6. Serupa Tapi Tak Sama

1882 Words
Pintu rumahnya Lala tutup. Lala ingin pergi menemui para kelima sahabatnya. Setiap hari Jum'at, mereka menghadiri kajian rutin. Kajian mengenai dakwah ini, diadakan di Masjid Komplek. Terkhusus Ibu-ibu. Ada juga untuk semua kategori, punya jadwal tersendiri. Lala berbalik ke belakang, namun dia dibuat membeku. Berdiri tubuh tegap Reza di samping mobilnya. Ah, Lala lupa. Reza memang pulang hari ini, tetapi sayangnya Lala lupa menjemput. Padahal dari awal ia bangun pagi, sudah mati-matian mengingat untuk menjemput Reza. Apa daya, otaknya lupa karena faktor usia. Dua orang itu saling bertatapan. Tatapan kosong satu sama lain. Semilir angin berhembus, menunjukkan waktu yang bergulir. "Lupa, jemput Suami sendiri?" tanya Reza dingin. Dinginnya mampu menusuk hati Lala. Sebentar Lala terdiam. Pikirannya tengah bergulat di dalam otak. Memikirkan jawaban terbaik seperti apa, yang harus ia berikan pada Reza. “Kamu udah besar. Jangan manja. Kamu bisa berpikir gimana caranya pulang sendiri.” itulah jawaban yang Lala lontarkan. Lala berjalan layaknya biasa. Melewati Reza yang menatapnya masih dingin. Berusaha Lala memberanikan diri. Telapak tangannya sudah meraih ganggang pintu mobil, namun Reza datang mendekat dan menggenggam erat lengan Lala. Mereka saling bertatapan. Melontarkan tatapan yang begitu tajam bak silet. “Lepas!” bentak Lala. Lengannya ia hentak-hentakkan, berupaya melepaskan genggaman tangan Reza. “Gak akan aku lepasin, sebelum kamu kasih jawaban yang jelas buat aku!” “Jawaban yang jelas bagaimana lagi, hah?!” genggaman tangan Reza di telapak tangan Lala, akhirnya bisa terlepas. Lala menghela napas panjang. Barusan saja dia tanpa di sengaja meninggikan suara kepada Suaminya. Jelas itu perbuatan terlarang. Oleh karenanya, Lala coba menenangkan diri. Meredam amarahnya yang hampir saja keluar. “Sebaiknya kamu istirahat. Tubuh kamu pasti capek.” Lala memijat pelan keningnya yang sedikit berdenyut di tengah, antara dua alis mata. “Hari ini aku ada jadwal pengajian di Masjid sama Ibu-ibu Komplek lainnya. Assalamu'alaikum.” Setelah mengucapkan salam, Lala membalikkan badan. Tetapi, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tiba-tiba saja, Reza memeluknya dari arah belakang. Pelukan itu sangat erat. Mampu membuat jantung Lala hampir berhenti. Bahkan Lala sempat dibuat menahan napas selama beberapa detik. “Maafin aku...” bisik Reza, tepat di telinga Lala. Sangat dekat, hingga hembusan napas Pria itu dapat Lala rasa. “Aku tau, apa yang aku perbuat kemarin itu salah. Gak seharusnya aku semarah itu sama Salsa.” Pelukan Reza, secara perlahan Lala lepaskan. Wanita itu berbaik ke belakang. Kini mereka saling bertatapan. Kedua pundak Reza yang berbalut jas, Lala sentuh menggunakan masing-masing tangannya. “Minta maafnya sama Salsa. Dia orang yang hatinya paling tersakiti oleh ucapan, kamu. Setelah kalian baikkan, aku harap gak akan ada lagi pertengkaran. Aku ingin keluarga kita harmonis, kayak keluarga lainnya. Terutama hubungan Salwa dan Salsa semakin membaik.” Reza mengangguk. “Iya... Aku harap juga begitu.” jeda sejenak. “Jadi, kamu maafin aku, kan?” Alis Lala sontak bertautan. “Maaf? Buat apa?” “Kemarin kamu marah sama aku, jadi... Udah seharusnya aku minta maaf, bukan?” Sebelah alis Lala terangkat. “Marah? Nggak! Aku gak marah. Aku hanya kecewa dengan, kamu.” Pernyataan dari Lala, menampar hati Reza. Kepala Reza menunduk penuh rasa bersalah. “Iya... Aku merasa gagal, jadi seorang Ayah yang baik.” Dengan cepat, kepala Lala menggeleng memberi respon. “Nggak! Kamu gak gagal! Masih ada waktu buat kamu, untuk mengubah segalanya.” Lala menggenggam erat kedua tangan Reza. Dari genggaman itu, Lala menyalurkan semangat untuk Reza. Berkat genggaman tangan Lala, seulas senyuman hadir di bibir Reza. Ia pun mengecup sayang kening Istrinya, lalu berbisik, “Terima kasih, Istriku. Kamu emang penyemangat aku. Tetaplah bersama aku, baik suka mau pun duka, ya?” Pengakuan Reza yang kelewat romantis, sehingga menimbulkan rona merah di kedua pipi Lala. Sudah belasan tahun ia hidup bersama Reza, tetapi masih saja ia malu akan setiap kata romantis yang Reza ucapkan. “EKHEM! ROMANTISAN TEROOOSSS!” teriakan yang berasal dari sebelah halaman rumahnya, menyadarkan Lala dan Reza dari mabuknya asmara. Yang barusan berteriak adalah Nada. Pemandangan Wanita itu merasa terganggu, ketika baru keluar dari rumah bersama suaminya yang tampak diam di sebelah. David memaklumi mulut Nada yang terkadang tidak bisa di jaga. Suka sekali memang, Ibu beranak dua itu mengganggu keharmonisan orang. Wajar saja, setiap ia ingin romantisan bersama Suami ada saja yang mengganggu. Kadang Yusuf, kadang Hawa. Anggap saja, itu merupakan karma bagi Nada. “Udah tua, Bu, malu sama umur! Ingat, Bu. Ibu punya tetangga. Dunia serasa milik berdua, yang lain cuma numpang makan!” cerocos Nada lagi, semakin sarkas. “Aduuhh... Ibu Nada ini, ya, nyinyir terooosss kerjaannya! Gak capek, Bu, nyinyirin tetangga?” balas Lala lebih sarkas. Jika ada orang yang melintas tidak mengetahui bahwa mereka adalah sahabat dekat, pasti dua orang itu sudah di anggap musuh pebuyutan. “Asek, baku hantam kayaknya!” entah kapan datangnya, tiba-tiba Yusuf sudah ambil posisi jadi penonton gelap. °°° Kamar dengan warna biru muda bercampur putih itu, terlihat berantakan sekali. Buku di mana-mana, baju yang berserakan di lantai, hingga seprai kasur yang tak terpasang di tempat semestinya. Semua barang yang ada di kamarnya, Salsa buang ke sembarang arah. Wanita itu mondar-mandir ke sana ke mari. Mulutnya tak berhenti bergumam satu hal. “Itu benda ke mana? Di mana? Kok, nggak ada?!” Bawah kolong kasur pun, Salsa cari. Namun, sesuatu yang ia cari sedari tadi, tak di temukan. Tubuhnya berdiri tegak dari posisi jongkok menghadap bawah kasur. Ia berkacak pinggang, dengan pandangannya mengedar ke segala arah. “Kalo gak ketemu, entar Abi nanyain lagi! Aduh! Kenapa gue bisa se-ceroboh ini, sih?! Masa barang itu bisa hilang dalam hitungan jam?!’ gerutunya. Untung saja  kamar Salsa itu di desain kedap suara, jadi ia bisa leluasa berteriak sesuka hati. Drt... Drt... Ponselnya yang berada di meja belajar bergetar nyaring. Getaran itu menandakan ada panggilan masuk. Salsa berjalan menuju ponselnya yang menampilkan panggilan masuk dari nomor tak dikenali. Melihat nomor tanpa nama itu, alis Salsa mengkerut bingung. Tidak menunggu waktu lama, Salsa menekan panel berwarna merah. Panggilan itu ia akhiri. Malas baginya, menerima panggilan tanpa nama. Palingan, itu panggilan dari seorang yang berniat iseng. Kembali Salsa berkeliling kamar. Mencari barang yang teramat berharga dari seseorang yang tentunya berharga bagi dia. Dan, yang menjadi pertanyaan, apakah orang yang ia anggap berharga itu, juga menganggapnya berharga pula? “Kalo gak ketemu juga, gue nangis beneran, nih!” batas kesabaran Salsa mulai habis. Rasanya ia ingin mencekik diri saja. Kedua kakinya terasa pegal, akibat berkeliling saban hari mencari benda itu. Drt... Drt... Emosi Salsa bertambah, tatkala ponselnya mengeluarkan suara lagi. Begitu ia melihat, nomor tak dikenali yang sama menelepon nya untuk kedua kali. Karena tak ingin terus-terusan di ganggu, akhirnya Salsa menerima panggilan tersebut dengan hati yang terpaksa. “Lo siapa, hah?! Iseng bener, jadi orang!” “Eh, selo dong, Mbaknya!” “Ha?” Suara di seberang telepon, sangat Salsa kenali. Itu suara Afiq. Salsa dibuat bingung, sebab Afiq mengetahui nomor ponselnya. Padahal Salsa ingat benar, kalau ia tak pernah memberikan nomor ponselnya kepada Afiq. “Lo Afiq?” tanya Salsa memastikan. “Ya, iya, lah! Masa gue setan!” Bola mata Salsa berputar malas, mendengar jawaban Afiq yang aneh. “Tau dari mana lo, nomor gue?” “Ra-ha-sia!” satu kalimat itu, Afiq sebutkan perkata penuh penekanan. “Oh, ya udah, gue tutup!” “Eh, eh, jangan!” cegah Afiq. “Oke, oke, gua kasih tau! Tapi, lo jangan tutup dong, telefonnya.” “Gak usah! Gue udah tau, siapa yang ngasih nomor gue ke, elo.” Dari seberang telepon, ekspresi Afiq menegang. “Se—serius? Coba tebak, siapa orangnya kalo elo tau.” “Dwi.” “Eh, kok, lo tau?!” intonasi suara Afiq yang tiba-tiba meninggi drastis, membuat gendang telinga Salsa berdengung. Sontak ponselnya ia jauhkan. Kupingnya yang berdengung, Salsa usap pelan. “Gila, lo! Tanggung jawab, kuping gue hampir budeg karena teriakan cempreng, elo!” Afiq menggaruk rambutnya. Ia terkekeh canggung. “Hehehe, maaf!” Salsa berdecak. Maksud dari Afiq yang meneleponnya, sangat ia tahu benar. Ini menyangkut masalah lari pagi waktu itu. Maka dari itu, Salsa langsung berbicara ke inti permasalahan tanpa bertele-tele. “Elo mau minta nomor HP Salwa, kan?” “Sumpah, lo peramal, ya? Takjub gue, karena tebakan lo selalu bener.” Salsa mendengus. “Ribut, lo! Eh, denger! Jawaban gue masih sama, gue nggak akan ngasih nomor Salwa ke, elo!” “Pokoknya gue mau nomor Salwa! Gue udah bayar mahal dengan sahabat, lo!” “Lo pikir Saudara gue barang, seenaknya lo bayar-bayar!” Perdebatan di telepon terjadi. Teriakan dan cacian, terlontar baik dari Salsa mau pun Afiq. Karena Salsa sibuk mengurusi tingkah Afiq yang menjengkelkan, ia tidak menyadari ganggang pintu kamarnya yang bergerak. Seseorang mencoba memasuki kamarnya. Kebiasaan Salsa yang tak pernah mengunci pintu kamar. Pintu terbuka, menampakkan sosok tegap Reza. Kedatangan Reza, di sambut oleh semua barang Salsa yang berserakan. Reza menatap semua barang anaknya yang berserakan di lantai. “Salsa Dyvia Almahdhoor!” Teriakan menggelegar itu, sontak memutuskan percakapan Salsa di telepon. Bariton yang terdengar barusan, Salsa kenali siapa pemiliknya. Perlahan, Salsa berbalik dari posisinya yang membelakangi pintu. Dugaan Salsa benar. Itu Abinya, yang tengah berdiri marah di ambang pintu. “Okay, Salsa... Ini salah satu masalah yang menghampiri hidup lo lagi.” batin Salsa, seakan mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. “Kenapa kamar kamu berantakan begini?!” Reza mengedarkan pandangannya ke semua barang Salsa yang berserakan. “Salsa habis nyari barang yang hilang, tapi gak ketemu.” “Itu karena kamunya aja yang ceroboh!” balas Reza cepat. “Gimana barang gak hilang, kamar kamu aja begini bentuknya!” “Iya, Abi. Nanti Salsa bereskan.” kali ini, Salsa bersuara lembut. Tidak bernada tinggi seperti biasa. Ia ingin, sedikit manis menghadapi amukan Abinya. Salsa berpikir, jika membalas dengan suara pelan, maka Abinya akan melunak. “Kamu ini, ya, beda banget sama Salwa Kakakmu! Dia itu punya kamar bersih, wangi, gak kotor kayak kamar, kamu!” Namun nyatanya, apa pun yang Salsa lakukan, selalu salah di mata Sang Abi. Salsa menghembuskan napas. Sekali lagi, ia mencoba sabar. Tetapi, Abinya melontarkan ucapan lagi yang membuat kesabarannya runtuh. “Abi pengen kamu itu kayak Salwa. Yang sifatnya baik, gak se-brutal kamu. Heran, kalian itu diciptakan dengan rupa yang sama, tapi kenapa sikap kalian berbeda?” “Karena aku Salsa, bukan Salwa-nya Abi yang kalem minta ampun macam Ibu Peri!” jawab Salsa lantang. “Jangan salahkan Salsa, jika wajah kami sama tapi punya sifat berbeda! Salahkan Allah yang menciptakan Salsa beda dari Salwanya Abi!” “Kamu ini, Salsa! Abi baru aja pulang dan ketemu sama kamu, tapi kamu udah mancing emosi aja!” “Karena emang jalur pemikiran kita berbeda, dan selamanya kita gak akan punya hubungan baik layaknya Anak dan Ayah!” tanpa rasa takut, Salsa menjawab setiap ucapan Abinya. Pintu kamar yang setengahnya tertutup, Salsa buka lebar. “Abi kayaknya salah kamar. Sebaiknya Abi keluar. Kamar yang Abi tuju ada di sebelah. Tempat di mana Anak kandung Abi yang sebenarnya berada.” Reza menatap tak percaya, dengan apa yang Anak kandungnya sendiri lakukan padanya. Salsa dihadapannya, tengah membuka pintu lebar. Menyuruhnya keluar dari kamar ini. Reza baru saja di usir oleh Anaknya sendiri. Niat hati datang kemari ingin mengajak damai, malah takdir menyuruh api peperangan semakin berkobar. Mendapati perlakuan Anaknya, Reza merasakan nyeri di dalam hati. Reza pun berjalan mendekati pintu. Sebentar Reza terdiam sebelum keluar. Reza menatap lekat putrinya ini yang mengarahkan pandangan ke segala arah. Arti tatapan Salsa, yang tak berani menatap Reza. “Ucapan kamu benar. Kamu memang bukan Anak Abi.” Deg! Tubuh Salsa mematung. Susah payah, Salsa sedikit menoleh menatap punggung Abinya yang mulai menjauh. Tangannya bergemetar hebat, menutup pintu kamar. Kaki Salsa lemas, dan sulit rasanya menyeimbangkan tubuh. Akhirnya, tubuh Salsa merosot jatuh di lantai. Salsa menyender di pintu. Tangisannya pecah. Selalu saja ia begini. Meringkuk dengan tangisan pilu yang menyayat luka di hati. “Bener, kan, Umi... Salsa bukan Anak Abi...” racau Salsa, di sela-sela tangisannya. Tanpa Salsa sadari, sambungan teleponnya bersama Afiq belum terputus. Dari awal pertengkaran Salsa dan Abinya, Afiq dengar jelas semua. Hingga tangisan segugukan Salsa pun, Afiq dengar baik. Sambungan itu pun, Afiq akhiri. Layar ponselnya yang tertera nama “Salsa Cewek Bar-bar”, ia tatap. Sorot matanya beralih ke atap kamarnya. Dengan pelan, ia membanting tubuhnya di kasur. Ponselnya, masih setia ia genggam. Afiq menghela napas. “Emang bener kata orang, kalo senyuman bisa menipu segalanya.” °°° Bersambung... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD