Lima Tahun Kemudian

1086 Words
Lima tahun kemudian ... "Noah, stop! Take a shower right now!” seru Bella. “Aku tidak mau mandi, Mommy.” Bella menghembuskan napas gusar, bocah laki-laki berusia empat tahun itu seperti ingin menantangnya. Disuruh mandi susahnya minta ampun. Noah langsung berlari mengitari sofa ketika mommy-nya itu mengejarnya. Gerakan bocah itu cukup lincah, membuat Bella sedikit kesusahaan menangkapnya. Hap! “Dapat. Kamu tidak bisa berlari lagi.” Bella memeluk putranya itu erat. Mommy dan anak itu tertawa bersama. Sungguh pagi yang sangat ceria untuk mereka berdua. Setelah lima tahun berlalu kini Bella telah banyak berubah. Dia semakin cantik, dewasa, dan terlihat sangat berkelas. Usaha toko kue dan rotinya pun juga semakin berkembang dan telah memiliki enam cabang di Singapore. Ya, kini ia tinggal di Singapore bersama putranya. Semua yang terjadi padanya di masa lalu, Bella sudah belajar untuk melupakannya, ia tak ingin memikirkan hal yang membuatnya terluka. Hidupnya kini sudah bahagia bersama Noah. Saat ini Bella dan Noah tinggal di apartemen yang ada di pusat kota. Ding Dong! "Biar Noah yang buka pintu!" Ketika bel apartemen berbunyi Noah dengan penuh semangat berlari menuju pintu. "Makcik Noor!" seru Noah girang ketika melihat penghuni apartemen di lantai 10 itu datang ke unitnya yang ada di lantai 9. "Silahkan masuk, Makcik," ajak Bella. "Tak payahlah, Makcik ke sini nak anta buah lepas tu pergi," balas wanita berusia 45 tahun itu. Dia merupakan warga berkebangsaan Malaysia. Dia tinggal bersama suami dan putrinya yang berusia 19 tahun. Makcik Noor salah satu orang yang berjasa dalam hidup Bella saat pertama kali dirinya datang ke Singapore. Saat Bella melahirkan, keluarga Makcik Noor yang membawa Bella ke rumah sakit. Dia juga membantu menjaga Noah saat Bella sibuk di toko. "Terima kasih, Makcik," ucap Bella, perkataannya lalu diikuti oleh Noah. Makcik Noor tersenyum dan mencubit pipi Noah gemas. "Noah belum mandi, Makcik," tutur Bella. "Amboy, amboy ... patutlah tak handsome. Noah nak ikut makcik ke mall, tak?" "Ikut!" balas Noah. "Mandi cepat, lepas tu baru kita pergi." Noah langsung menurut dan bergegas pergi mandi. Sedangkan Makcik Noor kembali ke apartemennya. Pukul 11.00 Waktu Singapore Noah dan Makcik Noor berangkat ke mall. Bella tak bisa ikut karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. 'Sugar Bliss' itu adalah nama toko kue dan roti milik Bella. Di tokonya Bella kini tengah berbicara dengan seorang pria di ruangan pribadinya. Bella sungguh merasa bahagia karena ia mendapat 300 pesanan bolu dan croissant. "Ini alamatnya. Untuk sisa pembayaran akan saya bayar Senin, setelah pesanannya datang." Bella mengangguk dan mengambil kartu nama yang diserahkan pria di depannya. "MasterClass," guman gadis itu, tak menyangka jika orang yang memesan kuenya adalah staff dari MasterClass. Akhir-akhir ini orang yang datang ke tokonya sering membicarakan tentang perusahaan tersebut. Bella dengar jika pemilik perusahaan itu adalah orang Indonesia. *** Rava Cristhian, pria yang kini berusia 33 tahun itu namanya cukup melejit akhir-akhir ini. Memiliki paras yang sangat tampan dan IQ 151 membuatnya dijuluki sebagai genius mempesona. Empat tahun yang lalu dia memutuskan berhenti menjadi dosen dan fokus pada perusahaannya. Awalnya Rava tidak pernah menyangka jika aplikasi MasterClass yang ia ciptakan akan berkembang pesat dan menjadi perusahaan teknologi pendidikan terbesar di Asia Tenggara. Kini perusahaannya telah membuka cabang di empat negara yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, dan terakhir Singapore. Saat ini Rava berada di Singapore dan akan tinggal di sana selama beberapa bulan ke depan untuk pekerjaan. "Angkat aku jadi anakmu, Om. Luna juga pengen tinggal di Singapore," ucap Luna–anak dari Nathan, kakak Rava. Sudah dua hari Luna dan keluarganya liburan di Singapore. Rasanya gadis berusia 15 tahun itu tidak ingin pulang. "Om bisa dipukul sama papa dan mama kamu jika putri kesayangannya diambil," balas Rava. "Om, Lio pengen beli mainan." "Leo juga!" Kedua bocah kembar berusia lima tahun itu mengadu pada Rava. Mereka merupakan adik Luna. Hari ini Rava mengajak ketiga keponakannya itu jalan-jalan di mall, sementara kakak dan kakak ipar Rava memilih tinggal di apartemen, menikmati waktu berdua tanpa anak-anak. Rava langsung mengajak ketiga keponakannya itu ke toko mainan yang ada di mall. "Aaa, boneka pandanya imut banget. Beliin untuk Luna, Om," pinta Luna manja. "Kamu udah gedek, masa mainin boneka. Jadi, gadis kayak gini yang dibilang primadona sekolah?" "Ih, tapi itu boneka pandanya lucu tahu." Rava dan Luna sibuk berbicara berdua, hingga melupakan Lio dan Leo. Kedua bocah itu kini juga sedang memilih mainan. "Permisi, apakah bocah berbaju merah itu putra anda. Dia sedang bertengkar." Seorang ibu-ibu menghampiri Rava sambil menunjuk ke bocah berbaju merah. Rava cukup terkejut melihat Lio sedang berebut mainan dengan bocah berbaju merah itu. "Dia bukan putra saya, tapi bocah berbaju hitam itu keponakan saya." "Sungguh? Apa ini cuma perasaan saya, wajah anda dengan bocah baju merah itu sangat mirip." Rava hanya menanggapi perkataan wanita itu dengan tersenyum tipis. Dia lalu menghampiri keponakannya. "This toy is mine. I got it first," ucap Noah. Dia memegang robot itu lebih dahulu, jadi mainan itu miliknya. "Tapi aku yang melihatnya lebih dulu," jawab Lio dalam Bahasa Inggris. Mainan tersebut tinggal satu, sehingga kedua bocah itu berebut. Tak tinggal diam, Leo membantu Lio merebut mainan tersebut. "Lio, Leo, lepaskan mainan itu. Karena kalian lebih tua, jadi mengalah pada yang lebih kecil. Lagipula adik ini memegang mainan tersebut lebih dahulu," ucap Rava, membuat Noah terperangah karena mendengar Rava berbicara dengan bahasa Indonesia. Luna terperangah menatap Noah, wajahnya memang sangat mirip dengan Rava. Lio dan Leo menuruti perkataan Rava. Namun, wajah Lio terlihat sedih karena tidak bisa memiliki mainan tersebut. Noah tiba-tiba saja mengulurkan mainan tersebut pada Lio, merasa kasihan melihat bocah itu sedih. "Robot ini untuk kamu saja. Lagipula robot aku sudah banyak di rumah. Mommy aku bisa berubah jadi T-Rex jika tahu aku beli mainan lagi." "Terima kasih," ucap Lio seketika gembira. "Wah, mommy kamu dinosaurus?" tanya Leo takjub. "Mommy aku peri cantik. Tapi dia seperti T-Rex kalau marah." Rava dan Luna kompak tertawa mendengar obrolan ketiga bocah itu. "Om culik dia, Om. Gemes banget, wajahnya juga mirip Om Rava." "Hush! Kamu ini kalau ngomong suka sembarangan," tegur Rava pada Luna. Gadis itu cengengesan. "Orang tua kamu di mana?" tanya Rava pada Noah. Belum sempat Noah menjawab, Makcik Noor tiba-tiba datang dengan wajah cemas. Wanita itu langsung menghembuskan napas lega karena berhasil menemukan Noah. "Noah! Di sini rupanya, risau makcik cari," ucap Makcik Noor. Tadi ia menyuruh Noah menunggu di depan toilet, tapi bocah itu malah masuk ke toko mainan. Makcik Noor mengajaknya pulang. Noah melambaikan tangannya pada Lio dan Leo. Bocah kembar itu ikut melambai pada Noah. Rava termenung memperhatikan Noah yang mulai menjauh. Entah kenapa hatinya tiba-tiba bergetar saat melihat Noah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD