Dua Puluh

1283 Words
Sakura menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Disampingnya ada Papanya yang juga bersandar dengan tubuhnya yang lemah. Sakura menatap lurus ke depan. Tangannya dia lingkarkan ke lengan Papanya yang sudah tidak sekekar dulu. Bahkan kulit Papanya sudah mulai terlihat kusam. Bukan hanya karena faktor usia, namun juga karena tidak ada yang merawat. Sakura hanya bisa merawatnya ketika pagi hari dan malam hari. Selebihnya Papanya dia tinggalkan sendiri agar dia bisa mencari uang untuk menyambung hidup. Dia memang berasal dari keluarga kaya, harta Papanya bisa dibilang tidak akan habis hingga 7 turunan, namun karena keserakahan Ibu tirinya dia harus menjalani hidup dengan berat. "Pa, kenapa hidup ini tidak adil ya?" Tanya Sakura pelan. Matanya berkaca-kaca namun dia mencoba untuk menahannya. Dia tidak ingin menangis di depan Papanya dan hanya akan membuat Papanya bersedih. Karena kesedihan tidak baik untuk kesehatan Papanya yang semakin hari semakin menurun. Tangan Joko bergerak perlahan. Pelan namun pasti dia menggenggam tangan putrinya itu. Asalannya tidak lain dan tidak bukan karena ingin memberikan kekuatan kepada putrinya. Walaupun dia tidak pernah keluar kamar ini namun dia tahu betapa susahnya hidup Sakura. Menjadi mahasiswa dan harus mencari uang sendiri ditambah dia harus mengurus Papanya yang sudah tidak berdaya. Hanya tangis dan panjatan doa yang bisa dia lakukan. Dia ingin membantu Sakura namun tidak bisa. Jangankan membantu, menggerakkan kakinya saja dia tidak mampu. "Kkkaaam... mu yyang saab.. bbar ya Ra. Hhhidup memmma.... mang bbanyak cccooo...baan." Kata Joko menanggapi ucapan putrinya. Walaupun dia sendiri kesulitan untuk berbicara namun dia mencoba untuk memberikan umpan balik supaya Sakura tidak terlihat seperti bicara sendiri. "Tapi Sakura capek, Pa." Kata Sakura dengan lemah. Dari suaranya terdengar jika dia akan menangis. "Maa..afin pppaa...pa ya Ra." Kata Joko lagi dengan pelan. "Papa nggak perlu minta maaf. Ini memang sudah jadi takdir Sakura. Sakura ikhlas kok, Pa. Hanya saja ada saatnya Sakura merasa tertekan dan ingin istirahat sejenak." Balas Sakura lirih. Dia semakin mengeratkan genggaman tangannya kepada lengan Joko. Bahkan dia sedikit menyandarkan kepalanya ke pundak Papanya. "Kkaa...lau kammu b.butuh teemmen cerita, bbilll...lang saja ssaa...ma Pa pa." Kata Joko pelan. Dia mengelus punggung tangan putrinya. Tanpa sepengetahuan Joko, Sakura meneteskan air matanya saat ini. Tangis yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga. Sakura tidak bisa terus menahan kesedihan yang sudah menguasai jiwa dan perasaannya. Tidak ada yang bisa benar-benar mengerti tentang hidup kita selain kita sendiri. Terkadang kesendirian bisa membuat kita lebih tenang namun tidak jarang kehadiran seorang teman membuat kita lebih semangat untuk melangkah maju. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya pemain yang sedang menjalankan peran dari sebuah naskah yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. *** Cinta datang karena terbiasa. Hadirnya memberikan banyak kejutan. Bersamanya menciptakan banyak senyuman dan kepergiannya meninggalkan banyak kenangan. Siklus percintaan tidak ada yang bisa menebak. Kita bisa saja membayangkan dan merencanakan, tapi itu semua tidak akan bisa kita ubah atau kita tetapkan. Sama halnya dengan nasib, semua yang kita jalani sudah sesuai ketentuan Tuhan. Pandu menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu. Setelah itu dia menerima bucket bunga dari penjualnya. Dia mencium wangi semerbak bunga mawar putih itu. Setelah itu dia meninggalkan toko bunga tanpa menunggu kembalian uang dari penjual. Pandu menjalankan mobilnya menuju sebuah restoran. Restoran lantai 3 yang menjadi tujuan anak zaman sekarang. Bangunannya bergaya modern dengan makanan yang kekinian ditambah terdapat banyak spot untuk foto. Apalagi tempatnya termasuk jauh dari peradapan kota. Suasananya sangat tenang dengan angin yang lumayan segar untuk sebuah restoran yang berada di sebuah kota Jakarta. Pandu mengetikkan sebuah pesan. Setelah itu dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Matanya menatap tajam ke arah depan. Setiap ada gadis berambut panjang dengan kuncir kuda Pandu sigap memperhatikan. Dari postur tubuh hingga dia menatap pergelangan tangan gadis itu, jika tidak ada gelang dengan gandul bunga sakura berarti gadis itu bukan gadis yang sedang dia tunggu. Hingga akhirnya seorang gadis muda berdiri di depan mobilnya. Tangan gadis itu melambai sebagai tanda sedang menyapanya. Pandu menyunggingkan senyumnya apalagi ketika dia melihat ada gelang dengan gandul sakura dipergelangan tangan gadis itu. Pandu membuka pintu mobilnya. Dia menghampiri gadis itu dan menyunggingkan senyum. Pandu yakin jika saat ini gadis itu juga sedang menyunggingkan senyum kepadanya, walaupun dia tidak bisa melihatnya namun dia firasatnya mengatakan demikian. "Maaf ya lama, tadi aku temui bos dulu." Kata Sakura pelan. "Nggak papa, aku juga baru sampek kok." Jawab Pandu sedikit berbohong. Ya, karena dia sudah menunggu hampir 20 menit. "Kita mau kemana?" Tanya Sakura pelan. Karena memang hari ini yang mengajak pergi adalah Pandu. "Emmm kita jalan aja." Jawab Pandu singkat. Sakura menganggukkan kepalanya. Dia mulai berjalan ke arah mobil Pandu. "Ra, tas kamu taruh kursi belakang aja." Kata Pandu pelan. "Iya." Jawab Sakura pelan menuruti ucapan Pandu. Dia membuka pintu belakang dan melihat bucket bunga mawar yang harumnya langsung masuk ke hidungnya. Sakura meletakkan tasnya ke dalam mobil dan setelah itu dia melihat Pandu dengan penuh tanda tanya. Pandu hanya menggaruk belakang kepalanya. Dia tidak mengerti harus bersikap seperti apa. Sakura tidak mengeluarkan suara apapun dan dia juga tidak bisa melihat ekspresi Sakura. "Aku tadi lewat toko bunga terus aku lihat itu keinget sama kamu jadinya aku beli aja deh." Kata Pandu pelan sambil nyengir. "Itu buat aku?" Tanya Sakura pelan. "Iya buat kamu." Jawab Pandu dengan gemas. Lagi pula untuk siapa lagi dia membeli bucket itu kalau bukan untuk Sakura. Pandu mengambil bunga itu dan memberikannya kepada Sakura. "Semoga kamu suka." Kata Pandu sambil tersenyum. Jantungnya berdebar kencang. Dia merasa gugup namun dia bisa menutupi itu dengan senyumannya. Selama ini dia selalu tertutup dan tidak berani keluar melihat alam luar. Berhadapan dengan masalah seperti ini membuatnya gugup tidak karuan. "Terima kasih." Kata Sakura pelan sambil menerima bucket itu. Sakura mencium bunga itu. Tiba-tiba dia merasa ada yang berbeda dengan perasaannya. Biasanya dia merasa biasa saja ketika bersama Pandu, namun hari ini dia merasakan hal lain. Dia merasa gugup dan berdebar. Bahkan Sakura takut jika dia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Sedangkan dia melihat Pandu bersikap seperti biasa. Sakura takut jika perasaannya hanya sepihak. Dalam hati ada banyak rasa. Dan setiap rasa tidak mudah untuk dikendalikan. Terkadang hati menginginkan hal ini namun logika memaksa kita untuk melakukan hal itu. Setiap pertemuan yang terjadi memiliki hubungan yang berbeda. Seringkali hubungan pertemanan berubah menjadi sebuah percintaan. Dan tidak jarang percintaan berakhir dengan kekecewaan. Memang, setiap hidup akan bertemu dengan perpisahan. Dan tidak ada perpisahan yang manis, yang ada hanya perpisahan yang baik-baik. Sakura, gadis lugu dan polos yang tidak tahu dengan dunia percintaan. Selama hidupnya dia hanya dekat dengan 1 laki-laki yaitu Papanya sendiri. Memikirkan lawan jenis akan membuang banyak waktu bagi Sakura. Berisitirahat yang cukup saja sangat sulit untuk dia dapatkan, apalagi harus memikirkan laki-laki. Menjalin hubungan dengan mereka seperti anak gadis sepantarannya. Kini, Sakura mulai sadar jika perasaannya kepada Pandu bukan hanya sekadar teman namun sudah tumbuh menjadi cinta. Dan Sakura takut jika perasaan cinta yang dia miliki hanya akan membunuhnya secara perlahan. Manis diawal dan sakit diakhir. Sedangkan Pandu, dia hanya laki-laki yang tidak tahu menahu dengan dunia ini. Hidupnya hanya seputar kantor dan apartemen. Yang ada diotaknya hanya pekerjaan dan strategi agar perusahaan keluarganya semakin maju. Dia hanya berhubungan dengan 1 wanita yaitu Mamanya, itupun tidak setiap hari. Mungkin dua minggu sekali. Perasaan yang mulai tumbuh dihatinya tidak bisa dia kendalikan begitu saja. Rasa kagum yang berubah menjadi cinta tumbuh dengan cepat hingga tidak bisa dia cegah. Namun, Pandu tidak berani melangkah lebih jauh. Dia menyadari dengan semua kekurangan yang dia miliki. Dia tidak yakin jika gadis pujaannya bisa menerimanya dengan ikhlas, sama seperti dia yang hingga saat ini masih ingin protes dengan Tuhan. Pandu menyerahkan semuanya kepada waktu dan takdir. Dia ingin menjalaninya seperti air yang mengalir. Bersikap biasa saja sambil menikmati kebersamaan bersama gadis pujaannya. Jika memang Tuhan menakdirkan mereka untuk bersama, waktu akan menjawab semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD