Rumah kecil Alya yang biasanya tenang mulai terasa berbeda. Sejak beberapa minggu terakhir, ada suara ketukan yang sama di sore hari—tiga kali, dengan jeda panjang, lalu satu ketukan terakhir yang pelan. Theo.
Ia datang tanpa banyak alasan. Kadang membawa makanan, kadang hanya ingin “menyapa.” Awalnya Alya mencoba ramah, menanggapinya dengan sopan seperti teman lama. Tapi semakin lama, kedatangannya terasa seperti badai yang tak mau pergi.
Hari itu, Theo muncul lagi. Ia berdiri di depan pintu dengan senyum yang terlalu percaya diri.
“Masuk, ya? Aku cuma mau ngasih ini,” katanya, mengangkat sekotak kue tart kecil.
Alya diam sesaat, lalu mengangguk ragu. “Silakan, Theo.”
Begitu pintu tertutup, suasana rumah berubah. Wangi parfumnya—maskulin dan menusuk—mengisi ruangan. Theo menatap sekeliling, lalu matanya berhenti pada meja kecil di dekat jendela, tempat Alya sering menulis resep baru untuk Dapur Cinta.
“Masih suka nulis resep?” tanyanya santai, menarik kursi tanpa izin.
Alya menahan diri. “Masih. Tapi aku sibuk sekarang. Banyak pesanan.”
Theo tertawa kecil. “Kamu selalu sibuk. Dulu juga gitu, waktu aku masih di sini. Selalu punya alasan buat nggak sempat ketemu.”
Nada suaranya lembut, tapi mengandung sesuatu yang lebih dalam—seperti sindiran yang menyelinap di antara kata. Alya berusaha tetap tenang. “Itu dulu, Theo. Sekarang semua sudah berbeda.”
Theo menatapnya tajam, matanya seperti membaca isi hati Alya. “Berbeda? Aku rasa nggak banyak berubah. Kamu masih Alya yang dulu… cuma sekarang lebih pandai menyembunyikan perasaan.”
Ucapan itu membuat napas Alya tersendat. Ia berdiri, mencoba menjaga jarak. “Theo, kalau cuma mau antar kue, terima kasih. Tapi aku harus lanjut kerja. Ada laporan bahan dari dapur yang belum selesai.”
Theo bangkit perlahan, mendekat setengah langkah. “Aku nggak akan lama. Aku cuma… kangen aja.”
Kata “kangen” itu meluncur begitu ringan, tapi menusuk seperti duri.
Alya memalingkan wajah. “Theo, tolong jangan seperti ini.”
“Tapi kenapa? Apa salahnya kangen?” Theo tersenyum samar, lalu menatap ke arah meja makan. “Kamu makan sendiri tiap malam?”
“Bukan urusanmu,” jawab Alya cepat, nadanya meninggi.
Theo hanya tertawa kecil. “Masih cepat marah juga, ya. Dulu kamu paling nggak suka aku godain.”
Alya menatapnya lurus. “Theo, aku serius. Jangan datang sesering ini. Aku nggak nyaman.”
Hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Theo memandangi Alya lama, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi kamu tahu, Alya, perasaan itu nggak bisa disuruh pergi begitu saja.”
Ia melangkah ke pintu, lalu menatap balik dengan senyum samar yang membuat bulu kuduk Alya meremang. “Aku cuma pengen kamu ingat… kalau aku nggak pernah benar-benar pergi.”
Pintu tertutup perlahan. Tapi aroma parfumnya masih tertinggal lama, seperti bayangan yang menolak lenyap.
---
Malam itu, Alya duduk di tepi ranjang, memandangi jendela. Di luar, lampu jalan berkelip lemah. Ia merasa dadanya berat—antara marah dan takut, tapi juga bingung oleh sesuatu yang tak mau ia akui: Theo memang bagian masa lalunya yang belum sepenuhnya hilang.
Dulu, Theo adalah segalanya. Lelaki yang membuatnya percaya pada cinta, lalu pergi tanpa penjelasan. Kini ia muncul lagi, membawa kenangan yang mestinya sudah terkubur.
Alya memejamkan mata, mengingat tatapan itu—hangat tapi berbahaya. Tatapan yang sama seperti dulu, yang bisa membuatnya lupa siapa dirinya.
“Tidak,” gumamnya pelan. “Aku bukan Alya yang dulu.”
Namun, malam itu juga, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal:
> “Aku nggak bisa tidur. Kamu masih suka teh melati?” – Theo.
Alya menatap layar lama, lalu meletakkan ponsel itu di meja. Ia tidak membalas. Tapi pesan berikutnya datang.
> “Aku lewat depan rumahmu barusan. Lampumu masih nyala. Jangan kerja terus, Alya.”
Alya terlonjak. Ia menoleh ke jendela. Tirai memang terbuka sedikit. Ia segera menutupnya rapat, lalu menarik napas panjang. Dadanya berdebar.
Theo tidak sekadar datang — ia mulai mengawasi.
---
Hari-hari berikutnya, bayangan Theo makin sering muncul. Ia datang saat Alya baru pulang dari Dapur Cinta, atau tiba-tiba sudah duduk di teras dengan alasan “kebetulan lewat.”
Kadang membawa bunga, kadang hanya duduk diam, tapi tatapannya seperti ingin menembus tembok pertahanan yang Alya bangun.
Teman-teman di dapur mulai menyadari perubahan Alya. Ia jadi mudah gugup, sering salah hitung bahan, bahkan sempat menjatuhkan piring.
“Mbakyu, kamu nggak apa-apa?” tanya Lilis, salah satu staf.
Alya hanya tersenyum lemah. “Capek aja, Lis.”
Tapi sesungguhnya, yang membuatnya lelah adalah rasa takut yang terus menempel seperti bayangan.
Malamnya, saat Alya baru menyalakan lampu ruang tamu, terdengar lagi ketukan khas di pintu.
Tiga kali, jeda panjang, lalu satu ketukan pelan.
Alya membeku.
Ia tahu siapa itu. Tapi kali ini, ia tak membuka pintu. Ia diam, menahan napas, berharap Theo pergi.
Ketukan berhenti, lalu suara langkah menjauh. Alya lega, tapi hanya sebentar—karena ponselnya kembali bergetar.
> “Kenapa nggak dibuka? Aku cuma pengen lihat kamu baik-baik aja.”
Tangannya gemetar. Ia ingin memblokir nomor itu, tapi jari-jarinya ragu.
Jika ia blokir, apakah Theo akan berhenti? Atau justru lebih marah?
Ia akhirnya mematikan ponsel dan duduk di lantai, bersandar ke dinding.
Di balik ketakutannya, ada sesuatu yang lebih berbahaya: rasa iba. Ia masih mengenal Theo—atau setidaknya versi Theo yang dulu. Lelaki yang membuatnya tertawa, yang dulu berjanji akan kembali.
Sekarang janji itu datang lagi, tapi dalam bentuk yang berbeda.
---
Keesokan harinya di Dapur Cinta, Alya berusaha bersikap normal. Andre sempat memperhatikannya, tapi tidak menanyakan apa-apa.
“Kalau kamu butuh istirahat, bilang aja,” katanya lembut saat Alya salah mencatat pesanan.
Alya mengangguk cepat. “Iya, Mas. Maaf.”
Namun di balik apron-nya, tangan Alya gemetar. Pikirannya tidak di dapur—tapi di rumah. Ia takut pulang. Takut menemukan Theo di sana, menunggu dengan senyum yang selalu sama.
Sore itu, setelah tutup, ia memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia duduk di halte, menatap jalan yang mulai sepi. Hujan turun pelan. Ia berpikir untuk menelpon seseorang—mungkin Ratna, atau bahkan Andre. Tapi ia tahu, itu belum saatnya.
Belum.
Karena jika ia cerita sekarang, ia harus mengakui bahwa Theo masih punya ruang dalam hatinya. Dan itu… hal yang belum siap ia hadapi.
---
Malam kembali datang. Alya baru tiba di rumah saat listrik tiba-tiba padam. Gelap. Hanya cahaya redup dari luar yang masuk lewat celah jendela.
Ia mencari lilin di dapur, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar sesuatu—suara napas pelan di luar pintu.
Jantungnya berdegup keras.
Lalu suara itu berubah menjadi ketukan lembut.
Tiga kali. Jeda panjang. Satu kali lagi.
Alya menggigit bibir, matanya mulai basah. “Theo…” bisiknya lirih, antara marah dan takut.
Ketukan berhenti. Sunyi.
Namun dari balik tirai, tampak bayangan seseorang berdiri diam di bawah lampu jalan, menatap ke arah rumah. Lama.
Lalu pergi.
Alya berdiri lama di tempat, menggenggam lilin yang belum sempat dinyalakan. Tubuhnya gemetar, tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang bahkan lebih menakutkan dari rasa takut:
Ia mulai merindukan bayangan itu.
---
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Theo muncul kembali, Alya menyadari satu hal—
bahwa mungkin, ketakutannya bukan karena Theo datang terlalu sering,
tapi karena sebagian dirinya… tidak ingin Theo benar-benar pergi.