HANGAT YANG MULAI RETAK

966 Words
Bab 9 – Hangat yang Mulai Retak Malam di Karawang itu terasa lembab, dengan sisa aroma hujan yang masih menggantung di udara. Di luar restoran, papan bertuliskan “Dapur Cinta” berkilau terkena lampu jalan, sementara di dalam, cahaya temaram lampu gantung menciptakan suasana tenang — hanya tersisa suara sendok dan piring yang sedang dibereskan oleh Ratna. Andre duduk di meja pojok, menatap laptop dan berkas pembelian bahan makanan. Matanya menatap layar, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Ia baru saja mengantar Alya pulang lebih awal — alasan yang ia berikan sederhana: “Dia kecapekan.” Tapi Ratna tahu, bukan hanya Alya yang kelelahan malam ini. Ratna berjalan pelan mendekat sambil membawa dua cangkir teh hangat. Uapnya naik lembut, mengisi udara dengan aroma melati. > “Mas, istirahat dulu. Nanti sakit kalau terus kerja,” katanya lembut. Andre menatap Ratna, tersenyum tipis. > “Cuma sebentar lagi, Rat. Aku mau pastikan semua stok untuk besok aman.” Ratna duduk di depannya, memperhatikan wajah suaminya. Ada garis lelah di sana, tapi juga cahaya lain — cahaya yang bukan karena ambisi, melainkan sesuatu yang ia tak ingin akui. Ia mengalihkan pandangan, menatap meja dapur yang kini kosong. “Dulu kamu bilang mau buka restoran supaya kita bisa kerja bareng setiap hari,” ucapnya dengan senyum samar. “Tapi akhir-akhir ini aku merasa kamu ada di sini… tapi hatimu entah di mana.” Andre terdiam. Cangkir di tangannya nyaris tumpah. > “Ratna, aku—” Ratna tersenyum kecil, menatapnya dalam. “Aku nggak mau curiga, Mas. Aku tahu kamu orang baik. Aku cuma takut, kalau kebahagiaan yang kita bangun pelan-pelan… sedang berubah tanpa aku sadari.” Suasana hening sejenak. Hanya suara hujan di luar yang mengisi sela-sela diam mereka. Andre meletakkan cangkirnya, lalu berdiri dan mendekati Ratna. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat. > “Ratna… kamu itu rumahku,” katanya lirih. “Nggak ada yang bisa gantiin kamu.” Ratna menatap mata suaminya. “Kalau begitu, kenapa akhir-akhir ini kamu lebih banyak diam? Pulang malam, sering melamun, dan aku tahu — kamu berusaha menyembunyikan sesuatu.” Andre menarik napas panjang. Ada getar dalam suaranya. > “Aku cuma takut, Rat. Takut kalau apa yang aku rasain salah. Tapi aku juga nggak mau bohong sama kamu.” Ratna menatapnya tajam, tapi penuh kasih. “Kamu jatuh cinta lagi, Mas?” Pertanyaan itu menghantam d**a Andre seperti palu. Ia tak bisa menjawab. Dan diam itu sudah cukup sebagai jawaban. Ratna menarik tangannya perlahan, lalu berdiri. Tapi sebelum ia melangkah pergi, Andre memeluknya dari belakang — pelukan yang hangat, tapi juga penuh rasa bersalah. > “Maaf… aku nggak mau kamu terluka,” bisiknya di telinga Ratna. Ratna menutup mata, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia bisa merasakan detak jantung Andre yang cepat, rasa gelisah yang nyata. Tapi di tengah semua itu, ia juga merasakan cinta — cinta yang masih sama, hanya kini bercampur luka. > “Aku tahu, Mas,” katanya pelan. “Tapi aku juga tahu, cinta yang benar nggak selalu mudah. Aku cuma minta satu hal — jangan biarkan dapur ini jadi tempat aku kehilangan kamu.” Andre memeluk Ratna lebih erat, seolah ingin menghapus rasa bersalah dengan kehangatan. Mereka terdiam lama. Hanya suara hujan di luar dan detak dua hati yang beradu di d**a. Waktu berjalan perlahan. Andre kemudian membalik tubuh Ratna, menatap wajahnya. Mata Ratna basah, tapi senyumnya lembut. Ia mengusap pipi suaminya dengan jari yang gemetar. > “Kamu masih suka teh manis sebelum tidur?” tanyanya lirih. “Masih,” jawab Andre, tersenyum kecil. “Apalagi kalau kamu yang buat.” Ratna tersenyum tipis. “Berarti belum semuanya berubah.” Mereka tertawa kecil, lalu Ratna berjalan mengambil selimut kecil yang biasa disimpan di sudut dapur. Ia duduk di sebelah Andre, menyelimuti mereka berdua. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka hanya duduk berdua — tanpa bicara banyak, hanya saling memeluk diam-diam di bawah cahaya kuning lampu dapur. Andre menatap istrinya lama, dan tanpa sadar jemarinya menyentuh pipi Ratna. > “Aku takut kehilangan kamu, Rat.” “Kalau kamu benar-benar takut, jagalah hatimu,” jawab Ratna lembut. “Aku berusaha.” “Berusaha saja belum cukup, Mas. Kamu harus memilih.” Andre terdiam. Tapi kali ini, ia menunduk bukan karena rasa bersalah, melainkan karena sadar — istrinya lebih kuat dari yang ia kira. Ratna kemudian bersandar di bahunya. “Aku tahu siapa dia,” katanya tiba-tiba. Andre menegang. > “Alya, kan?” “Kamu nggak perlu jawab. Aku lihat caramu menatapnya… seperti dulu kamu menatap aku waktu pertama kali jatuh cinta.” Air mata Ratna akhirnya jatuh. Ia tidak menjerit, tidak marah, hanya mengusap pipinya sendiri. > “Aku cuma manusia, Mas. Aku cemburu, tapi aku juga tahu kamu bukan laki-laki yang main-main. Mungkin Tuhan mau menguji kita lewat caranya yang aneh.” Andre memeluknya lebih erat. “Aku minta maaf… kalau aku bikin kamu merasa kalah dari masa laluku.” Ratna menatapnya, lalu tersenyum getir. > “Aku nggak kalah, Mas. Aku cuma sedang belajar menerima bahwa cinta juga bisa berbagi ruang — asal tidak kehilangan arah.” Malam semakin larut. Di luar, hujan mulai reda, menyisakan aroma tanah basah. Andre menatap wajah Ratna yang kini tertidur di bahunya — lelah tapi damai. Ia mencium kening istrinya, pelan, seolah berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki segalanya. > “Aku akan temukan cara agar kita semua bahagia,” bisiknya. Tapi jauh di dalam hati, ia tahu — jalan menuju kebahagiaan itu tidak lagi lurus. Ada hati yang harus dijaga, ada cinta yang harus diatur ulang, dan ada luka yang perlahan mulai tumbuh di balik kehangatan rumah bernama Dapur Cinta. --- Malam itu berakhir tanpa kata-kata besar, tapi dengan pelukan yang berkata lebih dari ribuan kalimat: cinta yang tulus kadang tidak bisa memilih, hanya bisa berusaha untuk tidak melukai. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD