Penyelamat Misterius

1046 Words
Nalini yang sudah hampir pingsan tiba-tiba kekuatannya bangkit saat mendengar orang-orang itu hendak membunuh ibunya. “Bunuh saja aku, tapi jangan kalian bunuh ibuku!” seru Nalini sembari tubuhnya melindungi ibu. Golok tajam itu pun hanya berjeda beberapa inci dari lehernya. Orang-orang itu mengamati Nalini. Meski kondisinya tak karuan dan wajahnya pucat pasi, alangkah sayangnya membunuh gadis secantik Nalini. “Kau jangan mati dulu. Sayang sekali kecantikanmu belum ada yang menikmati. Jadilah istri mudaku, aku akan membebaskanmu. Bagaimana?” Lelaki berkumis maju dan mendekati wajah Nalini hingga hanya berjarak sejengkal tangan. Mana sudi Nalini menukar nyawa ibunya dengan kebebasan dirinya. “Aku tak mau!” jawab Nalini galak sembari memalingkan mukanya. Hembusan nafas lelaki itu terasa di atas dahinya. “Hahaha … hahaha!” para pengeroyok itu tertawa melihat Nalini yang menolak mentah-mentah tawaran jadi istri muda. “Sudah, pisahkan mereka. Bawa gadis ini dan habisi ibunya!” ujar lelaki yang mengacungkan golok. Sapto merangsek maju dan menarik tubuh Nalini, menjauhkannya dari Nyai Dhira. “Mbok …” teriak Nalini putus asa. Air mata bercucuran dari kedua sudut matanya. Sapto membawa Nalini menjauh dari lokasi itu. Lelaki pembawa golok sudah mengangkat senjatanya dan siap mengacungkannya. Tring! Golok tiba-tiba terlepas dari tangan dan jatuh ke tanah. Sebutir kerikil yang dilempar dari jarak jauh adalah penyebabnya. Lelaki berkumis terpana dan mundur ke belakang. Sesosok lelaki berbaju putih dan bercaping tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari tempat itu. Kedua tangannya bersedekap. Posisinya santai sekali meski tahu sedang berada di saat kritis. “Siapa kau? Berani-beraninya datang ikut campur!” seru Sapto. Lelaki itu melemparkan lagi sebutir kerikil pada Sapto. Meski cuma sebutir rupanya lemparan itu cukup kuat dan membuat tubuh lelaki itu terjengkang ke belakang. Nalini segera melarikan diri dari Sapto dan menghambur pada ibunya lagi. “Habisi dia! Tak usah banyak basa-basi, angkat semua senjata kalian!” perintah lelaki bersarung sambil menghunus golok panjangnya dan maju menyerbu sosok penolong Nyai Dhira. Teman-temannya ikut maju dan mulai mengeroyok sosok bercaping. Namun, rupanya lelaki itu bukan orang sembarangan. Puluhan pengeroyok itu sama sekali bukan lawan yang berat untuknya. Ia hanya menghindari serangan dan beberapa kali mengeluarkan jurus untuk melumpuhkan pengeroyoknya. Dalam beberapa serangan saja, semua pengeroyoknya sudah tumbang tak berkutik. Mereka mengaduh, merasakan tubuhnya yang kaku dan tak bisa bergerak. Sosok bercaping menghampiri Nyai Dhira dan Nalini. “Ikuti aku. Aku tunjukkan tempat yang aman untuk kalian,” ujarnya. Nyai Dhira dan Nalini salin berpandangan. “Tak usah takut. Aku tak akan membunuh kalian,” ucap lelaki itu datar. Tangan kanannya membuka caping yang menutupi wajahnya. Cahaya bulan tanggal tiga belas menampilkan wajah pria berumur sekitar 40 tahun. Rambut dan cambarngnya yang panjang terurai berwarna kelabu. Sorot matanya tajam tapi ramah. Senyuman kecil tersungging di bibirnya. “Apa kalian melihat tampang penjahat di wajahku?” tanyanya sembari menatap Nyai Dhirah dan Nalini bergantian. “Te-terima kasih sudah menolong kami. Siapa sebenarnya anda, Kisanak?” Nyai Dhira memberanikan diri bertanya. Tubuhnya masih gemetar menahan rasa takut yang masih melingkupinya. Nyaris saja nyawanya melayang terkena sabetan golok jika tak diselamatkan lelaki itu. Lelaki itu mengenakan capingnya dengan gerakan halus. Setengah wajahnya kembali tertutup. “Aku tak punya nama. Terserah kalian mau memanggil aku siapa,” ujarnya sembari terkekeh. Kedua tangannya bersedekap, seperti tak peduli. Nalini yang mulai kembali mendapatkan keberanian mencoba bertanya. “Bagaimana mungkin seseorang tidak bernama? Aku yakin Guru sengaja menyembunyikan identitas.” Lelaki itu tergelitik dengan pernyataan gadis muda di depannya. “Kamu cerdas, Nduk. Karena itu, kuberikan kehormatan untuk memanggilku apa saja,” ucap lelaki tua itu. Ia masih tak ingin menyebutkan nama aslinya. “Eyang Guru. Aku akan memanggilmu dengan nama itu,” ucap Nalini mantap. Entah dapat ide dari mana, tiba-tiba Nalini ingin sekali berguru pada lelaki itu. “Nduk,” tegur Nyai Dhira sembari menyenggol lengan Nalini. Iya tak ingin anaknya ceroboh mempercayai orang yang baru mereka kenal. Alis matanya berkerut memperingatkan. “Tenang saja, Mbok. Aku rasa dia orang baik. Kalau dia jahat tak mungkin menyelamatkan kita dari keroyokan orang kampung itu,” bisik Nalini di telinga ibunya. Nyai Dhirah terdiam, benar juga apa yang dikatakan anaknya.. "Hmm, tapi aku bukan seorang guru. Aku hanyalah pengelana yang kebetulan sedang lewat di sini," ucap lelaki misterius itu. Ia berbalik badan dan memberi isyarat pada Nyai Dhira dan Nalini untuk mengikutinya sekali lagi. "Ada gua rahasia di dalam hutan sana, jika kalian percaya padaku. Tempat itu tak diketahui oleh orang desa, bahkan oleh para pendekar sekalipun," terangnya seraya melangkahkan kakinya. Nyai Dhira menggoyang lengan Nalini. Dia masih ragu tapi seolah tak ada pilihan lain selain mengikuti lelaki itu. "Sudah, Mbok. Kita ikuti dia saja. Kalau pergi sendiri belum tentu juga kita selamat. Lihat orang-orang yang pingsan itu, sebentar lagi mereka sadar dan akan mengejar kita lagi." Nalini panjang lebar membujuk ibunya. Gadis itu tertatih berdiri. Raya nyeri bersumber dari kaki kirinya yang terluka dan kini seolah merayapi sekujur tubuhnya. Ia meringis, tapi tak ingin mengeluh. Nyai Dhira ikut bangkit dan menopang Nalini. "Hati-hati, Nduk. Kakimu terluka cukup dalam," ujarnya. Nalini mencoba berjalan meski sambil terpincang-pincang. Ia menahan rasa perih yang luar biasa. Mereka berjalan perlahan mengikuti lelaki tua itu. Rupanya sang penolong sangat hafal tempat itu. Ia membuat jalan pintas. Tak lama mereka sudah masuk ke dalam hutan yang lebat dan gelap. "Eyang Guru, jangan cepat-cepat. Gelap sekali hutan ini, kami tak dapat melihat apapun," ujar Nalini. Bulu kuduknya seketika berdiri melihat pohon-pohon besar yang berdiri samar-samar. Jika tak awas bisa saja ia menabraknya. Tak banyak cakap, lelaki yang dipanggil Nalini sebagai Eyang Guru mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Entah apa itu, tapi benda itu terlihat memantulkan cahaya dalam gelap. Meski redup, tapi benda itu sangat menolong mereka agar tak kehilangan jejak. Semakin masuk ke dalam hutan, suasana bertambah menyeramkan. Sesekali terdengar bunyi burung atau hewan-hewan liar yang melintas. Nalini memegang erat tangan Nyai Dhira. Tak ada yang berbicara di antara mereka. Masing-masing awas memasang mata dan telinga. Ketika berada di bawah deretan pohon asam besar, langkah kaki Nalini tiba-tiba terhenti. Sendi-sendi lututnya seolah kaku tak bisa digerakkan. Hanya tangannya yang mengacung menunjuk ke sebelah kiri dan kanan mereka. Ia melihat beberapa pasang sinar yang menyala dari arah kegelapan. "Mbok ... apa itu?" lirih suara Nalini di tengah ketakutan yang menjalari sekujur tubuhnya. Nyai Dhira ikut menghentikan langkahnya. Keringat dingin sebesar jagung dirasakannya berjatuhan di punggungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD