Sakura tertawa dengan keras hingga dia menutup mulutnya. Candaan yang dikatakan oleh Pandu berhasil membuatnya tertawa. Jika keluarga Pandu saat ini ada bersama mereka, keluarga Pandu tidak akan percaya jika itu Pandu. Mengingat kepribadian Pandu yang tidak bisa disentuh oleh orang dan menganggap jika dia hanya seorang diri di dunia ini. Keluarganya tidak akan percaya jika Pandu bisa membuat lelucon seperti itu. Pandu seperti memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Di rumah dia terlihat murung namun ketika dia bersama Sakura, dia terlihat seperti manusia normal seperti lainnya.
"Terus kamu tinggal gitu aja?" Tanya Sakura disela-sela tawanya.
"Iya, ngapain juga aku nolongin dia. Badannya kan udah kotor semua gara-gara masuk selokan itu." Jawab Pandu dan membuat Sakura kembali tertawa.
"Tapi kamu jahat ninggalin gitu aja. Nggak boleh gitu, Mas. Nanti kalo posisinya kebalik baru tau rasa." Kata Sakura berkomentar.
Pandu ikut tertawa kecil. Dia menatap langit seperti sedang membayangkan sesuatu dan mengingat kenangan yang baru saja dia ceritakan itu. "Tapi itu udah lama banget, sekarang aku nggak tau dia dimana." Kata Pandu dengan pelan. Dia mencoba memaksakan senyumnya.
"Udah lama nggak komunikasi?" Tanya Sakura pelan.
Pandu menggelengkan kepalanya dengan pelan. Saat itu bukannya dia yang ditinggalkan oleh teman-temannya namun dia yang meninggalkan mereka semua. Penyakit langka yang membuatnya minder dan ingin menjauh dari semua orang. Dia tidak ingin teman-temannya mengetahui tentang penyakitnya dan hanya akan membuat mereka merasa kasihan kepadanya. Banyak hal yang dia sembunyikan dimasa lalu bahkan dimasa sekarang dan mungkin akan berlanjut ke masa depan.
"Coba datang ke rumahnya, kalian kan udah cukup dekat berteman pasti tau rumahnya kan." Kata Sakura mencoba memberikan saran. Dia melihat ekspresi wajah Pandu yang sedih membuat dia tidak tega.
Pandu hanya tersenyum kecil. Semua berawal dari kesalahannya. Semua terjadi karena tingkahnya sendiri yang kurang percaya diri. Orang tua dan sepupunya sering bilang jika orang sekitar akan menerima dia dengan baik asalkan Pandu mau berubah menjadi Pandu yang sebelumnya. Namun, Pandu sendiri yang minder dan berakhir dengan tinggal di ruangan kosong dan gelap. Perlahan namun pasti, teman-temannya mulai pergi. Bukannya Pandu tidak sedih, namun dia juga berfikir mungkin melepaskan mereka adalah hal yang tepat.
Sakura menguap, matanya mulai berair. Berkali-kali dia mengusap matanya dan berkali-kali juga dia menutup mulutnya. Namun Sakura mencoba untuk menahannya. Kebersamaannya bersama Pandu menjadi hal yang menyenangkan. Setelah merasakan kepahitan yang menyakitkan, kehadiran Pandu bagaikan obat yang menyembuhkan lelahnya.
"Kamu capek?" Tanya Pandu pelan. Dia melihat gerak-gerik Sakura yang tidak seperti biasanya. Jika saja dia bisa melihat wajah orang, dia pasti akan langsung tahu jika Sakura sedang kelelahan.
"Enggak terlalu sih. Tapi emang kerjaan lagi banyak." Jawab Sakura sambil mencoba menyunggingkan senyumnya.
"Kita pulang saja?" Tanya Pandu dengan nada bicara yang sebenarnya tidak ikhlas. Dia masih ingin berlama-lama bersama Sakura.
"Nanti saja nggak papa." Jawab Sakura pelan. Dia menundukkan kepalanya karena malu.
Hening. Suasana menjadi hening, Sakura dan Pandu sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sakura yang ingin menarik ucapannya karena merasa malu sedangkan Pandu yang merasa melayang mendengar ucapan Sakura. Suasana itu hingga terjadi beberapa saat.
"Akhir-akhir ini Mas sering kasih aku barang." Kata Sakura mencoba mencari bahasan.
"Iya aku pengen aja. Nggak tau kenapa lihat apapun keinget kamu terus." Jawab Pandu jujur. Hari-harinya memang penuh dengan bayangan-bayangan Sakura. Sehari saja dia tidak bertemu dengan Sakura, perasaannya menjadi tidak karuan.
"Mas kalo mau kasih bucket nanti aja pas aku udah dapet kerjaan." Kata Sakura pelan. Dia seperti sedang membuat permintaan kepada Pandu.
"Tenang saja, begitu kamu dapat kerjaan aku bakal kasih bunga yang lebih besar dari ini." Kata Pandu dengan semangat.
Sakura tersenyum dengan lebar. Rasanya dia ingin menanyakan bagaimana perasaan Pandu kepadanya. Perasaannya kepada Pandu semakin lama semakin berkembang karena tingkah Pandu yang seakan-akan terus memberikan pupuk. Namun Sakura takut jika Pandu melakukan ini hanya untuk candaan saja atau mungkin Pandu memang bersikap seperti ini kepada semua wanita.
***
Sakura membuka pintu belakang. Di sana dia melihat seorang laki-laki muda sedang membelakangi. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis membuat Sakura penasaran siapa pemilik tubuh itu. Baru kali ini dia melihat laki-laki berada di dalam rumahnya. Sakura mendekati laki-laki itu dengan langkah pelan. Dia berdehem kecil untuk mengalihkan fokus orang tersebut.
"Ehem." Dehem Sakura pelan.
Laki-laki itu menoleh ke belakang dan matanya manangkap sosok yang membuatnya tertarik. Laki-laki itu menyunggingkan senyum menawan yang mampu membuat siapa saja terpana. Namun tidak bagi Sakura, matanya sudah terlanjut oleh pesona Pandu.
"Kamu siapa?" Tanya Sakura dengan nada sinis.
"Kenalin gue Delon." Kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Sakura.
"Gue nggak tanya nama Lo siapa." Balas Sakura tambah ketus. Dia menatap laki-laki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Style-nya memperlihatkan jika dia bukan orang sembarangan, terlihat dari pakaian yang dia pakai.
"Gue ponakannya Tante Elmi. Lo siapa?" Tanya Delon pelan. Dia sangat penasaran dengan perempuan yang sudah membuatnya tertarik pada pandangan pertama ini.
"Dia pembantu disini." Kata seseorang dari belakang Delon.
Sakura menatap orang itu dengan pandangan jengah. Tubuhnya sudah lelah namun dia masih harus dihadapkan oleh orang yang tidak ingin dia lihat. Sakura memutar bola matanya dengan malas. Dia melenggang pergi daripada harus meladeni ucapan saudara tirinya itu.
Delon memperhatikan Sakura yang sudah mulai menghilang dari pandangan. Namun matanya masih terus menatap keluar dapur.
"Biasa aja kalo lihatin." Tegur Tasya jengkel.
"Dia siapa?" Tanya Delon pada Tasya. Matanya masih menatap keluar dapur.
"Udah dibilang kalo dia pembantu." Balas Tasya masih dengan nada jengkel.
"Nggak percaya, mana mungkin ada pembantu secantik itu." Kata Delon tidak percaya.
"Fungsinya dia ada disini itu sebagai pembantu." Kata Tasya penuh penekanan.
"Tapi dia bukan pembantu kan?" Tanya Delon sekali lagi untuk memastikan.
Tasya menghela nafasnya dengan pelan. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya mengaduk s**u yang baru saja dia seduh. Matanya memperhatikan sepupunya yang baru datang dari Bandung itu.
"Jangan bikin masalah. Jangan sampek Abang suka sama cewek tadi." Kata Tasya memperingatkan.
Delon hanya tersenyum sinis. Dia tidak mau mengindahkan ucapan adik sepupunya. Bagi Delon urusan percintaan adalah urusan pribadi yang tidak bisa dicampuradukkan dengan dendam seseorang. Delon tidak akan memedulikan ucapan seseorang, jika memang dia mencintai gadis itu dia akan memperjuangkannya. Walaupun jika benar status gadis itu adalah seorang pembantu.