Senja menetes pelan di balik jendela “Dapur Cinta”.
Cahaya jingga memantul di meja kayu, membuat ruangan itu terasa seperti hangat meski udara sore mulai lembab.
Andre menatap restoran yang hampir tutup. Ia duduk di kursi paling ujung, di depan meja yang baru saja ia poles sendiri.
Meja itu panjang, cukup untuk empat orang. Tapi selama ini, belum pernah benar-benar diisi dengan keempat hati yang kini saling terikat oleh nasib.
Ratna muncul dari dapur membawa nampan berisi nasi hangat, sop ayam, dan tumis kangkung favorit Andre.
Alya menyusul dari belakang, membawa teko teh jahe. Keduanya saling melirik singkat — bukan tatapan kebencian, tapi semacam pengakuan diam-diam bahwa mereka kini berbagi ruang yang sama dalam hidup seorang pria.
> “Mas, makan dulu,” ujar Ratna pelan.
“Alya bantu aja, Bu,” tambah Alya dengan suara lembut.
Andre menatap keduanya, lalu tersenyum tipis. “Kalian berdua… bikin dapur ini jadi lebih hidup dari yang pernah aku bayangkan.”
---
Satu Meja, Dua Hati
Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
Rafi dan Dina duduk di seberang, memandang suasana canggung itu dengan polos.
> “Ayah, nanti Alya Tante ikut lagi bantu masak, kan?” tanya Dina ceria.
“Iya, Nak. Tante Alya bagian resep baru,” jawab Andre.
Ratna tersenyum samar. Ia tak ingin suasana tegang. Ia bahkan sengaja menuangkan teh ke gelas Alya.
> “Silakan diminum, Alya.”
“Terima kasih, Bu Ratna.”
Hening kembali.
Sampai akhirnya Andre berkata lirih, “Aku pengin malam ini kita duduk bareng. Bukan sebagai suami dan istri, atau karyawan, tapi sebagai keluarga… yang sama-sama ingin menjaga dapur ini.”
Ratna menatap suaminya dalam-dalam. “Keluarga, ya?”
Andre mengangguk. “Keluarga bukan soal siapa duluan hadir, tapi siapa yang bertahan dengan hati yang bersih.”
---
Sentuhan yang Tertahan
Setelah makan, Ratna membereskan piring. Alya ikut membantu di dapur, sementara Andre menyapu lantai.
Semuanya berlangsung tanpa banyak kata, tapi setiap gerak memiliki makna.
Di dapur, tangan Alya tanpa sengaja menyentuh tangan Andre saat mereka sama-sama mengambil kain lap.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat d**a Andre sesak.
Alya buru-buru menarik tangannya, tapi Andre sempat menatap — tatapan yang tak semestinya, tapi jujur.
> “Maaf,” bisik Alya.
“Nggak apa-apa,” jawab Andre pelan.
“Mas… kadang aku lupa, kita bukan anak-anak lagi,” kata Alya menunduk.
“Iya,” Andre tersenyum getir. “Tapi rasanya… beberapa hal di hati nggak pernah tumbuh tua.”
Udara di dapur terasa padat. Bukan karena panas kompor, tapi karena sesuatu yang tidak terucap.
Lalu Ratna masuk, membawa kain lap tambahan. Ia sempat menatap keduanya, lalu pura-pura sibuk menyapu meja.
Namun dalam diamnya, Ratna belajar menerima — bahwa cinta yang benar tidak selalu berarti memiliki seutuhnya.
---
Hujan dan Kejujuran
Malam itu, hujan turun deras. Lampu dapur berpendar lembut.
Ratna duduk di teras restoran, menatap air yang menetes dari atap. Andre datang membawa dua cangkir teh jahe.
> “Masih hujan, ya,” kata Ratna.
“Iya. Tapi aku suka, soalnya bunyinya mirip waktu pertama kali aku nembak kamu di warung depan rumahmu dulu.”
Ratna tertawa kecil. “Kamu waktu itu gugup banget, sampai salah sebut namaku jadi ‘Rani’.”
Andre ikut tertawa. “Aku takut kamu nolak.”
Ratna memandang wajah suaminya yang mulai berkerut di ujung mata. “Sekarang pun, aku masih bisa nolak loh kalau kamu nakal lagi.”
Andre menggenggam tangan Ratna. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Ratna. Apa pun yang terjadi, kamu yang pertama dan terakhir di rumah ini.”
Tatapan mereka bertemu lama.
Ratna memegang pipi Andre — lembut, tapi tegas. “Aku tahu, Mas. Aku juga nggak mau kehilangan kamu, tapi aku juga nggak mau kehilangan diriku sendiri. Jadi, tolong… jaga hatimu baik-baik.”
Andre mengangguk. “Aku janji.”
---
Pelukan yang Tak Mengandung Dusta
Setelah hujan reda, Ratna hendak menutup jendela dapur.
Tiba-tiba Alya datang membawa payung yang tertinggal.
> “Ini payungnya, Mas Andre,” katanya, suaranya bergetar karena dingin.
Ratna menatapnya, lalu tanpa banyak kata, mengambilkan handuk kecil.
> “Keringkan dulu, nanti masuk angin,” ucap Ratna tulus.
Alya menerima, matanya mulai basah. “Bu Ratna… terima kasih. Saya tahu kehadiran saya mungkin nggak mudah diterima. Tapi saya janji, saya nggak akan ambil apa pun yang bukan milik saya.”
Ratna menatapnya lama. Lalu dengan suara lembut ia berkata,
> “Alya, kalau kamu benar-benar niat bantu Dapur Cinta, bantu juga jaga hati Mas Andre. Biar cinta ini tetap bersih, bukan bara yang membakar.”
Alya mengangguk sambil meneteskan air mata.
Andre hanya bisa menunduk, merasa kecil di hadapan dua perempuan yang sama-sama kuat dengan caranya masing-masing.
---
Meja untuk Empat Orang
Keesokan harinya, Andre menyiapkan meja besar di tengah restoran.
Empat piring disusun rapi — untuk Ratna, Alya, dan kedua anaknya.
> “Hari ini, aku pengin kita makan bareng,” katanya sambil tersenyum.
“Dapur Cinta bukan cuma usahaku. Ini rumah buat semua yang tulus.”
Rafi dan Dina memanggil Tante Alya dengan riang, sementara Ratna menata lauk tanpa banyak bicara.
Di antara aroma nasi hangat, ada sesuatu yang lebih menenangkan — rasa saling menghargai.
Andre menatap mereka satu per satu, lalu dalam hati berdoa:
> “Ya Tuhan, biarkan cinta ini tetap hangat seperti api dapur ini. Tak terlalu besar untuk membakar, tapi cukup untuk menjaga kehidupan.”
Mereka makan bersama di meja itu — empat orang, empat hati, satu dapur.
Mungkin cinta mereka tak sempurna, tapi di sanalah letak keindahannya:
Cinta yang matang bukan soal memiliki, tapi memahami.
Dan dari “Dapur Cinta”, aroma kehidupan baru mulai menebar — lembut, hangat, dan penuh harapan.
---