Hari pertama di tahun baru adalah waktu-waktu yang paling tepat untuk bangun siang apa lagi teruntuk remaja-remaja milenial yang kemarinnya nongkrong bareng para sahabat dan baru pulang jam 3 kayak orang-orang mau sahur. Begitu pula Jeff dan Bisma yang menginap di apartemen Abram. Sedangkan si pemilik apartemen sudah bangun dari tadi bahkan tak melalaikan tugasnya sebagai umat muslim di pukul empat pagi, Jeff dan Bisma malah masih mendengkur di ruang tengah.
Jangan tanya Akbar kemana karena jawabannya sudah pasti berada di hotel bersama sang kekasih, Sevya.
Abram sengaja membuka lebar gorden ruang tengah membuat chaya matahari langsung menyeruak terang membuat Bisma dan Jeff berteriak mengeluh. Abram tak peduli. “Bangun, woe!”
Bisma memutar tubuhnya jadi tengkurap, menyembunyikan wajahnya di kaki sofa sedangkan Jeff menarik selimutnya menggulung seluruh tubuhnya.
“Bangun atau gue siram air secebok, nih?!”
Jeff mengerjapkan matanya. Rasa kantuk benar-benar sedang berkawan dengannya. Bayangkan saja jadi Jeff, usai mengantar kekasihnya kembali ke rumah dan mengeudi mobil kembali ke Malang, ia baru sampai di apartemen Abram pukul tiga dini hari, menemukan Bisma dan Abram yang sudah tertidur pulas di ruang tengah membuat Jeff tak habis pikir mekea mereka berdua tidur di karpet dan membiarkan dua kamar besar malah kosong. Tapi demi menjaga rasa setia kawan dan solidaritas yang tinggi, Jeff akhirnya juga ikut langsung merebahkan tubuh disana usai ia mengambil selimut dari kamar tamu. Beruntung karpet di apartemen Abram sangat tebal setebal buku Fokus Ujian Nasional.
Lalu baru satu jam tertidur, sekitar setengah lima, karena ia mendengar Abram sudah berisik di balkon, Jeff akhirnya menyempatkan bangun untuk mengambil wudhu. Tapi setelah ia sholat, Jeff kembali tidur karena kantuk yang tak bisa dielak lagi,
“Bram, sumpah, ganggu!” ujar Jeff sambil misuh-misuh tapi laki-laki itu sudah terduduk di karpet dengan tangan memeluk guling dan terpejam.
“Udah jam segini, lo mau bangun jam berape?!”
Kapan lagi coba Abram bisa mnegoceh begini kalau memang Jeff dan Bisma tidak bangun kesiangan. Ini sudah pukul sebelas siang da Abram hampir mati kebosanan menunggu dua sohibnya bangun. Tak ada cara lain bagi Abram selain benar-benar mencipratkan tetesan air dari tangan yang sudah ia basahi ke wajah Jeff dan Bisma membuat Bisma langsung terduduk yang malah membuat kepala laki-lak itu terbentur kaki sofa.
“Wadaw!”
“Aa-aa-aaaa. Foto postingannya dengan yang aslinya berbeda...” sambung Jeff pada kalimat familiar yang keluar dari bibir Bisma. Bisma mengumpat mendapati Jeff malah menyanyi dengan menertawakannya.
“Sialan.” umpatnya seklai lagi.
Jeff mengangkat kepala menatap Abram yang masih berdiri tegak dan diam menatapi kelakuannya dan Bisma. “Maura nginep dimana?”
“Sama cewek gue, lah.” jawab Bisma menyela pertanyaan Jeff.
“Iye, tahu. Maksud gue nginep dimana? Bukan sama siapanya. Ah, pas pelajaran Bahasa Indo pasti lo kebanyakan bolos, deh.”
Tak menanggapi celoteh tidak jelas dari Jeff, Abram berbalik badan meninggalkan keduanya untuk ke arah dapur. “Nginep hotel deket sini.”
“Kenapa gak lo nginep apart sini aja, sih? Orang kamarnya ada dua disini? Kita bisa sekaarng, yang cewek-cewek pake kamar tamu.”
Bisma mengangguk cepat sambil berdiri menyusul Abram untuk meminta air mineral. “Iye, Jep. Gue kemarin juga bilang gitu. Tapi Abram malah jangan-jangan mulu.”
Jeff tertawa. “Takut khilaf, ya, lo?”
“Emangnya si Abram elo?”
“Idih emang gue ngapain?”
“Ye, ngapain, kek, di mobil berduaan malem-malem sama gebetan.” ledek Bisma.
“HEH LO KOK TAHU?!”
Mendapati jawaban panik dari Jeff yang ada malah mengundang gelak tawa dari Bisma. “Wrong move, Jeff Rei Jericho. Kayaknya emang udah ngapa-ngapain, ya?”
Abram meneyringai. “g****k. Dikasih umpan dikit udah kepancing.”
“Hah?” Jeff malah emngernyit bingung beberapa saat sebelum langsung melotot pada Bisma. “Ye, anjim! Lo ngerjain gue, ya, dasar babi utan!”
Bisma kembali duduk di sofa dengan membawa satu gelas air mineral, duduk di samping Jeff uang rambutnya masih acak-acaan khas bangun tidur. “Jadi, mas Jeff yang terhormat, gimana kemarin? Lancar?”
“Apanye?!” sewot Jeff padahal malu sendiri.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, kok, Jeff dan para kawanannya menceritakan hal sensitif seperti ciuman dan tubuh wanita. Namanya juga cowok. Pasti otaknya juga gerak cepet kalau ngomongin kesana. Tapi tetep aja, kalau soal Anna, Jeff inginnya jadi rahasia mereka berdua ditambah Tuhan aja yang tahu.
“Kemarin.” gemas Bisma karena Jeff pura-pura b***t. “Ngapain aja di mobil?”
“Ya, ngapain, kek.” jawab Jeff acuh dan kini menyandarkan punggung ke sandaran sofa, merebahkan diri disana dengan mata menatap langit-langit atap apartemen Abram. Seulas senyum tiba-tiba muncul ketika Jeff mengingat malam kemarin. Ah, Anna sekarang sudah jadi miliknya, ya?
“Heh, sinting lo senyum-senyum sendiri?!”
“Apa sih, woi, Bisma SMASH, kepo amat!”
Abram mengambil bantal-bantal yang berceceran di lantai karpet bekas tidur Bisma dan Jeff. Sembari memunguti satu persatu, Abram ikut melontarkan pertanyaan. “Udah jadian?”
“Yoi.” jawab Jeff singkat. “Emangnya elo suka banget gantungin cewek sampe satu abad?”
“Heh, Jep. Gue kira kemarin lo bakal nembaknya pas abis nyanyi di kafe itu. Macem FTV di SCTv, kan, biasanya begitu. Eh, ternyata abis nyanyi lo langsung turun.”
“Iya, juga, ya? Gak kepikiran gue.”
“Terus lo nembak dimana?”
“Di mobil.”
Bisma manggut-manggut. “Terus di terima?”
Jeff mengangguk.
“Oh, makanya lo udah berani ehem-ehemin dia?”
“Hmm.”
“SUMPAH?!”
Jeff kaget setengah mati karena Bisma tiba-tiba berteriak. Ia melemparkan guling sofa ke kepala Bisma sambil mengumpat. “Apa, sih, jabingan, teriak-teriak di kuping gue?!
“Dimana?” tanya Bisma tak memperdulikan protes dari Jeff. “Bibir?”
“Kepo baaaaat.”
Abram yang sedari tadi asik main ponsel ikut tertawa kecil emndengar percakapan Bisma dan Jeff. “Biasalah, Jep. Si Bisma, tuh, iti soalnya gak berani macem-macemin Lovin.”
Jeff menoleh pada Bisma yang pura-pura tidak dengar apa-apa. Kemudian laki-laki itu terglak keras. “Lah? Iya?!”
“Lovin polos banget, su. Jadi gak tega sendiri kalau mau nyium.”
“Padahal nyium doang?????”
Bisma mengangguk. Kemudian masih dengan sisa tawa di bibir Jeff, lelaki itu menepuk-nepuk pundak Bisma. “Sabar, ya, Bis, pacaran sama bocah emang gak boleh aneh-aneh sebelum sah.”
Baru Bisma akan membuka mulut entah hendak mengatakan apa, tapi Abram mendahuluinya untuk bersuara. “Kalian berdua. Bersihin ruang tengah. Lipet yang rapi selimutnya, kembaliin bantal-bantalnya.”
Melihat Abram mengantongi ponsel dan hendak melangkah ke kamar, Jeff baru sadar kalau Abram sudah berpakaian rapi. “Lo mau keluar?”
Dari belakang punggung Abram, Jeff bisa melihat kepala cowok itu mengangguk singkat.
“Kemana?” Ini Bisma yang tanya.
“Jalan sama Maura.”
“Pake mobil?” Bisma bertanya lagi.
“Iye.”
“Bram! Bram!” Bisma langsung melompat berdiri dan menghadang jalan Abram. “Tungguin gue mandi bentar, ye? Gue nebeng. Sekalian gue mau ngajak Lovin jalan. Bentra, bentar, tunggu sini.”
“Loh, gue mau jalan berdua.” Abram jadi mengernyitkan dahi karena tak paham dengan jalannya otak Bisma.
“Berempat aja, deh.” Laki-laki tinggi besar itu menunjukkan cengirannya pada Abram. “Inget, kalau berdua doang, nanti yang ketiga setan!”
Jeff yang mendnegar itu melempar guling untuk yang kedua kali ke arah Bisma namun bedanya kali ini tak kena karena Bisma berhasil emnghindar. “Bilang aja lo gak mau keluar duit buat beli ebnsin.”
“Hehe. Tau aja, sayangku.”
**
Sepeninggal Abram dan Bisma, Jeff tentu jadi sendirian di apartemen. Usai laki-laki itu dengan patuhnya membersihkan apartemen temannya seorang diri, ia bergegas ke kamar mandi di kamar tamu dan membersihkan diri. Ia lalu duduk di ruang tengah, menghidupkan televisi, namun langsung ia acuhkan karena lebih tertarik bermain ponsel.
Tak ada notif spesial dari ponselnya sekalipun dari sang kekasih, Anna Jovanka. Jeff jadi gemas sendiri. Begini, toh, rasanya pacaran sama cewek cuek yang kalau gak dihubungin duluan, ya, gak mau ngehubungin balik.
Tapi tak apa. Jeff-pun tak masalah. Ia juga bukan tipe laki-laki yang mewajibkan kekasihnya selalu memberi kabar atas apapun yang perempuan itu sedang lakukan, juga bukan tipe cowok yang akan selalu mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, sampai malam seperti karyawan supermarket saja. Jadi dengan mengunyah sisa roti yang ada dimulutnya karena tak berhasil menemukan makanan apapun di dapur dan kulkas milik Abram padahal perutnya lapar, ia memutuskan untuk menelpon Anna. Menunggu hingga bunyi tut-tut ke enam sampai akhirnya Anna baru mengangkat.
“Ha—“
Belum sempat Jeff menyapa kekasih di seberang sana dnegan benar, Anna sudah memotong kalimatnya. “Jeff, text aja jangan telpon. Lagi di jalan raya, gak bakal kedengeran.”
“Oh, okay. Ati-ati.”
Lalu sambungan teelpon terputus begitu saja. Ia juga baru aka menegtik ektika tiba-tiba Anna sudah lebih dulu mengiriminya pesan. Memang, ya, Anna ini suka banget mendahuluinya. Pikir Jeff asal.
Pacar : kenapa Jeff?
Soal nama Anna diponselnya tersebut, Jeff sengaja menggantinya. Kemarin sebelum tidur, ia emneympatkan untuk mengedit nama perempuan itu di kontak telepon. Boleh percaya atau tidak, tapi jujUR, Jeff baru kali ini pacaran sama cewek sampai keliatan se-cringe dan sebucin ini. Awal pacaran sama Bella yang notabene-nya pacar pertama, Jeff aja gak pernah segininya. Atau pas sama Tasya yang dia gak bisa bohong kalau dulu dia sayang banget smaa cewek itu, Jeff juga tak pernah repot-repot menamai kontak Tasya dengan panggilan menggelikan seperti ini. Tasya memang mantan terindah, tapi Anna ini beda. Jeff bisa merasakan bahwa Anna selalu membuatnya berbunga-bunga, merasakan bahagia yang berlebihan, seperti balik ke usia SD dimana dduuk sama lawan jenis yang disukain aja senengnya gak main-main. Sebucin itu. Bahkan lihat sekarang, baru jam 2 dini hari ia berpisah dengan Anna, siang ini saja Jeff sudah tersneyum-senyum sendiri karena merindukan wajah perempuan itu.
Jeff Rei J : dari mana mau kemana?
Pacar : dari Matos abis nemenin Putri cari kado
Pacar : Mau pulang
Jeff Rei J : udah sampe mana?
Pacar : baru lima menit dari Matos, sih. Macet banget
Jeff Rei J : mampir apartnya Abram dooooong
Jeff Rei J : aku sendirian L
Jeff Rei J : Putri ajak aja gak papa
Bukan maksud Jeff aneh-aneh atau apa dengan mengajak kekasihnya ke apartemen Abram yang kini ia tinggali sendiri. Tapi Jeff udah bilang, kan, kalau dia kangen Anna? Itu beneran. Bukan juga Jeff terlalu malas menemui Anna lebih dulu, tapi Annanya yang sedang di perjalanan yang mana berada di satu jalur dengan apartemen Abram, mengapa tidak sekalian saja, ya, kan?
Pacar : bentar aku bilang Putri dulu dia mau apa enggak
Butuh lima menit bagi Jeff sekedar menunggu jawaban ya atau tidak dari Anna sampai akhirnya ponsel Jeff berdenting pelan emnandakan pesan masuk.
Pacar : Putri gak mau wkw katanya males jadi nyamuk
Jeff Rei J : elah L
Jeff Rei J : kamu aja deh yg kesini minta anter Putri mau ga?
Jeff Rei J : kangen bgt gaktau lg
Pacar : idih baru berapa jam pisah???
Jeff Rei J : hahahaha serius
Jeff Rei J : nanti pulangnya aku yg anterin
Pacar : tp nanti cuman berdua doang dong disana?
Jeff tahu benar bahwa Anna pasti takut dan was-was kalau hanya berdua dengan laki-laki, di apartemen pula. Mengingat Anna yang tak pernah berciuman saja sudah cukup membuat Jeff paham bahwa Anna selalu berusaha menjaga dirinya baik-baik dan emnghindari segala sesuatu yang berresiko.
Jeff Rei J : ada cctv banyak di apartnya Abram yaaaang
Jeff Rei J : gak bakal berani aku ngapa-ngapain kamu
Pacar : hehe iya deh aku kesana
Pacar : send loc ya
Jeff Rei : gitu dong
Jef Rei J : [send location]
Pacar : mau dibawain apa?
Jeff Rei J : titip makanan apa aja deh, yg ada nasinya
Pacar : ok
Jeff Rei J :makasih, i’ll wait ya
Jeff Rei J : Putri jangan dibolehin ngebut
Jeff Rei J : love you
Pacar : mana bisa ngebut, orang macet begini
Pacar : love you too
**
“Jangan mentang-mentang disana cuman bakalan berdua, lo bisa macem-macem sama dia, ya!” Putri melotot dan menasehati Anna dari tadi semenjak ia menurunkan Anna di basement. “Harus bisa jaga diri! Sekalipun Jeff ganetng, lo gak boleh kegoda!”
“Iya.”
“Kalau lo nangkep pergerakan dia yang mulai mencurigakan, lo harus cepet-cepet menjauh.”
“Hm.”
“Nanti kalau lo dibikinin minuman sama dia, lo minta dia buat nyicipin dulu. Siapa tahu dia ngasih lo obat perangsang disana!”
Anna menganga tak percaya. Ia menabok pelan lengan Putri sembari berdesis. “Ya Allah, mikir lo, tuh, kejauhan!”
“Mana ada kejauhan. Kita, kan, gak pernah tahu apa yang ada di otak manusia apa lagi cowok kalau lagi berduaan sama cewek.”
“Ya, kali Jeff tega bener gituin ceweknya sendiri?”
“Cew— HAH?! Apa lo bilang? Lo udah jadian sama Jepri?!”
Putri benar-benar terkejut bukan main. Ia hanya tahu bahwa kemarin sahabatnya itu menghabiskan perayaan tahun baru dengan Jeff dan teman-teman lelaki itu yang lainnya. Tapi Anna tak menceritakan apapun soal kelanjutan hubungan mereka berdua. Melihat Anna yang emringis entah merasa keceplosan atau merasa tak enak karena baru memberi tahu, Putri menatapnya sebal.
“Demi apa lo gak cerita ke gue, anjim?!??”
“Elah, sori, deh. Gue niatnya mau cerita kalau lgi kumpul-kumpul sama yang lain juga.”
“Gilang juga belom tahu?”
Anna menggeleng.
Putri menghela nafas. “Kirain gue doang yang kagak tahu.”
“Hhh. Yang ada lo selalu bakal jadi yang pertama gue kasih tahu kalau soal beginian.”
Putri mencubit pipi Anna keras-keras. “Uluh-uluh, lutuna temancu ini....”
“Aduh, aduh!” Anna memaksa jemari Putri lepas dari pipinya. “Sakit banget, gila!”
Putri tertawa terbahak-bahak sambil kembali memakai helmnya. “ Lo utang cerita, ya, sama gue!”
“Iye, berisik.”
“Bye, bye! Gue pulang dulu.”
Anna melambaikan tangannya melepas Putri yang sudah memutar sepeda motornya ke arah luar. “Ati-ati!”
**
Jeff langsung beranjak dari sofa setelah mendengar suara bel apartemen yang ditekan dua kali. Tahu bahwa itu Anna, Jeff langsung membukakan pinru. Perempuan dengan kaos pendek yang dibalut kain rajut sebagai jaket dan celana jeans itu terlihat cantik dengan rambut diurai hanya setengah. Tangannya merangkul helm juga kantung plastik kecil yang Jeff tebak berisi titipan makanan darinya.
Jeff menengok ke arah luar, ke kanan dan ke kiri. “Loh, Putri beneran langsung balik?”
Anna mengangguk kemudian masuk ke apartemen usai dipersilahkan oleh Jeff.
“Aku gak tahu kamu sukanya apa. Ini aku beliin ayam geprek pakai nasi.” Ujar Anna sambil menyerahkan kantung plastik putih di tangannya.
“Masa gak tahu kalau aku sukanya kamu?”
“Halah.” Jawab Anna sambil mendudukkan diri di kursi ruang tamu.
“Duduk di ruang tengah aja.” Ujar Jeff sambil meletakkan helm milik Anna di atas meja. “Tadi Putri naik sepeda motor?”
“He-em.”
Anna bisa menyimpulkan bahwa Abram adalah anak sultan. Ukuran apartemennya saja sangat-sangat luas. Apalah daya Anna yang memiliki rumah minimalis berukuran sederhana. Tapi walaupun begitu, Anna tak iri. Ia nyaman tingagl di rumahnya sendiri. Apartemen yang didominasi warna putih dan hitam itu terlihat elegan dengan banyaknya barang-barang berwarna abu-abu. Benar-benar desain tipe laki-laki.
“Temen-temen kamu kemana?” tanya Anna sambil menoleh ke samping. Menemukan Jeff yag baru datang dari arah dapur membawa satu piring dan dua sendok lalu duduk di sampingnya.
“Keluar semua.” Jeff memberikan satu sendok kepada Anna. “Makan berdua sama aku. Kamu belum makan siang, kan?”
Anna menggeleng menolak sendok di depannya. “Aku udah makan sama Putri di Matos tadi.”
“Beneran?”
“Iya. Lagian itu aku beliin buat kamu doang.”
Jeff memasang cengiran di wajahnya. “Makasih, ya.”
“Aku gak dibuatin minuman, Jeff?”
Sebenarnya Anna hanya bercanda tapi Jeff tiba-tiba panik usai menepuk jidatnya. “Eh, iya. Bentar, bentar. Aku bikinin—“
Anna tertawa. “Enggak, enggak, ih. Aku bercanda.”
“Mau bercanda apa enggak, mah, harusnya tamu—“
“Aku gak haus, Jeff. Udah, deh, makan sana.”
“Beneran gak mau dibikinin? Masa kamu diem doang ngeliatin aku makan?”
“Ngapain ngeliatin kamu makan? Mending nonton TV.” Anna meraih remote di meja. “Aku ganti channelnya, ya?”
“He-em.”
“Kamu baru bangun, Jeff?”
“Hah? Kok tahu?”
“Beneran baru bangun?!”
Jeff mengangguk. “Bangun jam sebelas, deh, aku kayaknya.”
“Astaga?”
“Tapi aku udah cuci muka udah gosok gigi, tahu. Kok kamu tahu aku baru bangun?”
“Rambut kamu aja masih berantakan begitu.”
Jeff menyentuh rambutnya sendiri. “Oh, iya. Lupa gak sisiran.”
“Jorok banget, sih, jam segini belum mandi.”
“Orang aku gak mau kemana-man angapain mandi?”
Namanya laki-aki. Bahkan seperti hanya sekejap mata, laki-laki yang sepertinya memang sedang kelaparan itu sudah menghabiskan satu bungkus ayam geprek. Jeff berdiir hendak ke dapur ketika Anna tiba-tiba menarik jemarinya. “Mau kemana?”
“Dapur.”
Anna lalu beridir usai meletakkan remote dan ponselnya. “Ikut.”
Jeff terkekeh geli sebelum tangan kirinya bergerak merangkul bahu Anna menyeretnya ke arah dapur. “Aku bikinin sirup dulu.”
Anna menggeleng. “Aku bikin sendiri aja, deh. Boleh, gak?”
“Boleh. Yang punya apart lagi gak ada juga.”
Anna mengambil dua gelas dari kabinet dan meletakkannya di meja bar. Menuangkan sirup yang botolnya sudah diambilkan Jeff dan diletakkan laki-laki itu di samping Anna. Lalu fokus Jeff langsung teralih saat ia melihat goresan luka berwarna merah itu di kulit lengan kiri Anna.
Jeff menyentuhnya pelan.
“Aw!” pekik Anna begitu dan langsung emnjauh dari tangan Jeff. “Jeff, sakit!”
Jeff kembali mendekat. Diangkatnya lengan Anna sedikit ke atas agar Jeff semakin jelas melihatnya. “Ini kenapa, sih? Kayak baru.”
“Emang baru. Tadi pas di basement Matos gak sengaja disermpet orang.”
Jeff menatap manik-manik Anna. “Serius?! Gak sengaja tapi sampai luka kayak gini?!”
Bukan Jeff berlebihan. Tapi luka yang berada di kulit mulus lengan atas Anna memang terlihat besar dan panjang goresannya. Bahkan Jeff yakin ini tadi sempat berdarah karena kulitnya terlihat terbuka.
“Kok bisa gini, sih?” tanya Jeff masih tak habis pikir. “Bentar, bentar, aku ambilin bet—“
“Udah aku kasih betadine, tadi.” sela Anna membuat Jeff mengruungkan niatnya. Sepertinya sekarang Jeff benar-benar bisa hafal dengan kebiasaan Anna yang suka menyela.
Jeff dengan lembut mengusap lengan atas Anna, menyentuh tepat pada lukanya. “Sampai merah gini.”
“Aku yang jalannya tadi ngawur. Makanya kesrempet.”
Jeff menghela nafas lelah. Ia sering merasa aneh dengan sikapnya sendiri yang memang suka berlebihan jika menyangkut Anna. Dan belakangan ini sikap tersebut memang semakin menjadi-jadi. Benar-benar jadi b***k cintanya Anna kalau begini, mah.
Anna mengaduk dua gelas sirupnya dalam diam, tak merasa terganggu dengan Jeff yang duduk di kursi bar mengamatinya dalam diam juga. Baru Anna selesai menaruh sirup milik Jeff di depan laki-laki itu, Jeff tiba-tiba merentangkan kedua tangannya lebar. “Sini peluk.”
“Hm?”
Anna jadi mengernyit bingung melihat kelakuan Jeff walau ia tetap melangkah mendekat. Kurang satu langkah lagi dan Jeff langsung menarik tubuh Anna untuk direngkuhnya. Kursi bar yang tinggi itu jelas membuat tubuh jangkung Jeff yang sedang posisi duduk dan Anna yang berdiri masih jadi sejajar. Tapi tak mau terlalu lama bingung, Anna juga membalas pelukan laki-laki itu. Anna menauh dagunya di pundak Jeff, semakin tertarik ketika Jeff merengkuhnya makin erat.
Sembari mengusap punggung lebar Jeff, Anna bersuara. “Kenapa, sih, aneh banget tiba-tiba peluk?”
“Masa aneh padahal aku cuman minta peluk doang?”
“Kamu bau rokok, by the way.”
Jeff terkekeh pelan sembari menjauhkan tubuhnya. “Iya, tadi sempet ngerokok sebatang doang. Gak suka bau rokok?”
Tangan Jeff masih setia berada di pinggang Anna walaupun pelukan mereka sudah terlepas. Dilihatnya Anna yang menggeleng. “Enggak, kok. Biasa aja. Tapi jangan banyak-banyak ngerokok.”
“Kenapa?”
“Ya, emang kenapa lagi coba? Gak sayang sama paru-paru kamu?”
Jeff mengedikkan bahunya. “Lebih sayang sama kamu, sih.”
“Ish!”
Anna emndorong wjaah Jeff menjauh membuat Jeff langsung tergelak. “Selalu, deh, kalau salah tingkah pasti nyiksa orangnya.”
Itu benar. Anna juga baru tahu kebiasaannya yang satu itu. Ia tak pernah sadar seandainya Jeff tidak bilang ke dia bahwa Anna memiliki kebiasaan suka menyiksa kalau sedang salah tingkah. Entah mencubit, memukul pelan, atau seperti yang barusan ini, mendorong wajah Jeff. Kalau orang lain mungkin akan sebal diperlakuakn seperti itu, beda lagi dengan Jeff yang malah gemas.
Jeff membawa satu tangan Anna untuk dikecupnya bergantian dnegan satu tangan yang lain. Tapi diakhir kecupan, Jeff malah menggigit punggung tangannya.
“Ih, kok digigit?!”
“Abisnya gemes.”
“Jeff.”
“Hm?”
“Kok aku baru tahu suara kamu bagus? Kalau kemarin kamu gak nyanyi di kafe, pasti aku gak kamu kasih tahu, deh, akalu kamu bisa nyanyi.”
Jeff terkekeh kecil. Bukannya segera menjawab pertanyaan kekasihnya, Jeff ealah maju memberi kecupan di pipi Anna. “Banyak yang gak kamu tahu.”
Anna mendengus walaupun tak menghindar ketika Jeff baru mencuri satu kecupan lagi di pipi yang satunya. “Iya. Aku juga gak tahu kalau kamu doyan banget cium-cium gini.”
Jeff tak tahan untuk tak terkekeh lagi.
“Kamu punya band, gak?”
“Punya.”
Mata Anna berbinar semangat. “Band apa?”
“SMASH. Kan, sama Bisma.”
Lalu satu pukulan mendarat di bahu Jeff. “Ih, kirain beneran!”
“Hahaha. Enggak, Yang, aku gak ikut gitu-gituan. Aku nyanyi aja jarang. Kemarin mau nyanyi soalnya ada kamu.”
“Jeff, stop gombal. Capek dari tadi dengernya.”
“Hahaha.”
Mereka saling diam beberapa saat, bertukar pandang, sebelum akhirnya Anna menyadari bahwa Jeff beberapa kali mencuri lirik ke arah bibirnya. “Aku pingin cium kamu.”
Anna jadi menggigit bibir bawahnya usai Jeff bicara begitu. Bukan maksud untuk menggoda, Anna malah merasa malu. Apakah laki-laki itu tak tahu, meminta izin sebelum mencium perempuan malah menjadikan situasi canggung di pihak si cewek? Mau bilang iya takut dibilang murahan mau-mau aja, mau bilang enggak tapi sebenarnya mau. Kan, serba salah. Kalau mau cium, ya, cium aja, kenapa.
Tangan kanan Jeff yang sebenarnya berada di pinggang Anna itu jadi terangkat menyentuh bibir bawah Anna. Meminta perempuan itu melepas gigitannya. “Jangan suka gigitin bibir gitu. Apalagi kalau lagi sama cwook lain.”
“Kenapa?”
“Kesannya lagi godain aja.”
“Aku gak ngegodain kamu.”
“Iya, tahu, Jadi boleh cium gak, nih, akunya?”
“Enggak.”
Jeff memasang wajah memias setengah tak pecaya dengan penolakan Anna barusan. Tapi sedetik kemudian Anna-lah yang maju lebih dulu guna mengecup bibir Jeff membuat laki-laki itu terbelalak makin tak percaya. Walaupun hanya sekedar kecupan, tak pernah Jeff menyangka bahwa Anna akan menciumnya lebih dulu.
Jadi ketika Anna menjauh, Jeff tak bisa menyembunyikan sinar bahagia di wajahnya. “Apaan, tuh, tadi?”
Anna tak menjawab selain langsung memeluk Jeff, menyembunyikan kepalanya di ceruk leehr laki-laki tiu merasa malu sendiri. Jeff terkekeh melihat kelakuan gadisnya. Ia balas memeluk Anna dan mengecup telinga Anna dari samping.
“Jangan diketawain!” rengek Anna karena Jeff masih terkekeh geli.
“Iya, iya, enggak.”
“Gak lagi, deh, aku yang cium duluan.”
“Jangan, dong. Aku seneng kalau kamu mau take a move first gitu. Gemes banget pingin masukin karung.”
“Jeff.”
“Apa, sayang?”
“I love you.”
Senyum Jeff langsung emrekah seperti bunga sakura. Hatinya menghangat. Entahlah, ia merasakan bahagia laur biasa di setiap detik yang ia habiskan dengan Anna.
“Aku juga sayang kamu.”
**
My last made me feel like I would never try again
But when I saw you, I felt something I never felt
Come closer, I'll give you all my love
If you treat me right, baby, I'll give you everythingTalk to me, I need to hear you need me like I need you
Fall for me, I wanna know you feel how I feel for you, love
Before you, baby, I was numb, drown the pain by pouring up
Speeding fast on the run, never want to get caught up
Now you the one that I'm calling
Swore that I'd never forget, don't think I'm just talking
I think I might go all in, no exceptions, girl, I need yaFeeling like I'm out of my mind, 'cause I can't get enough
Only one that I give my time, 'cause I got time for ya
Might make an exception for ya, 'cause I been feeling ya
Think I might be out of my mind, I think that you're the one