The Girl That Got Away - 8

1348 Words
                                                                                                        If life can remove someone you never dreamed of losing, it can replace them with someone you never dreamt of having.                                                                                         - pinterest.com - Nathan meninggalkan Mia dengan penuh rasa marah. Dadanya naik turun dan bergemuruh mengingat Mia tidak mengindahkan perintahnya untuk menjauhi Ben. Mia bahkan tidak mempercayainya lagi, ia memilih lebih percaya pada si Ben-tol itu. "b******k!" Nathan memaki seraya memukul dinding kelas. Rino dan Zack memberanikan diri mendekatinya. "Bro, bukannya mau bikin lo merasa bersalah sih...tapi Mia tadi kayaknya sempet nangis deh..." tukas Rino. Zack mengangguk membenarkan. Nathan menghela napas panjang. "Lo berdua ikut gue! Kalo Mia enggak percaya sama gue, mungkin dia bisa percaya sama lo berdua!" Rino dan Zack saling memandang. Mereka tidak menyangka akan dilibatkan dalam permasalahan ini. "Hh? Maksud lo Mia enggak percaya waktu lo bilang Ben-tol itu selingkuh Bro?" Tanya Zack sembari mengimbangi jalannya Nathan yang cepat. "Lima menit lagi bell masuk, Bro" ujar Rino. "Terus??" Tanya Nathan. "Lo kan belum pernah terlambat masuk kelas seumur hidup lo kan?" "Ini akan jadi pengalaman pertama gue..." ujar Nathan santai. "Iiisssh....welkom to the world Bro!" Sambar Zack riang. Di lorong terbuka menuju kelas Mia, mata Nathan menangkap sesuatu yang ganjil. Di taman sebelah kanannya ia melihat Mia sedang menutup wajahnya dan di depannya ada Ben yang sedang mengusap rambutnya. . . "Mia, aku sayang banget sama kamu, enggak mungkinlah aku selingkuhin kamu. Itu kan bisa-bisanya mantan kamu yang sumo itu ngarang cerita. Dia itu pengin kita bubaran! Dan balik lagi sama kamu..." ujar Ben. "Tapi setahu aku, Nathan itu enggak akan main pukul begitu juga Ben" "Itu kan di depan kamu aja Beib, kenyataannya dia dan teman-temannya main keroyok gitu. Kamu tanya deh pengunjung mall waktu itu, aku enggak ngapa-ngapain tahu-tahu si sumo main tonjok aja!" Ujarnya lagi, "nih lihat nih...masih agak biru kan?" Sambungnya menyodorkan tulang pipinya yang enggak kenapa-kenapa. "Beneran kan kamu sama Riana?" Tanya Mia lagi. "Sumpah!" "Jadi menurut kamu Nathan yang bohong ke aku?" Ben mengangguk, "Sumo itu enggak pengin lihat kamu happy ya beib?" "Enggak usah beib-beib-an Ben, aku jijik..." ujar Mia tersenyum seraya menghapus sisa air matanya. "Naah kan, kamu kalo senyum gini makin cantik dan gemesiin..." Ben mencubit hidung Mia dan mencium tangannya. Ben masih menikmati harumnya tangan Mia ketika sebuah tangan dengan kasar memisahkan tangannya dari tangan Mia. Seketika ia berdiri dan menghadapi sosok Nathan yang terbakar api cemburu. Ben menelan ludahnya. Namun senyumnya dengan cepat mengembang ketika Mia berpindah berada di depannya, menjadi tamengnya. Nathan masih terdiam, hanya saja matanya menunjukkan ekspresi sangat marah pada pasangan di depannya ini. "Minggir Mi!" "Enggak!" Balas Mia. Nathan melayangkan pukulan ke arah Ben dari samping, namun Mia bisa menangkisnya dengan tangannya. Mata Nathan membesar karena ia bisa saja melukai Mia dengan pukulannya tadi. "Banci! Lo enggak malu ada di belakang Mia? Lo takut berhadapan sama gue, huh?" "Nathan berhenti!" Seru Mia, "maksud kamu apa sih mencampuri urusan aku sama Ben?" Alih-alih menjawabnya Nathan melihat kesempatan untuk menarik Mia menjauh dari Ben, dan dengan cepat tangan satunya melayang ke wajah Ben bagian depan. Darah menetes dengan deras dari hidung Ben diiringi teriakan memilukan. Ben marah dan balik menyerang Nathan tanpa arah dengan membabi buta. Namun tidak ada satu pukulan pun yang mendarat di tubuh Nathan, sebaliknya pukulan telak Nathan pada bagian wajah Ben sekali lagi membuatnya jatuh tersungkur ke rumput. Beberapa siswa yang melihat perkelahian itu berkerumun dan memandang horor ke arah Nathan. Mia geram melihat kelakuan Nathan, ia berputar dan melayangkan kakinya ke arah Nathan dan membuat Nathan terhuyung dengan mata membesar menatap Mia. Ia memegangi pipinya yang terkena sepatu Mia. Semua penonton terkesiap, terpana melihat Mia melawan Nathannya. Mata Mia membalas sorotan tajam Nathan, "Jangan ganggu aku lagi!" Semburnya sembari setelah itu berjalan menuju ke Ben dan memapahnya ke UKS. Tapi Nathan tidak tinggal diam. Ia menarik Mianya dan membuat Ben tidak punya pegangan, dan akhirnya terjerembab lagi ke rumput. Tapi teman-temannya yang lain membantu Ben berjalan sampai UKS. Nathan menarik Mia menjauhi kerumunan, ke arah toilet pria. Tanpa pikir panjang Nathan membawa Mia masuk ke dalamnya dan meminta siapapun yang ada di dalam untuk keluar. Nathan membuka satu persatu pintunya, dan tidak ada yang terkunci. Setelah memastikan keadaan aman terkendali. Nathan menatap Mianya. Mia masih marah padanya, itu jelas terlihat dari ekspresi matanya dan bibir Mia yang terkatup rapat. Nathan berjalan mendekatinya, dan Mia mundur. Nathan berhenti dan menghela napasnya, "Aku cinta sama kamu, Mi. Aku enggak mau kamu dekat-dekat sama cowok pembohong itu. Dia selingkuh Mia!!" Gigi Mia gemeletuk saking menahan marahnya, "Ben bersumpah sama aku dia enggak selingkuh! Kamu yang salah paham" Nathan menyisir rambutnya dengan jarinya, kata-kata Ben melawan kata-katanya. Dan memang ia tidak punya bukti untuk ditunjukkan pada Mia. "Aku akan buktikan kalau Ben selingkuh dari kamu. Tapi tetap mulai detik ini aku enggak izinin kamu deket-deket DIA!" Suara Nathan meninggi karena kesal. "ENGGAK USAH BENTAK AKU!" Balas Mia. "Kamu nendang aku tadi Mi...?" tukas Nathan. "Karena kamu keterlaluan Nath!" "Aku enggak akan balas ke kamu, tapi Ben! Dia akan ngerasain sepatu aku nanti!" Ancam Nathan sengan menyeringai. Mata Mia membesar, "Apa??" "Kalau aku tahu kamu berdekatan lagi sama Ben atau berjarak kurang dari lima meter sama banci itu, aku jamin Ben harus operasi plastik!" Mia berdecak dengan mata berair. "Kenapa kamu begini sih Nath? Kenapa kamu malah bikin aku jadi sebel sama kamu?!" Mia mulai terisak. Nathan menghela napasnya pendek, ia makin merapatkan tubuhnya pada Mia dan mengangkat dagunya, tanpa basa-basi Nathan menyambar bibir Mia. Singkat saja namun meninggalkan bekas mendalam di hati Mia dan juga Nathan. Ini pertama kalinya Nathan berani mencicipi bibir Mia. Keduanya sempat canggung seketika. Mia menelan ludahnya dan mundur menjauh dari Nathan sambil menatap Nathan. Hal yang tidak diduga terjadi. PLAK! Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Nathan. Bekas tamparannya terasa panas, namun lebih panas yang terasa di dadanya. Ia menatap Mia dengan ekspresi heran, "Kamu nampar aku Mi?" "Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir kamu bisa cium aku seenaknya? Aku ini pacar orang Nath! Bibir aku milik Ben! Dia yang cium aku pertama kali, dia yang bikin aku ketagihan berciuman dengannya, kamu tahu?" Mia malah sengaja makin membuat Nathan marah. "Ben is a good kisser..." sambung Mia. Dada Nathan naik turun menahan emosi. Mia menamparnya dan sekarang ia menceritakan kelebihan Ben dibanding dirinya?? Nathan mengepalkan kedua tangannya di samping pahanya. Ia memukul dinding di samping kepala Mia dan sempat membuat Mia mengelak penuh antisipasi dan memasang kuda-kuda. Ia tidak mengira kalau suatu hari akan tiba saatnya ia menggunakan jurus bela dirinya untuk menghadapi Nathan yang marah. Nathan menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menatap Mia tajam denga  hatinya yang terluka, "Kamu tahu Mi? Sepertinya aku memang berlebihan mengharapkan kamu...ternyata kamu enggak pantas aku perjuangin" Nathan menarik napasnya dalam, ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya. "Ini ponsel kamu---mulai sekarang aku enggak akan ganggu kamu lagi..." ujarnya dan membuka pintu toiletnya kemudian pergi meninggalkan Mia. . . . "Jadi siapa yang mulai lebih dulu?" Ben langsung menunjuk Nathan. Dan Nathan bergeming. Pak Gito menatap ke arah Nathan. "Nathan? Benar itu?" "Saya dari awal memang mau bikin dia babak belur dan cacat seumur hidup Pak, cuma Mia menghalangi saya..." Pak Gito melongo. "Kamu enggak biasanya kayak begini?" Ujar Pak Gito penuh ekspresi curiga. "Mungkin karena manusia ini masuk ke sekolah ini Pak, dia bawa aura negatif buat saya..." Ben menatap Nathan geram sambil memegangi hidungnya dengan tissue. "Nathan, untung saja hidung Ben enggak patah---" "Yaaaah...sayang banget" "NATHAN!" sembur Pak Gito. Nathan menyeringai menatap Ben. Orang tua Ben berniat menemui kepala sekolah siang ini dan kalian berdua bersiap diri untuk dipanggil nanti!" Seru Pak Gito. Mereka berdua keluar ruangan BP dengan saling memandang sinis. Tangan Nathan benar-benar gatal untuk menghapua seringaian dari wajah Ben. Setidaknya keinginan membuat bibirnya cacat sudah ada sejak ia mendengar Mia menyebutnya sebagai a good kisser! d**a Nathan kembali bergemuruh. Ia buru-buru memalingkan wajahnya dari Ben sebelum setan membantunya mengabulkan keinginannya. Nathan disambut Rino dan Zack ketika tiba di kelasnya. "Ya ampun Bro, tampang lo lecek banget" "Jadi gimana Bro? Lo di skors? Untuk pertama kalinya?" Tanya Rino beruntun. "Bawel lo pada ah! DIAM! Rino dan Zack pun bungkam,dari pada jadi sasaran kemarahan  Nathan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD