Bagaikan sebuah film singkat, perselisihanku bersama Abi melekat di pikiran. Ucapan Abi berputar di otakku, sehingga pelajaran yang di berikan Guru sulit aku pahami. Aku tenggelam sendirian dalam ingatan Abi.
“Salsa!”
“Astaghfirullah!” aku tersentak oleh pukulan Dwi di pundak.
“Lo kenapa, sih?”
Dwi yang bertanya, aku tatap dengan wajah cengo. Heran akan lontaran pertanyaan darinya. “Kenapa, maksudnya?”
Bola mata Dwi berputar malas, beriringan hembusan napas kasar. Tatapannya lebih menajam menatapku. Tubuhnya ia condongkan ke depan. “Lo kenapa? Dari awal lo masuk kelas melamun mulu. Kayak... Mayat hidup yang berjalan.”
Cukup lama aku terdiam tanpa jawaban. Deskripsi Dwi barusan, coba ku cerna. Sebegitu mengerikannya aku hari ini?
“Oh, nggak. Nggak ada apa-apa.” jawabku seadanya.
Sosok Tegar datang menghampiri kursi kami. Langsung saja Pria itu mengambil tempat duduk di sebelah Dwi. Ada tiga mangkok mie ayam yang ia bawa menggunakan nampan. Di susul pula Bude Kantin yang menghantar tiga jus jeruk.
Kepalaku menoleh panik ke kanan dan ke kiri. “Eh? Sejak kapan kita udah ada di Kantin?”
“Tuh, kan, Salsa! Lo aja gak sadar kita udah ada di Kantin!” bentak Dwi gemas. Tangannya mengguncang berkali-kali lenganku yang terlipat di atas meja.
Sebotol air mineral, Tegar sodorkan ke arahku. “Minum dulu, tuh! Otak lo kayaknya butuh Aqua biar fokus.”
Aku memijat pelan area kepalaku yang dirasa sulit untuk fokus. Botol air mineral yang tadi diberikan Tegar, aku ambil. Ku minum air mineral itu hingga tersisa setengah.
“Lo kalo ada masalah tuh, coba di ceritain sama gue.” Dwi menatapku kesal bercampur khawatir.
Benar juga. Dwi itu Sahabatku. Barang kali saja, ia dapat memberiku saran. Atau setidaknya, menjadi pendengar saja sudah lebih dari baik.
“Masalah sama Abi lo lagi?” tebak Dwi benar. Melihat raut wajahku yang terbelalak menandakan kebenaran, seulas senyuman tipis terpatri di bibirnya. “Kali ini apa lagi yang udah Abi lo perbuat? Coba cerita sama gue.”
Aku menatap lesu mangkok mie ayam yang di pesan Tegar. “Biasa, lah. Abi dengan segala ketidak-adilannya. Gue pengen aja gitu—“
“Hello, Princess pujaan hati Pangeran Yusuf!” kedatangan Yusuf yang tiba-tiba, menghentikan obrolan kami.
Dengan wajah yang tak berdosa, Yusuf duduk di sebelahku. Semangkok batagor dan segelas es teh, ia bawa. Sekilas ia menatapku dengan senyuman seperti biasa, sebelum mengambil kecap untuk batagornya.
“Lo bisa gak sih, Suf, dateng itu ucap salam dulu? Setidaknya permisi!” omelku menatapnya murka. Sementara yang aku ajak bicara, tidak menatapku balik. Melirik pun tidak. Tatapannya lurus ke depan, sibuk mengaduk batagor.
Yusuf membalas ucapanku, tanpa menoleh lagi, “Assalamu'alaikum my Princess. Sorry, buat kamu emosi terus. Gimana kabarnya hari ini?”
Sontak saja kedua tanganku mengepal kuat. Ingin rasanya aku mencakar-cakar wajah tampannya. Jika tidak mengingat, kalau pria dihadapanku adalah Anak Tante Nada.
Dwi terkikik geli. Selalu responnya begitu, setiap melihat pertengkaranku bersama Yusuf. Katanya, kami ini lucu jika sedang bertengkar. Sungguh sahabatku ini gila!
“Terus, Sal? Lajutin dong, curhatan lo lagi!” desak Dwi.
Gelengan kecil aku berikan. Dwi hendak memperotes, tapi mataku segera melirik ke samping. Tatapan Dwi pun mengikuti tepat ke Yusuf yang tengah memainkan ponselnya sembari makan. Seolah mengetahui maksudku, ia mengangguk.
Dwi mengajak berbicara Tegar setelahnya. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Sedangkan aku sibuk tenggelam dalam pikiran akan Abi. Yusuf sendiri, entah mengapa ia agak lebih pendiam dari biasanya. Apa saraf otaknya ada yang putus, jadinya ia banyak diam?
“Jangan natap gue terus. Entar naksir, naik pelaminan kita.” suara Yusuf menyadarkan aku dari lamunan.
Astaghfirullah, karena hanyut dalam pikiran akan Abi, aku tidak sadar jika sedari tadi melamun lagi. Dan tatapan kosongku itu, mengarah lurus ke Yusuf.
“Jangan ge'er! Gue gak ada natap, lo!” aku mendengus, membuang muka.
Terdengar kekehan kecil dari Yusuf. “Iya-in! Orang ganteng emang banyak fans, kok.”
Bulu kuduk-ku spontan terangkat semua. Kepercayaan diri Yusuf sungguh di atas rata-rata. Sekilas aku melirik ngeri wajah percaya diri Yusuf.
“Sal, kenapa lo gak pernah ajak Salwa ke Kantin bareng?” tanya Yusuf setelah menyedok batagor ke mulut.
Aku menatapnya aneh, yang tiba-tiba membahas Salwa. Biasanya setiap kali kami berkumpul ber-empat, Yusuf tidak pernah membahas ketidak-hadiran Salwa. “Tumben-tumbenan lo nanya dia. Kenapa? Lo rindu?”
Yusuf berdecak. Sendok yang ia pegang, dia taruh ke piring sehingga menimbulkan bunyi dentingan. Yusuf menatapku melas. Ekspresi macam apa yang ia perlihatkan padaku ini?
“Bukan masalah rindu atau nggak, tapi dia itu Saudara kembar, lo.” jari telunjuk Yusuf mengarah padaku.
“Loh, kenapa lo yang sewot? Serah-serah gue dong, mau ngajak dia atau nggak. Lagian yang Saudara kembaran sama dia kan gue, bukan elo!” omelku panjang lebar. Yusuf yang tampak ingin membalas, mengurungkan niat. Sepertinya Yusuf bingung membalas ucapanku bagaimana.
“Berantem mulu deh, kalian.” celetuk Tegar yang diangguki Dwi.
“Palingan jodoh, kita tinggal dateng.”
“Na’udzubillah mindzalik, gue jodoh sama diaaa!” tolakku keras, menjauhkan posisi duduk dari Yusuf.
“Aamiin..., jodohan sama Bidadari.” kedua tangannya, Yusuf usap ke muka. Meng-aamiinkan ucapan Dwi.
Adu mulut di antara kami mulai terjadi. Aku berada di pihak kontra, dan Yusuf yang di pihak sebaliknya. Perdebatan kami terhenti, tatkala Dwi yang berdiri. Sahabatku itu berteriak, memanggil nama seseorang.
“Afiq! Sini!”
Deg!
Jantungku hampir berhenti, mendengar nama orang yang tak asing itu. Pria yang tiap bertemu dapat menguras emosi. Pria ketiga, setelah Yusuf dan Abi yang paling mengesalkan di Dunia.
Aku menoleh ke arah lambaian tangan Dwi menuju. Di sana, Pria jangkung itu berjalan santai mendekati meja kami.
“Sesuai kesepakatan, kan?” Dwi menunjuk seluruh makanan yang tertata telah habis di meja. “Oh, ya, sama makanan Salsa dan Yusuf sekalian.”
“Heh, enak aja! Kesepakatannya gak jadi!”
“Loh, gak bisa gitu dong, Fiq! Lo kan, udah janji. Udah gue kasih nomor Salsa juga.” ketika namaku di sangkut pautkan, pelototan tajam aku berikan kepada Dwi.
"Nomor Salsa aja, kan? Gak nomor Salwa?”
“Ooohh... Kalian berdua kerja sama, dan lo Dwi! Tega bener elo, sampe kasih nomor gue ke nih, makhluk satu! Lo tau gak sih, gue di teror mulu sama dia!” tatapan lebih tajam dari sebelumnya aku berikan pada Dwi.
Nyali Dwi menciut. Dwi menggaruk kepalanya. Merasa bersalah. Termasuk tatapanku sekarang yang membuatnya salah tingkah. Dwi meraih tanganku. Menggenggamnya erat. Dwi memasang wajah memelas, layaknya orang yang minta dikasihani.
“Hehehe... Salsa, maafin gue. Niat gue cuma mau bantu Afiq PDKT sama Saudara kembar, lo. Tapi, berhubung saudara kembar lo gak bolehin orang lain punya nomor WA dia, jadinya gue kasih nomor WA lo aja. Menolong orang lain itu kan, baik, Sal. Lo sendiri yang bilang sama gue.” berbagai macam pembelaan Dwi ucapkan.
Berusaha Dwi membujukku agar tak marah. Aku membuang muka. Merajuk aku akibat Dwi dan Afiq yang bersekongkol. Melibatkan Saudara kembarku pula.
“Au ah! Gue kesel sama, lo!” bentakku. Aku membalikkan tubuh berniat beranjak pergi, namun seseorang yang berjalan berlawanan arah membuatku menabrak orang tersebut.
Aku terjungkal ke belakang. Begitu pula orang yang aku tabrak. Semangkok bakso yang orang itu bawa, tumpah mengenai bajuku. Baju orang yang aku tabrak tadi juga basah terkena kuah bakso.
“Salsa, maaf! Aku gak sengaja!” orang yang sangat aku kenal ini, sibuk membersihkan bajuku yang kotor dengan kuah bakso.
Aku memperhatikan saja wanita yang wajahnya begitu mirip denganku ini. Kembaranku itu tampak cemas sembari membersihkan tumpahan kuah bakso di bajuku. Dwi yang menyaksikan kejadian ini, turut menghampiri aku dan Salwa.
“Salsa, lo gak apa? Ke Toilet gak? Kita bersihin dulu baju lo di sana.” tawar Dwi, menatap prihatin seluruh bajuku yang di penuhi kuah bakso.
Lingkungan sekitar mulai ramai di selimuti orang-orang yang merasa penasaran. Di antara keramaian, tiga wanita paling populer di Sekolah datang dan langsung membelah keramaian. Salah satu dari tiga orang itu mendorong kasar tubuh Salwa.
°°°
“Lo gimana, sih?! Bawa bakso pesenan gue aja gak becus! Cepet ganti bakso gue sekarang! Keburu masuk, entar!” oceh seorang wanita yang diketahui ialah Chantika. Ketua Geng's pembuli paling tersohor di Asian's International School. Sekaligus wanita yang selalu membuli Salwa di mana pun dan kapan pun.
“Lo ngomong bisa santai gak, sih?” sela Afiq, yang langsung Chantika beri tatapan tajam. Ini kali kedua Afiq berhadapan dengan Chantika. Berhadapan di saat Chantika sedang membuli Salwa, persis seperti sekarang.
Afiq menyambung ucapannya lagi. “Eh, denger, ya? Pasang kuping lo itu baik-baik. Lo jangan songong, dan harusnya lo itu berterima kasih. Masih untung si Salwa mau bantuin, elo. Lagian elo manja banget jadi cewek! Bawa bakso aja gak bisa.”
Gigi Chantika saling beradu, menimbulkan bunyi gemertak. Tangan wanita itu mengepal kuat. Afiq tahu betul, bahwa wanita itu sebentar lagi akan meledakkan amarah. Namun, Afiq berusaha santai. Baginya Chantika memang pantas di perlakukan seperti tadi.
Jari telunjuk Chantika mengarah tepat ke Salwa. Wanita itu menunjuk Salwa tajam. “Awas, lo! Tunggu pembalasan gue, cupu!”
Kalimat itu menjadi akhir dari ucapan Chantika. Tiga orang itu beranjak pergi setelahnya. Kepergiaan mereka ditatap seluruh mata penghuni Kantin.
“Lo gak apa?” tanya Afiq pada Salwa. Gelengan lemah Salwa berikan.
Salwa tidak bersuara untuk menjawab pertanyaan Afiq, melainkan ia bertanya pada Salsa. Baju Salsa yang masih kotor, menjadi persoalan terbesar bagi Salwa. Padahal bajunya pun juga sama kotor seperti Salsa.
“Salsa, mau aku bantu bersihkan? Maaf sekali lagi.”
“Udah, lah!” Salsa menepis tangan Salwa yang menyentuh pundaknya. Kembarannya itu, Salsa tatap sinis. “Jauh-jauh aja dari gue, itu udah lebih dari cukup. Setiap kali lo deket gue, pasti ada aja masalah yang nimpa gue. Lo itu pembawa sial.”
Deg!
Jantung Salwa serasa berhenti dua detik, mendengar ucapan Salsa. Denyutan pedih, Salwa rasakan menggerogoti hatinya. Salwa merasa matanya memanas. Ia tahu, kalau sebentar lagi ingin meneteskan air mata. Oleh karena itu, Salwa memilih menunduk dalam, agar air matanya tak tumpah dan dilihat khalayak ramai.
“Salsa, gue rasa, lo gak seharusnya ngomong gitu ke Salwa. Salwa cuma mau bantu lo, apa susahnya terima aja?” tegur Yusuf.
Bukan hanya Salwa pribadi yang merasa sakit oleh perkataan pedas Salsa, tapi empat orang yang berpijak di satu tempat yang sama dengan saudara kembar itu pun, merasa hati mereka berdenyut.
“Kenapa? Gak boleh, huh?” tanya Salsa sarkas. Sekilas ia tertawa getir. "Oh, sekarang lo mau ikut-ikutan kaya Bokap gue, iya? Ikut-ikutan bela dia juga? Bela aja terus!"
“Eh, bukan gitu, Sal! Maksud gue—“
Belum sempat Yusuf meneruskan ucapannya, Salsa sudah berjalan pergi. Lima orang itu menatap cengo kepergiaan Salsa yang tanpa pamit.
Beberapa saat hening, Afiq bersuara. “Tuh, cewek, ada masalah apa sih hidupnya? Sensi-an amat perasaan.”
“Lo kalo gak tau masalah, diam aja.” balas Yusuf dingin. Sepertinya pertemuan pertama dua lelaki ini kurang baik.
Memang Afiq dan Yusuf satu kelas, namun mereka jarang berkomunikasi. Ini adalah pertama kalinya mereka berbicara empat mata. Sayagnya dalam situasi yang memanas pula.
°°°
Noda di pakaian Salsa sudah sedikit memudar. Mulut Salsa tak henti-hentinya menggerutu, sembari membersihkan noda di pakaiannya itu. Nama Salwa terselip di setiap ocehan Salsa.
Salsa memandang kesal bajunya yang terkena noda di cermin Toilet. “Emang udah bersih sih, tapi, jadinya basah.”
Selanjutnya Salsa berdecak, “Gak di Rumah, gak di Sekolah, itu orang selalu aja cari masalah sama gue. Ujung-ujungnya yang salah gue, bukan dia. Liat aja, pasti di Rumah, Abi marahin gue karena baju Anak kesayangannya kotor.”
Merasa pakaiannya sedikit bersih dari sebelumnya, Salsa berniat menyudahi aktivitasnya di Toilet. Tetapi, ketika Salsa ingin beranjak pergi, pendengaran Salsa tak sengaja menangkap tangisan lirih dari salah satu pintu Toilet.
“Hiks... Hiks... Hu... Huhu... Hiks... Hiks...”
Di satu ruangan itu, terdiri dari tiga toilet wanita yang berjajar. Kupingnya Salsa pasang lebih jelas. Menyimak tangisan lirih itu berasal dari salah satu tiga Toilet yang mana. Meskipun sudah di simak, Salsa masih kesulitan untuk menebak asal tangisan lirih tersebut di mana.
Perlahan kaki Salsa mulai melangkah, mendekati Toilet pertama. Dengan pelan sekaligus ragu, Salsa membuka pintu Toilet pertama.
Dan, tidak ada apa-apa. Kosong. Tangisan itu malah semakin jelas, seolah menyuruh Salsa lebih mendekat padanya. Toilet kedua selanjutnya Salsa datangi. Sama seperti Toilet pertama, Salsa membuka pintunya.
Kosong.
Tidak apa-apa. Tersisa satu Toilet, jantung Salsa berdetak tak karuan. Napas Salsa memburu. Salsa ragu, apakah harus membukanya atau tidak. Niat Salsa tidak ingin membuka, namun tangisan itu semakin kencang yang membuat rasa penasaran Salsa tak bisa dihindari.
Sebelum membuka pintu tersebut, Salsa menghela napas lantas membaca basmallah. Dengan tangan yang bergemetar hebat, Salsa memberanikan diri membuka pintu Toilet terakhir.
Dan, kosong lagi. Ketiga Toilet itu kosong tak berpenghuni.
“Kosong... Gak ada apa-apa, kok... Terus... Suara tadi asalnya dari mana?”
Kepala Salsa bergerak bingung ke sana ke mari. Di saat Salsa menoleh bingung ke segala arah, ada sesosok wanita menyeramkan yang berdiri di belakangnya. Wanita itu memiliki kuku-kuku yang sangat panjang. Kedua tangan wanita yang di penuhi kuku-kuku itu, menyentuh pelan pundak Salsa dari belakang.
Sebuah bisikan berderu napas hangat, Salsa rasakan di gendang telinganya. “Ada di sini... Hi... Hi... Hi...”
Bruk!
“Aaaaa!!!” tubuh Salsa terdorong masuk ke Toilet berukuran kecil itu.
Brak!
Ceklek!
Pintu tiba-tiba saja tertutup. Segera Salsa berlari menuju pintu. Mengetuk-ngetuk pintu itu, sembari berteriak minta tolong. “Tolong! Buka! Bukain pintunya! Siapa pun, buka pintunya tolong! BUKA! PLEASE, BUKA PINTUNYA!”
Air mata berjatuhan membasahi pipi Salsa. Salsa sangat dilanda ketakutan. Apa lagi sekarang lampu di Toilet itu mulai berkedip-kedip. Lama berkedip tanpa sebab, lampu itu akhirnya mati. Beriringan dengan matinya lampu, Salsa menjerit ketakutan.
“GUE MOHON BUKA PINTUNYA! PLEASE...” Salsa berteriak, menangis, dan mendobrak pintu sejadi-jadinya, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda seseorang yang akan datang.
Untaian rambut hitam nan panjang, menjulur dari atas. Salsa terkisap, memandang kaku rambut itu yang mulai menutupi separuh wajahnya. Seluruh tubuh Salsa bergemetar. Ingin memejamkan mata, namun terasa sulit di lakukan.
Ketika seluruh rambut itu menutupi wajahnya, Salsa melihat wajah menyeramkan keluar dari untaian rambut tersebut. Wajah wanita yang hancur di penuhi ulat belatung.
“ALLAHUAKBAAARRR!”
Salsa menjerit kencang, langsung mendobrak pintu dan berhasil keluar dari sana. Saat sibuk berlari, Salsa tidak memandang ke depan melainkan ke belakang. Alhasil ia menabrak seseorang, lagi. Kali ini orang yang ia tabrak, menahan lengannya agar tak terjungkal jatuh seperti insiden di Kantin.
Tanpa melihat siapa orang yang ia tabrak, Salsa memeluknya erat. Memeluk penuh ketakutan orang itu.
“Tolongin gue... Gue takut... Hiks... Hiks... Tolong...” lirih Salsa, menangis segugukan di dalam pelukan orang itu.
“Hei, Salsa. Gak apa, okay? Tenang, ada aku di sini. Sekarang kamu gak apa.”
Suara lemah lembut yang berasal dari orang ini, semakin mengetatkan pelukan Salsa. Mendengar suara yang tak asing lagi di pendengaran, membuat Salsa enggan melepaskan pelukannya. Pelukan ini, entah mengapa terasa hangat.
“Gue... Gue takut, Salwa. Gue takut... Banget...” adu Salsa dengan suara gemetar.
Salwa ikut mengetatkan pelukannya. Berusaha menjadi pelindung Salsa yang ketakutan. Salwa sendiri merasa senang dengan posisi ini, sebab kali pertamanya mereka berpelukan sejak tragedi naas beberapa tahun silam.
“Iya, Sal. Kamu gak perlu takut lagi, kan, udah ada aku.”
Hati Salsa merasa tenang mendengar ucapan Salwa. Sementara Salwa sendiri, mulai dilanda ketakutan layaknya Salsa barusan. Pasalnya Salwa melihat sosok yang sempat mengganggu Salsa, memandang mereka bengis di dalam Toilet yang pintunya terbuka.
°°°
Dugaan Salsa saat di Toilet benar. Sesampainya di Rumah, Salsa sudah di suguhkan dengan berbagai macam ocehan dari Abinya. Terlihat Salwa yang terduduk di sofa. Kepalanya menunduk dalam seperti biasa, setiap kali perdebatan Salsa dan Reza terjadi. Di samping Salwa, ada Uminya yang hanya diam tak berkata apa pun. Uminya itu hanya menatap ia prihatin.
“Salsa! Kenapa baju Salwa bisa kotor begitu? Kamu ke mana sih, sampe keadaan Saudara kembar aja gak ke toleh lagi? Kamu selalu sibuk dengan dunia kamu sendiri! Liat! Pulang juga selalu terlambat!”
Salsa menghela napas. Ocehan Abinya ia anggap angin lalu. Ini sudah biasa, bagi Salsa pribadi. Tentang dia selalu pulang terlambat, itu karena Salsa sengaja agar tak bertemu Abinya.
Walaupun Abinya terkadang di Kantor, bisa saja beliau ada waktu luang. Salsa tidak tahan mendengar ocehan Abinya. Perasaan Salsa, ada saja yang salah dari dirinya di mata Sang Abi, hingga Salsa merasa muak. Itu lah penyebab Salsa sengaja pulang terlambat.
“Salsa! Kamu denger gak, Abi ngomong apa?! Berhenti gak, kamu!” teriakan menggelegar Reza, berhasil menghentikan langkah Anaknya di salah satu anak tangga.
Salsa membalikkan tubuh. Ekspresi Salsa datar bercampur malas, menatap Abinya yang murka.
“Salsa denger kok, apa yang Abi bilang.” Jaket yang ia kenakan, Salsa buka. Di tunjukkannya lah, bekas kuah bakso yang masih samar terlihat di baju. “See? Baju Salsa juga kotor kena kuah bakso, sama kayak baju Salwa. So, Abi jangan lebay.”
Reza diam. Memandang baju Salsa yang sama kotornya seperti Salwa. Diamnya Reza, menimbulkan seulas senyuman kecut di bibir Salsa.
Salsa melanjutkan kata-katanya lagi, “Kenapa Abi diem? Kok, nggak marah dan panik kayak ngeliat baju Salwa yang kotor?” jeda tiga detik, Salsa berdecih pelan. “Oh, apa karena Salwa Anak Abi, ya? Sementara Salsa kan, cuma orang asing di sini. Jadi... Abi gak terlalu perduli dengan baju Salsa yang kotor. Begitu kan, Abi?”
Reza masih diam, tanpa satu kata pun yang terucap. Bagian kalimat orang asing, sengaja Salsa tekan. Dan Reza tahu, maksud dari penekanan Salsa. Anaknya itu bermaksud menyindir dirinya.
Di rasa tak ada lagi yang perlu di bahas, Salsa melangkahi kembali anak tangga menuju kamarnya. Salsa ingin cepat-cepat beristirahat. Bukan hanya tubuhnya yang butuh istirahat, hatinya pun juga. Hatinya terlampau banyak di sakiti. Hatinya yang memanas, butuh di tenangkan.
Selesai mandi dan mengganti pakaian, Salsa naik ke ranjang kasur. Ia menyenderkan tubuhnya di tumpukkan bantal empuk yang banyak. Nyaman. Itu yang Salsa rasa.
Mata Salsa terpejam dengan posisi kepala mengarah ke langit-langit. Perselisihannya bersama Sang Abi di lantai bawah barusan, terngiang-ngiang di pikiran. Semua perselisihan bersama Sang Abi, selalu Salsa pikirkan di situasi hening.
“Ini-lah alasan kenapa gue sulit bersikap baik sama lo, Salwa.” gumam wanita itu. “Semuanya karena Abi. Karena Abi yang membedakan kita. Gue gak suka di bedakan, dan harusnya lo tau itu.”
Lama kelamaan, mata Salsa terasa berat. Seperti ada banyak tumpukkan batu yang memenuhi bola matanya. Mata Salsa mengerjap-ngerjap. Beberapa kali mulutnya menguap. Salsa mulai menutup mata, berniat memasuki alam bawah sadar.
Tring!
Namun, suara dering dari ponselnya yang berada di atas nakas, membuka mata Salsa. Salsa meraih ponselnya itu. Memeriksa pesan masuk dari siapa, yang mengganggu proses tidurnya.
Nomor yang tak di kenal, memberi sebuah pesan. Pesan yang mampu mengerutkan alis Salsa, dalam hitungan detik.
Salsa, save kontak gue. M. Taufiqurrahman. Gue Afiq, temennya Dwi. Yang pernah nelfon lo, sekaligus tetangga lo. Oh, ya, dan juga salam kenal, meskipun udah telat
°°°
Bersambung...