Langit Karawang sore itu berwarna abu-abu pucat. Gerimis halus menitik di kaca jendela Dapur Cinta, menimbulkan pola-pola kecil yang tak beraturan, seperti perasaan Alya belakangan ini.
Sudah tiga kali Theo datang dalam seminggu.
Dan setiap kedatangannya, membawa udara yang berbeda—lebih dingin, lebih berat.
Theo selalu punya alasan: mencicipi menu baru, menanyakan stok bahan, atau sekadar menitip pesanan untuk klien. Tapi Alya tahu, itu hanya alasan agar ia bisa duduk di sana, di sudut dekat jendela, memandang Alya bekerja di dapur terbuka.
Pandangan itu… membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Hari itu, Alya mencoba mengabaikannya. Tangannya sibuk mengaduk sup krim jagung, sementara pikirannya melayang ke masa lalu — ke hari ketika Theo menghilang tanpa kata. Ia masih ingat dengan jelas, malam itu hujan juga. Theo berjanji datang ke stasiun, tapi yang datang hanya kabar bahwa ia harus pergi “untuk sementara.” Sementara yang tak pernah berakhir.
Sekarang, pria itu duduk hanya beberapa meter darinya. Sama seperti dulu: mengenakan kemeja putih sederhana, senyum tenang, dan tatapan yang seolah tahu setiap rahasia di hati Alya.
“Masih suka lupa makan kalau sedang masak?” suara itu memecah keheningan. Dalam sekejap, Alya menegakkan tubuhnya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara.
“Ini dapur, Theo. Bukan tempat buat ngobrol nostalgia,” ucapnya datar tanpa menatap.
Theo tertawa pelan, suaranya serak, hangat, tapi juga menyakitkan di telinga Alya. “Aku cuma tanya kabar. Nggak salah, kan?”
Alya meletakkan sendok sayur dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. “Kamu udah cukup tahu kabarku waktu ninggalin aku tanpa pesan apa pun, kan?”
Tatapan Theo sempat turun, tapi hanya sesaat. Ia menatap Alya lagi — dengan mata yang menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
“Mungkin aku salah waktu itu. Tapi sekarang aku di sini buat benerin.”
“Benerin?” Alya menatapnya tajam. “Theo, luka bukan piring yang bisa kamu lem pakai niat baik.”
Suasana dapur seketika tegang. Para pegawai yang sedang menyiapkan bahan di meja belakang saling pandang, pura-pura tak mendengar. Hanya suara hujan dan desis panci yang terus mendidih menemani keheningan itu.
Theo bangkit dari kursinya, melangkah mendekat ke arah meja dapur tempat Alya berdiri.
Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai kayu.
Alya berusaha tetap tenang, tapi tubuhnya sedikit menegang.
Theo berhenti beberapa langkah di depannya.
“Setidaknya izinkan aku minta maaf dengan benar,” ucapnya pelan. “Aku nggak datang buat ganggu hidupmu, Alya. Aku cuma pengin—”
“Kalau cuma pengin, kamu bisa nulis di kertas,” potong Alya cepat. “Aku nggak butuh kehadiranmu lagi.”
Theo menghela napas panjang. “Aku tahu kamu marah. Tapi aku bukan datang buat masa lalu. Aku datang karena... aku nggak bisa pura-pura nggak tahu kalau kamu di sini.”
Ada jeda.
Kata-kata itu seperti menampar udara.
Alya menatapnya lekat, mata mereka bertemu. Di dalam tatapan Theo ada sesuatu yang familiar — rasa kehilangan, rasa bersalah, dan cinta yang tak pernah benar-benar mati.
Dan itu membuat dinding pertahanan Alya sedikit retak.
Namun sebelum suasana berubah terlalu jauh, suara pintu depan berbunyi. Seorang pelanggan masuk, membuat Alya tersadar kembali. Ia berbalik cepat, menyeka tangannya dengan celemek, lalu berjalan menjauh tanpa menoleh.
Theo hanya menatap punggungnya yang menjauh — dan senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia tahu, meski Alya mencoba menghindar, sesuatu sudah bergerak lagi di antara mereka.
---
Malamnya, setelah restoran tutup, Alya duduk sendirian di dapur. Lampu sudah diredupkan, hanya nyala lilin kecil di meja yang menyala, meninggalkan bayangan di dinding.
Ia memandang secangkir teh yang sudah dingin, tapi pikirannya melayang ke tatapan Theo tadi sore.
Kenapa ia masih terpengaruh?
Kenapa hati ini bergetar setiap kali mendengar namanya?
Alya menggenggam cangkir itu erat-erat. Ia tahu jawabannya — karena sebagian dirinya dulu tidak pernah benar-benar bisa melupakan Theo. Hanya mengubur rasa itu di bawah tumpukan hari dan pekerjaan.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu belakang.
Deg.
Ia berdiri perlahan, berjalan mendekat. Saat membuka pintu, sosok itu berdiri di sana.
Theo.
Dengan jas hujan setengah basah, rambut acak, dan senyum samar yang lebih mirip luka.
“Aku tahu kamu belum pulang,” katanya lembut. “Aku cuma mau kasih ini.”
Ia mengangkat sebuah wadah kecil dari kertas coklat — roti buatan tangan. “Dulu kamu suka roti kacang yang aku bikin, kan?”
Alya menatapnya, antara ingin tertawa dan menangis. “Theo, kamu pikir roti bisa perbaiki semuanya?”
“Enggak,” jawabnya tenang. “Tapi aku harap, bisa jadi awal.”
Udara malam terasa pekat.
Hujan menetes di atap seng.
Alya memandang roti itu lama, lalu perlahan mengambilnya. “Terima kasih,” katanya pendek, tapi suaranya bergetar. “Sekarang pulanglah.”
Theo hanya diam. Tapi sebelum pergi, ia berkata pelan, “Aku nggak akan menyerah, Alya. Aku tahu kamu masih marah. Tapi aku akan tetap datang, sampai kamu berhenti melihat aku sebagai kesalahan.”
Ia menatap Alya sekali lagi — dalam, berat, dan mengguncang.
Lalu melangkah pergi menembus gerimis.
Alya berdiri di ambang pintu cukup lama. Di tangannya, roti kacang itu terasa hangat.
Dan tanpa sadar, satu air mata jatuh di pipinya.
---
Keesokan harinya, saat membuka Dapur Cinta, Theo sudah duduk di kursi dekat jendela lagi.
Senyum itu masih sama, tapi kini Alya tidak tahu harus membencinya atau merindukannya.
Di balik dapur, ia menarik napas panjang.
Satu hal yang ia sadari:
Ketenangan yang baru saja dibangun di Dapur Cinta… mungkin akan segera runtuh.
Theo akhirnya pergi, meninggalkan aroma parfum yang samar tapi menusuk di udara. Alya berdiri di dapur, menatap pintu yang baru saja tertutup. Hatinya seperti ruangan yang kehilangan cahaya. Entah apa yang lebih mengganggu — kehadiran Theo yang tiba-tiba, atau tatapan matanya yang seolah masih menyimpan sesuatu yang belum sempat diucapkan.
Ia berjalan pelan ke meja kerja, mengambil serbet yang tergeletak sembarangan. Tangannya gemetar sedikit saat melipatnya. Dapur itu biasanya menjadi tempat paling aman baginya, tempat ia melarikan diri dari segala hal yang menyakitkan. Tapi malam itu, bahkan aroma rempah dan uap teh pun tak mampu menenangkan pikirannya.
Alya membuka jendela, membiarkan udara malam masuk. Namun, alih-alih lega, hawa dingin justru membuat dadanya terasa sesak. Ia memejamkan mata — dan wajah Theo muncul lagi. Senyumnya yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta, kini hanya menimbulkan rasa takut. Bukan takut pada Theo, tapi pada dirinya sendiri yang masih bisa terpengaruh.
“Mengapa sekarang?” gumamnya lirih.
Ia tahu seharusnya masa lalu dibiarkan mati di tempatnya. Tapi Theo datang lagi, membawa tanya, membawa ingatan yang seharusnya sudah terkubur. Sejak hari itu, pikiran Alya tak pernah benar-benar tenang. Saat memasak, saat membersihkan meja, bahkan saat mencoba tidur, bayangan Theo selalu muncul, seperti bayang api di ujung mata.
Beberapa kali ia hampir mengirim pesan pada Andre, ingin bercerita, tapi setiap kali ponsel di tangannya bergetar, ia urung. Ada sesuatu dalam dirinya yang takut terlihat rapuh, takut Andre tahu bahwa ia masih goyah karena seseorang dari masa lalunya.
Dan malam itu, ketika lampu dapur dimatikan satu per satu, Alya merasa sesuatu berubah. Bukan hanya dalam dirinya, tapi juga di sekeliling rumahnya. Seperti ada langkah samar yang menunggu di kejauhan, seperti dunia memberi tanda bahwa Theo belum benar-benar pergi.
Ia menarik napas dalam, lalu berbisik pada dirinya sendiri,
“Ini baru permulaan…”