RESEP RAHASIA YANG TERBONGKAR

968 Words
Pagi itu, aroma tumisan bawang putih dan minyak wijen memenuhi dapur “Dapur Cinta”. Suasana ramai, tapi tidak seramai biasanya. Para karyawan tampak lebih hati-hati berbicara, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Di sudut dapur, Alya sedang memotong cabai dengan hati-hati. Ia mengenakan celemek berwarna krem, rambutnya disanggul sederhana. Dari luar, Ratna melihat pemandangan itu sambil membawa keranjang sayur. Hatinya berdesir aneh—antara rasa kagum, curiga, dan luka kecil yang ia sendiri tak bisa jelaskan. > “Bu Ratna, mau saya bantu?” tanya salah satu pelayan. “Nggak usah, Mbak. Saya bisa sendiri,” jawab Ratna sambil tersenyum. Namun senyuman itu kaku. Ia memperhatikan dari kejauhan ketika Andre mendekat ke meja Alya. Pria itu menunduk sedikit, memperhatikan bumbu yang sedang diracik. > “Coba kamu tambahkan sedikit jahe parut, Alya. Masakanmu sudah enak, tapi butuh sentuhan hangat,” kata Andre dengan nada lembut. Alya tersenyum. “Kayak Mas Andre ya, selalu hangat tapi tiba-tiba bikin kaget.” Beberapa karyawan saling pandang, ada yang berdehem, ada yang pura-pura sibuk mencuci piring. Andre hanya terkekeh, tapi ketika matanya tanpa sengaja bertemu pandang dengan Ratna di ambang pintu, tawanya langsung hilang. Ratna menatapnya diam, lalu menunduk dan berlalu begitu saja. Sejak hari itu, dapur yang biasanya penuh canda terasa tegang. --- Rahasia di Balik Resep Baru Dua hari kemudian, restoran mengeluarkan menu baru — Sop Hati Hangat. Menu itu langsung populer. Pelanggan ramai, review di media sosial memuji rasanya yang “menenangkan dan lembut seperti cinta pertama.” Ratna membaca komentar itu di ponselnya sambil menahan napas. Ia tahu betul, nama itu bukan kebetulan. Hati hangat. Nama itu sama seperti puisi yang pernah Andre tulis untuk Alya saat mereka masih remaja — puisi yang pernah Ratna baca diam-diam, dulu, sebelum ia menikah dengan Andre. > “Mas masih inget semua, ya…” bisiknya lirih. Malam itu, Ratna memutuskan untuk tidak tidur. Ia menunggu Andre yang masih di restoran lembur. Jam menunjukkan pukul 11 lewat, tapi pria itu belum juga pulang. Ketika akhirnya terdengar suara motor di depan rumah, Ratna pura-pura tertidur di sofa. Andre membuka pintu perlahan, mencium kening Ratna seperti biasa. Tapi kali ini, Ratna menggenggam tangan suaminya. > “Mas,” ucapnya lirih. “Hmm?” “Mas masih sayang aku?” Andre terkejut, menatap wajah istrinya yang setengah redup diterpa cahaya lampu ruang tamu. > “Ratna, kenapa kamu tanya gitu?” “Aku cuma takut... dapur kita bukan tempat kita lagi, tapi tempat kamu menemukan kembali seseorang yang dulu pernah kamu cintai.” Andre terdiam cukup lama. Udara malam yang biasanya terasa tenang kini seperti menekan d**a mereka. > “Aku nggak pernah cari cinta baru, Ratna. Aku cuma... kangen rasa muda yang dulu hilang. Tapi bukan berarti aku pengin ninggalin kamu.” Ratna menatapnya, air mata mulai menggenang. > “Tapi Mas sadar nggak, setiap kali kamu tertawa di dapur itu sama Alya, aku merasa kehilangan bagian kecil dari dirimu.” Andre tak bisa menjawab. Ia hanya memeluk Ratna, kencang. > “Maafkan aku,” bisiknya di telinga istrinya. “Aku cuma manusia yang rindu masa lalu, tapi aku sadar, rumahku tetap di sini—di kamu, Ratna.” Ratna terisak. “Aku tahu, Mas. Tapi jangan buat dapur kita jadi tempat aku merasa seperti tamu, ya.” --- Surat di Bawah Meja Dapur Beberapa hari kemudian, restoran sedang ramai. Alya sibuk di dapur, sementara Ratna membantu melayani tamu. Saat membersihkan meja, Ratna menemukan selembar kertas kecil di bawah loyang roti. Tulisan tangan itu sangat familiar — tulisan Andre. > “Alya, resepmu sempurna. Tapi yang lebih penting dari rasa adalah kejujuran hati. Mungkin Tuhan mempertemukan kita lagi bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk mengerti bahwa cinta yang dulu pernah ada masih bisa menumbuhkan kebaikan.” Ratna membaca tulisan itu sambil menahan air mata. Ia menatap Alya dari jauh — wanita itu tampak tulus, tanpa kesan menggoda, tanpa niat buruk. Mungkin benar, pikir Ratna, ini bukan kisah perselingkuhan, tapi tentang dua hati yang masih belajar memahami arti kedewasaan. Namun tetap saja, luka itu nyata. Dan di malam itu, Ratna menulis sesuatu di buku resep lama mereka — buku pertama yang ia dan Andre buat bersama. > “Setiap rasa punya bumbu rahasia. Tapi yang membuatnya lezat bukan cinta yang lama, melainkan kesetiaan yang tetap bertahan meski sudah lama dimasak.” --- Kilas Balik: Cinta yang Belum Usai Beberapa minggu kemudian, Alya akhirnya bicara. > “Bu Ratna… saya minta maaf kalau kehadiran saya bikin Ibu nggak nyaman.” Ratna terdiam. “Kamu nggak salah, Alya. Cuma… saya butuh waktu buat nerima semua ini.” Alya tersenyum, matanya berkaca. “Saya juga nggak mau merusak apa pun. Saya cuma ingin kerja, bantu Mas Andre mewujudkan mimpinya.” Ratna menatapnya lama. “Kamu tahu nggak, mimpi itu dulu dibangun dari air mata dan rasa lapar. Jadi jaga baik-baik dapur itu, ya. Tapi jangan lupa, dapur itu bukan cuma milik dia — tapi juga milik kami sekeluarga.” Alya mengangguk pelan. > “Saya janji, Bu. Saya cuma pengin jadi bagian dari karya, bukan kisah cinta yang salah.” Dan sejak hari itu, suasana di “Dapur Cinta” mulai berubah lagi. Lebih tenang, lebih profesional, tapi juga lebih jujur. --- Malam Penutup Suatu malam, setelah pelanggan terakhir pergi, Andre menatap dapur kosong itu. Di meja kerja, ada dua catatan — milik Ratna dan milik Alya. Satu ditulis dengan tinta biru, satu dengan pensil halus. Ia membaca keduanya bergantian dan tersenyum getir. > “Dapur ini... bukan cuma tempat kita masak,” gumamnya pelan. “Tapi tempat kita belajar memaafkan, mencintai, dan melepaskan.” Ia menutup lampu dapur, tapi aroma cinta, kenangan, dan harapan masih tertinggal di udara. Dan entah mengapa, malam itu Andre merasa tenang — mungkin karena ia sadar, cinta yang sejati bukan yang membuat kita berdebar, tapi yang membuat kita ingin pulang. -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD