BAYANGAN MASA LALU ALYA

1144 Words
Pagi di Karawang tampak cerah setelah semalam hujan turun lama. Jalanan masih basah, dan udara membawa aroma tanah yang segar. Di depan “Dapur Cinta”, embun menempel di kaca jendela, memantulkan sinar lembut matahari pagi. Alya datang lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di dapur yang masih sunyi, menyalakan lampu satu per satu. Di atas meja, masih ada sisa aroma jahe dan daun serai dari malam sebelumnya. Ia menghela napas pelan, mencoba mengusir bayangan obrolan terakhir dengan Ratna dan Andre. Hari ini, katanya dalam hati, aku cuma mau kerja. Hanya itu. Namun, bahkan sebelum ia sempat memotong bahan pertama, suara bel di pintu berbunyi. Alya menoleh—dan di ambang pintu berdiri seseorang yang tak pernah ia sangka akan muncul lagi dalam hidupnya. Theo. Ia masih seperti dulu — tinggi, berwajah teduh, dengan senyum yang menyimpan terlalu banyak kenangan. Hanya matanya yang kini sedikit berbeda: lebih matang, tapi juga lebih lelah. “Alya…” suaranya berat tapi lembut, seolah setiap huruf menahan sesuatu yang ingin diucapkan sejak lama. Alya terpaku. “Theo?” Ia tertawa kecil, mencoba memecah keheningan yang menggantung. “Aku kira kamu nggak akan ingat.” Alya menelan ludah. “Sulit melupakan seseorang yang pergi tanpa pamit.” Hening. Hanya suara jam dinding berdetak pelan. Theo menunduk sebentar, lalu berkata, “Kamu benar. Aku salah waktu itu. Tapi aku ke sini bukan cuma buat minta maaf.” Alya mengerutkan dahi. “Lalu buat apa?” Theo tersenyum tipis. “Aku sedang menyiapkan proyek kuliner perusahaan baru. Kami butuh mitra katering lokal… dan seseorang menyebut nama Dapur Cinta.” Alya diam, matanya menatap lekat wajah di depannya. Di satu sisi, hatinya bergetar karena masa lalu yang belum benar-benar padam. Di sisi lain, ia merasa dikhianati oleh waktu—bagaimana mungkin seseorang bisa pergi begitu saja lalu muncul dengan wajah setenang itu? Sebelum ia sempat menjawab, langkah cepat terdengar dari arah belakang. Ratna muncul, membawa buku pesanan. “Alya, aku—” ia terhenti ketika melihat Theo. Tatapannya tajam, naluri kewaspadaannya langsung menyala. “Ada yang bisa saya bantu?” suaranya dingin tapi sopan. Theo menoleh, mengulurkan tangan. “Saya Theo. Dari perusahaan Garuda Event. Kami sedang mencari partner katering untuk acara tahunan kami.” Ratna menatap tangannya sebentar, lalu menjabat perlahan. “Ratna. Pemilik Dapur Cinta.” Alya berdehem canggung. “Bu Ratna, ini… teman lama saya. Dia datang bukan cuma untuk bisnis, tapi juga…” Theo memotong cepat, “Tapi juga ingin memastikan kalau Dapur Cinta bisa bekerja sama dengan kami. Secara profesional, tentu saja.” Ratna tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita bisa bicara di ruang depan. Alya, tolong siapkan kopi.” Nada suaranya tenang, tapi Alya tahu: Ratna sedang membaca situasi. --- Di ruang depan, suasana menjadi lebih formal. Theo menjelaskan rencana kerja sama, menyebut jumlah tamu, menu yang dibutuhkan, hingga jadwal acara. Ratna mendengarkan dengan penuh perhatian, hanya sesekali melirik ke arah Alya yang duduk di sisi lain meja. “Konsepnya sederhana,” kata Theo. “Kami ingin semua hidangan terasa hangat, autentik, dan jujur—seperti Dapur Cinta ini.” Ratna menatapnya tajam. “Kata-kata yang bagus. Tapi kadang yang jujur itu juga bisa menyakitkan.” Theo sedikit terdiam, lalu menunduk sopan. “Saya paham maksudnya.” Alya menatap ke bawah, tangannya menggenggam cangkir erat. Ia bisa merasakan ketegangan di udara. Ada sesuatu dalam cara Ratna menatap Theo—bukan cemburu, melainkan kewaspadaan seorang istri yang tahu betapa rapuhnya keseimbangan di antara mereka bertiga. Setelah pembicaraan selesai, Theo berdiri. “Terima kasih untuk waktunya, Bu Ratna. Saya harap kita bisa bekerja sama.” Ratna mengangguk. “Kami akan pertimbangkan. Alya akan kabari hasilnya.” Theo menatap Alya sebentar, senyum lembut itu kembali muncul. “Aku tunggu kabarnya.” Saat pintu menutup, Ratna masih diam. Hanya suara napasnya yang berat, lalu ia berkata tanpa menoleh, “Kau yakin mau urus kerja sama ini?” Alya terkejut. “Maksud Ibu?” “Dari caranya bicara, aku tahu dia bukan cuma klien. Aku tidak mau urusan pribadi merusak reputasi dapur ini.” Alya menatap lantai. “Aku paham, Bu. Tapi aku janji, semuanya tetap profesional.” Ratna menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Aku harap begitu. Karena aku sudah cukup melihat bagaimana cinta masa lalu bisa menghancurkan masa kini.” Kata-kata itu seperti pisau dingin di d**a Alya. Ia tahu Ratna tak bermaksud menyakiti, tapi kalimat itu mengingatkannya betapa rumit hidup mereka sekarang. --- Sore menjelang, Andre datang membawa bahan segar dari pasar. Ia sempat heran melihat ekspresi Ratna yang muram dan Alya yang gelisah. “Ada apa?” tanyanya sambil meletakkan kantong belanja. Ratna menjawab singkat, “Klien baru datang. Teman lamanya Alya.” Andre menatap Alya. “Teman lama?” Alya mencoba tersenyum. “Namanya Theo. Dulu kami sempat dekat.” Andre hanya mengangguk pelan, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca. Ia tahu Alya cukup jujur untuk tidak menyembunyikan masa lalunya, namun tetap saja—nama “Theo” mulai menimbulkan rasa tak nyaman. --- Malamnya, setelah dapur tutup, Alya duduk sendirian di meja depan. Di tangannya, kartu nama Theo masih tergenggam. Di luar, angin malam meniup tirai pelan. Ia menatap kartu itu lama, seolah berharap jawabannya bisa muncul dari tinta yang tercetak di sana. Tiba-tiba, suara langkah mendekat. Andre. “Kau belum pulang?” tanyanya. Alya tersenyum lelah. “Belum. Masih mikir… soal kerja sama tadi.” Andre menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Tentang kerja sama, atau tentang Theo?” Alya terdiam. Matanya berkaca. “Mas, aku cuma… nggak nyangka dia muncul lagi. Setelah semua yang terjadi.” Andre menatapnya dalam-dalam, lalu berkata pelan, “Aku percaya kamu, Alya. Tapi aku juga minta satu hal — jangan biarkan rasa lama mengganggu yang baru.” Alya menunduk. “Aku janji, Mas.” Andre bangkit, menepuk bahunya. “Istirahat, ya. Besok banyak pesanan.” Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma sabun dan kayu basah yang khas dari tangannya. Alya memejamkan mata, lalu berbisik, “Tapi bagaimana kalau rasa itu belum benar-benar hilang, Mas?” --- Sementara itu, di luar restoran, sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Di dalamnya, Theo duduk diam, menatap jendela Dapur Cinta yang remang. Ia mengeluarkan foto lama dari dompetnya — dirinya dan Alya di masa muda, tersenyum di depan warung kecil tempat mereka dulu belajar memasak bersama. “Hidup memang lucu,” gumamnya. “Kau membangun impian yang sama… tapi akhirnya harus menatap dari jauh.” Ia menyalakan mesin, tapi sebelum pergi, matanya sempat melihat cahaya kecil dari dapur — bayangan Alya yang menunduk di meja, sendirian. Theo menghela napas panjang. “Aku tidak datang untuk mengacau… tapi mungkin takdir belum selesai dengan kita.” Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan bayangan panjang di jalan basah Karawang. Di dalam Dapur Cinta, aroma teh hangat masih menggantung di udara — tanda bahwa, sekali lagi, masa lalu telah mengetuk pintu. Dan kali ini, tak ada yang tahu apakah mereka siap membukanya atau tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD