Flashback
Pukul empat sore Rava telah kembali dari kampus. Pria itu terlihat lelah, hari ini ia mengajar tiga kelas sehingga membuat energinya sedikit terkuras.
Saat sampai di rumah Rava melihat keadaan rumah sepi. Tiba-tiba pria itu teringat chat mamanya tadi siang yang mengabari bahwa dia pergi arisan. Sedangkan papanya pasti masih di kantor jam segini, dan Ana masih di sekolah mengikuti ekstrakulikuler.
Prang!
Baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga, langkah Rava terhenti kala mendengar suara benda terjatuh di dapur, ia lantas menuju ke sumber suara.
"Kamu ngapain?" Rava menahan tawa melihat seorang gadis yang kini berada di dapur. Wajah gadis itu cemong oleh tepung.
"Bella lagi nyoba resep bolu, Mas. Kalau enak, nanti Bella jual di toko Bella," jawab Bella seraya mengambil nampan yang tadi tidak sengaja ia jatuhkan.
"Kebetulan Mas Rava udah pulang. Duduk dulu, bentar lagi bolu Bella mateng, Mas Rava harus cobain." Bella menarik Rava dan menyuruhnya duduk di kursi.
"Aku nggak mau. Nanti aku keracunan."
Plak!
Bella menanpar pundak Rava sehingga membuat pria itu meringis.
"Sakit tahu nggak. Jangan kasar jadi cewek, nanti nggak ada yang mau sama kamu," ketus Rava. Ia dan Bella setiap hari bagai kucing dan anjing, tak pernah akur dan ribut terus.
"Mas Rava bikin Bella kesal mulu, sih. Kata siapa nggak ada yang mau sama Bella? Buktinya Samuel masih ngejar-ngejar Bella sampe sekarang. Lagian Bella nggak akan ngeracuni Mas Rava, kok. Pokoknya Mas harus cobain bolu Bella! Jangan ke mana-mana!" tegas gadis itu, mengancam Rava untuk tetap duduk di tempatnya. Setelah bolunya matang, Bella mengeluarkannya dari oven.
"Tunggu dingin bentar. Setelah itu baru Mas Rava cobain."
Beberapa saat kemudian setelah bolu itu dingin Rava mencobanya. Luar biasa! Rasa bolu buatan Bella sangat enak. Cowok itu tiba-tiba tersenyum dan melamun, membayangkan dirinya menikah dengan Bella lalu dirinya akan dibuatkan bolu seperti ini setiap hari.
Melihat Rava senyum-senyum sendiri membuat Bella berpikir pria itu gila.
"Mas!" panggil Bella. Rava masih melamun.
"Mas!" Kali ini Bella berteriak lebih kencang sehingga membuat Rava kaget.
"Iya, Sayang."
Deg!
Bella tertegun. "Mas Rava tadi bilang apa?"
"Aku kenyang."
"Nggak. Tadi Bella dengar nggak kayak gitu."
"Kuping kamu berarti budek. Gelar kamu sepertinya bertambah satu lagi, setelah pendek, upil, botol yakult, sekarang budek." Begitulah Rava. Pria itu menyukai Bella tapi malah meledek gadis itu dan tak berani menyatakan cintanya. Seperti anak SD saja. Sedangkan Bella, ia justru tidak peka dengan perasaan Rava. Andai saja gadis itu tahu bahwa cintanya kini tidak bertepuk sebelah tangan.
"Balikin bolunya!" teriak Bella kesal dan merebut bolu yang ada di tangan Rava.
"Nggak usah teriak-teriak, kamu semakin mirip nenek sihir." Rava berdiri, mengambil tepung yang ada di meja lalu mengoleskannya di wajah Bella. Cowok itu lalu tertawa.
"Mas Rava!" teriak Bella, sangat kesal. Ia mengambil tepung yang ada di baskom kecil tersebut lalu menghamburkannya ke arah Rava sehingga terjadilah hujan tepung.
Bukannya menyantap bolu, kedua insan itu malah berakhir dengan perang tepung.
"Astaga, ini dapur kenapa berantakan!" Naura yang baru pulang dari arisan, lagi-lagi dibuat mengurut d**a oleh kedua insan yang belum pantas disebut manusia itu. Lihatlah, wajah Rava dan Bella sekarang bahkan tak bisa dikenali karena dipenuhi tepung.
"Beresin dapurnya sampai bersih atau kalian berdua mama usir dari rumah!" teriak Naura penuh emosi. Membuat Bella dan Rava kicep sehingga buru-buru membereskan dapur.
"Semua ini gara-gara kamu." Rava menyalahkan Bella.
"Mas Rava yang mulai duluan."
"Berantem lagi mama nikahin kalian berdua."
"Nggak mau!" Rava dan Bella kompak menolak, padahal di dalam hati berkata 'nikahin aja mah'.
***
Rava menggeleng-geleng, lalu memukul-mukul kepalanya pelan, mencoba menghilangkan ingatan itu dari pikirannya. Kenangan itu melintas begitu saja di otaknya tanpa dipinta, padahal selama ini ia sudah berusaha melupakan gadis itu.
Mobil Rava kini ada di depan toko kue 'Sugar Bliss'. Staf kantornya yang memberi tahunya alamat toko tersebut saat kemarin ia menanyakan di mana bolu itu dipesan. Rava enggan turun dari mobilnya, kini hati dan pikirannya masih berperang. Entah apa yang menarik hati pria itu sehingga ia ingin ke toko tersebut. Hatinya mengatakan ia ingin memastikan sesuatu, tapi otaknya melarangnya ke sana.
"Nggak! Nggak mungkin dia ada di negara ini. Aku ke toko ini bukan karena ingat dia, tapi demi bolu yang enak. Rasa bolunya gak mirip sama bolu buatan dia," guman Rava, berusaha menyangkalnya. Pria itu lalu turun dari mobil.
"Aku datang demi bolu, bukan karena ingat dia," lirih Rava sekali lagi, meyakinkan dirinya. Ia lalu menuju pintu masuk utama.
"Semuanya demi bolu. Dia udah gak ada di pikiran aku." Sebelum masuk pria itu meyakinkan dirinya sekali lagi lalu masuk ke toko. Saat ini kondisi di toko tersebut cukup ramai oleh pelanggan, toko kue tersebut lumayan besar.
Begitu sampai di dalam mata Rava langsung tertuju pada Noah. Bocah itu duduk di kursi yang ada di toko sambil membaca buku.
Senyuman terpancar di wajah Rava, hatinya selalu merasa bahagia ketika melihat bocah itu. Suatu kebetulan, ia bisa bertemu Noah di toko tersebut.
"Hallo, anak tampan. Kita bertemu lagi." Rava berlutut di depan kursi yang di duduki anak itu.
"Uncle," ucap Noah dengan raut wajah berseri, ikut senang bisa bertemu Rava lagi.
"Kamu baca buku apa?"
"Noah baca buku dinosaurus."
"Kamu suka dinosaurus?"
"Suka, tapi sayang mereka sudah punah." Bibir Noah cemberut.
Rava gemas, ingin sekali rasanya menyentuh pipi Noah, tapi ia dan Noah tak seakrab itu untuk bisa menyentuh pipinya. Bagaimana jika papa dan mama dari anak itu datang dan memarahi Rava karena sembarangan menyentuh putra mereka.
"Oh iya, kamu ngapain dan bareng siapa di sini?" tanya Rava.
"Ini toko kue punya mommy Noah, Uncle. Itu Mommy ada di sana." Noah menunjuk pada Bella yang sibuk berbicara dengan pelanggan.
Rava menghadap ke belakang, mengikuti arah tunjuk Noah.
Deg!
Seketika jantung pria itu seakan berhenti berdetak, dia terdiam membeku, dengan mata yang tak lepas dari Bella. Sepertinya dunia sangat sempit sehingga ia harus bertemu lagi dengan wanita yang sudah lima tahun menghilang dari kehidupannya. Di saat Rava sudah mulai bisa melupakannya, wanita itu malah muncul kembali.
"Mommy!" panggil Noah sehingga membuat Bella menoleh.