Do thing for you, not for the approval or satisfaction of others. You'll attract the people you will matter
- pinterest.com -
Nathan mengikuti Mia yang melangkah menuju ke kamarnya. Pintunya tidak dikunci, jadi Nathan langsung masuk tanpa mengetuknya lebih dulu. Mia tidak ada di ruangan, Nathan melihatnya sedang berbicara via telepon di balkonnya. Nathan menduga Mia sedang berbicara dengan Ben, karena itu ia menghampiri Mia keluar.
"Iya Ben, aku percaya sama kamu---" Mia menyadari kehadiran orang lain di belakangnya, matanya membesar ketika melihat Nathan sudah berada di belakangnya. Mia berniat menyudahi percakapannya sebelum Nathan merebut ponselnya dari tangannya.
"Lo enggak b***k kan?! Gue udah bilang JAUHIN MIA!! ITU TERMASUK ENGGAK USAH BICARA LAGI SAMA DIA. b*****t!!" tukas Nathan dan melempar ponsel Mia ke arah danau sekuat tenaga.
"NATHAAAN!!!" mata Mia menyorotkan keterkejutan yang sangat melihat Nathan melemparkan ponselnya begitu saja. "Kamu gila ya!!" sembur Mia masih dengan mata yang besar, melotot sambil memukul bahu Nathan dengan kuat dan membuat Nathan mengaduh. Tentu saja pukulan Mia berbeda dengan wanita lain pada umumnya. Masih ingat kan kalau Mia menguasai lebih dari satu ilmu bela diri.
Mia masuk ke dalam kamarnya dengan kesal, "ITU HANDPHONE AKU!! KAMU ENGGAK PUNYA HAK UNTUK MELEMPARNYA SEMBARANGAN!!"
Nathan menahan senyumnya dalam hati, biar saja Mia menganggap ponselnya hilang ke danau, padahal tadi ia memasukkannya ke dalam kantong celananya.
"Aku punya hak sekarang! Karena aku pacar kamu!"
Mia menatap Nathan dengan ekspresi aneh, "Kamu kerasukan apa sih??" Mia mendengus kesal, "yang pacaran itu aku sama Ben! Kami berdua yang memutuskan putus atau enggak, bukan orang lain! Apalagi kamu!" sergahnya seraya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi geram.
"Khusus kasus kamu sama Ben, aku yang putusin hubungan kamu terus atau berhenti sampai di sini!!"
"EDAN!!"
"BIARIN!!" balas Nathan sambil duduk di sofa dengan santai dan menatap Mia yang sangat gusar. Ia menikmati melihat Mia yang marah.
"Kemana aja kamu selama ini?! Kenapa baru sekarang pengin jadi pacar aku, huh?"
Nathan tertegun mendenga pertanyaan Mia, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Mia. "Aku enggak kemana-mana, cuma enggak sadar kalau ternyata aku sayang banget sama kamu..." bisik Nathan.
Mia menelan ludahnya, pertahanannya mulai goyah karena pendekatan Nathan sekarang, tapi ia tidak akan semudah itu terpedaya. Mia susah payah sampai pada tahap sekarang, menyingkirkan Nathan dari hatinya, sesuai permintaan laki-laki di depannya ini. Dan sekarang Nathan menginginkan gangguannya lagi?
"Sayang sebagai adik, kan? Seperti yang pernah kamu bilang?" tuding Mia sinis.
"Enggak ada kakak pacaran sama adiknya, kan?" Nathan balik bertanya sembari tangannya meraih dagu Mia hinggak mendongak menatapnya seiring dengan langkahnya yang makin mendekat ke Mia.
Sekali lagi Mia kesulitan menelan salivanya, Ia menepiskan tangan Nathan dari dagunya. "Enggak usah pegang-pegang!" tukasnya sambil menjauh dari Nathan dengan gaya yang sok padahal jantungnya berdentum sekeras drum yang ditabuh.
Nathan menarik napasnya dalam-dalam, "Kamu harus putus sama Ben, atau Mama Papa kamu tahu soal tatto yang ada di tubuh kamu!" Nathan terpaksa melakukan trik curang ini untuk membuat Mia melakukan apa yang ia inginkan.
Mia memutar tubuhnya memandang Nathan dengan tatapan tidak percaya, Mia mendengus keras, "Aku enggak nyangka kamu selicik ini Nath!"
"Aku enggak mau lihat kamu besok dekat-dekat atau bicara sama Ben!" ancam Nathan sembari berjalan menuju pintu kamar Mia dan menghilang di balik pintunya sebelum sebuah bantal tebal dan berat melayang sempurna ke arahnya. Bantal itu menghantam pintu dengan bunyi yang cukup keras dan terdengar teriakan Mia yang frustrasi dari dalam kamar.
Nathan tersenyum penuh kemenangan sambil terus melenggang.
.
.
.
Mia tidak berkutik tanpa ponselnya dan hal itu membuatnya jengkel semalaman. Mulutnya masih cemberut saat keesokkan harinya ia berangkat bersama Mamanya, Sasy.
Sasy menoleh ke arah Mia, "Kamu itu, pagi-pagi cemberut aja...kenapa sih?"
Mia menarik napasnya dalam-dalam, "Entah deh Ma, mau 'dapet' kali nih, bawaannya pengin makan orang..." orang itu Nathan!
"Hah? Emang kurang Mama kasih makannya ya?" sahut Sasy tersenyum. "Nathan semalam telepon Mama, dia enggak bisa telepon kamu, karena handphone kamu hilang katanya? Mama ke kamar kamu semalam, tapi kamu sudah tidur..."
Ck, ya hilang karena dia yang lempar tu ponselnya, Ma!
"Nathan ngomong apa aja Ma?" Mia tiba-tiba tersadar Nathan bisa saja bicara aneh-aneh sama Mamanya.
"Cuma mau bicara sama kamu, tapi kamunya sudah tidur. Ya sudah, dia bilang hari ini aja di sekolah dia mau bicara sama kamunya..."
Sasy melihat mulut Mia yang terkatup keras karena kesal, "Kamu baik-baik aja kan Mi?" tanya Sasy curiga.
Mia mengangguk. Kemudian ia menoleh ke arah Sasy, "Ma, menurut Mama, Ben itu gimana?" tanya Mia.
"Huh? Ben? Ben temen kamu yang suka ke rumah itu? Mama belum pernah ngobrol sama dia. Tapi sepenglihatan Mama nih...dia anaknya baik, sopan. Kenapa?"
"Ben itu udah jadi pacar Mia Ma sejak sebulan yang lalu..." Mia menggembungkan pipinya sambil menatap Mamanya penuh waspada, menunggu reaksi Mamanya. Benar saja...
"APPAA??? Kamu pacaran sama anak itu?" Sasy menggelengkan kepalanya berulang kali dengan cepat, "enggak-enggak, kamu enggak boleh pacaran dulu! Kecuali sama Nathan"
Mia berdecak, "Mama apaan sih! Semua Nathan! Mama terlalu percaya sama Nathan tahu enggak?! Mia enggak suka lagi sama dia, dia nyebelin sekarang Ma!"
"Enggak Mia! Kamu itu cintanya sama Nathan..."
Mia menatap Mamanya dengan bingung, "Ma? Yang bisa ngerasain itu aku, aku pernah cinta mati sama dia---tapi sekarang udah enggak---bahkan hampir hilang..." balas Mia sambil menatap keluar jendela mobilnya.
Mobil Sasy sudah tiba di depan W International High School, sebelum Mia turun Sasy berkata, "Pokoknya Mama enggak mau kamu pacaran sama Ben, temenan aja boleh!"
Mia meresponnya dengan malas. Ia melambaikan tangannya sampai Mamanya menghilang di ujung jalan. Mia berjalan sendirian di koridor sekolah, kira-kira lima meter lagi sampai depan kelasnya ia melihat Ben yang keluar dari kelasnya. Mungkin Ben mencarinya. Mia mempercepat langkahnya dan mendekati Ben. "Ben..."
Ben menoleh ke arah Mia, "Mia---kenapa kam---"
"Handphone aku hilang Ben!" Potong Mia.
Ben menatap Mia bingung. "Hilang? Kamu serius?" tanya Ben.
Mia menarik napasnya dalam-dalam, di kepalanya sedang terngiang-ngiang kata-kata Nathan tadi malam.
"Kamu harus putus sama Ben, atau Mama Papa kamu tahu soal tatto yang ada di tubuh kamu!"
"Tapi Mia---semalam aku chat sama siapa dong?" tanya Ben bingung.
Ekspresi Mia berubah, "Chat? Kamu chat sama handphone aku?" Mia balik bertanya.
Ben mengangguk, ia menunjukkan chat-nya dengan Mia tadi malam.
Mia : Kita harus udahan Ben.
Ben : ? Kamu bilang kamu percaya sama aku?
Mia : Aku percaya, tapi Mama enggak mau aku pacaran sama kamu.
Ben : Kenapa?
Mia : Karena kamu ngingetin Mama sama Hoki-Hoki Bento, dan Mama pernah keracunan itu. Jadi kata Mama kamu itu racun.
Ben : Mia kamu kenapa sih? Kok kayaknya kamu aneh deh...
Mia : Pokoknya kita harus putus sebelum aku dibuang Mama ke Guatemala, Ben! Aku enggak mau ke sana!
Ben : Kita bicara besok, kamu aneh.
Mia : Aku enggak bisa bicara sama kamu besok. Bahaya.
Ben : Mendingan kamu tidur, baca doa dan mimpiin aku yah...
Mia : Enggak! Ngapain mimpiin kamu! Kamu enggak tinggi...mimpi kan harus setinggi langit!
Ben : Heh! Ini siapa sih?!
Mia menelan ludahnya, Nathan? Tapi dia melihat Nathan melempar ponselnya ke danau kemarin sore. Mia mengedikkan bahunya.
"Aku ingat kemarin Nathan kan main rebut handphone kamu tuh? Pasti dia ambil ponsel kamu!"---O iya, ngapain dia ada di rumah kamu kemarin, huh?" tanya Ben.
"Duh aku pusing Ben, kita ngobrol lagi nanti siang ya..." Mia masuk ke dalam kelasnya. Nathan benar-benar keterlaluan kalau sampai mneyembunyikan ponselnya dan mengaku-aku dirinya pada Ben. Dasar licik! Makinya dalam hati. Mia menaruh tasnya dan pergi lagi keluar kelas dengan tergesa. Ia berjalan cepat menuju ke kelas 12, kelas Nathan.
Beruntung karena orang yang dicarinya baru saja datang, Mia menghadangnya di depan kelas. Ekspresinya keras menahan amarahnya.
"Mau kamu apa sih NATH?! Kamu ngaku-ngaku jadi aku ke Ben?"---"NORAK!" gumamnya keras.
"Kamu ketemu sama dia?!" Mata Nathan menyorot tajam Mia.
"Bukan urusan kamu!"
Beberapa teman-teman Nathan yang ada di kelas yang kepo mengintip dari pintu dan jendela demi melihat pertengkaran abad ini. Namun mereka tidak bisa lama-lama memuaskan mata dan telinganya karena Mia berteriak dengan keras sambil menendang pintu kelas, "NGAPAIN LIHAT-LIHAT?!!" semua bubar kecuali Rino dan Zack yang menempelkan telinganya pada daun pintu.
Nathan menarik Mia ke tempat yang agak jauh dari kelasnya dan lebih sepi.
"Kamu harusnya dengerin aku Mi..." ujar Nathan.
"Kenapa aku harus dengerin kamu?"
Nathan menelan ludahnya, "Kamu denger baik-baik ini ya, kamu sekarang pacar aku! Dan kamu putus dari Ben!"
Alis Mia berkerut, "Kamu sadar enggak sih, kalau kamu lagi mainin perasaan aku?!"
"Aku enggak mainin perasaan kamu!"
"Bullshit Nath! Dari dulu aku pengen banget jadi pacar kamu, tapi kamunya enggak! Kamu malah minta aku cari cowok lain dan cinta cowok lain aja, sekarang aku udah sama Ben, dan kamu bilang apa?!" Mia marah enggak kalah tegas.
"Ya, aku salah Mi---ternyata aku--"
Mia mendekatkan dirinya dan menatap Nathan dalam-dalam, "TER-LAM-BAT KAMU, NATH!!" sembur Mia sambil mendekatkan dirinya ke Nathan.
Nathan menghela napasnya panjang seraya membalas tatapan Mia, "FINE!!" balas Nathan tidak kalah keras dan memutar tubuhnya meninggalkan Mia.
Dari kejauhan Rino dan Zack saling meremas tangan masing-masing menyaksikan pertengkaran mereka. Untung tidak terjadi adu fisik, entah siapa yang menang kalau mereka sampai mengeluarkan jurus bela dirinya masing-masing. Adu mulut saja membuat jantung Rino dan Zack mau copot.
"Tu anak dua belum juga kawin ya, udah berantem aja..."
"Justru kalo sering berantem bukannya mau kawin ya Bre?"
"Itu mah kucing b**o!" sembur Rino.
"Untungnya mereka udah misahin diri sebelum kita turun tangan..."
"Lo kira mereka abuba?"
"Amubaaa begoooo!" Rino menghela napasnya.