Pernikahan Batal

1039 Words
Bella perlahan membuka mata. Saat pengelihatannya sudah terbuka sepenuhnya ia dikagetkan melihat dirinya tidur di sebelah Samuel, cowok itu bertelanjang d**a. Bella langsung mengambil posisi duduk dan melihat pakaiannya yang masih terpasang utuh di badannya. “Sam! Bangun!” Bella berteriak sambil menggoyangkan tubuh Samuel. Perlahan Samuel melenguh dan membuka matanya. Cowok itu memegang pundaknya yang terasa sakit. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa di sini? Di mana Mas Juna?” seru Bella. “Kamu yang nelpon aku pake nomor. Kamu minta aku datang ke sini untuk nyelamatin kamu. Tapi saat aku sampai di sini kamu gak ada, lalu tiba-tiba kepala aku dipukul dari belakang oleh seseorang. Aku nggak ingat lagi apa yang terjadi,” jawab Samuel karena setelah kepalanya dipukul ia jatuh pingsan. Bella terdiam mematung, ia sama sekali tidak pernah menelepon Samuel. Ceklek! Bella menoleh pada pintu yang tiba-tiba terbuka, matanya langsung terbelalak ketika melihat Rava. Rava berdiri mematung di ambang pintu. Dadanya bagai ditusuk pisau yang sangat tajam ketika melihat calon istrinya ada di ranjang yang sama dengan laki-laki lain. Padahal seminggu lagi pernikahan mereka akan digelar. Semua persiapan pernikahan sudah 98% dan undangan juga sudah disebar. “Mas Rava!” Dengan raut wajah cemas Bella menghampiri Rava. Ia tak ingin pria itu salah paham padanya. Namun, langkah gadis itu terhenti ketika Rava mengangkat tangannya, pertanda tidak ingin Bella mendekatinya. “Kenapa Mas bisa ada di sini?” “Kamu kaget karena perbuatan kamu terbongkar? Selama ini aku pikir kamu adalah gadis yang lugu dan polos, tapi nyatanya kamu w************n. Aku salah apa, Bel? Kenapa kamu harus melakukan ini? Jika kamu tidak ingin menikah dengan aku, harusnya kamu mengatakan dari awal. Sekarang apa yang harus aku jelaskan ke mama dan papa?” “Ini tidak seperti yang Mas kira. Bella dijebak, Mas. Bella dapat pesan dan telepon dari Mas Juna yang meminta Bella untuk datang ke sini. Namun, saat Bella sampai Bella lihat Samuel pingsan di ranjang. Dan tiba-tiba mulut Bella dibekap sama seseorang sehingga Bella pingsan. Kalau Mas nggak percaya Bella akan lihatin pesan dari orang yang mengaku sebagai Mas Juna.“ Bella mengotak-atik ponselnya. Akan tetapi, ia tidak menemukan riwayat chat atau telepon dari kakaknya, siapa yang menghapusnya? “Kenapa bisa nggak ada?” lirih Bella. “CUKUP!” teriak Rava keras. “Resepsionis itu bilang kamu memesan kamar dengan laki-laki itu. Jadi, kamu nggak usah bohongin aku. Pernikahan kita batal! Aku tidak sudi menikahi perempuan murahan!” seru Rava, sakit di hatinya seakan bertambah berkali-kali lipat. Pernikahan yang ia nantikan selama ini bersama wanita yang ia cinta, justru kandas. “Tolong percaya sama Bella, Mas. Bella nggak mungkin mengkhianati Mas Rava.” Bella meraih tangan Rava, tapi pria itu malah menepis kasar tangannya, membuat air mata gadis itu menetes. Rava menatap Samuel yang hanya diam saja di ranjang. “Hubungan kita telah berakhir. Laki-laki berengsek itu pantas untuk perempuan murahan seperti kamu.” Bella memejamkan matanya, menahan perih, ketika hinaan itu kembali keluar. Dadanya bagai dicabik-cabik mendengar perkataan Rava. Apakah Rava lupa bahwa dia yang telah mengambil keperawanan Bella? Rasanya sakit sekali saat pria yang ia cinta justru tak mau mempercayainya dan malah mengatainya w************n. “Aku nggak mau lagi lihat wajah kamu! Keluar dari rumah aku dan jangan pernah menampakkan diri lagi di depan aku maupun keluarga aku!” Rava meninggalkan kamar tersebut dengan membawa beribu kekecewaan. Setelah Rava pergi, Bella terduduk lemas di lanta, punggungnya bergetar karena menangis. Ini adalah kedua kalinya Rava menyuruhnya pergi. Bahkan perkataan pria itu kini lebih menyakitkan dibanding lima tahun lalu. Jika sejak awal ia tahu rasa sakit ini akan terulang kembali, ia tak akan mau jatuh cinta lagi pada Rava. “Bell,” panggil Samuel. “Jangan sentuh aku.” Bella menepis tangan Samuel yang kini berjongkok disebelahnya. Samuel cukup kasihan melihat keadaan Bella. Namun, disatu sisi ia tak dapat membohongi perasaannya bahwa ia bahagia karena pernikahan Rava dan Bella dibatalkan. Itu artinya ia punya kesempatan untuk mendekati Bella. *** "Bella, kamu mau ke mana?" Naura terlihat terkejut ketika melihat calon menantunya yang baru saja keluar kamar membawa koper. Aril dan Ana–adik Rava– juga sama terkejut dengan Naura. "Terima kasih, Mah, Pah, karena selama ini udah banyakembantu Bella. Maaf, jika Bella pernah menyakiti kalian. Bella pamit pergi," tutur Bella membuat semua orang yang duduk di sofa itu terkejut. "Bella mau pergi ke mana? Pergi berapa hari?" tanya Aril. "Dia tidak akan kembali!" Rava yang berdiri di anak tangga menyahut. "Pernikahan kami batal. Biarkan wanita itu pergi dengan pria yang dia cinta." "Ada apa ini? Jika kalian ada masalah, selesaikan baik-baik. Jangan sembarangan ambil keputusan," ujar Aril. "Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan, Pah. Rava tidak ingin menikahi gadis murahan yang telah tidur dengan laki-laki lain." Deg! Tubuh Naura terjatuh ke sofa, ia memandangi Bella dengan raut wajah terlihat sangat terkejut. Bella tak kuasa menahan buliran bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Perkataan Rava sungguh menyakitkan. Apakah pria itu lupa bahwa dia yang telah mengambil keperawanan Bella? Sekarang dia menuduh Bella perempuan murahan. Bella hanya diam saja, Rava sudah tidak ingin melihatnya tinggal di rumah itu, jadi untuk apa ia membela diri. Aril dan Naura tentu lebih percaya perkataan anak mereka, dibanding dirinya yang bukan siapa-siapa. "Bella pamit, Mah, Pah," tutur Bella, mendekati Aril lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Aril hanya diam saja. Naura dan Ana pun juga sama, tak membalas uluran tangan Bella. Hal itu membuat Bella paham bahwa keluarga Rava juga marah padanya. "Selamat tinggal." Bella lalu menarik kopernya keluar dari rumah tersebut. Saat ini taksi online yang ia pesan telah menunggu di depan rumah. Gadis itu menangis di dalam mobil, ia menunduk sambil mengusap perutnya yang masih rata. Hari ini seharusnya ia memberitahu Rava tentang kehamilannya, tapi keadaan justru malah berubah. Bella tidak akan memberi tahu Rava. Ia akan membesarkan anaknya sendiri. Mungkin pergi dari kehidupan Rava memang jalan yang terbaik. Bella tak ingin lagi merasakan sakit untuk yang ketiga kalinya. Sekarang Bella sudah tidak punya siapa-siapa lagi di negara ini. Ia sebatang kara. Semua orang yang ia kenal tidak menginginkan keberadaannya, termasuk keluarganya dari om-nya. Taksi yang ditumpangi Bella akhirnya sampai di bandara. Ia akan pergi jauh hingga tidak ada siapa pun yang bisa menemukannya. "Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi, Mas Rava," batin Bella.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD