Jangan dekati anakku

1515 Words
Tubuh Bella hampir saja terjatuh jika saja di belakangnya tidak ada meja yang menahan punggungnya. Wanita itu terlihat terkejut seperti orang yang baru saja melihat hantu. Raut wajahnya seketika pucat pasi melihat Rava ada di tokonya dan berbicara dengan Noah. Mungkin Bella memang sudah berdamai dengan lukanya, tapi bukan berarti ia sanggup untuk bertemu dengan orang di masa lalunya. Di lain sisi Rava belum memutuskan pandangannya dari Bella. Luka lamanya itu terbuka kembali, mengingatkannya pada saat Bella ada di kamar yang sama dengan Samuel seminggu sebelum pernikahan mereka. "Perempuan berbaju biru itu mommy kamu?" Rava kembali memusatkan perhatian pada Noah. Orang yang ia maksud adalah wanita yang sedang berbicara dengan Bella. "Bukan, Uncle. Mommy Noah yang pakai dress putih." Deg! Raut wajah Rava seketika langsung berubah terkejut, mulutnya terbuka sedikit, matanya terbelalak menatap Noah lekat. Rava sadari wajah Noah memang sedikit mirip dengannya. Hal tersebut tiba-tiba saja mengingatkannya pada kejadian lima tahun silam. Seketika saja berbagai pertanyaan muncul di benak Rava. "Toni, bawa Noah ke ruangan saya dan suruh pria itu pergi. Sepertinya dia orang jahat," suruh Bella pada salah satu karyawannya. "Kelly, tolong kamu bantu ibu ini memilih kue ulang tahun untuk anaknya." Bella kembali memberikan perintah pada karyawan lainnya. Dia lalu menuju ke ruangan pribadinya. Bella tak siap untuk bertemu dengan Rava. Selama lima tahun ini hidupnya tenang, tapi kenapa pria itu malah muncul lagi di dalam kehidupannya. "Anda siapa? Bos saya tidak mengenal anda, kenapa anda berbicara dengan Noah. Sebaiknya anda pergi. Noah, ayo ke ruangan mommy," ucap Toni, mengusir Rava dan mengajak Noah pergi. Rava tiba-tiba berdiri lalu melangkah menuju ke ruangan yang tadi dimasuki Bella. Toni berusaha menahan dan mengusirnya, tapi pria itu menolak pergi. Ia masuk ke ruangan pribadi Bella dan mengunci pintu dari dalam. "Noah." Bella berbalik badan ketika mendengar pintu terbuka, ia pikir itu adalah anaknya yang masuk. Tapi detik kemudian wanita itu malah terkejut melihat Rava ada di ruangan pribadinya. Rava adalah pria yang dulu berjanji akan menikahi Bella, tapi Rava juga yang membatalkan pernikahan mereka di saat semua undangan telah tersebar. "Who are you? Kenapa sembarangan masuk ke ruangan aku," ucap Bella dalam Bahasa Inggris. Rava sedikit terkejut kenapa Bella tak mengenalnya. Lima tahun mereka tak bertemu, tapi wajah Bella masih tetap seperti dulu. Ia tak mungkin salah orang, wanita di depannya adalah Bella. Dia wanita yang dulu sangat Rava cinta, tapi takdir selalu membuat mereka untuk sulit bersatu. Dan disaat Rava hampir berhasil menikahi Bella, lagi-lagi ada saja masalah yang membuat mereka tak bisa bersama. Takdir seakan tak merestui hubungan mereka. Kejadian lima tahun lalu adalah hal yang paling memilukan bagi Rava. Hatinya rapuh ketika resepsionis mengatakan calon istrinya check in kamar hotel bersama pria lain, awalnya Rava masih mencoba untuk tidak percaya hal itu, tapi setelah ia melihat sendiri Bella ada di kamar yang sama dengan Samuel, dan keadaan pria itu yang bertelanjang d**a, membuat hati Rava semakin hancur berkeping-keping, ia dikhianati oleh wanita yang ia cinta. Pria mana yang tak akan sakit hati? Ditambah Bella juga berbohong mengatakan Juna yang menelepon dan memintanya ke hotel, mana mungkin ada kakak yang tega menjebak adiknya sendiri. Itu pertama kalinya Rava melihat sisi buruk Bella, dirinya dirinya sangat kecewa sehingga ia tak sanggup melanjutkan rencana pernikahannya dengan Bella. Dan karena dirinya kedua orang tuanya harus menanggung malu akibat pernikahannya dengan Bella batal, padahal semua persiapan pernikahan saat itu sudah 98 persen. Gedung, undangan, baju pengantin, dan lain-lainnya sudah disiapkan dan menghabiskan biaya miliyaran. Tapi pernikahan itu batal. Dan kini Bella adalah wanita yang Rava benci, ia berharap dirinya tak pernah bertemu lagi dengan Bella, tapi kini dirinya terpaksa berdiri di hadapan wanita itu demi meminta penjelasan tentang Noah. "Tidak perlu berpura-pura. Apa aku perlu mengingatkan kamu apa yang terjadi pada kita lima tahun lalu," ucap Rava. "Aku tak mengerti apa yang kamu maksud. Pergi dari sini sebelum aku menelepon polisi," sentak Bella, nada suaranya terdengar bergetar. Butuh perjuangan yang sangat besar agar dirinya bisa sembuh dari lukanya. Lima tahun lalu dirinya datang ke Singapore sendirian, tak ada siapa pun yang ia kenal di sana. Setiap malam Bella menangis membayangkan pernikahannya yang batal, pria yang ia cinta mengatainya wanita mvrahan dan menyuruhnya pergi untuk yang kedua kali. Setiap hari Bella berusaha untuk menguatkan dirinya, disaat kandungannya mulai besar ia tetap harus bekerja, sakit ia pendam sendiri karena dirinya sudah tidak punya keluarga untuk mengadu. Untung saja ada Makcik Noor yang berhati malaikat dan rela membantunya tanpa pamrih. Berkat kerja kerasnya membuat Bella menjadi pengusaha toko kue dan roti yang sukses saat ini. Selama ini Bella selalu memberikan yang terbaik untuk Noah. Ia tak pernah membuat anaknya hidup dalam kekurangan, Bella selalu membelikan apa yang Noah mau agar putranya itu bahagia. Karena melihat Noah senang membuat Bella bisa melupakan masa lalunya yang kelam dan hidup bahagia. Dan kini dia saat ia sudah melupakan rasa sakitnya, Rava malah muncul di hadapannya secara tiba-tiba, mengingatkan Bella pada masa lalu yang menyakitkan itu. "Cukup, Bella! Berhenti bersandiwara. Aku tidak ingin mengobrol terlalu lama dengan kamu. Aku hanya ingin kamu jawab pertanyaan aku. Apa setelah pergi dari rumahku kamu hamil? Lalu siapa ayah kandung Noah?" tanya Rava. Dulu setelah dirinya menyuruh Bella pergi dari rumah, Rava berpikir wanita itu pasti akan kembali meminta pertanggung jawaban jika seandainya dia mengandung anak Rava. Tapi Bella tak kembali, Samuel pun tiba-tiba juga menghilang, membuat Rava berpikir Samuel pasti pergi dengan Bella dan mereka memulai hidup baru bersama, hal itu juga meyakinkan Rava bahwa Bella tak mungkin mengandung anaknya. Akan tetapi, setelah tahu Noah adalah anak Bella dan wajahnya mirip dengan Rava, pria itu mulai menduga Noah adalah darah dagingnya, tapi ia harus memastikannya dari Bella. Tangan Bella terkepal kuat. Hatinya seakan baru saja ditembakkan ribuan anak panah setelah mendengar pertanyaan terakhir Rava. Pria itu sepertinya masih menganggap Bella wanita mvrahan karena berpikir dirinya memamg tidur dengan Samuel, sehingga Rava tak yakin Noah adalah anaknya padahal wajah mereka berdua mirip. "I don't know what you mean. Are you stupid? Sejak tadi aku menyuruhmu pergi, tapi sepertinya kamu tak mengerti apa yang aku katakan!" bentak Bella, masih berpura-pura tak mengenal Rava. "Oke, aku akan menelepon polisi." Bella mengotak-atik ponselnya. "Tak perlu, aku akan pergi. Wanita pembohong seperti kamu tak akan bisa dipercaya. Lebih baik aku menyelidikinya sendiri." Mata Bella terbelalak. "Jangan dekati anakku, Sialan!" teriak Bella. Rava yang hendak keluar ruangan dan baru menyentuh gagang pintu tiba-tiba tersenyum kecut mendengar teriakan Bella. Sejak tadi wanita itu pura-pura tak mengerti dengan perkataannya, tapi lihatlah sekarang bagaimana dia bergetar ketakutan, seolah mengerti dengan perkataan terakhir Rava tadi. Itu artinya wanita itu adalah Bella, mantannya lima tahun lalu. Begitu keluar dari ruangan Rava melihat Noah berdiri di depan pintu bersama Toni. "Uncle bicara apa sama Mommy?" "Masalah pekerjaan. Uncle pergi dulu, tapi nanti kita akan bertemu lagi," ujar Rava pada Noah dengan suara yang lembut. Hati Rava selalu tenang melihat wajah bocah itu. Ia mulai percaya bahwa Noah adalah darah dagingnya. "Boss, are you okay?" tanya Toni pada Bella, ia cemas jika Rava telah melakukan sesuatu pada bosnya. "I'm okay, Toni. Usir pria itu dan jangan biarkan dia datang ke sini lagi." "Aku bisa keluar sendiri!" Rava menepis tangan Toni yang hendak menariknya. Ia lalu berjalan sendiri keluar dari toko. "Noah!" Bella membawa Noah masuk ke ruangannya, ia menutup pintu. Bella lalu memangku Noah di sofa seraya memeluk putranya itu erat. "Apa Mommy baik-baik saja? Jantung mommy berdetak kencang." Noah menempelkan telapak tangannya di d**a Bella, ia dapat merasakan debaran jantung mommy-nya yang cepat. "Mommy baik-baik saja, Sayang. Mommy ingin tanya sesuatu, apa sebelumnya Noah pernah bertemu dengan uncle yang tadi masuk ke ruangan mommy?" "Noah pertama kali bertemu dengannya minggu lalu saat Noah pergi bersama Makcik Noor ke mall." Ekspresi Bella terlihat terkejut. Selama ini Bella berusaha menyembunyikan Noah dari Rava. Namun, takdir malah mempertemukan Noah dengan mantannya itu. "Mulai sekarang jangan pernah dekat-dekat dengan uncle itu. Kita tidak mengenalnya. Bukannya mommy sering bilang ke Noah, jangan sembarangan berbicara dengan orang yang tak dikenal." "Tapi uncle itu sepertinya orang baik, Mommy. Dia bukan orang jahat. Noah suka sekali berbicara dengannya." Sekeras apapun Bella berusaha menutupi tentang hubungan Noah dan Rava, ikatan batin ayah dan anak itu tak dapat memisahkan mereka. Noah baru bertemu Rava tiga kali, tapi dia merasa sangat nyaman berbicara dengan Rava. Rava pun juga merasakan hal yang sama saat berbicara dengan Noah. "Mommy menangis?" Noah kaget melihat air mata membasahi pipi mommy-nya. "Tidak, Sayang. Mata mommy hanya kelilipan," jawab Bella dengan suara yang terdengar serak. Dadanya kini terasa sesak. Pertemuannya dengan Rava hari ini, kembali mengoyak lukanya yang baru sembuh. Hatinya sedih mengingat Rava masih menganggapnya wanita mvrahan. Noah tiba-tiba berdiri di sofa. Kedua tangan kecilnya mengusap air mata mommy-nya. Noah lalu meniup-niup mata Bella, dia percaya bahwa mommy–nya kelilipan. "Apa mata mommy masih perih?" "Tidak, Sayang. Apa mommy boleh minta peluk?" Dengan sigap Noah memeluk mommy-nya. Perlahan Bella merasa sedikit tenang. Noah adalah sumber kekuatan bagi Bella selama ini. Wajah bocah itu mungkin memang mirip dengan Rava, tapi perannya di hidup Bella sangat berbeda. Jika Rava adalah pemberi luka, maka Noah adalah penawar. Noah sangat menyayangi Bella dan tak membiarkan mommy-nya menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD