Dua puluh dua

1733 Words
Uhukk.. uhukk.. uhukkk.." Sakura mengibas-ibaskan tangannya di depan hidungnya. Dia belum benar-benar selesai membersihkan ruangan engap tersebut. Di sudut ruangan masih terlihat debu yang menempel dibenda. Sakura mengambil sapu dan mulai membersihkan debu tersebut. Sebelum dia memulai bersih-bersih, Sakura lebih dulu mengamankan bucket bunga dari Pandu. "Kamu pasti bisa, Ra." Kata Sakura menyemangati dirinya sendiri. Sakura mulai membersihkan ruangan itu. Menata barangnya yang masih dia tumpuk di salah satu sudut ruangan. Mengambil kasur yang digulung dan mulai menatanya di lantai. Bantal yang sudah tidak empuk lagi dia jadikan satu agar terasa nyaman dikepalanya. Dia mengambil parfum dan menyemprotkannya disetiap ruangan agar tidak lagi tercium bau engap. Dulu itu adalah kamar pembantu namun setelah rumah direnovasi tempat itu dijadikan sebagai gudang dan kamar pembantu dipindah ke kamar yang lebih luas. Tapi ruangan itu kini menjadi kamarnya. Bahkan kamar yang dia tempati tidak lebih bagus dari kamar tamu. Sakura kini merasa jika dia benar-benar sudah terbuang. Dia seperti bukan bagian dari keluarga ini. Dia tidak menjadi bagian dari rumah ini. Namun, Sakura tidak punya pikiran untuk keluar dari rumah ini, karena Sakura sadar yang membuatnya merasa kesengsaraan ini bukan orang tuanya namun adalah ibu tirinya. Bahkan Papanya juga menjadi korban dari keserakahan Ibu tirinya. "Ma, doain Sakura supaya Sakura bisa memperbaiki keadaan ini." Kata Sakura pelan. Dia menyadarkan tubuhnya ke tembok dan mulai memejamkan matanya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Namun mata Sakura masih enggan untuk terpejam. Banyak sekali hal-hal yang berlari-lari dipikirannya. Semua permasalahan hidupnya semakin hari semakin berat. Masalah satu belum usai sudah datang lagi masalah satunya. Semua terjadi begitu saja tanpa bisa dicegah atau diminta. Semua usaha yang dia lakukan seakan-akan sia-sia. Terbukti dengan usahanya yang mencari pekerjaan namun dia tak kunjung mendapatkannya hingga saat ini. Kini Sakura sadar jika kepandaian seseorang di bidang akademis belum menjadi patokan untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Sakura sudah membuktikannya sendiri, dia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun lebih 5 bulan, banyak yang menyanjungnya, banyak yang setuju jika dia adalah mahasiswa yang pandai. Namun hingga saat ini dia belum juga mendapatkan pekerjaan. Mengandalkan kenalan juga tidak ada gunanya. Sakura hanya memiliki segelintir teman. Mungkin lebih tepat untuk dikatakan sebagai kenalan. Semasa kuliah, Sakura hanya fokus kepada pendidikan dan juga mencari nafkah. Dia meninggalkan kegiatan-kegiatan kampus dan menciptakan hubungan baik dengan sesama mahasiswa. Bahkan jika mereka berpapasan dijalan, Sakura tidak akan sadar jika mereka adalah teman satu kampus. Sakura memandang almamater yang tergantung didinding. Matanya menatap almamater itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Dulu dia sangat bangga menggunakan almamater tersebut, namun sekarang dia merasa itu tidak sepenuhnya memberinya jalan menuju kesuksesan. Sakura sering mendengar jika pengalaman lebih dicari dibanding dengan pengetahuan. Beberapa orang yang sukses lebih memilih untuk mencari pengalaman yang banyak dan menambah itu dengan ilmu yang bermanfaat. Kini Sakura tahu apa arti sebuah ucapan itu. Sakura memiliki banyak ilmu pengetahuan, namun dia minim dengan pengalaman pekerjaan. Rasa putus asa sudah mulai menyelinap di relung hati Sakura. Apakah dia harus menyerah dan mencari pekerjaan seadanya dengan penghasilan yang luar biasa? Ataukah dia harus tetap bertahan dengan pendiriannya untuk mendapatkan pekerjaan yang halal? "Semua belum berakhir, Ra. Jalanmu masih panjang." Kata Sakura menyemangati dirinya sendiri. Sakura bangkit dari duduknya. Dia kembali membuka laptopnya dan mulai mencari sesuatu. Dia berselancar dengan internet dan membuka situs lowongan pekerjaan. Bagi Sakura tidak ada yang tidak mungkin, selagi kita mau berusaha pasti semua rencana akan terlaksana. Kalaupun rencana itu tidak sesuai, maka itu akan melenceng sedikit dan tetap saja hasilnya baik. Berkali-kali Sakura menutup mulutnya dengan tangan. Rasa kantuk sudah menghampirinya. Jelas saja dia kelelahan, pagi hari dia mencari pekerjaan dan sore hari hingga malam dia bekerja di restoran. Bukannya Sakura tidak bersyukur karena sudah mendapatkan pekerjaan, hanya saja dia ingin mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ijazah sarjananya. "Selesai." Kata Sakura sambil tersenyum. Dia merenggangkan kedua tangannya untuk mengurangi pegal-pegal di badannya. Sakura menatap jam dinding. "Masih ada waktu 3 jam untuk memejamkan mata." Ucap Sakura pelan sambil memaksa bibirnya untuk terus tersenyum. Kota Jakarta memang tidak pernah sepi dari pasang mata. Namun dengan jam segini, suasana kota sudah mulai tenang. Kendaraan-kendaraan yang biasanya memenuhi jalan raya, kini sudah bisa dihitung dengan jari. Banyak yang memilih untuk beristirahat di rumah dan bercengkrama dengan keluarga atau orang terkasih. Karena esok hari mereka kembali ditampar oleh pekerjaan yang melelahkan. "Selamat malam dunia yang penuh dengan sandiwara." Kata Sakura sambil menutup jendela kamarnya. Dia mematikan lampu kamar dan mulai masuk ke dalam selimut. Memejamkan mata dan berharap dia bisa menggapai mimpi yang indah. Walaupun hidupnya rumit dan pahit, setidaknya dia masih bisa merasa manis dan indah didalam mimpi. *** Sakura mengusap mulut Papanya yang celemotan bekas bubur yang dimakan. Sakura terlihat sangat telaten mengurus Papanya. Joko tidak henti-hentinya bersyukur karena sudah diberikan putri yang sangat berbakti. Walaupun hidup putrinya juga sulit namun dia masih bisa menyempatkan diri untuk mengurusnya. Joko tidak minta banyak dari Tuhan, dia hanya meminta putrinya selalu diberikan kesehatan dan kesabaran serta dipermudah segala urusannya. "Pa, mandi habis ini mandi ya." Kata Sakura dengan lembut. Dia membersihkan bekas makanan Papanya dan meletakkannya diatas nakas. "I..ya." Jawab Joko sambil menganggukkan kepalanya. "Ara ambil airnya dulu." Sakura berjalan pelan keluar kamar. Tangannya membawa nampan berisi mangkok kosong yang isinya sudah berpindah tempat ke perut Joko. Dia akan membawa itu ke dapur dan mengambil air untuk mengelap badan Joko. Sakura menyalakan kran air. Seketika tangannya basah, dia mengambil sabun dan mulai mencuci mangkok bekas itu. Sakura sangat fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan saat ini, hingga dia tidak sadar jika dibelakangnya ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. "Butuh bantuan?" Tanya orang itu pelan. Sakura berjingkat kaget. Dia melepaskan mangkok yang sedang dia cuci. Untung saja mangkok itu tidak jatuh ke lantai. Andai saja mangkok itu terjatuh dan pecah, pasti dia sudah menjadi sasaran amarah Ibu tirinya. "Lo ngagetin aja." Sembur Sakura dengan ketus. "Sorry, gue nggak sengaja. Gue cuma nyapa Lo aja tadi." Kata Delon merasa bersalah. "Nggak usah sok deket sama gue." Kata Sakura masih jengkel. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi. Delon hanya kicep saja. Dia tidak menyangka jika Sakura secuek ini. Namun dia merasa jika Sakura gadis yang berbeda. Tidak seperti gadis-gadis yang dia kenal sebelumnya. Kebanyakan gadis yang melihat ketampanannya akan menggodanya terlebih dahulu atau mencari perhatiannya tapi Sakura berbeda, dia seakan-akan tidak tertarik dengan ketampanannya. Delon mengambil mangkok yang sudah dicuci oleh Sakura, setelah itu dia mengelapnya hingga kering dan menatanya ke rak. Tangannya melakukan pekerjaan namun matanya masih terus menatap Sakura. Sedangkan Sakura hanya fokus pada cuciannya dan menganggap seakan-akan tidak ada Delon disampingnya. "Minggir." Kata Sakura ketus. Delon menuruti ucapan Sakura namun dia masih mengikuti Sakura hingga Sakura sampai di kamar mandi. "Ada apa?" Tanya Sakura jengah. "Gapapa." Jawab Delon pelan. Sakura tidak menghiraukan tingkah Delon yang menurutnya sangat mengganggu. Sakura mulai mengisi air hangat. Setelah dia rasa sudah cukup, Sakura keluar dan menuju ke kamar Papanya. "Mau kemana?" Tanya Delon lagi. "Kamu nggak punya kerjaan?" Tanya Sakura jengkel. "Punya." Jawab Delon sambil melihat jam yang melingkar ditangannya. "Tapi masih nanti." Lanjutnya. Sakura memutar bola matanya malas. Dia melanjutkan aktivitasnya tanpa memedulikan Delon yang mengikutinya dari belakang. Dia tidak pernah kenal dengan laki-laki itu tapi dia merasa terganggu dengan kehadirannya. Belum genap sehari tinggal bersama sudah membuat Sakura tidak nyaman. "Ngapain bawa air ke kamar?" Tanya Delon lagi. Sakura masih tidak menjawab pertanyaan Delon. Sakura benar-benar seperti menutup mata dan telinganya. "Mandi yuk, Pa." Kata Sakura lembut. Delon memelototkan matanya melihat seorang laki-laki paruh baya yang terbaring lemah diatas ranjang. Wajahnya sangat pucat dan sudah ada keriput disekitar mata. Pipinya sangat tirus dan matanya sayu. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Sakura saat ini namun dia mencoba untuk menahannya dan memilih untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Sakura setelah ini. Sakura mulai membuka pakaian Joko satu per satu. Sakura terlihat begitu cekatan dan tanpa ada rasa sungkan. Awalnya dia tidak nyaman namun karena setiap hari dia harus membantu Papanya untuk mandi dan membersihkan kotoran Papanya, sakura terbiasa sendiri. Delon masih menatap itu dalam diam. Dia memperhatikan Joko dan Sakura bergantian. Namun dia lebih memperhatikan Sakura dan perlahan hatinya mulai tersentuh melihat kebaktian Sakura. Ya, dia memang belum tahu siapa laki-laki paruh baya yang sedang dirawat oleh Sakura, namun Delon yakin dia adalah ayah Sakura, melihat keikhlasan dan ketelatenan Sakura saat mengurus laki-laki itu. Serta ketika dia melihat sorot mata laki-laki itu yang menatap Sakura dengan penuh kasih sayang. "Bisa tutup pintunya?" Tanya Sakura pelan ketika Joko benar-benar sudah tidak memakai apapun. Delon tersadar dari lamunannya. Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat dan tanpa berpikir panjang dia menutup pintu kamar itu. Perlahan Delon mendekati Sakura dan Joko, dia ingin membantu Sakura namun dia bingung mengatakan apa. Dia takut jika Sakura menolak mengingat sikap Sakura yang sangat dingin kepadanya. "Kenapa tidak di kamar mandi saja?" Tanya Delon pelan. "Aku nggak kuat gendong Papa ke kamar mandi sendirian. Delon tersenyum kecil mendengar Sakura memanggil laki-laki itu dengan sebutan Papa. Firasatnya benar, jika laki-laki itu adalah Papanya Sakura. Delon ingin menangis saat ini, dia merasa sangat kecil dan tidak berguna jika dibandingkan dengan Sakura yang dengan sabar merawat Papanya. "Mulai besok aku akan membantu kamu mandiin Papa kamu." Kata Delon sambil tersenyum. Sakura hanya menatap Delon saja, dia tidak berniat untuk menjawab ucapan Delon. Dia tidak ingin terlalu menaruh harap kepada laki-laki yang dia sendiri tidak tahu siapa namanya. Delon masih terus menatap Sakura dengan lekat. Bibirnya masih menyunggingkan senyum yang membuat wajahnya terlihat semakin rupawan. Baru sehari kenal dengan Sakura namun dia sudah dibuat terpesona. Bukan hanya wajah Sakura yang cantik namun hati Sakura juga suci. Delon yakin tidak semua anak bisa berbakti seperti Sakura. Jangankan mengurus orang tuanya yang sedang lumpuh, membelikan obat dan menemani orang tuanya periksa saja mungkin mereka tidak ada waktu. Alasan pekerjaan yang menumpuk yang selalu jadi andalan. Mengandalkan uang yang banyak seakan-akan bisa membeli waktu kebersamaan. Seperti dirinya, dia juga tidak punya banyak waktu untuk menemani orang tuanya dimasa tua. Dia terlalu sibuk dengan pendidikan dan juga pekerjaannya saat ini. Terlebih sekarang mereka tidak tinggal dikota yang sama. Akan semakin sulit bagi Delon memberikan perhatian secara fisik kepada orang tuanya. Delon merasa malu dengan Sakura. Tubuhnya yang gagah ini tidak punya banyak kesempatan untuk menyentuh dan merawat orang tuanya. "Terima kasih, kamu sudah memberiku pelajaran hari ini." Ucap Delon pelan. Sakura hanya mengernyitkan dahinya bingung namun dia memilih untuk tidak bertanya. Sakura lebih memilih untuk melanjutkan aktivitas sebelumnya, yaitu mengelap tubuh Joko dan membantu Joko untuk berganti pakaian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD