Subuh baru saja berlalu ketika aroma kopi menyusup ke seluruh rumah. Ratna berdiri di dapur dengan daster lusuh dan rambut yang diikat asal-asalan. Uap dari panci sayur asem naik perlahan, berpadu dengan sinar matahari yang menembus tirai. Dapur itu selalu jadi tempat Ratna menenangkan diri — tempat di mana ia bisa berpura-pura semuanya masih baik-baik saja.
Sudah seminggu Andre jarang sarapan di rumah. Katanya sibuk, katanya banyak pesanan di proyek catering barunya. Tapi Ratna tahu, bukan soal pekerjaan yang membuat suaminya berubah. Ada sesuatu yang lain.
Ratna menatap dua cangkir kopi di atas meja. Satu masih mengepul, satu lagi sudah dingin sejak kemarin. Ia sengaja membiarkan cangkir itu di sana — semacam simbol kecil dari harapan yang tak mau padam.
Pintu dapur berderit. Andre muncul dengan kemeja yang belum disetrika sempurna. Rambutnya agak berantakan, wajahnya tampak lelah.
“Pagi,” katanya singkat.
Ratna berbalik, menatap suaminya sejenak. “Pagi. Mau sarapan dulu?”
“Nggak usah, aku buru-buru. Ada meeting sama klien.”
Ratna menatapnya diam-diam. “Klien lagi? Bukannya kemarin udah?”
Andre tersenyum tipis. “Yang kemarin beda. Ini penting, bisa jadi proyek besar.”
Kata-kata itu terdengar biasa, tapi bagi Ratna ada nada asing di dalamnya. Dulu, setiap kali Andre bicara soal kerja, matanya selalu berbinar — kini yang tersisa hanya tatapan kosong.
“Mas, kita bisa makan malam bareng nanti?” tanya Ratna dengan nada hati-hati.
Andre merogoh ponselnya, pura-pura memeriksa jadwal. “Kayaknya nggak bisa. Ada rapat tim.”
Ratna mengangguk. “Tim… Alya juga ikut?”
Andre menatapnya cepat. “Iya, memang kenapa?”
“Nggak, cuma nanya.”
Suasana mendadak hening. Hanya suara sendok mengaduk kopi yang terdengar. Andre merapikan kerah bajunya lalu beranjak ke pintu.
“Aku berangkat dulu.”
“Mas…” panggil Ratna pelan.
Andre menoleh.
“Kopi kamu dingin lagi.”
Andre menatap cangkir itu, lalu tersenyum samar. “Nanti aja, ya.” Ia keluar sebelum Ratna sempat berkata apa-apa lagi.
Ratna menatap punggung suaminya sampai menghilang di balik pagar. Dadanya sesak, bukan karena amarah, tapi karena ketakutan yang pelan-pelan tumbuh tanpa bentuk. Ia ingin percaya, tapi hatinya sudah belajar membaca tanda.
---
Siang hari, Ratna membereskan dapur. Ia menemukan sebuah nota kecil jatuh di bawah meja makan. Kertasnya kusut, tinta birunya sudah pudar, tapi masih bisa dibaca:
> “Alya – pesanan khusus untuk meeting besok, jangan lupa bawa roti lapis madu kesukaannya.”
Ratna menggenggam kertas itu lama. Roti lapis madu. Itu makanan favorit Andre. Tapi bukan Ratna yang membuatnya.
Ia menatap sekeliling dapur, lalu menarik napas panjang. “Baiklah, kalau itu rahasianya, aku mau tahu sendiri,” gumamnya pelan.
Malamnya, Ratna datang diam-diam ke lokasi dapur proyek catering yang dikelola Andre. Lampu masih menyala, suara panci dan tawa terdengar dari dalam. Ia menatap dari balik kaca. Di sana, Andre sedang berdiri di sebelah Alya — wanita dengan rambut hitam sebahu, paras lembut, dan senyum yang menenangkan. Mereka tampak akrab, terlalu akrab.
Ratna merasakan d**a bergetar aneh. Ia tahu Alya adalah janda, mantan pelanggan yang kemudian ikut membantu bisnis Andre setelah suaminya meninggal. Tapi cara Andre menatap Alya bukanlah tatapan rekan kerja.
Ia hampir melangkah masuk, tapi langkahnya tertahan. Tidak, belum. Ia tidak mau menuduh tanpa bukti. Ia mundur perlahan, meninggalkan tempat itu dalam dinginnya malam.
---
Keesokan paginya, Andre pulang lebih awal. Ia menemukan Ratna di dapur, sedang membuat roti lapis madu.
“Wah, bikin kesukaanku ya?” katanya sambil mencoba mencairkan suasana.
Ratna menatapnya dengan senyum samar. “Iya, biar kamu nggak usah minta ke orang lain.”
Andre tertegun. “Maksudmu?”
“Cuma ngomong. Gimana proyeknya?”
Andre menggaruk kepala, berusaha tenang. “Lancar. Klien suka konsepnya.”
“Kliennya siapa?”
“Banyak. Ada beberapa perusahaan kecil…”
Ratna memotong. “Alya juga bantu, ya?”
Andre menatapnya lama. “Ratna, kamu curiga, ya?”
Ratna meletakkan pisau pelan. “Aku cuma istri yang pengen tahu kenapa suaminya berubah. Dulu kamu nggak pernah bohong, Mas. Sekarang, bahkan cara kamu bilang ‘nggak apa-apa’ aja rasanya salah.”
Andre menghela napas. Ia berjalan mendekat, tapi Ratna mundur setapak. “Ratna, aku nggak ada apa-apa sama Alya. Aku cuma kerja bareng dia, itu aja.”
“Kerja bareng sampai malam? Sampai lupa istri di rumah?”
“Dia bantu aku dapat klien. Aku cuma berterima kasih.”
“Dengan tatapan seperti itu?” suara Ratna meninggi tanpa sadar.
Andre terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi wajah Ratna — dengan mata basah dan tangan gemetar — membuatnya tak bisa bicara.
Akhirnya ia berbisik, “Aku lelah, Rat. Setiap hari ditanya terus seolah aku salah.”
Ratna menatapnya tajam. “Kalau nggak salah, kenapa marah?”
Sunyi. Hanya jam dinding berdetak pelan. Andre memalingkan wajah. “Aku ke atas dulu.”
Ratna menatap punggungnya yang menjauh. Saat pintu kamar tertutup, air mata yang ia tahan sejak tadi jatuh tanpa suara.
---
Beberapa hari berlalu tanpa banyak kata di antara mereka. Ratna tetap memasak setiap pagi, menyiapkan kopi yang tak pernah diminum. Tapi pada hari keenam, sesuatu berubah.
Pagi itu, Andre pulang dengan wajah muram. Ia langsung duduk di kursi dapur. Ratna menatapnya, mencoba menahan diri.
“Kenapa, Mas?”
Andre menatap kosong ke depan. “Proyek catering batal. Klien mundur. Dan… Alya juga memutuskan keluar.”
Ratna menelan ludah. “Kenapa?”
Andre mengusap wajah. “Dia bilang… dia nggak mau jadi alasan rumah tangga orang lain retak.”
Kata-kata itu menampar Ratna seperti air es. Seketika semuanya jelas. Alya mundur bukan tanpa alasan. Ia sadar sesuatu yang bahkan Andre tak berani akui.
Ratna berbalik, berusaha menyembunyikan wajahnya. “Berarti, kamu dan dia…”
Andre cepat memotong, “Nggak, Rat! Aku nggak… kami nggak seperti itu. Tapi aku akui, aku terlalu dekat. Aku… kehilangan arah.”
Ratna membisu.
Andre melanjutkan dengan suara berat, “Aku cuma pengen bikin hidup kita lebih baik. Tapi entah kenapa, di tengah semua kesibukan itu aku malah ngerasa jauh dari kamu. Dan Alya… dia cuma muncul di waktu yang salah.”
Ratna memejamkan mata. Air matanya jatuh ke talenan, bercampur dengan potongan cabai merah. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Mas. Aku cuma butuh kamu jujur.”
Andre mendekat, memegang bahu Ratna. “Mulai hari ini, semua aku benerin. Aku janji.”
Ratna menatap suaminya lama, seolah mencari sisa kejujuran di matanya. Lalu dengan suara lirih, ia berkata, “Kalau dapur ini tempat kita dulu mulai segalanya, aku pengen dari sini juga kita belajar mulai lagi.”
Andre mengangguk pelan.
Mereka berdiri berdua dalam diam, di antara aroma bawang dan kopi yang mulai dingin. Tak ada kata cinta, tapi ada keheningan yang dalam — keheningan yang menandakan luka mulai mencari jalan pulang.
Dan di luar sana, matahari pagi menembus tirai dapur, menyinari dua hati yang perlahan belajar memaafkan, sekaligus menyimpan rahasia yang tak akan pernah benar-benar hilang: rahasia dapur mereka sendiri.