Luka yang Belum Sembuh

853 Words
Mobil yang dikendarai Bella sampai di perusahaan MasterClass. Perusahaan tersebut baru saja diresmikan dua minggu yang lalu. Keadaan di sana saat ini sangat ramai. Kabarnya di perusahaan tersebut hari ini akan ada seminar bertema 'Meningkatkan Minat Belajar Anak' dan salah satu pematerinya adalah dari CEO MasterClass sendiri. Kebanyakan tamu yang datang adalah para orang tua, tapi juga ada beberapa gadis di sana yang penasaran dengan pesona CEO MasterClass sehingga rela beli tiket agar bisa menghadiri seminar tersebut. "Jangan jauh-jauh dari Mommy," ucap Bella pada Noah. Bocah itu sangat ngotot ingin pergi dengan mommy-nya mengantar pesanan kue. Bella menyuruh tiga orang karyawannya untuk membawa kue tersebut ke dalam gedung. Wanita itu masuk lebih dahulu sambil menggandeng tangan Noah. "Pesanan sudah aku antar. Ada 150 bolu dan 150 croissant, totalnya 675 dollar," ucap Bella yang kini tengah berinteraksi dengan Max, pria yang sebelumnya datang ke tokonya untuk memesan kue. Untuk bolu wanita itu mematok harga 1,5 SGD dan harga croissant 3 SGD. Max menyerahkan sisa pembayaran pada Bella. "Thank you so much, senang berbisnis dengan anda." "You're welcome." "Sepertinya seminarnya belum dimulai," tutur Bella, melirik ke dalam auditorium melalui pintu yang terbuka. "Benar sekali karena CEO masih dalam perjalanan menuju ke sini." Bella manggut-manggut paham. Tiba-tiba saja wanita itu merasa ingin buang air kecil. "Maaf, apa aku bisa meminjam toilet." "Oh, tentu. Toilet ada di sana, kamu tinggal lurus lalu belok kanan," balas Max. "Terima kasih." Bella langsung menuju toilet tersebut. "Kamu tunggu mommy di sini, jangan kemana-mana," ucap Bella pada Noah. "Oke, Mommy." Bukan Noah namanya jika kakinya tidak lincah. Bocah itu tidak bisa diam. Dia melupakan perkataan Bella dan melangkah neninggalkan toilet. *** "Rava belum bisa pulang, Mah, sebelum pekerjaan Rava di sini selesai. Lagian pernikahan Rava dan Daisy juga enam bulan lagi. Rava pastikan sebelum pernikahan, pekerjaan Rava di sini sudah selesai," tutur Rava yang kini tengah berbicara dengan mamanya lewat telepon. "Oke. Kali ini mama nggak mau pernikahan kamu gagal lagi. Usia kamu sudah 33 tahun Rava, mama juga pengen gendong cucu dari kamu," balas Naura dari seberang sana. "Iya, Mah. Yasudah teleponnya Rava tutup dulu." Setelah telepon tersebut terputus Rava menghela napas gusar. Mamanya masih tiada henti mendesaknya untuk segera menikah. Hal tersebutlah yang membuat Rava terpaksa menerima pertunangan dengan Daisy dan enam bulan lagi mereka akan menikah. "Wajah anda terlihat tidak senang setelah menelepon dengan Bu Naura," ledek Gerald yang kini tengah menyetir dan melirik wajah Rava dari kaca mobil. Dia adalah asisten pribadi Rava. "Seperti biasa, obrolan mama selalu pasal nikah." Gerald menanggapinya dengan tersenyum. Mobil yang ditumpangi Rava akhirnya sampai di perusahaan. Dia turun lebih dahulu sedangkan asistennya pergi memarkirkan mobil. Langkah Rava tiba-tiba terhenti saat melihat anak kecil sedang membaca poster yang tertempel di dinding. "How old are you? Kamu bisa membaca?" Noah sedikit terkejut dan menoleh ke sumber suara. "Empat tahun. Aku bisa membaca tapi pelan-pelan. Aku seperti pernah melihat Uncle," jawab Noah dalam bahasa Inggris. Kening Noah lalu berkerut, ia sedang berpikir, wajah Rava seperti tidak asing baginya. "Kita pernah bertemu di toko mainan." Rava berlutut, menyamakan tingginya dengan Noah. Ia tersenyum memandangi bocah itu. "Ah, iya. Uncle adalah keluarga bocah kembar asal Indonesia itu." Noah tiba-tiba berbicara dengan bahasa Indonesia, membuat Rava terkejut. "Kamu bisa berbicara dengan bahasa Indonesia?" Noah mengangguk. "Mommy aku orang Indonesia. Aku bisa tiga bahasa, Uncle." "Oh, ya? Selain bahasa Inggris dan Indonesia kamu bisa bahasa apa lagi?" Rava tersenyum, bocah di hadapannya itu sepertinya anak genius. Entah kenapa Rava merasa senang saat berbicara dengannya. "Aku bisa bahasa mandarin karena sebagian teman aku di sekolah berasal dari China. Aku sering mendengar mereka berbicara bahasa mandarin." Saat ini Noah menempuh pendidikan di taman kanak-kanak. "Nama kamu siapa?" "Noah, Uncle." "Kamu pintar sekali. Orang tua kamu pasti bangga. Oh iya, orang tua kamu di mana? Kenapa kamu sendirian di sini?" "Mommy aku tadi ke toilet." "Pak Rava, acaranya sebentar lagi di mulai dan semua orang menunggu anda." Gerald datang. "Sebentar," ucap Rava lalu kembali berbicara dengan Noah. "Uncle pergi dulu. Semoga lain kali kita bertemu lagi." Rava dan Gerald lalu pergi menuju ke auditorium. Noah kembali asik membaca poster-poster di dinding. "Noah, bukannya mommy sudah bilang jangan ke mana-mana. Mommy barusan nyariin kamu," ucap Bella yang akhirnya berhasil menemukan anaknya. Lain kali ia tidak akan membiarkan Noah sendiri lagi. "Sorry, Mommy." "Lain kali dengar kata mommy. Mari kita pulang." Bella menggandeng anaknya itu menuju mobil. *** Bunyi gemuruh tepuk tangan terdengar ketika Rava selesai menyampaikan materi dan menjawab beberapa pertanyaan dari peserta seminar yang hadir Pria itu meninggalkan panggung, acara kembali diambil alih oleh MC. Rava mendudukkan bokongnya di sofa lalu meneguk sebotal air mineral. Sembari menyimak acara selanjutnya Rava mencicipi bolu yang ada di meja di depannya. Begitu bolu tersebut masuk ke mulutnya, Rava seketika merasakan sesuatu yang aneh mengganggu hatinya. Cowok itu termenung menatap bolu di tangannya. Rasa bolu itu mengingatkannya pada sosok wanita yang selama lima tahun ini sudah susah payah ia lupakan. Kenangan indah masa lalu bersama wanita itu melintas di pikirannya, tapi detik kemudian pengkhianatan wanita juga muncul di kepalanya, mengoyak luka yang sebelumnya mulai sembuh dan membangkitkan rasa benci yang teramat dalam pada wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD