Matahari belum sepenuhnya terbit. Langit masih sedikit menggelap. Udara dingin berhembus menerpa dedaunan. Hari ini, hari minggu. Seperti biasa, hari di mana aku melakukan rutinitas, lari pagi untuk menyehatkan badan.
“Salsa, kamu gak sarapan dulu?” Umi bertanya, menghentikan langkahku yang sebentar lagi ingin menuju ruang tamu. Keluar rumah, berniat memulai lari pagi.
“Gak, Umi. Salsa lagi puasa.” berusaha nada bicaraku tak diketuskan. Aku tak ingin terlihat sedang marah pada mereka. Semenjak kejadian kemarin, aku jadi jarang berbicara.
“Duh, Nak, kok lagi puasa malah lari pagi? Yaudah, kalo kamu lagi puasa, setidaknya duduk bareng kami sebentar di sini. Abi kamu kan, mau pergi ke Turki hari ini. Entar kamu rindu lagi, sama Abi.”
Justru karena itulah aku menghindar. Aku tak ingin bertatap muka dengan Abi. Ada Salwa juga di sana. Suasana bisa dipastikan canggung. Sebenarnya aku sedang tidak berpuasa. Alasan barusan hanya kebohongan belaka. Tentang Abi, beliau pergi ke Turki untuk rapat Perusahaan Wijaya dengan Dewan direksi se-Eropa. Ada Kakek dan Om Ozan juga di sana.
Waktu muda dulu, Umi pernah mengatakan jika Abi bekerja sebagai Penghulu. Profesi itu berganti, setelah ia resmi menikahi Umi. Mengingat Umi mendapatkan salah satu jatah perusahaan, jadi Abi-lah yang memegang. Karena dia adalah Suami Umi. Umi memang tidak suka memegang kendali bisnis. Beruntungnya Abi memegang kepemimpinan di Perusahaan cabang Wijaya yang berada di Indonesia.
“Eh, Umi, Dwi udah dateng sama Tegar. Salsa buru-buru banget ini, Umi! Assalamu'alaikum, Umi... Dadah!” secara halus, aku tetap menolak. Dengan cara berbohong sedikit lagi, mungkin tak apa.
“Bisa gak, kamu kumpul bareng sama kami? Sekali aja, Sal! Kita gak pernah kumpul keluarga. Bercanda bareng. Kamu selalu menghindari kami.” usahaku untuk kabur, lagi-lagi tergagalkan. Salwa tiba-tiba bersuara lantang. Mendengarnya bersuara, membuatku kesal dan tidak tahan untuk menjawab.
Tubuhku berbalik. Aku melangkah mendekatinya. Posisi berdirinya berada sebelahan sekali dengan Abi. Abi yang duduk di meja makan, memasang wajah bingung. Jarak antara aku dan Salwa sudah menipis.
Jari telunjukku menunjuknya tajam. “Asal lo tau, elo yang buat gue menjauh! Harusnya lo berpikir! Lo itu perusak dalam hidup gue, Salwa! Jangan harap gue mau kumpul bareng sama manusia menjijikkan kayak, elo!”
Brak!
“Salsa! Jaga sikap, kamu!” Abi berdiri dari posisi duduk. Gebrakan meja yang keras membuatku tersentak. Suasana langsung hening. “Jangan menyalahkan orang lain atas semua kesalahan kamu sendiri! Kamu marah begini karena kesal mau di pindahkan?! Iya, Salsa?!”
Bibirku tertarik ke atas. Tersenyum miris. Rupanya Abi mempunyai kepekaan juga. “Abi udah tau alasannya, kenapa harus nanya lagi, hah?!”
“Salsa?!” telapak tangan Abi sebentar lagi akan mendarat di pipiku. Aku memejamkan mata. Berharap tamparan itu terasa tak menyakitkan. Beberapa detik berlalu, tak terasa apa-apa. Aku memberikan diri membuka mata sedikit.
Tangan Abi menggantung di udara lantaran Umi menggenggam erat tangannya. Umi menjadi tamengku. Menghalangi niat buruk Abi. “Berani kamu nyentuh Anak aku, kita lebih baik pecah belah!” mata Umi berkaca-kaca menatap Abi. Suara Umi terdengar serak.
“Kamu boleh marah sama dia, tapi jangan sampai mukul! Salsa masih labil, Reza! Dia juga butuh kasih sayang, kamu! Pantas aja dia begini, karena kamu selaku Ayah selalu membeda-bedakan! Maaf, ucapan aku terdengar lancang sebagai Istri, tapi aku harus bertindak tepat. Istighfar, Reza! Aku memilih kamu jadi Suami, karena aku percaya kelak kamu bisa menjadi Ayah yang baik.”
Baru pertama kali ini selama hidupku, mendengar Umi memanggil Abi dengan panggilan nama. Berarti Umi benar-benar sangat marah. Jujur dari lubuk hatiku yang terdalam, ada rasa senang sebab Umi masih perduli. Tidak seperti Abi yang bersikap acuh.
Tidak ada respon yang Abi beri. Abi terdiam sebentar. Mengusap wajah kasar, lalu mengambil tas kerjanya di atas meja makan. “Abi pergi. Assalamu'alaikum.” Dia melenggang pergi melewati kami.
Umi menatap kosong kepergian Abi. Aku tahu, Umi tengah menahan tangisannya. Umi mencoba kuat di hadapan kami. Salam Abi tadi tak bisa Umi balas. Dari pandanganku, mulut Umi seolah terkunci rapat. Susah untuk sekedar di gerakkan. Genangan air mata, Umi hapus sebelum meluncur.
“Umi, maaf...” aku dan Salwa secara bersamaan berucap kata maaf. Sebuah kebetulan yang hebat.
Umi tak menjawab, namun ia melebarkan lengannya. Memeluk kami berdua. Merengkuh tubuh kami berdua dalam dekapannya. “Umi harap dengan sangat, anak-anak Umi jangan berantem terus. Umi mohon, jangan ada kata iri lagi di antara kalian. Salsa, Abi kamu itu sebenarnya sayang sama, kamu. Gak ada seorang Ayah yang nggak sayang sama Anaknya sendiri. Cuma Abi kamu itu punya ego yang besar. Dari dulu Umi rasa, sifat egonya tak pernah hilang sampai sekarang.”
“Dan, Salwa. Salsa sayang sama, kamu. Yah, walaupun dia gak mengungkapkan itu, tapi Umi tau. Umi yang melahirkan kalian. Umi yang membesarkan kalian dari kecil. Wajah kalian boleh sama, tapi sikap kalian sangatlah berbeda. Maka dari itu, setiap hari Umi coba memahami setiap karakter kalian masing-masing.” Umi mengusap puncak kepala kami bersamaan.
Diam-diam aku melirik ke arah Salwa. Dia memejamkan mata. Menikmati setiap usapan tangan Umi di kepalanya. Ucapan Umi barusan terus terngiang dalam pikiranku. Bagai kaset rusak, kata-kata Umi terulang-ulang tanpa henti.
Saling memaafkan? Menganggap semua perkara ini tak pernah terjadi? Mana aku bisa! Torehan rasa sakit yang pernah Abi berikan, masih terasa jelas. Sulit untuk di sembuhkan secepat itu. Butuh waktu yang lama. Apa lagi sikap Abi terhadapku yang belum berubah.
“Aku akui, sekedar menyayangimu memang iya, Salwa. Tapi, jangan harap kita bisa bersama layaknya Saudara di luaran sana. Selama sikap Abi kepadaku masih sedingin kutub es, selama itu juga kita akan menjadi siang dan malam yang jaraknya terpisah jauh.”
°°°
Akhirnya aku bisa keluar dari rumah itu juga. Untung Umi memiliki sifat pengertian yang lebih. Sekarang aku dapat leluasa menghirup udara segar. Melepas beban yang selama ini tertumpuk dalam hatiku.
Sedang asyik-asyiknya menikmati hembusan segar angin pagi, Dwi dan Tegar datang mengagetkan. “Salsa, are you ready?!!!”
“Astaghfirullah!” aku terkejut. Memegang kuat jantungku yang hampir copot di rasa. Ku coba mengatur napas terlebih dahulu, sebelum menceramahi kelakuan Dwi barusan. “Dwi! Sumpah, lo hampir buat jantung gue berhenti berdetak! Lo gak bisa ya, datang itu selow-selow aja?! Setidaknya ucap salam?! Gak harus teriak-teriak juga kali! Gue gak budeg!”
Dwi menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal. Dia tersenyum canggung, menampilkan deretan giginya yang putih bersih. “Sorry... Terlalu senang sih, gue. Oke-oke, bakalan gue ulang sesuai kemauan, lo. Assalamu'alaikum, Salsa Ibu Ustazah ku...”
Senyumannya semakin melebar. Bola mataku berputar malas melihat senyumannya itu. Terlihat sangat mengesalkan.
Meskipun kesal, salamnya tetap aku jawab. Itu kewajiban. “Wa'alaikumsallam. Lo semangat, karena bisa berduaan sama Tegar, kan? Tau banget gue. Ngaku aja deh, lo!”
“Yeuw... Kok, elu yang sewot! Kalo emang gitu, kenapa? Mbak jomblo kesel ngeliat kami bisa berduaan, sementara situ sendirian bareng angin?” Tegar menyahuti. Sengaja dia mengejekku dalam kata-katanya.
Aku menggeleng acuh sebagai balasan. “B aja sih, Gar. Jomblo lebih baik, dari pada berduaan tapi menuai dosa. Gue orangnya cari aman. Ingat aja pesan gue. Maut sama Jodoh itu beda tipis. Gak mandang siapa, di mana, dan kapan ia akan menghampiri.”
Suasana mendadak hening selepas aku berucap. Hanya terdengar suara ayam berkokok saling bersahutan. Keheningan ini tak berlangsung lama, lantaran kedatangan seseorang di antara kami.
“Eh, udah pada kumpul, ya? Sorry, gue dateng telat.”
Aku terkejut mengetahui siapa gerangan yang mendatangi kami ini. Bola mataku melotot lebar. Penuh ketidaksukaan, menatapnya dari atas ke bawah. Dia melihatku balik. Raut wajahnya berubah perlahan. Wajahnya mendatar. Merasa mungkin di tatap penuh ketidaksukaan.
“Kenapa, lo?” tanyanya dingin. Tatapannya datar.
“Lo itu yang kenapa? Mau ikut kita lari pagi juga? Nggak bisa! Gue gak setuju banget lo ikut! Gak ikhlas gue!” intonasi suaraku tiba-tiba meninggi. Aneh saja. Setiap bertatapan dengannya, emosiku selalu naik drastis. Aku merasa bingung juga dengan diri sendiri.
Bibirnya tertarik ke atas. Membentuk lengkungan senyum kecut. Dia menatapku sinis. “Emang ini Komplek punya Bokap Nyokap lo, sampe gue gak boleh lari pagi di sini? Sebenarnya lo ada masalah apa sih, sama gue? Lo itu kayak punya kepribadian ganda, tau gak?”
Ucapannya berjeda sejenak. “Udah di tolongi bukannya terima kasih, tapi malah marah-marah gak jelas. Sumpah, nyesel banget gue nolongin lo kemarin. Harusnya gue biarin aja lo di bully. Cewek aneh, lo!”
“Ha?” alisku bertautan. Apa yang dia katakan sungguh membuatku bingung. “Eh, lo ngomong apaan, sih? Lo halu, ya? Siapaaa yang berani bully gue, hm? Gue hancuri hidupnya, kalaupun berani bully gue! Sedikit sentuh kulit gue, gue pastikan tuh orang angkat kaki dari Indonesia!”
“Halah... Bullshit!” celetuk dia seenaknya saja. Hampir saja kuku-ku meraih wajahnya, kalau andai kata Dwi tak mencegah.
“Astagaaaa, kalian setiap ketemu berantem mulu! Kayak Tom and Jerry lama-lama kalian berdua!” Dwi berjalan di pertengahan antara kami berdua. Tubuhnya bagai sebuah penghalang.
“Hati-hati jodoh kalian berdua,” celetuk Tegar. Ku rasa barusan ia berucap tak menggunakan rahang.
“Dih, amit-amit jabang bayi!” aku berteriak. Menolak keras yang di katakan Tegar barusan.
“Elaahh... Ge'eran, lo! Gue juga gak mau kali berjodoh sama Cewek aneh sejenis, elo!”
Pertengkaran mulai terjadi lagi dan secepat itu juga Dwi menghentikannya. Dwi selalu menjadi air di antara api yang membara di hati kami. “Salsa, Afiq, berantemnya gue mohon di pending sebentar! Please! Gue ngajak kalian Joging bareng, supaya gak berantem lagi! Ini malah makin parah! Jangan berantem lagi coba?! Gue tanya, jadi gak Joging, nih?!”
“Hm... Iya, deh, iya. Jadi, kok...” jawabku malas-malasan. Bukan hanya suara saja yang malas, tapi raut wajahku juga malas.
“Oke! Tapi, janji yah, jangan berantem pas kita Joging?!”
“Iya, Dwi... Gue janji...” sama halnya sepertiku, Afiq pun bersuara malas. Mengiyakan segala keinginan Dwi.
“Bagus, kalo gitu!” lantas Dwi menggandeng lengan Tegar. “Yuk, Joging! Biar sehat! Semangat!”
Aku dan Afiq menatap posisi Dwi itu. Katanya ini Joging, tapi kenapa posisi dia tidak seperti orang yang berniat Joging? Sepasang kekasih tanpa ikatan halal itu, melenggang pergi melewati kami. Kami berdua memandang cengo kepergian mereka. Seakan tanpa dosa meninggalkan kami berdua saja di belakang.
Lalu, aku melirik ke sebelah, di mana Afiq berdiri. Ternyata Afiq juga menatapku. Tak sengaja saling tatap, langsung saja kami memutuskan kontak mata serentak. Dan mendengus bersamaan pula.
°°°
Lari pagi kami terhenti. Kami berhenti sejenak untuk mengistirahatkan tubuh. Di ujung jalan Komplek, tepatnya di trotoar, kami duduk. Mensejajarkan kaki agar tak terjadi pembengkakan pada urat.
Keromantisan Dwi dan Tegar tidak pernah berhenti sejenak, meskipun ini di tengah jalan. Mereka tidak perduli dengan omongan orang. Berpelukan di depan umum, itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka.
“Eh, Sal! Lo jadi pindah Sekolah?” aktivitas minumku terhenti, dikarenakan Dwi yang bertanya tiba-tiba. Untung saja aku tak memuntahkan air minum yang sempat terteguk, saking terkejutnya. Sebentar aku menelan air minum, untuk sampai melewati ke kerongkongan dulu. Itu pun, susah payah aku meneguknya.
“Gak tau. Mungkin, gak jadi. Do'ain aja, Bokap Nyokap gue berubah pikiran.” jawabku seadanya. Keputusan belum Abi berikan, jadi mana aku tahu nantinya di pindahkan atau tidak.
“Yah, jangan gitu, dong. Kalo elo pindah, gue dengan siapa? Duduk sendirian deh, gue.” Dwi memasang wajah memelas.
Di sampingnya, tangan Tegar mengalungkan ke pundak Dwi. Semakin memperdekat jarak mereka. Tegar memeluk erat tubuh Dwi. “Kok, kamu sedih? Gak perlu sedih, lah. Kan, masih ada aku. Kekasih hati, yang siaga dua puluh empat jam buat nemenin Princess.”
Aku memandang jijik tingkah Tegar. Bisa-bisanya Dwi tersenyum malu, di perlakukan seperti itu. Kalau aku, sudah pasti mulut Lelaki itu tak bisa merayu lagi lantaran lebam oleh pukulanku.
“Serius, elo mau pindah?”
Aku terkejut, mendapatkan pertanyaan dari orang yang berada jauh jaraknya dariku. Orang itu, Afiq. Dia menatapku tanpa berkedip. Terlihat sekali, menunggu jawaban yang akan ku berikan. Posisi duduk kami yang berjauhan, sengaja aku atur sedemikian rupa.
Memang sudah sewajarnya, Lelaki dan Perempuan yang bukan mahrom mengambil jarak sejauh mungkin. Tidak seperti Dwi dan Tegar yang menempel sangat dekat, bagaikan pena tanpa adanya tinta.
“Lo nanya gue?” jari telunjukku, menunjuk diri sendiri dengan ekspresi cengo.
Dia berdecak. Pandangannya pun teralihkan menuju lurus ke depan. “Ya, iya, lah! Ya, kali, gue nanya sama hantu!”
“Oh, Kirain nanya angin.” balasku polos, sembari menganggukkan kepala kecil.
Kedua kalinya dia berdecak.
“Serius! Lo beneran mau pindah?”
“Kalo emang iya, kenapa? Itu juga bukan urusan, lo.”
“Jelas itu urusan gue, lah!” jawabnya bernada tinggi. Aku menatapnya bingung. Alisku mengkerut. Ada apa dengan intonasi suaranya yang mendadak meninggi itu? Seakan tak terima keputusanku untuk pindah.
“Nih, ya, denger. Misalnya elo pindah, niat gue bakal gagal.” sambungnya, semakin membuatku bingung.
“Maksud lo apaan sih, Bambang?!”
“Gue kepengen, lo ajari gue main biola!” jawabnya cepat.
Mulutku menganga kecil. Sebentar, aku takut pendengaranku bermasalah. Apa katanya tadi? Meminta di ajarkan bermain biola? Ya Allah, jangankan main biola, menyentuhnya saja aku enggan! Sedangkan Pria ini, terang-terangan memintaku mengajarinya memainkan biola. Jelas-jelas itu bukan keahlianku. Bidangku itu silat. Sudah sabuk hitam di perguruan.
“Wait... Lo gak lagi bercanda, kan?” aku coba memastikan. Mungkin saja tadi saat bertanya, dia sedikit mengigau.
“Apa wajah gue ini, keliatan bercanda?” dia menunjuk wajahnya sendiri. senyuman aneh juga tercetak di bibirnya. Senyuman yang mampu menaikkan seluruh bulu kudukku.
“Oke!” aku menghela napas. Memperbaiki letak dudukku, agar leluasa menatapnya. “Alasan lo minta gue ajari main biola itu apa?”
“Karena gue ngeliat lo main biola di balkon.” Afiq tersenyum. Jenis senyuman yang ingin aku layangkan pukulan.
“Ha? Kapan?” mulut ku terbuka kecil. Mataku menatap ia tak percaya. Sejak kapan pula aku pintar main biola, sehingga Lelaki ini memintaku mengajarinya?
Tatapannya mengarah ke atas. Seperti menerka-nerka. “Entah! Pokoknya, gue pernah ngeliat lo main biola. Dan, bagus! Gue suka.”
Aku tidak menjawab, sebab sekarang aku tengah berpikir. Mengenai biola seperti katanya tadi. Menurutku, Lelaki ini salah mengira orang. Aku rasa, yang ia maksud adalah Salwa. Kembaranku itu kan, pintar sekali bermain biola. Setiap malam di depan balkon, dia bermain biola.
“Gak tau, lah! Bye!” tubuhku berdiri. Melanjutkan lari pagi, meninggalkannya yang masih duduk.
Afiq berdiri. Meneriaki ku dari belakang. “Eh, lo mau ke mana?! Gue belum selesai ngomong, woy!”
“Pergi! Males nanggapin orang gila kayak, lo! Ngomong suka ngawur!” balasku, ikut berteriak tanpa menoleh.
Sepasang kekasih tanpa ikatan halal itu, aku tinggalkan juga. Biarkanlah mereka. Mereka pasti tidak keberatan kalau aku tinggalkan. Malah senang, karena ada waktu lebih berduaan.
“Tapi, gue belom minta nomor handphone lo, Salsa!”
Hampir saja langkahku terhenti. Untuk pertama kalinya dia memanggil namaku. Desiran aneh yang ku tak tahu itu apa, terasa menyelimuti dadaku. Aku terus berjalan, tidak berhenti dari aktivitas lari. Namun rasa aneh tadi, sulit ku ungkiri. Terlebih dia berteriak memintar nomor handphone-ku. Jangan harap aku akan memberikan.
°°°
“Fiq, Salsa ke mana, tuh?” tanya Dwi, yang di balas hendikkan bahu oleh Afiq.
“Temen lo pelit banget! Gue minta ajari main biola aja, gak boleh.”
Sama halnya seperti respon Salsa, Dwi pun demikian. Mulutnya terbuka. Kedua matanya berkedip polos. Tingkah Dwi yang aneh itu, Tegar beri usapan di wajah. Akhirnya Dwi berhenti melakukan aksinya tersebut.
“Lo yang aneh!” sembur Dwi, membuat Afiq terkisap. “Salsa itu gak bisa main biola, malah lo suruh ajari main biola. Kalau mau minta ajari biola, minta noh, sama Kembarannya!”
“Kembaran?” situasi berbalik. Sekarang Afiq yang di timpa kebingungan.
“Sumpah, udah hampir sebulan lo Sekolah di sini, lo gak tau Salsa punya kembaran?” Tegar tiba-tiba menyahuti. Afiq menggeleng polos. Mendapati jawaban Afiq, dua orang itu menepuk kening.
Dwi menghembuskan napas. Di tatapnya Afiq. Posisi duduknya ia hadapkan lurus ke arah Afiq. “Gini, lo kelas mana?”
“Sebelas Mipa satu.”
“Anjir! Itu lah, kelas kembaran Salsa! Masa lo gak tau, ya Allah...” Dwi menjambak rambutnya pelan, saking emosi dengan ketidaktahuan Afiq ini.
“Oh... Yang duduk di belakang barisan ke empat itu, kan?! Yang sering di bully itu, kan?!” intonasi suara Afiq meninggi. Pertanyaan berturut-turut Afiq tadi, semuanya di angguki Dwi dan Tegar. “Gue kira mereka orang yang sama,” sambungnya. Suara Afiq mulai mengecil. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Gila, lo! Sekelas sampe gak tau!” celetuk Tegar geleng-geleng kepala.
“Ya, gimana mau tau coba? Dia aja gue ajak omong, diam gak ada jawaban. Serasa ngomong sama Setan gue,”
“Heh, elo jangan ngomong Setan, dong! Serem tau!” jarak Tegar mendekat ke Dwi. Bahkan ia memeluk erat lengan Dwi. Dwi merasa risih. Ia coba menepis lengan Tegar yang mengalung erat di lengannya, namun sulit. Mengalung kuat.
“Yaelah, gitu ae takut!” ejek Afiq memutar bola matanya malas. “Btw, gue mau minta nomornya dia, dong...”
Dwi menatap Afiq penuh selidik. Bibir Dwi terangkat sebelah, menandakan ia jijik akan tingkah melas yang Afiq tunjukkan. Pasalnya Afiq sedang melancarkan aksi membujuk Dwi.
“Siapa? Salwa?”
Kepala Afiq mengangguk ragu. “Yes! Maybe...”
“Jangan bilang lo gak tau juga, nama kembaran Salsa?” pancing Dwi tepat sasaran. Perlahan kepala Afiq berubah haluan menjadi menggeleng. Ia tersenyum sangat lebar, menampakkan deretan gigi putih berseri. Afiq tertawa salah tingkah.
“Astagaaahhh...” mata Dwi terpejam. Giginya saling beradu, menahan rasa kesal. Kedua tangannya pun terkepal. “Afiq, gue sarani, lo jangan terlalu ansos, ya? Turut berduka cita bener gue,”
“Eh, eh, eh... Bukan gue yang ansos, tapi dia!” ralat Afiq tidak terima.
“Ya, terserah!” balas Dwi cepat-cepat menyudahi perdebatan.
Berdebat dengan Afiq tak menguntungkan apa-apa. Afiq tipikal yang sulit mengalah. Tidak pandang bulu, Pria atau Wanita. Dia yang harus menjadi pemenangnya.
“Jadi, gimana? Lo mau kan, kasih nomor WA si... Sal... Salwa...” Afiq berucap terbata-bata, ketika menyebutkan nama Salwa. Sepenuhnya nama kembaran Salsa, belum ia ingat.
Ujung bibir Dwi tertarik membentuk sebuah senyuman bulan sabit. Senyumannya mengandung banyak arti. Afiq yang mengetahui betul maksud dari senyuman Dwi itu, menelan ludah susah payah.
“Okay, deal!” Dwi menjabat tangan Afiq. Menaik turunkan kencang. “Tapi, gak gratis! Lo harus traktir gue di kantin selama satu minggu! Oke?”
Afiq diam. Ia coba memikirkan matang-matang penawaran yang Dwi berikan. Lama berpikir, Afiq pun mengangguk. Menyetujui kesepakatan yang Dwi layangkan.
“Oke! Asal lo kasih WA si Salwa.”
“Eits! Ini bukan WA si Salwa!”
“Lah? Kok, gitu! Kan, kesepakatannya gue minta WA si Salwa!” protes Afiq. Kesepakatan ini seolah menjebaknya dari awal. Afiq merasa terbodohi. Dwi curang. Ingin mendapatkan keuntungan dengan menggunakan jalan pintas kesesatan.
“Gue gak punya WA si Salwa, tapi gue punya WA si Salsa. Salwa orangnya tertutup. Gak ada yang punya nomor WA dia kecuali Bokap, Nyokap, sama Salsa doang. Kalo lo mau WA si Salwa, minta sama si Salsa.” jeda tiga detik. “Itu pun, kalo lo mau, ya? Terserah!”
“Y—ya, terserah apa kata lo, deh! Mana WA-nya?” serah Afiq tanpa pikir panjang lagi.
Yang terpenting sekarang, dia bisa mendapatkan nomor Salwa melalui Salsa bagaimana pun caranya. Urusan Salsa yang menolak memberi, itu akan menjadi hal yang Afiq pikirkan. Untuk saat ini yang ada di pikiran Afiq hanyalah keberhasilan dia bermain biola.
°°°
Bersambung...