu tiap hari.”
Munafik jika Anna bilang ia tak merasakan gugup yang sama. Bahkan perut Anna terasa mulas sekarang.
“Buat semua rasa sayang dan perhatian yang aku kasih ke kamu and vice versa...” Jeff mengusap punggung tangan Anna sekali lagi. “Aku... would you be my forever?”
Anna tak bisa mendefinisikan perasaannya. Hatinya bergebu-gebung karena bahagia tapi ia bahkan tak bisa berpikir jernih bahwa ia akan ditodong pertanyaan begitu oleh Jeff secepat ini. Lidahnya kelu walaupun Anna sudah tahu jawaban apa yang pasti akan ia berikan.
“... Kenapa tiba-tiba, sih?”
“Enggak tiba-tiba, dong? Aku udah pernah bilang ke kamu kalau aku mau bilang gini kalau ada kesempatan ketemu kamu langsung. Inget?”
“Tungguin aku pulang ke Malang, ya.”
“Aku gak mau nembak kamu lewat chat.”
Ah, ya. Anna lupa soal yang satu itu.
“Ann, jangan diem...” Jeff tiba-tiba merengek kecil membuat Anna melepaskan bibir bawah yang ia gigiti tadi untuk terkekeh geli.
Kini Anna malah melepas tangan Jeff yang menangkupi miliknya, menaruh tangannya di atas tangan besar Jeff, ganti mengusap pelan punggung tangan laki-laki itu. “Emangnya dari semua rasa sayang dan perhatian yang aku kasih ke kamu as you said before, kamu masih butuh jawaban?”
Wajah gugup Jeff serta bibir yang tadi terbentuk lurus seketika melengkung ke atas dengan mata berbinar. “Is it yes?”
“Mhm-mm.” Anna mengangguk lucu membuat Jeff langsung tersenyum makin lebar dan merengkuh tubuh Anna ke pelukannya. Memeluk erat perempuan yang belakangan selalu menganggu konsentrasinya, membuatnya rindu setengah mati, gemas setiap saat.
“Thanks a lot, Love.”
Blush!
Berapa kali malam ini ini bisa bisa dibuat tersipu oleh Jeff? Walaupun Anna adalah perempuan yang dulu sering gonta-ganti pasangan, bukan berarti Anna suka skin ship. Bahkan jujur saja, Anna tak pernah lebih dari pegangan tangan dan dirangkul oleh sang mantan-mantan. Merasakan hangat di tubuhnya karena Jeff memeluknya begini membuat Anna jadi sedikit berdebar. Apa lagi diberi panggilan semanis itu. Jeff, bisa, gak berhenti bikin aku malu? Batinnya.
Anna kira debar tak biasa di jantungnya kana berakhir ketika Jeff menjauh dari tubuhnya dan melepas pelukan mereka. Tapi yang ada Anna malah dibuat hanyut oleh tatapan lembut Jeff seiring dengan tangan Jeff yang bergerak mengelus pipi kanan Anna.
Hei, Anna bukan bocah berusia lima belas tahun yang tak tahu apa arti wajah Jeff yang kian mendekat ke arahnya dengan tatapan mengunci seperti ini. Bahkan di jaman seperti ini, sepertinya bocah lima belas tahun saja sudah tahu apa yang akan terjadi.
Jeff mengunci tatapan Anna yang tak terbaca, ada raut bingung dan sedikit perasaan gelisah disana. Beda lagi dengan Jeff yang berusaha menenagkan Anna, tak mau Anna merasa takut akan kedekatan mereka. Jeff semakin mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
“Boleh?”
Siapa yang bilang Anna adalah perempuan polos? Memiliki hobi membaca novel tentu membuat Anna juga pernah dilanda perasaan penasaran kan rasanya berciuman dengan lawan jenis. Tapi kepala Anna terlalu kaku dan kikuk untuk hanya sekedar mengangguk. Jadi melalui kalimat yang pernah ia baca di novel-novel remaja, Anna mulai memejamkan mata dan ikut mendekat, membuat Jeff mengulas senyum tipis sebelum ikut terpejam dan memiringkan wajah.
Anna tak pernah merasakan perasaan semembuncah ini. Semua jenis dan macam rasa di dunia rasanya sedang berada di kepala Anna. Ia senang, juga cemas, juga gugup, juga ini dan itu tapi yang pasti perut Anna sangat mulas. Tak tahu bahwa rasanya akan semenyenangkan ini padahal kedua bibir itu hanya menempel, tak bergerak sama sekali.
Jeff menjauh setelah lima detik atau lebih menyentuhkan bibirnya pada milik Anna. Anna emmundurkan kepalanya, menunduk merasa malu membuat Jeff jadi tertawa karena gemas. Ia angkat dagu Anna agar kembali menatap matanya.
“Jangan gemesin gitu.”
“It was my first.” jawab Anna lirih.
“Really?!”
“He-em.”
Jeff makin tersenyum lebar. “Such an honor for me to be yor first kiss. But, babe...” Jeff sengaja menggantungkan kalimatnya. Jari jempolnya bergerak mengusap bibir Anna yang baru ia rasakan lembut bagian luarnya itu. “It’ll not be your last because i’m going to kiss you anymore. Deeper.”
Dengan itu Jeff langsung menarik tengkuk Anna mendekat, meraup bibir manis Anna yang sepertinya teroles lip balm rasa strawberry itu, melumat lembut disana, tak lagi hanya sekedar menempel seperti tadi.
Di sela-sela kegiatan mereka, Jeff langsung tersenyum ketika ia merasakan bibir Anna ikut membalas ciuman mereka.
Ann, jangan kira kamu doang yang lagi bahagia. Aku lebih, lebih, lebih bahagia.
**
Baby I, I wanna know
What you think when you're alone
Is it me? Yeah
Are you thinking of me? Yeah
Oh, we've been friends now for a while
Wanna know, that when you smile
Is it me? Yeah
Are you thinking of me? Yeah
Oh, oh
Girl, what would you do
Would you wanna stay?
If I were to say
I wanna be last, yeah
Baby let me be your
Let me be your last first kiss
I wanna be first, yeah
Wanna be the first to take it all the way like this
And if you only knew
I wanna be last yeah
Baby let me be your last
Your last first kiss
Baby tell me what to change
I'm afraid you'll run away
If I tell you
What I've wanted to tell you yeah
Maybe I just gotta wait
Maybe this is a mistake
I'm a fool yeah
Baby I'm just a fool yeah
Oh, oh
Girl, what would you do
Would you wanna stay?
If I were to say
I wanna be last, yeah
Baby let me be your
Let me be your last first kiss
I wanna be first, yeah
Wanna be the first to take it all the way like this
And if you only knew
I wanna be last yeah
Baby let me be your last
Your last first kiss (your last first kiss)
Your last first kiss (your last first kiss)
Girl what would you do?
Would you wanna stay?
If I were to say
I wanna be last, yeah
Baby let me be your
Let me be your last first kiss
I wanna be first, yeah
Wanna be the first to take it all the way like this
And if you only knew
I wanna be last yeah
Baby let me be your last
Your last first kiss
I wanna be last, yeah
Baby let me be your last
Your last first kiss
Oh
I wanna be last, yeah
Baby let me be your last
Your last first kiss
**
Anna tak tahu kalau berciuman juga bisa membuatnya sampi terengah begini. Nafasnya tersengal saat Jeff akhirnya melepas ciuman mereka. Kalau tadi tak menepuk pundak kekasihnya-- oh, sekarang ia sudah bisa memanggil Jeff dengan sebutan kekasih, kan?-- Jeff pasti masih belum berhenti. Anna tak tahu kalau Jeff sangat lihai dm hal ini. Anna bisa gila karena ciuman pertamanya sampai membuatnya mabuk kepayang.
Jeff mengusap bibir Anna yang basah walaupun kening mereka berdua masih menempel lekat. "Sorry," ujar cowok itu sambil meringis kecil merasa bersalah karena bibir Anna sampi bengkak dan memerah. "Your lips tasted so good i just ca't control my self."
Anna memejamkan mata sebentar sekedar untuk mengembalikan kewarasannya. "Hmm. It's okay>"
"Gimana?" tanya Jeff tiba-tiba membuat Anna mengangkat satu alis bingung. "Was your first kiss good?"
Anna mencibir walau tak bisa menahan senyumnya. Jeff tertawa sembari menarik kepala Anna ke dadanya. Mencumi puncak kepala gadis itu berulang kali sembari mengucap kata terimakasih. "Happy new year, Sayang."
Anna yang tenggelam di pelukan Jeff sementara badannya direngkuh erat jadi membalas melingkarkan kedua tangan di pinggang laki-laki it. Bau parfum yang selama ini hanya Anna rasakan lewat udara, sekarang sudah bisa ia hirup dalam-dalam. "Happy new year, Jeff Rei Jericho."
"I love you."
"Hmmm."
"Kok hm, sih?!" seru Jeff tak terima.
Anna tertawa di d**a Jeff walaupun suaranya teredam. "I love you too!"
"Hehe. Is it mean i can kiss you again?"
"No, please! I didn't ever known you such a p*****t!"
"But you already know, now."
**
Dear, Anna Jovanka.
Cewek yang gak sengaja aku tabrak di kafe Yogyakarta, yang akhirnya dengan gak tahu malunya aku mutusin minta nomer, dan ujungnya kita bisa jalan berdua di Malioboro. Aku cuman mau bilang kalau aku jatuh cinta sama kamu, sejatuh-jatuhnya. Silahkan muntah kalau mau muntah, aku tahu ini geli banget, tapi gimana, dong? Aku beneran sesayang ini ke kamu.
Semoga pergantian tahun yang kita rayain berdua, bisa jadi awal yang baik buat hubungan kita ke depannya. Semoga tahun baru selanjutnya, sampai sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, seratus tahun lagi, aku masih ngerayain bareng-bareng berdua sama kamu.
I'm so grateful God created me in the same life time as you. Kayak lagunya 1975, i swear, it's not livin' if it's not with you.
Love you, love.
Sincerely yours,
Jeff.