Sometimes all you can do is smile and move on with your day, hold back your tears dan pretend that you're okay.
- coolquotes.com -
Tangan Mia baru saja akan mengayun lagi, tapi Nathan sudah siap, ia menangkap pergelangan tangan Mia dan mencium bibir Mia lagi singkat. Mata Mia membulat penuh angkara menatap Nathan.
"Hih...kamuuu!"
"Kalau kamu cemberut kayak gitu terus, aku akan terus cap bibir kamu!" Tukas Nathan dan hampir melakukannya lagi.
Tapi Mia berhasil menahannya dengan tangan satunya. "Setop!" Serunya, "aku baru putus Nath..."
"So??" Tanya Nathan sambil menaikkan alisnya.
"Kenapa kamu pengin aku jadi pacar kami sekarang?"
"Karena aku sayang sama kamu..."
Mia menatap mata Nathan, mungkin Nathan berkata jujur, tapi entah Mia sedikit bimbang untuk kembali mengharapkan cinta Nathan. Mia takut ini hanyalah semu sesaat. "Aku kan suka nyebelin---"
"Emang!"
"Kenapa enggak cari cewek lain aja sih?"
Kening Nathan berkerut, "Aku enggak mau cewek lain, aku maunya kamu!"
Mia berdecak sambil membuang mukanya, ia sengaja berpaling dari Nathan untuk menyembunyikan semburat merah pada kedua pipinya yang menghangat. Tidak ia pungkiri hatinya berbunga mendengar Nathan mengatakan kalimat tadi.
"Kenapa baru sekarang mau sama aku?"
"Kamu kayak FBI, banyak tanya..." balas Nathan. "Padahal kamu udah tahu jawabannya"
Mia menghela napasnya, "Aku cuma mau denger lagi dari mulut kamu" katanya.
Wajah Nathan mendekat, hingga jaraknya hanya sekitar 5 cm saja dari ujung hidung Mia. Mia menelan ludahnya, "Karena aku baru sadar kalau kamu udah lama nempatin hati aku" tukas Nathan sambil meraih tangan Mia dan meletakkan di dadanya.
Jantung Mia berpacu lebih cepat, ia sering menyentuh Nathan sebelumnya, tapi Nathan selalu mengabaikan sentuhannya. Dan ini adalah pertama kali Nathan menyentuhnya sambil menatap matanya. "Nath---"
"Hmm?" jawab Nathan berdeham tanpa mengalihkan matanya dari Mia.
"Aku udah bohong sama kamu..." Mia mengatur napasnya untuk kembali normal, "soal ciuman Ben---"
"Aku tahu" potong Nathan sambil terus mendekatkan wajahnya ke Mia. "Karena itu aku mau kasih tahu kamu sekarang..." Bibir Nathan membuat Mia tidak bisa merespon komentar Nathan, kali ini bibirnya terasa lembut dan hangat, makin lama makin keras dan dalam. Tangan Nathan beralih ke tengkuk kepala Mia untuk terus memperdalam ciumannya.
Perut Mia mengelitik dan bergejolak aneh, rasa hangat menjalar sampai ke dadanya. Mia mendorong d**a Nathan dengan pelan karena mulai kehabisan napas. Bibirnya bengkak akibat ciuman Nathan. Ibu jari Nathan menghapus bekas salivanya di sana.
"Aku sayang sama kamu Mi" ujar Nathan.
"Kenapa?" desis Mia.
"Karena kamu pacar aku sekarang"
Mia tersenyum sambil mengulum bibirnya. "Kepedean, aku kan belum jawab mau jadi pacar kamu apa enggak..."
"Apa aku bertanya? Aku enggak tanya kan? Jadi aku enggak butuh jawaban juga" tukas Nathan.
"Ck! Mana ada begitu" balas Mia.
Tiba-tiba kaca jendela mobil Nathan digedor dengan keras. Wajah pas-pasan Zack muncul di luar kacanya. "WOY! BUKA!"
Kampret ni orang, ganggu aja, Nathan mendumal dalam hati.
Nathan membuka jendela dan menyorot tajam ke arah Zack, "Apaan sih?"
"Wah, bener tebakan gue. Lo berdua bisa digerebek security kalau berbuat m***m di mobil!"
"Siapa yang m***m?"
"Lah tadi ciuman?! Apa bukan m***m?"
"s****n! GUE SUMPAHIN BINTITAN MATA LO!" sembur Nathan sambil membuka pintu mobilnya, namun Zack sudah lari terbirit-b***t.
Mia ikut turun dari mbil sambil menahan senyumnya. Ia berjalan menghampiri Nathan, "Aku akan pikirin dulu sebelum memutuskan mau pacaran sama kamu atau enggak" ucap Mia.
Raut wajah Nathan berubah aneh, "Apa? Kamu benar-benar mau mikirin dulu?" tanya Nathan tidak percaya.
Mia mengangguk. "Iya, Nath. Kasih aku waktu ya. Anggap aja aku shock sama perubahan sikap kamu sekarang..."
"Bukannya aku berubah sesuai yang kamu penginin ya?" tanya Nathan.
Kepala Mia mengangguk lagi, "Iya, aku pengin sikap kamu kayak gini sebelum aku bertemu sama Ben..." Mia menghela napasnya, "tapi sekarang sedikit berbeda, Nath. Aku takut perubahan kamu bukan karena kamu cinta sama aku, tapi karena kamu terbiasa dengan aku di samping kamu..."
"Tapi Mi---"
"Aku tahu Nath, kamu udah bilang semua alasannya ke aku tadi, tapi aku perlu waktu untuk meyakinkan diri aku juga...aku suka perubahan sikap kamu"
"Mia, aku---"
"Nathan, untuk kamu tahu---ciuman kamu adalah yang terbaik yang pernah aku rasain tadi..." ujar Mia menyentuh pipi Nathan.
Nathan bungkam seraya menelan ludahnya, tatapannya tidak lepas dari mata biru Mia. Ia seperti terhipnotis untuk mengangguk. "Ok, take your time" katanya.
"Thanks Nath" sahut Mia dan melepaskan tangannya dari pipi Nathan, kemudian memutar tubuhnya dan berjalan menuju kelasnya.
Nathan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa jadi dia yang berada di bawah kendali Mia?? Dia menggeram dalam hatinya.
.
.
Bell pulang sudah berbunyi, Mia merapikan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Ia berjalan menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti kala ia melihat Ben. Mia menarik napasnya dalam-dalam. Ben menghalangi jalannya.
"Aku perlu menjelaskan sama kamu, Mia"
Mia menatap Ben tajam, "Minggir!" semburnya, galak.
Ben menggeleng, "Mia, oke aku jujur sama kamu sekarang! Waktu itu aku emang bukan jalan sama sepupu aku Riana. Tapi sama teman perempuan aku! Tapi aku bukan selingkuh Mi! Aku cuma jalan sebagai teman aja! Kamu harus percaya sama aku..."
"Kenapa harus bohong?"
"Ya, karena aku takut kamu marah---kayak sekarang ini" Ben memasang wajah memelas di depan Mia.
Mia menghela napasnya dan melambaikan tangan pada teman-temannya yang mendahuluinya keluar kelas. Mia duduk dan diikuti Ben yang menarik kursi untuk kemudian duduk di depan Mia.
"Aku tahu aku salah, hukum aku Beib, tapi jangan putusin aku" ujarnya.
Mia melotot menatap Ben, "Eh iya maaf, bukan Beib---tapi Mia" ralatnya.
"Aku kangen sama kamu, pengin peluk kamu" ujarnya manja dan menarik kursinya lebih dekat ke Mia.
"Jangan macem-macem! Mundur!" sembur Mia melihat gelagat aneh dari Ben. Ben memundurkan kursinya lagi perlahan.
"EHHEEEM!" terdengar suara berdeham yang keras dari pintu kelas Mia.
Keduanya menoleh ke arah suara dan menegang. Ini kok kayak aku yang selingkuh dari Nathan sepertinya, setiap ada dia dan lagi berduaan sama Ben, kenapa jadi aku yang berdebar-debar? Batin Mia.
Sialan si Sumo satu ini! Ben mendumal kesal.
Nathan berjalan mendekati keduanya. "Apa ini ada lima meter?" Nathan menatap jarak di antara keduanya dan menatap Mia dan Ben bergantian.
Ben memilih berdiri dan berjalan keluar meninggalkan kelas Mia sambil matanya menatap Nathan penuh dengan kedengkian.
Mata Nathan kembali ke Mia. Ekspresi wajahnya terlihat sedih dan kecewa. Nathan membersihkan kursi tempat duduk Ben tadi sebelum mendudukinya. "Kamu baik-baik aja Mi?"
Mia menggeleng dan menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya di atas meja. Nathan menghela napasnya, "Ngapain sih putus dari cowok model Ben aja pake nangis segala?"
Mia mengangkat kepalanya dan menatap Nathan dalam-dalam.
"Lagian kan udah ada cowok baru nih, lebih ganteng lagi" selorohnya.
Mia tersenyum sambil menghapus sisa air matanya, "Aku sedih, kok aku bisa dibohongin?"
Nathan berdecak, "Ck, kalau itu sih emang kamunya aja yang buta..."
"Iiiihh...." tangan Mia sudah di udara, siap untuk mendarat di bahu Nathan, tapi lagi-lagi tangan Nathan menangkap lebih dulu pergelangan tangannya dan menarik Mia lebih dekat padanya.
"Tanggung jawab! Aku ketagihan bibir kamu" ujar Nathan tepat di depan bibir Mia.
"OOOOYYY...di mari rupanya!" seru Zack dan diikuti Rino di belakangnya.
"Ya ampun, tawon dateng lagi" gumam Nathan tanpa menoleh ke arah pintu. Ia masih menatap Mia, "take your time-nya aku cabut, aku pengin cepat dapet keputusan kamu, atau enggak sama sekali" ujar Nathan.
"Jangan mulai, Nath"
"NATH! Ayo, katanya mau ke Panti Jompo NINI, gue antar!" seru Rino.
Ah iya, Nathan baru ingat ia harus mulai menjalani hukumannya mulai hari ini. Membantu apa saja di Panti Jompo Nini milik keluarga Rino. "Kamu mau ikut? Kamu punya 50 jam hukuman sosial kan?"
Mia mengangguk senang.