Bertemu Raja Hutan

1015 Words
"I-itu maung, Nduk. Macan," bisiknya nyaris tak terdengar. Tenggorokannya terasa kering. Bahkan untuk menelan ludah pun dirasakannya sakit. "Gu-guruuu ..." Nalini berseru tertahan memanggil Eyang Guru. Tiga pasang mata yang menyala semakin mendekat ke arah mereka. Kini mulai terdengar suara aumannya yang khas. Roarghh … Roaaggrhh!! Eyang Guru menghentikan langkahnya dan bersikap waspada. Meski begitu ketenangannya patut dipuji. Lelaki itu justru seperti menunggu kedatangan kawanan macan itu. "Mendekatlah kawan, kami temanmu, aku tidak takut," ucap Eyang Guru. Tangannya yang membawa batu bercahaya terbuka agar bisa lebih terang. Benar saja, dilihatnya dua macan loreng dan satu macan hitam mengepung mereka. Suara menggeram terdengar semakin keras, ekor mereka berkibas-kibas siap menyerang. Eyang Guru tampak bersedekap lalu memejamkan matanya. Ia berulangkali menarik nafas dan mulai merapal mantra. Lelaki tua itu berusaha mengadakan kontak batin dengan harimau yang mengepungnya. "Kami hanya numpang lewat, tak ada maksud jahat. Kami masuk hutan ini karena ingin menyelamatkan diri dari kejaran musuh." Eyang Guru berkata-kata seolah sedang menjawab pertanyaan para harimau itu. Auman harimau kembali terdengar. Ketiganya berjalan pelan mengelilingi mangsanya. Eyang Guru masih bersikap tenang-tenang saja. Ia tak mengeluarkan sebilah senjata pun. Sementara Nyai Dhira dan Nalini saling berpelukan dan menggigil semakin ketakutan. 'Oh, apakah ini akhir hidupku? Lepas dari kejaran orang desa malah berujung terperangkap di sarang harimau,' suara hati Nyai Dhira meratapi nasibnya. Seolah membaca ketakutan ibunya, Nalini berbisik di telinganya. "Aku percaya Eyang Guru orang hebat, Mbok. Lihat, dia seperti sedang berunding dengan harimau itu." Nyai Dhira mengangguk lemah. Ia memang berharap lelaki tua itu membawa keajaiban lagi. Benar saja, macan yang berwarna hitam melangkah maju mendekati Eyang Guru. Hewan besar itu berjalan dengan anggun dan penuh wibawa. "Oh, jadi namamu, Mandala. Kamu yang berkuasa di sini? Salam hormatku untukmu." Eyang Guru membungkuk pada macan hitam itu dengan takdzim. Aneh. Kucing besar itu seperti mengerti dan menundukkan kepalanya, membalas salam Eyang Guru. "Terima kasih sudah mengijinkan kami menumpang untuk sementara di hutan ini," ucap Eyang Guru lagi sambil membelai kepala macan hitam itu dengan hati-hati. Satu auman keras terdengar dari Mandala. Ia seolah menjawab perkataan Eyang Guru. Perlahan kawanan harimau itu berjalan menjauh lalu menghilang di kegelapan malam. Suara aumannya terdengar sayup-sayup seperti memberi pengumuman. Semacam pemberitahuan untuk seluruh warga hutan agar tidak menganggu tamu yang datang di wilayah mereka. Nalini menarik nafas panjang. Diusapnya air mata yang tak sadar sudah mengalir di pipinya sedari tadi. "Kita selamat lagi, Mbok," ucapnya terbata. Ia sangat terharu sekaligus bersyukur. Berulangkali nyawa mereka seperti berada di ujung tanduk. "Iya, Nduk. Eyang Guru berhasil membujuk mereka," kata Nyai Dhira. Sejak kecil ia sudah sering mendengar cerita kawanan macam yang menjaga hutan di pinggir desa mereka. Siapa sangka malam ini mereka benar-benar bertemu dengan raja hutan itu. "Terima kasih, Guru." Nyai Dhira menghaturkan hormat pada lelaki berbaju putih itu. "Ayo jalan lagi. Sebentar lagi kita sampai," ajak Eyang Guru. Kali ini ia berjalan lebih lambat. Dua perempuan yg mengikutinya sudah sangat letih ditambah salah satunya cedera. Mereka terus bergerak. Jalanan yang mereka lewati selanjutnya cukup terjal dan menanjak. Nyai Dhira dan Nalini sesekali harus berjalan merangkak agar tak terpeleset. Setelah melewati puncak tanjakan, terdengar suara air terjun dan gemericik air. Gua yang mereka tuju belum juga terlihat. "Guru, apakah masih jauh?" tanya Nalini seraya menghela nafas. Dia benar-benar sudah lelah. Tubuhnya terduduk lemas di atas rerumputan. Anak-anak rambut berjatuhan di dahinya. Eyang Guru menunjuk air terjun. "Itu di depan, sudah sampai," ucapnya datar. Nyai Dhira memicingkan matanya. Ia tak melihat mulut gua. Yang dilihat hanyalah air terjun yang cukup besar. Suara gemuruhnya terdengar tiada henti. "Di balik air terjun itu, ada gua rahasia. Kita harus berenang dan menerobos ke sana," jelas Eyang Guru. Tangannya menyibak tanaman ilalang setinggi lutut, bermaksud membuka jalan ke arah sungai. Nalini terkesiap mendengar ucapan Eyang Guru. "Hah? Berenang? Malam-malam gelap begini? Nyai Dhira ikut kebingungan. Seumur hidup ia tak pernah berlatih berenang. Belum lagi dengan kebaya dan kain yang melilit tubuhnya. Bisa jalan cepat saja sudah bagus. "Maaf, Guru. Kami tak bisa berenang," ucap Nyai Dhira. Ia berharap Eyang Guru mempunyai jalan pilihan lain. Eyang Guru memperhatikan dua perempuan di depannya. Dihelanya satu nafas panjang. Tampaknya ia berusaha untuk bersabar. Resiko bepergian dengan perempuan, antara sering mengeluh atau cerewet. "Aku tak memaksa kalian, kalau keberatan ikut, aku tinggalkan saja kalian di sini," ucapnya dengan nada tak peduli. "Ampun, Guru. Ampun. Kami ikut," sela Nalini sambil cepat-cepat bangkit dari duduknya. "Ayo, Mbok. Kita pasti bisa berenang." Nyai Dhira mengangguk lemah. Di saat-saat sulit begini, putrinya selalu bisa menjadi penyemangat hidup untuknya. Tertatih mereka berdua mengikuti jejak langkah Eyang Guru. Jalanan terasa licin tertutup rerumputan yang basah oleh embun pagi. Batu-batu hitam menonjol tak beraturan menambah sulitnya medan. "Pegang tangan Simbok erat-erat, Nduk." Nyai Dhira mengulurkan tangannya saat mereka hendak melewat turunan yang cukup curam. Nalini menggapai tangan ibunya. Namun, belum sempat mereka berpegangan tangan, Nyai Dhira kehilangan keseimbangan. Kaki kirinya tersandung batu dan membuatnya jatuh bergulingan ke bawah. Nalini tak bisa mencegahnya. Kejadian itu begitu cepat. Matanya membelalak lalu ia berteriak kencang-kencang. Tubuhnya gemetar ketakutan dan menggapai-gapai ibunya yang jatuh ke sungai. "Mbookk ... Simbookk!" Tubuh Nyai Dhira terus menggelinding jatuh ke bawah. Tak ada batu besar atau pohon perdu yang menahannya. "Toloong ...!!" jeritnya dengan putus asa. Tangannya masih berusaha berpegangan pada semak dan ilalang yang dilewatinya. Namun tubuh beratnya tak mampu ditahan oleh tumbuhan lemah itu Eyang Guru tampaknya juga kaget dan baru menyadari apa yang terjadi. Sontak lelaki tua itu meloncat-loncat, menyusul turun dengan ilmu meringankan tubuhnya. Namun terlambat. Ia kalah cepat. BYUR! Suara tubuh Nyai Dhira yang tercebur ke sungai terdengar oleh Nalini. Gadis itu tak peduli lagi dengan rasa sakit di kakinya, ia buru-buru menuruni tebing sungai, hendak mengejar ibunya. "Mbok, tunggu aku!" Sungai itu cukup dalam, arusnya kuat, dorongan dari aliran air terjun yang berada di dekatnya. Tangan Nyai Dhira terlihat menggapai-gapai. Tubuhnya timbul tenggelam karena tak bisa berenang. Matanya perih kemasukan air, paru-parunya juga serasa mau meledak karena tak bisa menghirup oksigen. Suara Nalini yang berteriak-teriak lambat laun terdengar sayup di telinganya. Nyai Dhira tak kuasa lagi bergerak, tenaganya sudah habis, seluruh tubuhnya lemas. Perempuan itu sudah pasrah, hanya kegelapan yang kini dilihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD