Bab 8 – Rahasia di Balik Rasa
Pagi itu, Dapur Cinta kembali ramai. Bau tumisan bawang menyebar di udara, bercampur aroma kopi hitam dan roti yang baru keluar dari oven. Suara panci beradu, tawa pegawai, dan panggilan pesanan membuat suasana dapur seperti jantung yang berdenyut hidup.
Andre berdiri di depan pintu dapur, menatap semua kesibukan itu dengan senyum kecil. Restoran yang dulu hanya mimpi kini mulai dikenal. Pelanggan datang silih berganti. Setiap kursi terisi, setiap piring kembali kosong. Tapi di balik keberhasilan itu, hatinya justru makin berat.
Karena setiap kali melihat Alya di dapur — dengan celemeknya yang sederhana, rambut yang rapi di balik kerudung, dan wajah yang selalu fokus — hatinya bergetar dengan cara yang sama seperti dulu.
Ia mencoba sibuk, mengalihkan diri pada urusan stok bahan dan laporan penjualan. Namun tatapan matanya selalu kembali ke sana — pada sosok yang membuat hatinya bimbang antara syukur dan dosa.
---
Siang menjelang. Hujan tipis mulai turun di luar jendela.
Alya berdiri di meja adonan, sementara Rafi — anak lelaki Andre yang berusia lima belas tahun — membantu menata kue yang baru dipanggang.
> “Tante Alya, ini rotinya wangi banget,” kata Rafi ceria.
“Kamu suka?”
“Banget! Tante harus ngajarin Mama bikin kayak gini,” ucapnya polos.
Alya tersenyum, tapi senyum itu sedikit goyah. Ia tahu Ratna pandai memasak, tapi ucapan anak itu menampar lembut sisi hatinya. Ia tak mau dianggap menggantikan sosok yang begitu ia hormati.
> “Mama kamu jauh lebih hebat, Rafi. Tante cuma bantu di sini,” jawabnya pelan.
Namun Rafi menggeleng. “Nggak tahu kenapa, tapi setiap Tante masak, suasananya beda. Kayak... hangat.”
Alya menunduk, pura-pura sibuk merapikan loyang.
> “Makasih ya, Rafi. Kamu manis sekali.”
Di saat yang sama, Ratna berdiri di ambang pintu, memandangi pemandangan itu. Ia tidak masuk, hanya mengamati dari jauh.
Senyumnya lembut, tapi ada semburat sedih yang samar di sana.
Sejak Alya mulai bekerja di Dapur Cinta, suasana rumah mereka berubah. Andre lebih banyak menghabiskan waktu di restoran, kadang pulang larut malam dengan alasan “mengurus bahan” atau “mencatat laporan.” Ratna tidak pernah menuduh. Ia hanya diam, menyimpan semuanya dalam d**a yang makin sesak.
---
Sore menjelang, pelanggan mulai sepi. Hujan berhenti, meninggalkan sisa embun di kaca jendela. Ratna memutuskan membantu bersih-bersih di dapur. Ia mendapati Alya sedang menjemur serbet dan merapikan alat masak.
> “Capek, Alya?”
“Sedikit, Bu, tapi senang. Restoran rame sekali hari ini.”
Ratna tersenyum. “Itu semua berkat kamu juga. Masakan kamu disukai pelanggan.”
Alya menunduk, wajahnya memerah. “Saya cuma bantu, Bu. Semua ide dari Pak Andre.”
Ratna menatap wajah itu lama. Dalam tatapan itu ada kejujuran yang tulus, tapi juga sesuatu yang ia coba sembunyikan.
> “Kamu tahu, Alya,” katanya pelan, “aku bersyukur kamu datang. Tapi kadang aku juga takut.”
Alya mengangkat wajah, kaget. “Takut apa, Bu?”
Ratna menghela napas panjang. “Takut kehilangan hal-hal kecil yang dulu sederhana. Tawa suami, makan malam bareng, cerita anak-anak.”
Ia menatap Alya dalam-dalam. “Tapi aku percaya Tuhan nggak mungkin kasih cobaan kalau kita nggak sanggup menjalaninya.”
Alya menatap Ratna dengan mata berkaca. “Bu… saya nggak pernah punya niat buruk. Saya cuma… ingin bekerja, bantu anak-anak saya makan.”
Ratna mendekat, menggenggam tangan Alya lembut. “Aku tahu. Karena itu aku tetap di sini, Alya. Aku nggak mau ada kebencian di antara kita. Tapi aku juga nggak mau kehilangan cinta yang sudah kubangun puluhan tahun.”
Air mata Alya menetes tanpa bisa ia tahan. “Saya minta maaf, Bu. Kalau keberadaan saya bikin Ibu terluka.”
Ratna tersenyum pahit. “Yang salah bukan kamu. Kadang cinta datang bukan untuk dimiliki, tapi untuk menguji siapa yang paling mampu bertahan.”
Mereka berdua terdiam. Hanya suara hujan tipis di luar dan dengung kipas dapur yang terdengar. Dua perempuan itu — yang seharusnya saling jauh — kini berdiri begitu dekat, terikat oleh satu hal yang sama: cinta pada lelaki yang sama, dengan cara yang berbeda.
---
Malam tiba. Andre baru selesai menghitung pemasukan harian. Ia melihat ke dapur dan mendapati dua wanita itu sudah pulang. Di atas meja, ada secangkir teh dan sepucuk surat kecil dari Ratna.
> Mas, jangan pulang terlalu malam. Dina nungguin cerita sebelum tidur.
Dan jangan lupa istirahat. Aku tahu kamu kerja keras bukan buat restoran, tapi buat keluarga kita. Aku percaya, apapun yang kamu jaga di sana, pasti demi kebaikan.
— Ratna
Andre menatap tulisan itu lama. Jantungnya terasa berat, bukan karena bersalah saja, tapi karena disadari: cinta Ratna begitu besar, sampai ia takut tidak mampu membalasnya seimbang.
Ia menatap tungku di dapur — tempat di mana semua cerita bermula. “Kenapa semua harus serumit ini, Tuhan?” gumamnya pelan.
---
Keesokan harinya, Andre memutuskan mengantar Alya pulang setelah lembur menyiapkan stok bahan. Jalanan malam basah, dan lampu jalan memantulkan cahaya ke genangan air.
Mobil berjalan pelan di antara deretan ruko yang sudah tutup. Alya duduk diam di kursi penumpang, kedua tangannya memeluk tas.
> “Terima kasih, Mas. Saya nggak enak udah sering diantar pulang.”
> “Nggak apa-apa,” jawab Andre, pandangannya tetap ke jalan. “Udah malam, bahaya kalau kamu sendiri.”
Suasana hening. Hanya suara wiper menggesek kaca dan lagu lawas dari radio yang mengalun pelan.
> “Mas,” suara Alya akhirnya pecah, “kenapa hidup bisa sesulit ini ya? Kadang saya pengen bahagia, tapi malah takut.”
Andre meliriknya sekilas. “Bahagia memang butuh keberanian. Tapi kadang kita harus cukup berani buat nggak punya semuanya.”
Alya tersenyum lemah. “Mas masih sama seperti dulu. Selalu tahu harus ngomong apa.”
> “Mungkin karena kamu masih dengar aku kayak dulu juga.”
Alya menatapnya. Sekilas, mata mereka bertemu — dan dunia seolah berhenti di sana.
Tapi sebelum perasaan itu membesar, Andre menepikan mobil di depan rumah kontrakan sederhana milik Alya.
> “Udah sampai.”
“Makasih, Mas,” ucap Alya pelan, menatapnya satu detik lebih lama dari seharusnya.
“Alya…” Andre menahan napas. “Kalau nanti aku salah langkah… tolong ingetin aku, ya.”
Alya menunduk, suaranya nyaris bergetar.
> “Saya nggak akan ingetin, Mas. Karena saya tahu… Mas pasti akan sadar sendiri sebelum terlambat.”
Ia turun dari mobil, menunduk dalam-dalam, lalu melangkah cepat masuk rumah. Andre hanya menatap dari balik kaca — d**a sesak, campur lega dan kehilangan sekaligus.
---
Di rumah, Ratna duduk di ruang tamu sambil melipat pakaian anak-anak. Ketika Andre datang, ia menatap suaminya tanpa banyak bicara.
> “Capek?” tanyanya lembut.
“Lumayan.”
“Kamu ngantar Alya?”
Andre terdiam, lalu mengangguk. “Iya. Udah malam.”
Ratna tersenyum kecil, lalu menatap mata suaminya. “Aku percaya kamu, Mas. Tapi tolong jangan biarkan ‘rasa’ yang salah tumbuh jadi alasan yang benar.”
Andre tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya duduk di samping Ratna, meraih tangannya, dan menunduk.
> “Aku janji, Nda. Aku cuma butuh waktu buat ngerti perasaan sendiri.”
Ratna mengangguk pelan. “Kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan cinta, tapi kehilangan kendali atasnya.”
Malam itu, hujan turun lagi. Papan kayu Dapur Cinta bergetar ditiup angin.
Di dalam hati tiga orang yang saling terhubung oleh rasa — Andre, Ratna, dan Alya — cinta tumbuh dalam bentuk yang tak bisa mereka pilih, hanya bisa mereka hadapi.
“Cinta itu rahasia,” bisik Alya dari balik jendela rumahnya yang berembun.
“Dan sebagian rahasia… memang tak harus diungkap, hanya dijaga.”