Sembilan Belas

1002 Words
Pandu berdiri di depan jendela dengan tangan yang dia masukkan ke saku celana. Matanya menatap jalanan kota Jakarta yang tidak pernah sepi dilalui kendaraan. Bahkan saat ini jam menunjukkan tengah malam, tetap saja jalanan masih ramai dilewati lalu lalang puluhan kendaraan dan juga ratusan orang. Pandu menatap itu dalam diam. Matanya menyorot mengisyaratkan banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia utarakan. Salah satunya adalah kapan obat untuk penyakitnya bisa ditemukan dan dia bisa sembuh dari penyakit langka yang dia idap selama ini. Clek.. pintu ruangannya terbuka. Pandu hanya melirik ke belakang sekilas tanpa menoleh. Dia melihat bayangan hitam berdiri diambang pintu. Menengok ke belakang atau tidak bagi Pandu sama saja karena sama-sama tidak bisa melihat wajah orang tersebut. Namun dia tahu siapa orang yang sedang menghampirinya karena tidak ada lagi orang yang tahu ruangan ini kecuali Gilang dan orang tuanya. "Belum pulang?" Tanya Gilang pelan. Dia masih berdiri diambang pintu dengan tangan yang memegang sesuatu. "Belum." Jawab Pandu singkat. Matanya masih menatap ke jalan raya yang masih dilalui banyak kendaraan berlalu lalang. Gilang melangkahkan kakinya. Dia menutup pintu kembali dan seperti biasa tangannya menyalakan saklar lampu ruangan Pandu. Gilang meletakkan sesuatu diatas meja kerja Pandu. Dia kemudian menarik kursi dan mendaratkan bokongnya disana. "Ini piala penghargaan dari Dinas Pariwisata." Kata Gilang memberitahu sepupunya itu. "Simpan saja di etalase depan atau di ruangan mu." Jawab Pandu dingin. Dia sama sekali tidak tertarik untuk melihat atau memegang piala itu. "Ini kan berkat ide Lo." Kata Gilang merendah. "Karyawan lain akan berpikir kalau piala itu Lo simpen di rumah secara pribadi." Kata Pandu tegas. Gilang berdecak kecil. Dia sedikit tahu bagaimana perasaan Pandu saat ini. "Gue tau kalau saat ini Lo sedang tertekan, 'kan?" Tanya Gilang pelan. Matanya menatap punggung lebar yang empunya menghadap keluar jendela. Pandu hanya diam saja. Dia hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Gilang. Baginya ini sudah menjadi kebiasaan. Selalu saja dia berada diposisi ini ketika berhasil dan keadaan yang menuntutnya untuk terus bersembunyi dibalik ruangan yang gelap dan hening. Sebenarnya dia juga ingin merasakan kehidupan seperti banyaknya orang namun penyakitnya yang memaksanya untuk terus bersembunyi. "Gue nggak keberatan kalo Lo mau tampil di depan publik. Gue malah seneng." Kata Gilang kepada sepupunya itu. Gilang tahu jika semua orang dan karyawan yang lainnya berfikir kalau dia yang sudah berhasil membuat perusahaan itu sukses karena selama ini dia selalu tampil di depan publik. Setiap ada meeting atau pembukaan cabang baru selalu dia yang memimpin. Orang menganggap jika perusahaan ini ada dibawah kendalinya. Namun kenyataannya dia hanyalah tangan kanan Pandu. Secara tidak langsung dia adalah tameng Pandu saat mengerjakan setiap pekerjaan kantor. Dia hanyalah mesin robot dan Pandu yang memegang kendali pada remot. Sebenarnya dia juga merasa iri dengan Pandu karena Pandu bisa menciptakan ide-ide kreatif yang membuat perusahaan ini semakin maju. Mungkin jika Pandu tidak mengidap penyakit langka itu, dia akan menjadi idaman banyak wanita. Parasnya yang tampan dan otaknya yang cemerlang membuat dia terlihat sempurna. "Kalo sudah tidak ada urusan lagi, mending Lo pergi sekarang." Kata Pandu dingin. Pandu hanya ingin sendiri. Terlelap sendiri dalam keheningan dan kegelapan. Sejak penyakitnya itu, dia selalu hidup dalam setiap bayangan hitam yang tidak bisa dia nikmati. Dunia selebar ini bagi Pandu tidak lebih lebar dari daun kemangi. Dunia terasa sempit, tidak ada banyak ruang untuknya. Pandu merasa hidupnya sedang berada di peti mati yang tertutup dan tinggal menunggu waktu untuk dikunci dan tidak bisa dibuka selamanya. *** Sakura menatap foto keluarganya dengan lekat. Matanya berkaca-kaca setiap kali dia mengingat Mamanya yang sudah tiada. Terlihat dari foto itu mereka bertiga tersenyum bahagia. Dia yang diapit ditengah oleh Papa dan Mamanya menandakan jika dia adalah anak yang tidak kekurangan kasih sayang. Ya, karena memang selama ini dia tidak pernah bersedih karena keluarga namun semua berubah setelah Mamanya meninggal dunia. "Ara rindu sama Mama. Papa juga rindu sama Mama." Kata Sakura pelan. Dia meneteskan air matanya ketika teringat hidupnya yang sempurna dulu. Tangannya kembali membalik album foto. Banyak sekali kenangan-kenangan yang masih bersemayam di otaknya. Semuanya indah hingga sulit untuk tergantikan. Jangankan untuk diganti, melupakannya sejenak saja dia tidak mampu. Setiap kenangan terasa masih nyata melintas di depan matanya. Clek. Pintu kamar Sakura terbuka secara tiba-tiba. Di sana terlihat wanita paruh baya dengan tubuh yang masih terbalut setelan kantor. Celana hitam serasi dengan jas yang dipakainya. Usianya yang semakin tua namun tubuhnya masih tetap terjaga. Pakaian itu terlihat sangat pas ditubuhnya seakan-akan memang dibuat untuk dipakai oleh dia. "Ngapain nangis? Nangis terus-terusan juga nggak akan bikin Mama kamu hidup lagi." Kata Elmi dengan ketus. Dia masuk ke kamar anak tirinya itu dan bersedekap d**a di depan anak tirinya. Sakura menutup album fotonya. Hanya album itu saja yang tersisa, foto yang lainnya sudah dimusnahkan oleh Ibu tirinya. Mau tidak mau Sakura harus melindungi album itu dan mengamankannya. Sakura memasukkan album itu ke laci nakas. Dia menguncinya dan mengantongi kunci tersebut. "Ada apa malam-malam kesini?" Tanya Sakura dengan ketus. "Terserah saya dong." Jawab Elmi tidak kalah ketus. Matanya menatap setiap penjuru ruang kamar Sakura. Dia mengamati satu per satu dan seketika bibirnya menyunggingkan senyum yang lebar. "Cocok ini." Kata Elmi sambil tersenyum licik. "Beresin barang kamu dan kamu harus tidur dikamar belakang. Kamar ini akan dipakai oleh keponakan saya yang baru pulang dari Thailand." Kata Elmi dengan cepat. Dia mengusir Sakura dari kamar Sakura sendiri. Terdengar tidak ada rasa bersalah sedikit pun dari suara Elmi. Dia malah seperti seorang tuan rumah yang mengusir pembantunya. Padahal tuan rumah di sini adalah Sakura sendiri. Karena rumah ini masih atas nama Sakura. "Kamu mengusirku dari kamarku sendiri?" Tanya Sakura dengan nada merendahkan. "Saya nggak peduli. Yang penting besok pagi kamar ini sudah kosong karena besok malam keponakan saya sudah datang." Kata Elmi memerintah. Dia mengambil tasnya dan mulai keluar dari kamar anak tirinya itu. Sakura hanya memandang pintunya yang sudah kembali tertutup. Setetes air mata jatuh kembali ke pipinya. Kesedihan yang sedari tadi dia rasakan kini semakin bertambah. Bagaimana mungkin dia diusir dari kamarnya sendiri, bahkan Sakura yakin jika dia juga akan terusir dari rumah ini. Rumah yang seharusnya menjadi miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD