Delon menatap keluar jendela. Langit sudah petang, lampu jalanan sudah mulai menyala, lampu teras rumah tetangga juga sudah menyala menandakan jika hari sudah malam dan para tetangga yang bekerja sudah mulai kembali ke rumah. Namun orang yang dia tunggu tak kunjung tiba. Matanya sedari tadi terus menatap ke arah pagar. Menanti kehadiran Sakura dengan badan lelah dan wajah yang pucat. Beberapa hari tinggal disini membuat Delon hafal bagaimana keseharian Sakura dan apa yang dilakukan Sakura seharian.
"Sudah malam, jam berapa dia akan pulang." Gumam Delon pelan.
Clek. Pintu kamarnya terbuka, Delon melirik ke belakang dan melihat tantenya berdiri diambang pintu dengan masih memakai setelan kantor. Delon menebak jika tantenya baru saja selesai bekerja.
"Boleh Tante masuk?" Tanya Elmi pelan.
"Silakan, Te." Jawab Delon sambil tersenyum.
Elmi masuk ke kamar keponakannya yang semula adalah kamar milik anak tirinya. Elmi duduk dipinggiran ranjang. Dia meletakkan tasnya disampingnya. Dia menatap keponakannya yang sudah semakin dewasa dan tampan.
"Maaf ya Tante baru temui kamu, Tante baru pulang dari Yogyakarta." Kata Elmi lembut.
"Nggak papa kok, Tan Delon juga bisa ngerti." Jawab Delon sambil tersenyum. Dia berjalan pelan menjauh dari jendela dan duduk di kursi yang ada didepan Elmi.
"Kamu betah tinggal disini?" Tanya Elmi lagi.
Delon nampak sedikit berpikir dan setelah itu dia menganggukkan kepalanya. Dia memang betah tinggal dirumah ini. Selain karena jarak rumah dengan kantornya dekat, ada Sakura yang membuatnya nyaman berlama-lama berada dirumah ini. Ya, walaupun Sakura tidak selalu stay dirumah namun dia bisa melihat gadis itu setiap pagi dan malam hari. "Ya, Delon betah tinggal disini, rasanya Delon nggak mau cari tempat tinggal yang lain." Jawab Delon sambil tersenyum.
Elmi tersenyum lebar, dia bersyukur karena keponakannya betah tinggal dengan dia. Walaupun keponakannya itu adalah pria dewasa namun dia juga ingin menjaga dan memantau apa yang dilakukan oleh Delon sesuai dengan janji yang sudah dia tunaikan kepada Kakaknya.
"Kamu sudah makan?" Tanya Elmi lagi.
"Sudah, Tan. Tadi ada acara kantor sekalian makan sama temen-temen kantor." Jawab Delon santai. Matanya sesekali melirik keluar jendela.
"Kamu lihatin apa?" Tanya Elmi bingung. Sedari tadi dia memperhatikan keponakannya yang terus melihat keluar jendela. Entah apa yang sedang ditunggu oleh keponakannya.
"Kamu nunggu seseorang?" Tanya Elmi sambil memicingkan matanya.
Delon gelagapan mendengar pertanyaan dari Tantenya. Tidak mungkin kan dia mengatakan kepada Tantenya jika dia sedang menunggu kedatangan Sakura. Dia ingin menutupi masalah percintaannya dan tidak ingin memberikan celah untuk orang lain ikut campur dalam urusannya. Ditambah dia mengingat ucapan Tasya yang mengatakan jangan sampai Tante Elmi tahu jika dia menyukai Sakura. Walaupun sebenarnya dia juga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Tasya, namun dia memilih untuk mengambil jalan aman dengan tidak terang-terangan mengatakan jika dia tertarik dengan Sakura.
"Langitnya indah, Tan. Delon dari tadi lihat itu." Jawab Delon mencoba menyembunyikan kegundahannya.
"Iya, beberapa hari ini memang langitnya sangat cerah." Balas Elmi dengan mata yang mulai ikut melihat ke langit. Dia setuju dengan ucapan Delon yang mengatakan jika langit malam ini terlihat indah. Kerlip lintang yang tidak terlalu banyak nampak menghiasi langit. Cahaya bulan bundar seakan tidak pernah memudar. Cahayanya seperti sedang menguasai seluruh langit kota Jakarta. Tidak ada mendung sama sekali, malam ini langit benar-benar terlihat sangat indah.
"Harusnya malam seperti ini kamu gunakan untuk bercengkrama dengan kekasih kamu." Kata Elmi pelan sambil menggoda keponakannya itu.
Delon hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Tantenya. Dia menjauh dari semua perempuan yang membuatnya jengah. Sifat-sifat mereka yang agresif membuat Delon malas meladeni tingkah mereka.
"Delon nggak punya pacar, Tan." Jawab Delon sambil tersenyum.
"Masak sih keponakan Tante yang gagah dan tampan ini nggak punya pacar. Tante yakin kalau banyak cewek-cewek yang ngantri pengen jadi pacar kamu." Kata Elmi masih menggoda keponakannya.
"Lihat tuh adek kamu sudah jalan keluar sama pacarnya." Kata Elmi lagi yang seperti sedang membandingkan Delon dengan Tasya.
"Ya biar saja, Tan. Delon lebih milih sendiri." Kata Delon lagi.
Elmi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia paham dengan maksud keponakannya itu. Dalam sebuah hubungan tidak jarang seseorang merasakan bosan dan memilih untuk sendiri untuk sementara waktu. Dan mungkin saat ini Delon sedang merasakan hal seperti itu.
"Tan, ada yang mau Delon tanyakan." Ucap Delon mulai obrolan baru.
"Ya, tanyakan saja." Jawab Elmi santai.
"Delon nggak tau ini sensitif untuk Tante atau tidak tapi Delon akan tanya pelan-pelan." Kata Delon lagi.
Elmi mengerutkan keningnya. Dia dibuat penasaran dengan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Delon. Entah itu pertanyaan apa dan mengarah kemana. "Iya tanyakan saja." Kata Elmi lagi.
"Laki-laki yang ada dikamar atas itu siapa?" Tanya Delon pelan.
Bibir Elmi yang semula menyunggingkan senyum kini menjadi datar. Jantungnya berdegup kencang setelah mendengar pertanyaan dari Delon. Pantas saja keponakannya terlihat ragu saat akan bertanya.
"Kamu tau dari mana?" Tanya Elmi pelan.
"Aku dan dia berada di rumah yang sama hanya di ruangan yang berbeda, bagaimana mungkin aku tidak tahu jika ada laki-laki yang sedang sakit di rumah ini." Jawab Delon santai. Dia melihat raut wajah Tantenya yang mulai malas. Delon menebak jika ada sesuatu diantara Tantenya dengan laki-laki itu.
"Dia suami Tante." Jawab Elmi dengan pelan dan tidak bersemangat.
Delon lagi-lagi dibuat terkejut dengan keluarga ini. Dia tidak tahu bagaimana hubungan keluarga ini satu sama lain. Selama dia tinggal disini dia merasa tidak ada keharmonisan antar keluarga. Disini seperti terdapat dua keluarga yang dipaksa untuk tinggal di rumah yang sama. Saling bertutur sapa namun tidak ada keinginan untuk saling menyapa. Berbicara ketika membutuhkan sesuatu tanpa ada rasa kekeluargaan dan keingintahuan tentang apa yang telah dialami seharian. Delon benar-benar dibuat asing dengan sikap keluarga ini. Dia tidak tahu bagaimana mereka saling berhubungan hingga disebut sebuah keluarga.
"Suami kedua Tante?" Tanya Delon lagi.
"Iya." Jawab Elmi singkat.
"Apa yang dia alami saat ini?" Tanya Delon lagi.
"Dia kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Kakinya lumpuh dan belum sembuh sampai sekarang." Kata Elmi cerita.
"Kenapa nggak dicarikan dokter yang kompeten?" Tanya Delon lagi. Kini dia ingat jika Mamanya pernah cerita kalau tantenya menikah lagi dengan pengusaha yang sukses. Ya, Delon membuktikannya sendiri, terlihat dari rumah mewah dan megah yang dia tinggali saat ini. Tantenya tidak mungkin membeli rumah ini dengan hasil kerjanya sendiri. Lalu buat apa harta sebanyak ini kalau tidak digunakan untuk berobat.
"Tetap tidak ada hasilnya." Jawab Elmi sedikit gelagapan. Bukannya tidak menemukan hasil, namun karena memang dia tidak pernah benar-benar mengobatkan suaminya. Malah dia berharap suaminya itu cepat mati agar dia bisa mendapatkan warisan dari suaminya.
"Delon punya beberapa kenalan dokter yang kompeten, Delon bisa minta tolong sama mereka." Kata Delon dengan semangat.
Elmi menjadi salah tingkah. Dia tidak menyangka jika keponakannya akan berbuat sejauh ini. Walaupun masih ucapan saja namun dia yakin jika Delon tidak akan diam, dia akan benar-benar bertindak.
"Nggak perlu repot-repot, Lon. Lagi pula dia juga sudah tua." Jawab Elmi pelan.
Delon menatap Elmi dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh tantenya itu namun dia tidak bisa menanyakan secara langsung takut jika menyinggung perasaan tantenya.
"Jadi gadis muda yang biasanya masak itu adalah anak tiri Tante?" Tanya Delon lagi.
"Maksud kamu Sakura?" Tanya Elmi memastikan.
"Oh jadi namanya Sakura." Gumam Delon dalam hati.
"Iya, Tan. Itu anak tiri Tante?" Tanya Delon sekali lagi.
"Iya, itu anak tiri Tante." Jawab Elmi dengan tegas.
Delon hanya diam saja. Dia merasa tantenya sama seperti ibu tiri jahat yang pernah dia baca dalam buku cerita dongeng. Ibu tiri yang selalu memperlakukan anak tirinya dengan buruk. Hanya bersikap manis di depan suaminya. Namun kini suaminya juga lumpuh mungkin saja dia tidak ada rasa sungkan saat memperlakukan anak tirinya dengan buruk didepan suaminya.
"Yang mengurus suami Tante sekarang adalah Sakura ya." Kata Delon lagi dengan datar. Matanya membayangkan bagaimana telatennya Sakura saat mengurus Papanya.
"Iya, Tante kan sibuk ngurus masalah kantor. Kamu tau sendiri suami Tante nggak bisa apa-apa." Jawab Elmi dengan lemah seakan-akan meminta perhatian dari keponakannya.
"Kenapa Tante nggak sewa suster aja buat ngurusin suami Tante? Delon lihat Sakura sangat kuwalahan mengurus Papanya dan juga mengurus urusannya sendiri." Kata Delon lagi.
Elmi menatap keponakannya dengan lekat. Dia merasa jika keponakannya saat ini sedang memojokkannya. Setiap pertanyaan-pertanyaan yang terlontarkan oleh Delon seakan-akan menyudutkannya dan membuatnya seperti istri yang tidak berbakti kepada suaminya.
"Sakura sendiri yang melarang Tante menyewa perawat, dia ingin merawat Papanya sendiri." Ucap Elmi dengan datar. Matanya menatap Delon dengan tajam.
"Sakura memang gadis yang baik. Dia benar-benar calon istri idaman Delon, Tan." Ucap Delon sambil tersenyum.
Elmi memelototkan matanya dengan tajam. Dia tidak suka mendengar keponakannya mengatakan hal seperti itu. Dia tidak ingin Sakura menjalin hubungan dengan Delon. Baginya Sakura tidak pantas mendapatkan laki-laki sesempurna Delon.
"Banyak sifat buruk Sakura yang belum kamu tau, jangan terburu-buru mengatakan jika kamu tertarik dengan dia." Kata Elmi dengan sedikit keras. Elmi bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya kembali. Keluar dari kamar keponakannya dengan terburu-buru dan menutup pintu dengan keras. Delon hanya melihat itu dengan pandangan kosong dan raut wajah yang datar. Kini perlahan-lahan dia mengerti hubungan keluarga apa yang ada di rumah ini.