IZIN DARI HATI

490 Words
Pagi itu, aroma kopi memenuhi ruang tamu rumah Andre. Sinar matahari menembus tirai, menerangi wajah Ratna yang tampak tenang meski matanya sedikit sembab. Ia baru saja melewati malam panjang, menimbang sesuatu yang berat — keputusan yang mungkin akan mengubah seluruh hidup mereka. Andre duduk di seberang meja, tak berani menatap istrinya terlalu lama. Sejak kejadian beberapa malam lalu di dapur, jarak di antara mereka terasa lebih dekat, namun sekaligus menyesakkan. > “Mas…” suara Ratna pelan tapi tegas. “Aku mau bicara soal Alya.” Andre terdiam. Ia menatap secangkir kopi yang tak tersentuh. Ada ribuan kata di kepalanya, tapi semuanya seperti terhenti di tenggorokan. > “Aku tahu,” lanjut Ratna, “perasaanmu ke dia bukan sekadar kasihan. Aku bisa lihat dari caramu menatapnya.” Andre menunduk. Tak bisa menyangkal. > “Aku nggak pernah niat nyakitin kamu, Na,” ucapnya lirih. “Aku sendiri nggak ngerti kenapa perasaan itu muncul lagi.” Ratna menarik napas panjang. “Mungkin… karena hati nggak bisa kita kendalikan.” Suasana hening. Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan. Lalu Ratna melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. > “Aku udah mikir lama, Mas. Selama ini kamu selalu jadi suami dan ayah yang baik. Kamu nggak pernah kurang dalam kasih sayang. Tapi aku tahu, kadang Tuhan menguji cinta kita dengan cara yang tak kita pahami.” Andre mengangkat wajahnya. Ada air bening di sudut matanya. > “Kamu maksud apa, Na?” Ratna tersenyum kecil, meski bibirnya gemetar. > “Kalau memang kamu yakin… kalau Alya bisa bahagiain kamu, dan kamu bisa bahagiain dia tanpa ninggalin aku dan anak-anak… aku ikhlas, Mas. Aku rela kamu menikah lagi.” Andre terpaku. Jantungnya berdegup keras, antara syukur dan rasa bersalah yang menghantam d**a. > “Na… jangan ngomong gitu. Aku nggak sanggup—” “Sanggup, Mas,” potong Ratna lembut. “Aku lebih rela berbagi daripada kehilangan sepenuhnya. Aku cuma minta satu hal… jangan biarkan cinta kita jadi dingin.” Air mata Andre menetes. Ia menggenggam tangan Ratna, mengecupnya perlahan dengan bibir bergetar. > “Kamu perempuan paling kuat yang pernah aku kenal,” bisiknya. “Aku janji, aku nggak akan pernah berhenti mencintaimu.” Ratna tersenyum dengan mata basah. > “Aku tahu. Karena Dapur Cinta ini bukan cuma tempat kita cari rezeki, Mas. Tapi tempat kita belajar arti cinta yang sebenar-benarnya.” Di luar, suara langkah kecil terdengar. Anak-anak mereka, Fira dan Ardan, berdiri di pintu. > “Mama… Papa nangis ya?” tanya Ardan polos. Ratna cepat-cepat menyeka air matanya. “Nggak, Nak. Mama cuma lagi bersyukur.” Andre tersenyum, mengelus kepala anaknya. Ia tahu, pagi itu adalah awal dari bab baru dalam hidup mereka — bab yang tak mudah, tapi penuh keikhlasan. Sementara itu, di dapur “Dapur Cinta”, Alya menatap apron barunya. Ia belum tahu keputusan besar apa yang baru saja terjadi. Tapi entah kenapa, hatinya bergetar — seolah angin membawa kabar yang akan mengubah segalanya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD