Di ruang konferensi yang luas dan elegan tersebut, Rava Cristhian selaku CEO MasterClass kini tengah memimpin rapat.
Di ruangan konferensi yang sangat luas itu Rava selaku CEO MasterClass tengah memimpin rapat. Ia duduk di meja paling ujung. Di seberangnya layar besar menunjukkan data dan grafik mengenao cabang baru perusahaannya.
Rapat tersebut berlangsung selama tiga jam. Setelah selesai Rava lalu keluar dari ruang rapat. Langkahnya diikuti oleh Gerald yang merupakan asisten pribadinya.
"Apa kamu sudah menemukan informasi tentang pemilik Sugar Bliss?" tanya Rava sembari melangkahkan kaki menuju lift. Pria itu melangkah dengan sangat berwibawa dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Lengan kemejanya digulung hingga siku sehingga menambah karisma pria itu.
"Sudah, Pak. Saya sudah mendapatkan informasi terkait apa yang anda minta."
"Bagus."
Setibanya di dalam lift, Gerald menekan tombol, lift tersebut bergerak menuju lantai paling atas tepat ruangan Rava berada.
Rava mendudukkan b****g di kursi setelah sampai di ruangannya. Ruangan tersebut terlihat sangat luas dan elegan. Gerald duduk di hadapan Rava dengan meja sebagai pembatas.
"Pemilik toko kue 'Sugar Bliss' tersebut bernama Arabella Felicia Atmaja. Dia memiliki seorang putra berusia empat tahun bernama Evander Noah. Namun, tak ada yang tahu siapa ayah dari anaknya," jelas Gerald.
Rava merasa kurang puas dengan jawaban dari Gerald. "Langsung saja ke intinya. Apa kamu tahu alamat tempat tinggal mereka dan di mana anaknya bersekolah?" tanya Rava, menunggu info dari Gerald sepertinya akan lama, Rava juga ingin menyelidikinya sendiri.
"Saya sudah dapat alamat tempat tinggalnya, Pak. Mereka tinggal di Emerald Bay Residences dan saat ini Evander Noah bersekolah di Bright Spark Academy."
"Carikan saya apartemen di sana. Saya ingin pindah," ucap Rava tiba-tiba yang membuat mata Gerald terbelalak.
"Kenapa tiba-tiba anda ingin pindah, Pak? Padahal apartemen anda saat ini lebih mewah."
"Jika kamu masih ingin bekerja turuti saja perintah saya, tidak usah banyak tanya."
"Baik, Pak."
***
"Yahh, bannya bocor," desis Bella sembari menatap ban mobilnya.
"Gimana ini, Mommy? Noah udah capek, pengen tidur," rengek Noah dengan nada sedikit lesu. Bocah itu baru saja pulang dari sekolah. Saat di perjalanan pulang mommy-nya menghentikan mobil di pinggir jalan dan ternyata ban mobil mereka bocor.
Bella menatap wajah putranya yang terlihat sangat kelelahan, hal itu membuatnya merasa kasihan. "Maafin mommy, Sayang," lirih Bella dengan wajah terlihat merasa bersalah.
Sebuah mobil berhenti di dekat mobil Bella.
"Noah!" Anak kecil perempuan seusia dengan Noah, menurunkan kaca mobil dan berteriak. Dia adalah sahabat Noah di sekolah.
"Jeje!" Noah yang tadinya lesu, seketika berubah menjadi semangat. Nama bocah perempuan itu adalah Jenny, tapi keluarganya memanggilnya Jeje. Ibunya adalah warga berkebangsaan Indonesia, tapi sayangnya sudah meninggal saat Jenny berusia dua tahun. Bocah itu kini tinggal dengan Daddy-nya yang merupakan orang Singapore asli.
Jenny dan daddy-nya turun dari mobil.
"Noah ngapain berhenti di sini?" tanya Jenny.
"Ban mobil Noah bocor."
"Kamu punya ban cadangan?" tanya Jovan. Duda yang memiliki paras tampan dan tubuh atletis. Parasnya mungkin bisa dibilang sempurna, tapi sayangnya pria memiliki sifat yang sangat dingin dan irit bicara. Dia merupakan seorang desainer mobil di sebuah perusahaan otomotif yang ada di Kota Singapore. Saat ini usianya adalah 35 tahun, tujuh tahun lebih tua dari Bella
"Ada, dibagasi," sahut Bella.
Jovan menuju bagasi, mengambil ban cadangan tersebut. Bella mengikuti langkah pria itu, lalu membantunya.
"Kalian berdua tunggu di dalam mobil, di luar panas," tukas Jovan pada kedua anak kecil itu.
"Oke, Daddy. Noah ayo kita ke mobil Jeje."
"Oke, Jeje."
"Tuan Jovan, apa yang perlu aku bantu?" tanya Bella.
"Tidak ada," balas Jovan singkat, raut wajahnya terlihat datar sehingga membuat Bella selalu merasa canggung jika berada fi dekat pria itu. "Kamu bisa menunggu dengan anak-anak di dalam mobil," lanjut pria itu sambil fokus mengganti ban mobil Bella.
Dirinya bersantai sementara Jovan mengganti ban mobil, mana mungkin Bella akan melakukan itu, hal tersebut akan membuatnya merasa tidak enak. Bella terdiam, memikirkan sesuatu yang bisa ia lakukan untuk membantu Jovan. Wanita itu membuka pintu mobil lalu mengambi sebuah payung.
Jovan tiba-tiba mendongak ke atas ketika sinar matahari tak lagi menerpa wajahnya. Dia lalu menoleh ke samping, tepatnya pada Bella yang kini berjongkok di sebelahnya sambil memegang payung. Jovan akui Bella memiliki paras yang sangat cantik. Tiba-tiba saja dengan cepat pria itu mengalihkan pandangan, fokus lagi ke ban mobil.
Beberapa saat kemudian ban mobil Bella akhirnya selesai diganti. Bersamaan dengan itu Noah dan Jenny keluar dari mobil.
"Uncle Jovan hebat. Uncle memang terbaik!" Noah mengacungkan kedua jempolnya. Jovan membalasnya dengan tersenyum ramah pada bocah laki-laki itu.
"Terima kasih Tuan Jovan."
"Sama-sama," balas Jovan singkat tanpa menoleh ke arah Bella.
"Karena mengganti ban mobil aku baju kamu jadi kotor. Aku merasa tidak enak, bagaiman jika aku menggantinya dengan membeli yang baru," tutur Bella.
"Tidak usah. Jeje ayo kita pulang."
"Tuan Jovan, sebentar. Aku merasa tidak enak jika kamu menolongku secara percuma. Bagaimana jika saat kamu punya waktu luang, kamu datang ke toko kue milikku bersama Jenny. Kalian bebas memilih kue dan tak perlu membayar, anggap ini sebagai ucapan terima kasihku."
"Nanti aku pikirkan. Aku dan Jenny pamit."
"Bye-bye Noah. Jeje pulang dulu."
"Bye-bye Jeje. Sampai jumpa di sekolah besok," seru Noah.
***
Bella memarkirkan mobil di basemen apartemen. Ketika Bella dan Noah turun dari mobil, mereka tak sengaja melihat Makcik Noor bersama dengan suaminya.
"Hallo, Makcik, Pakcik. Mau ke mana?" sapa Naura.
"Hallo, Bella, Noah. Kita berdua nak ke hospital, tengok kawan Pakcik yang sakit," balas Makcik Noor.
"Korang dari mana?" tanya Pakcik Fendi.
"Bella baru saja jemput Noah ke sekolah, Pakcik."
"Patutlah Makcik ke apartemen you, tapi tak ada orang. Eh, you tahu tak? Kalian punya tetangga baru. Makcik tengok dia baru pindah ke sini. Lelaki, handsome ...," puji Makcik Noor terkagum-kagum.
"Noor!" Pakcik Fendi menatap istrinya tajam. Makcik Noor cengengesan. Mereka berdua lalu pamit pergi.
Bella seketika jadi penasaran pada tetangga barunya itu. Di sebelah apartemennya memang ada satu apartemen yang kosong.
Ketika Bella dan Noah sampai di kediaman mereka. Ibu dan anak itu melihat pintu apartemen yang sebelumnya kosong itu, tertutup.
"Mommy, semoga saja tetangga baru kita bukan orang yang galak," celetuk Noah. Bella menegur putranya.
"Jangan bicara seperti itu. Nanti orangnya dengar," bisik Bella. Ia dan Noah lalu masuk ke apartemen mereka.
Malam harinya ketika Noah sudah tidur, Bella menuju balkon, menyindiri di sana menyaksikan pemandangan malam yang terlihat indah dengan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Itulah salah satu alasan Bella nyaman tinggal di sana sehingga tak ingin pindah. Lokasi tempat tinggalnya itu sangat strategis. Selain itu, orang-orang yang tinggal di apartemen tersebut juga sangat ramah padanya dan Noah.
Bella menoleh ke samping dan melihat lampu balkon apartemen tetangga barunya itu menyala. Rasanya Bella ingin mengintip ke dalam, penasaran dengan rupa tetangganya, tapi sayangnya balkon apartemen mereka terpisah.
"Kayaknya dia memang tipe orang yang tak suka bersosialisasi," guman Bella. Ia belum pernah melihat tetangganya itu keluar dari apartemennya.
Merasa matanya mulai mengantuk Bella akhirnya meninggalkan balkon dan menuju kamar.
Sementara di lain sisi, Rava yang hari ini baru saja pindah, berjalan menuju ke balkon apartemen barunya. Tadi selesai memindahkan barang, pria itu kembali ke kantor dan baru kembali malam hari.
Rava menyesap segelas kopi sambil melihat pemandangan kota. Pria itu kini memikirkan kira-kira di lantai berapa apartemen Noah dan Bella. Ia harus bisa mendekati Noah, mengambil beberapa helai rambut anak itu untuk melakukan tes DNA dan membuktikan bahwa Noah adalah anaknya.