The Girl That Got Away - 9

1892 Words
        It hurts when you're being ignored by the person whose attention is the only thing you want in the world                                                                                 - pinterest.com - "Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti ini Pak, dan bapak sebagai Kepala Sekolah di sini harusnya segera mengambil tindakan,  anak kasar seperti itu harusnya dikeluarkan saja dari sekolah ini" cerocos seorang wanita kepada Pak Prim selaku Kepala Sekolah W International High School. Pak Prim mengangguk mengerti perasaan Nyonya Simon sebagai Ibu dari Ben. "Iya Nyonya Simon, kami mengerti. Kasus ini sudah kami tindak lanjuti, pelaku juga sudah mendapatkan hukuman setimpal dan sesuai dengan undang-undang sekolah kami" ujar Kepala Sekolah menanggapi komplain ibu dari Ben ini. "Anak saya bisa saja jadi cacat lho hidungnya itu!" ujarnya masih memegang wajah Ben dan memutarnya ke kanan dan ke kiri. "Wajahnya memar-memar begini" sambungnya. Nyonya Simon menghela napasnya. "Saya bukannya apa-apa Pak, tapi setidaknya kan harus ada bentuk tanggung jawab dari orang tua yang mukulin anak saya itu! Dan saya mau bertemu sama anaknya dan juga orang tua si anak!" tukasnya, "anaknya enggak diajarin sopan santun apa gimana si?" sungutnya. Mia menelan ludahnya gugup duduk di samping Ben, biar bagaimana dialah akar masalahnya. Dia yang menyebabkan Ben dan Nathan berkelahi. Tapi ia masih belum berani bersuara. "Nathan sedang dipanggilkan Nyonya Simon, namun menurut sepengetahuan saya, dia bukanlah anak yang suka berbuat onar di sekolah ini, justru sebaliknya Nathan seorang anak yang berprestasi. Sikapnya juga sangat baik, jadi saya heran kalau sampai terjadi seperti ini..." ujar Pak Gito, Guru BP yang mendampingi Kepala Sekolah. Wanita dengan pakaian serba hijau dan perhiasan mentereng di tangan dan lehernya itu tetap saja memasang ekpsresi kesalnya walaupun setelah mendengar penjelasan dari guru BP tersebut. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan di pintu masuk dan muncullah Nathan dan Rino. Pak Prim menatap Rino yang ikut duduk di sebelah Nathan. "Sepertinya saya tidak memanggil kamu, Rino?" Tegur Pak Prim. "Ini inisiatif saya untuk nemenin Nathan Pak!" sahutnya. "Jadi awal ceritanya itu---" Rino terdiam tiba-tiba.   "Saya belum bertanya apa-apa, kamu diam saja!" tukas Pak Prim. Rino mengangguk menuruti. Nyonya Simon menatap sinis ke arah Nathan dan Rino, "Jadi yang mana anak yang sudah membuat hidung anak saya berdarah?" "ME!!" sahut Nathan dengan menaikkan tangannya, jawabnya kok kayak mau dapet award aja, semangat banget! Gumam Ibunya Ben dalam hati. Pak Prim dan Pak Gito mengajukan beberapa pertanyaan pada Nathan, Ben dan Mia terkait perkelahian yang terjadi di lingkungan sekolah. Mereka sepakat bahwa ini adalah salah paham saja. Dan hanya masalah anak-anak yang meributkan soal wanita, yaitu Mia. "Jadi Nathan itu cuma membela diri aja Pak!" sambar Rino. "Ben itu..." Pak Prim yang didampingi Pak Gito sebagai guru BP, mendengarkan dengan seksama keterangan dari saksi mata, Rino. Mia yang duduk bersebelahan dengan Ben geram melihat Rino yang membela Nathan. Padahal jelas-jelas tadi Nathan yang memulai lebih dulu memukul Ben. "Kok bisa sih sekolah se-elite ini nerima anak preman, Pak? Anak dengan kelakukan brutal tidak seharusnya sekolah di sini" tukasnya. Rino hampir menyembur menahan tawanya dan mendapat tatapan tajam dari Nyonya Simon. "Sabar Nyonya, pihak sekolah sudah memutuskan seadil-adilnya untuk masalah ini, dan menjamin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, bukan begitu Nathan, Ben, Mia?" sahut Pak Gito, disambut anggukan Nathan dan Ben berbarengan. Mia juga mengangguk sambil menelan ludahnya, ia tahu siapa Nathan, tidak mungkin ia dikeluarkan dari sekolahnya sendiri, alias milik keluarganya itu. Tapi ia juga tahu Nathan tidak pernah semena-mena sebelumnya walaupun ia anak dari pemilik sekolah, karena itu tidak banyak yang tahu kecuali teman-teman dekatnya dan Mia sendiri. Nyonya Simon memegang tangan anaknya, "Hidung kamu enggak berdarah lagi kan sayang?" tanya Nyonya Simon. Ben menggeleng seraya menyentuh hidungnya yang sudah diobati tadi di klinik sekolah. "Bagus kalau begitu, enggak patah kan?" Ben menggeleng lagi, "tapi pipi kamu biru-biru gini sayang..." ujarnya sambil melirik ke arah Nathan dan Rino dengan sinis. "Mereka akan mendapat hukumannya sayang, Mama senang kamu baik-baik aja" tambahnya lagi. "Iya Ma..." Nathan tersenyum dan mencuri pandang ke arah Mia yang ada di sebelah Ben. Kepala Nathan menggeleng tidak habis pikir kenapa Mia bisa termakan kata-kata Ben dengan begitu mudahnya. Pak Prim memberitahu sangsi yang akan diterima semua pihak yang terlibat, termasuk Mia. Walau Mia awalnya memprotes bahwa ia hanya membela Ben dari kebrutalan Nathan. Ben sebagai korban juga menerima sangsi, walau sangsinya lebih ringan. Nyonya Simon tidak terima Ben sebagai korban juga menerima sangsi dari sekolah, namun setelah menerima penjelasan dan diperlihatkannya CCTV yang ada di setiap sudut sekolah, ia hanya bisa bungkam dan menerima anaknya mendapat sangsi juga. Karena Ben juga berniat membalas pukulan Nathan namun tidak mengenai sasaran. Mata Nyonya Simon membelalak ketika melihat Mia yang melayangkan kakinya mengenai wajah Nathan. Ia tersenyum menatap Mia. "Kamu bisa begitu, Mia?" tanyanya takjub. Ia sepertinya lega Mia memihak anaknya. Mia hanya tersenyum kecut sambil menatap ke arah Nathan. Mata mereka bertemu dan saling melemparkan tatapan 'apa yang kamu lakuin sih?' . Di tengah pembicaraan, tiba-tiba semua terkesiap ketika pintu ruangan diketuk dan langsung terbuka, seorang pria berseragam hitam-hitam masuk lebih dulu dan menahan pintunya mempersilakan orang yang di belakangnya untuk masuk.   Pak Prim dan Pak Gito sontak berdiri dengan tegak, begitu juga dengan Nyonya Simon yang terperanjat melihat tamu yang masuk ruangan. Anya? Batinnya. "Mrs. Wijaya? Saya tidak menyangka Anda datang ke sini" seru Pak Prim menyambut Anya. Anya tersenyum dan menyambut jabatan tangan Kepala Sekolah dan Guru BP, ia melihat ke arah Nyonya Simon dan memicingkan matanya. "Rara???" "Anya?!" Mereka pun berpelukan dengan saling melemparkan komentar bahwa sudah lama tidak bertemu dan saling bertanya apa kabar, sampai akhirnya mereka sadar bahwa anak-anak mereka sedang terlibat masalah dan saat ini memandang mereka dengan ekspresi aneh. Anya menghampiri Nathan dan duduk di sebelahnya. Kemudian pintu terbuka lagi, orang yang sama masuk lebih dulu dan mempersilakan orang di belakangnya untuk masuk, "Silakan Mr. Keenan" ujarnya. Seketika semua menegang, Pak Prim dan Pak Gito langsung berdiri tegak ketika Keenan dengan angkuhnya masuk ke dalam ruangan, ia menyambut Pak Prim dan Pak Gito yang bersalaman dengannya dan memberikan tempat duduknya.  Nyonya Simon menelan ludahnya dengan susah payah melihat mantan bosnya sekarang berada di depannya sebagai orang tua dari anak yang membuat hidung anaknya berdarah. Apa itu masalah baginya sekarang? Sepertinya tidak lagi. "So? What happened?" Tanya Keenan dalam bahasa Inggris yang kental. Matanya yang gelap dan tajam menyorot satu persatu semua orang yang ada dalam ruangan tersebut. "Kamu berkelahi, Nath?" Nathan tidak menjawab, ia hanya menaikkan alisnya seraya menghela napasnya. Seharusnya tidak perlu ayah dan ibunya sampai harus datang seperti ini. Kan jadinya enggak seru lagi, pasti sebentar lagi masalah selesai kalau ayahnya sudah turun tangan seperti ini. "Kamu pasti yang berkelahi sama Nathan?" tuding Keenan menunjuk Ben. Ben mengangguk dengan kikuk dan gugup, padahal ia tidak tahu siapa orang ini, selain orang tuanya Nathan. Tapi kenapa semua orang termasuk Mamanya sepertinya segan dan takut padanya? "Saya rasa anak laki-laki berkelahi itu wajar saja. Bukan laki-laki kalau tidak pernah berkelahi, bukan begitu Ben?" tanya Keenan lagi dan mengangguk dengan bingung. Rara ikut mengangguk mau tidak mau setuju dengan pendapat Keenan. Ketika ada kesempatan untuk berbisik pada Ben, ia berkata, "Kamu jangan cari gara-gara lagi sama Nathan, itu anaknya Pengusaha terkenal di negeri ini...tahu?! Untung aja Mama belum lapor Polisi, kalau iya, bisa jadi kamu yang masuk penjara" katanya dan membuat mata Ben membesar sambil memandang ke arah Nathan. "Jadi, apa yang harus saya lakukan selaku orang tua dari Nathan?" tanyanya dan mengambil minuman yang baru dihidangkan di mejanya. Pak Prim yang sudah mengambil kursi tambahan untuknya duduk segera menyela, "Ehm...begini Nyonya Simon, sepertinya Anda sudah kenal dengan Mr. Dan Mrs. Wijaya, beliau adalah pemilik dari sekolah ini---" "Huh?" Rara bergumam spontan. Ya ampun, aku enggak tahu kalau W itu maksudnya Wijaya, batinnya. "Begini, Anya, Mr. Keenan, saya baru mengerti bahwa ini mungkin memang hanya masalah anak muda saja" kepala Rara manggut-manggut. "Saya tidak menuntut kalian melakukan apapun, tapi mungkin untuk anak-anak perlu pendisiplinan sebagai risiko dari perbuatannya..." Nathan mendengus pelan, benar kan? "Baiklah! Jadi masalah selesai" tandas Keenan sembari berdiri dan kembali mengancingkan jasnya. Ia menatap Anya, "aku pergi duluan, Love. Kembali ke kantor" katanya, membuat semua yang ada di ruangan itu jadi baper. Rino bahkan melongo lupa berkedip. Anya mengangguk sambil tersenyum, "Hati-hati, Keenan" sahut Anya. Pertemuan selesai setelah Pak Prim menyampaikan sekali lagi sangsi-sangsi apa saja yang diterima pihak yang terlibat dalam masalah ini. Anya mengangguk setuju dan tidak keberatan Nathan mendapatkan sangsi tersebut walaupun ia adalah anak pemilik sekolah. Anya tidak mau ada diskriminasi untuk penerapan disiplin di sekolahnya. Nathan juga tidak protes dan sadar sepenuhnya bahwa ini bagian dari tanggung jawabnya sudah melanggar peraturan sekolah. Yang aneh adalah tatapan Rara pada Nathan yang berubah, tidak sama dengan pertama kali ia melihatnya. Sekarang ia tersenyum sangat ramah pada Nathan, kelewat ramah bahkan. "Maafin anak Tante ya, sebenarnya Ben itu anak baik kok, mungkin kalian bisa bersahabat malah..." ujarnya m******t. Nathan tidak merespon, wajahnya datar saja dan berlalu meninggalkan ruangan Kepala Sekolah bersama Rino. "Si Mak Landak kenapa jadi baik banget gitu setelah Mom lo dateng Bro?" tanya Rino. Nathan hanya mengedikkan bahunya malas menjawab. Ia melewati Mia tanpa repot-repot menegurnya. Bahkan menatapnya pun tidak. "Tapi Mom lo hot banget Bro! Bokap lo juga! Ah seandainya gue bisa gitu sama bini gue nanti---" ujar Rino dan mendapat dorongan keras di kepalanya, ditambah bonus tatapan membunuh dari Nathan. "Ups! Ampun Bro..." Rino menutup mulutnya dengan gerakan seperti menutup resleting. "Lo lihat kan anaknya juga hot begini?" ujar Nathan sombong sambil tertawa. "s****n!!" sembur Rino kesal, "lo hot sih, tapi jomblo!!" Rino tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Nathan melayangkan kakinya yang panjang ke arah b****g Rino, untung Rino bisa mengelak dari serangan mendadak Nathan itu, kalau tidak mungkin nasib bokongnya sama seperti wajah Ben. Ups, bukannya bermaksud nyamain wajah Ben sama b****g gue sih, pikir Rino tertawa dalam hati. . . . Besoknya, di cafetaria sekolah. Nathan mendapatkan sangsi 100 jam melakukan kegiatan sosial dan menyertakan buktinya dalam waktu satu bulan. Mia dan Ben setengahnya dari Nathan. Itu berarti mulai hari ini Nathan harus menyisihkan waktunnya 3.5 jam untuk kegiatan tersebut. Nathan mencecap teh hangatnya dan menggigit roti panggangnya yang tadi dipesannya. Ia sedang mencari tempat di mana ia bisa melakukan kegiatan sosialnya, ia mencarinya di google. Kemudian ia melihat Mia melangkah memasuki cafetaria seorang diri. Ia memalingkan pandangannya kembali pada ponselnya dan mengabaikan kehadiran Mia. Tapi tiba-tiba tanpa diduganya Mia meletakkan makanannya di meja Nathan dan menarik kursinya kemudian duduk tanpa basa-basi di depan Nathan. Nathan memperhatikan Mia di depannya, yang dengan santai menuangkan creamer ke dalam teh panasnya. Mia belum bersuara sampai ia memasukan cake mini pesanannya ke dalam mulutnya. Mata birunya sekarang menatap Nathan di depannya yang sedang melongo mengamatinya. "Kenapa lihat-lihat?" tanya Mia. Dahi Nathan berkerut sehingga alisnya hampir menyatu, "Kamu ngapain?" "Makan?" Nathan menghela napasnya, "Masih banyak kursi kosong, kenapa makan di sini?" tanya Nathan dingin. "Enggak enak makan sendirian..." sahut Mia melanjutkan lagi memakan cake-cake mini pilihannya. Nathan dengan cepat mengunyah roti panggangnya dan menenggak habis tehnya, kemudian ia menumpuk jadi satu bekas makannya dan berdiri. Mia melongo melihat sikap Nathan, "Tunggu!" serunya. Nathan tetap berdiri dan mencangklong tasnya di pundaknya, "Kenapa?" "Nath, jangan kayak anak kecil please..." ujar Mia. "Mau kayak anak kecil atau enggak, bukan urusan kamu lagi Mi. Urus aja Ben kamu itu, supaya matanya enggak beralih ke cewek lain" ujar Nathan sinis. "NATH! Kamu keterlaluan!" sembur Mia. Nathan bergumam pelan sambil pergi meninggalkan mejanya dan Mia yang berkaca-kaca, "Whatever..."        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD