Don't ask me to do something for you that you wouldn't do it for me
- pinterest.com -
Mia menghela napasnya panjang. Nathan membencinya sekarang, karena ia berdiri di sebelah Ben, bukan di sebelahnya. Karena ia lebih percaya Ben, bukan padanya. Hubungan Mia dan Ben sekarang dalam bisa dibilang backstreet. Karena Sasy tidak mengizinkan Mia pacaran dengan siapapun kecuali Nathan. Ck, harusnya Mama aja yang pacaran sama Nathan kalau segitu terobsesinya punya menantu Nathan! Pikir Mia.
Mia memeriksa ponselnya yang berbunyi notifikasi, ia mencari sebuah nama, R I A N A, sepupunya Ben. Ia mengenalnya dari awal ia memulai hubungannya dengan Ben. Karena Ben membawanya double date bersama Riana dan pacarnya. Mia menuliskan pesan untuk Riana.
Hallo Ri, apa kabar?
Jawaban Riana masuk beberapa saat kemudian, Hai Mia, kabar baik, kamu gimana?
Aku baik juga, ehm aku boleh tanya sesuatu Ri?
Apa tu?
Mia menghela napasnya pendek dan menuliskan lagi maksudnya menghubungi Riana.
Ri, dua hari yang lalu, apa kamu ketemuan sama Ben?
Jantung Mia berdebaran menunggu jawaban Riana, dan ponselnya berbunyi notifikasi masuk.
Ehm, dua hari yang lalu? Kayaknya enggak deh. Kenapa?
Degh! Mia menelan ludahnya, jantungnya berdentum keras. Ia menuliskan balasan lagi untuk Riana.
Oh gitu. Enggak apa-apa Ri, aku kayak ngeliat kamu sama Ben di mall.
Hah? Nah lho...enggak tuh, bukan sama aku. Udah tanya Ben?
Mia menarik napasnya dalam-dalam. Menurut kamu, apa Ben punya cewek lain selain aku Ri?
Waduh, aku enggak tahu ya Mia, yang dikenalin ke aku sih cuma kamu aja.
Bibir Mia miring-miring dan ia gigit-gigit, kalau bukan bersama Riana dua hari lalu, apa benar yang dibilang Nathan dan teman-temannya, kalau Ben selingkuh?
Ya udah Ri, makasih ya...
Iya Mia, sama-sama.
Dada Mia terasa panas sekarang, bisa-bisanya Ben berbohong padanya, pakai sumpah segala! Mia memasukan kuenya yang paling besar ke dalam mulutnya sekaligus dan mengunyahnya dengan kasar dan sekali telan. Di akhiri dengan menenggak teh hangatnya dengan cepat sampai habis tidak tersisa. Ia bangkit dan berjalan menuju kelas 12.
.
.
"Bukan ini ceweknya waktu itu ya Bre?" sahut Zack ketika ditarik Mia untuk diinterogasi dan Mia menunjukkan foto perempuan yang bernama Riana, sebagai sepupu Ben.
Rino ikut menggeleng, "Iya bukan, ceweknya lebih cantik dari ini sih...tapi enggak lebih cantik dari lo, Mia" ujar Rino nyeleneh.
Wajah Mia mengeras, ia terlihat menahan marahnya sekarang.
"Jadi bener si Ben selingkuh dari gue?" gumamnya.
"Lah kan kita udah bilang begitu! Lo-nya aja yang enggak percaya. Nathan sampai setres tuh karena lo belain Bentol melulu" sambar Zack.
"Dia pasti marah banget ya sama gue?"
"Wah---bukan marah lagi. Dia lebih pendiam sekarang! Lo tahu kan kalau Nathan diem itu malah nakutin" ujar Rino.
"Kalau kita nyebut nama lo nih, apapun yang ada di dekatnya melayang ke arah kita dan selalu tepat sasaran" tambah Zack.
Ekspresi Mia berubah jadi ngeri. "Hah? Segitunya?"
Keduanya mengangguk berbarengan.
"Gue akan minta maaf sama Nathan nanti, sekarang harus ada yang gue lakuin..." ujarnya seraya pergi meninggalkan Zack dan Rino yang memasang wajah bingung.
"Heh, lo mau ngapain Mia?"
"BIKIN PERHITUNGAN SAMA PEMBOHONG ITU!!" ujarnya.
"Waduh...!" Zack dan Rino saling berpandangan dan berlari kembali ke kelas mereka untuk memberitahu Nathan.
Namun bell masuk sudah berbunyi saat mereka menemukan Nathan di dalam kelas.
"Nath, kayaknya kebohongan Ben udah kebongkar deh, Mia udah tahu dan sekarang katanya mau bikin perhitungan sama si Bentol itu---" belum selesai Rino bercerita, Nathan sudah berlari keluar kelas dengan gaya the flash-nya.
Guru yang baru saja mau masuk sampai terkejut mendapati Nathan berlari cepat keluar kelas seperti dikejar setan. "Hey Nath! Mau kemana kamu?!" Alih-alih menjawabnya Nathan tetap melesat dengan cepat menuju kelas 10.
.
.
"Kamu dipengaruhi mantan sumo kamu itu lagi ya?" tuding Ben seenak jidatnya.
Mia menggeleng, "Aku enggak nyangka udah belain orang yang salah selama ini! Aku tahu cewek yang sama kamu waktu itu bukan Riana, Ben! Kamu bohong di poin itu, CATET!!" sembur Mia menakutkan. Ben sampai melangkah mundur sedikit menjauh dari Mia.
"Siapa yang bilang itu bukan Riana? Kamu bisa tanya dia Mia! Aku teleponin dia sekarang..." tantang Ben sambil merogoh kantongnya berniat mengambil ponselnya.
"Telepon aja!" balas Mia balik menantang Ben. Ben menatapnya shock, tidak menduga Mia akan membiarkannya menelepon Riana.
Ben mendekatkan ponselnya pada telinganya, ia menunggu beberapa saat sambil matanya berputar terlihat gugup. "Enggak diangkat, pasti dia juga udah masuk kelas" Ben memasukkan lagi ponselnya ke dalam kantongnya. "Kita juga harusnya udah masuk kelas Beib---kita ngobrol lagi nanti ya"
"JANGAN BEIB AKU!!" Sembur Mia membuat Ben ciut. "Kita selesaikan sekarang juga, bukan, maksudnya aku selesaikan sekarang aja! KITA PUTUS!"
Mata Ben membesar menatap Mia, "Bei---eh Mia, kamu jangan memutuskan sesuatu sambil emosi dong, kalau nanti Riana bisa dihubungi aku akan kasih ke kamu, biar kamu ngomong sendiri sama dia ya..."
"Aku udah chat sama dia tadi, dan dia bilang dia enggak sama kamu waktu itu," ujar Mia dan mengamati reaksi Ben setelahnya.
Muka Ben berubah pucat pasi, ia mendekati Mia dan meraih tangannya, "Mia, aku bisa jelasin. Enggak seperti yang kamu pikirin! Sumpah..."
Nathan menghela napasnya, ia menunggu giliran untuk bisa masuk memporak-porandakan wajah Ben lagi dan sekarang waktunya. Ia berjalan tanpa suara ke arah Mia dan Ben berada dan menepiskan tangan Ben, menggantinya dengan tangannya. "Jangan pernah sentuh Mia lagi! Atau lo mau tinggal nama?" desis Nathan kejam.
Mata Ben membeliak, ia spontan mundur karena takut dengan serangan Nathan lagi. Hidungnya saja kadang masih terasa nyut-nyut-an, jangan sampai anggota tubuhnya yang lain mengalami luka yang sama. "Jangan mentang-mentang lo anak pemilik sekolah ya, belagu...!"
"Kalau iya kenapa? Gue bisa minta lo dikeluarin dari sekolah ini hanya karena gue enggak suka lihat muka lo! Dan juga karena lo mengganggu ketenangan sekolah, ketenangan gue terutama!" tukas Nathan tidak bermaksud sombong.
"Mia---bilang sesuatu please! Jangan diem aja dong mantan kamu semena-mena gini" tukas Ben minta dukungan.
Mia dengan dinginnya hanya mengedikkan bahu dan memalingkan wajahnya dari Ben. Nathan berpaling ke Mia, "Kamu masuk kelas---sekarang" perintah Nathan tegas. Mia hendak protes sebelumnya tapi dia melepaskan tangannya dari Nathan dan memutar tubuhnya menuju ke kelasnya.
Nathan berpaling lagi menatap Ben, "Gue serius ya Ben! Jangan deketin Mia lagi! LO DAN DIA UDAH PUTUS! Lo dengar kan tadi dia bilang apa?"
Rahang Ben mengeras, ia ingin mengumpat Nathan, tapi di kepalanya terngiang kalimatnya Mamanya 'jangan cari gara-gara lagi sama Nathan, kamu dengar itu ya! Mama enggak mau terlibat masalah sama keluarganya, apalagi Ibunya itu teman lama Mama!'
"Gue sama Mia enggak putus, tadi dia cuma emosi aja. Lo enggak seharusnya nyampurin urusan gue dan dia terus!"
"Gue akan selamanya nyampurin urusan yang ada hubungannya sama Mia! Lo enggak usah sok ngatur gue!" sembur Nathan sambil menunjuk d**a Ben dengan jarinya.
"Gue---gue bikin tatto barengan sama Mia, pertama kali dia punya tatto gue..." entah apa maksud Ben mengungkit tatto Mia lagi, tapi jelas ini membuat emosi Nathan meninggi. Ia bukan lagi mendorong Ben dengan jarinya tapi dengan semua kekuatan tangannya. Ben bisa tersungkur kalau tidak ada dinding di belakangnya.
"Gue enggak perduli lo punya tatto samaan sama dia!" Nathan mencekal kerah baju Ben, tangan satunya sudah mengepal siap melayang lagi ke wajah Ben kalau sekali lagi ia memicu kemarahannya. Kali ini ia akan pastikan hidungnya patah atau minimal bengkok.
"HEY! KALIAN SEDANG APA?" seru Pak Gito menghampiri Nathan dan Ben.
Save by the teacher, batin Nathan. "Lo beruntung..." desis Nathan seraya melepaskan cekalannya dan merapikan kerah baju Ben.
"Kami cuma lagi bercanda kok Pak" sahut Nathan sambil pergi meninggalkan lokasi.
Pak Gito menatap punggung Nathan, dan beralih ke Ben, "Eh, iya Pak...yang tadi cuma bercanda, lagi latihan Pak, latihan kalo berantem lagi" ujar Ben mengikuti langkah Nathan dari pada hukumannya bertambah lagi.
Pak Gito menggelengkan kepalanya sambil berdecak.
.
.
.
Jam istirahat sebentar lagi tiba, Nathan mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Mia.
Aku mau bicara sama kamu!
Mia membalas, Ya, aku juga.
Di mobilku.
Huh? Kenapa di mobil?
Biar enggak ada yang nonton kalau kamu ngomel.
Issh!
Nathan tidak bisa menyembunyikan senyumnya dan hal itu mencuri perhatian Zack yang ada di sebelahnya, "Dih, lo kenapa Bro?"
"Enggak perlu tahu!" jawab Nathan.
"Halah, sombong...mentang-mentang udah baikan ama Mia"
"Sok tahu!"
"Siapa lagi yang bisa bikin lo nyengir kuda begitu, kalau bukan si mata biru?"
Nathan terdiam, ia merasa Zack ada benarnya. Memang cuma Mia yang bisa membuatnya bahagia sekaligus menderita.
Bell istirahat berbunyi dan tanpa membuang waktu Nathan langsung melesat keluar kelas, membuat kedua sahabatnya melongo penuh tanda tanya. Tapi keduanya mengangguk bersamaan beberapa saat kemudian dan bergumam dengan kalimat yang sama, "Mia..."
.
.
Nathan melihat Mia yang berjalan ke arah mobilnya, kemudian ia membuka pintu depan dan masuk ke dalamnya. Mia menghela napasnya pelan, demikian juga Nathan. Situasi terasa canggung sesaat. Mia berpaling melihat ke arah Nathan yang sibuk membelai setir mobilnya.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarain?"
"Ayo kita pacaran!"
"Tapi Nath----mmphhtth!"
Nathan melumat bibir Mia singkat, "Itu cap kepemilikan Nathan!"