Delapan Belas

1481 Words
Sakura memperhatikan pergelangan tangannya. Dia menyunggingkan senyumnya namun seketika dia terdiam. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman memakai gelang tersebut. Ada hal lain yang membuat hatinya ingin menolak. Mungkin karena status mereka yang hanya sebagai teman. Perkenalan singkat yang membuat mereka sering bersama namun Sakura takut jika dia kebablasan dan menimbulkan perasaan cinta. Bukannya dia tidak ingin terus bersama Pandu hanya saja dia merasa tidak pantas mengingat jalan hidupnya yang selalu berat. "Ini terlalu mewah untuk diberikan sebagai hadiah." Kata Sakura pelan. Dia ingin melepaskannya namun tangan Pandu mencegahnya. "Ini cocok untuk kamu." Kata Pandu pelan. Dia mencegah tangan Sakura yang ingin melepas gelang tersebut. "Aku merasa tidak nyaman." Kata Sakura lagi. "Kenapa? Kamu nggak suka?" Tanya Pandu sekali lagi. "Suka, aku sangat suka. Ini cantik." Jawab Sakura pelan. "Memang gelang yang cantik harus dipakai oleh gadis yang cantik juga." Kata Pandu lirih. Dia menatap Sakura sambil tersenyum seakan-akan dia bisa melihat raut wajah Sakura. Sakura tersipu malu. Apalagi ketika dia melirik tangannya yang digenggam oleh kedua tangan Pandu. Jantungnya tiba-tiba bergetar tanpa bisa dia cegah. Dia ingin menarik tangannya namun dia juga merasa nyaman dan ingin berlama-lama berada diposisi itu. "Jangan pernah sekali-kali kamu melepaskan gelang ini." Kata Pandu memberi perintah kepada Sakura. Seperti anak kecil yang diberi nasehat oleh Ibunya, Sakura menganggukkan kepalanya tanpa membantah. "Iya." Kata Sakura lirih. Pandu menyunggingkan senyumnya ketika mendengar ucapan Sakura. Dia merasa gemas mendengar suara lembut Sakura yang mematuhi perintahnya. Bukan tanpa alasan dia memberikan gelang itu namun gelang itu juga sebagai tanda agar dia mudah mengenali Sakura ketika pertama kali bertemu. "Cari makan yuk." Ajak Pandu pelan. Sakura menganggukkan kepalanya patuh. Memang sejak siang tadi dia belum makan. Walaupun dia bekerja di restoran namun Sakura memilih untuk tidak beristirahat agar mendapatkan uang tambahan. "Kamu mau makan apa?" Tanya Pandu lirih. "Apa saja." Jawab Sakura singkat. "Benar ya kata orang kalau cewek ditanya selalu bilang terserah." Gumam Pandu sambil mengulum senyum. "Aku nggak bilang terserah." Protes Sakura kepada Pandu. "Tetap saja itu sama seperti terserah." Bantah Pandu. Mereka saling tertawa kemudian, tidak melanjutkan perdebatan yang hanya menguras tenaga. Karena salah satu diantara mereka tidak ada yang akan mau mengalah. Jadi mereka memilih untuk tertawa bersama dan melupakan itu sejenak. Mereka berjalan berdampingan. Tangan mereka saling bertautan. Siapa saja yang melihat mereka saat ini pasti mengira jika mereka adalah sepasang kekasih. Kenyataannya mereka adalah dua orang yang saling kenal dan mulai dekat karena sebuah insiden. Namun masing-masing dari mereka juga tidak bisa menjamin kalau mereka tidak akan terikat dengan perasaan masing-masing. *** "Ini foto putraku. Tolong awasi setiap gerak-gerik yang dia lakukan." Kata Bambang kepada orang yang ada di depannya. Saat ini ada 2 orang laki-laki dengan tubuh gempal. Pakaian mereka serba hitam dan dilengan mereka terdapat tato yang naga. "Baik, Pak." Jawab mereka hampir bersamaan. Sudah menjadi pekerjaan mereka setiap hari. Mengawasi seseorang untuk mendapatkan bayaran yang tentunya tidak sedikit. "Laporkan setiap hal yang kalian dapat dari dia." Kata Bambang lagi. "Siap, Pak." Jawab salah satu dari mereka. Bambang pergi dari hadapan dua orang itu. Dia masuk ke dalam mobilnya dan mulai meninggalkan gedung tua tersebut. "Jangan bilang kepada istri saya jika saya bertemu dengan mereka." Kata Bambang memperingatkan sopirnya. "Baik, Pak." Jawab sopirnya dengan patuh. Bukan tanpa alasan Bambang menyewa seseorang untuk mengawasi putranya. Dia merasa akhir-akhir ini Pandu berubah. Aura hitam yang selalu melekat kini perlahan mulai musnah. Ditambah senyum yang selalu terlukis dibibir Pandu sudah lama tidak dia lihat. Terakhir kalinya dia melihat putranya tersenyum saat sebelum kecelakaan terjadi. Dan kini kecelakaan itu sudah berlalu 7 tahun yang lalu. Dia sangat merindukan senyum putranya itu. "Kemana lagi kita, Pak?" Tanya sopir itu. "Langsung pulang saja." Jawab Bambang singkat. Setelah dia menyerahkan perusahaan kepada Pandu dia memilih untuk menghabiskan masa tuanya bersama istrinya yang dulu sering dia tinggalkan karena pekerjaan. Kini dia ingin mengisi setiap kegiatan yang harusnya dulu dia lakukan bersama istrinya namun harus tertunda. Walaupun tidak jarang dia juga menginginkan seorang cucu untuk melengkapi setiap aktivitas yang dia lakukan. Namun dia merasa itu susah dia lakukan, mengingat kondisi putranya yang menjauh dari keramaian dan seperti sudah mati terhadap sosial sekitar. *** Pandu masuk ke rumah mewah yang sejak lahir dia tinggali. Dia juga dibesarkan di rumah itu hingga beberapa tahun yang lalu dia memilih untuk keluar dari rumah itu dan tinggal seorang diri. Sebenarnya orang tuanya melarang namun Pandu ingin sendiri dengan alasan ingin mandiri dan hidup dengan nyaman tanpa kehadiran orang lain. "Assalamualaikum..." Salamnya begitu dia masuk ke dalam rumah mewah itu. Di ruang tamu dia sudah melihat dua orang dengan jenis kelamin yang berbeda sedang duduk di salah satu sofa ruang tamu. Karena Pandu tidak bisa melihat ekspresi mereka, Pandu mencoba untuk tersenyum namun melihat Mamanya yang tidak bangkit dan memeluknya membuat Pandu yakin jika ada sesuatu hal yang buruk yang sedang terjadi. Pandu merasa jika sebentar lagi dia akan mengalami hal pahit. Mungkin Mamanya atau Papanya akan berteriak. Pandu mengulurkan tangannya untuk menyalami Papa dan Mamanya secara bergantian. Setelah itu dia duduk di depan Mama dan Papanya dengan tenang. "Ma, bunga di depan itu kayaknya baru ya? Pandu kemarin belum lihat." Tanya Pandu basa-basi. Dia mencoba untuk mencairkan suasana yang sedang membeku saat ini. "Ya, Papamu yang nanem." Jawab Rani sinis. Rani mengambil remot televisi dan mulai menyalakan televisi. Dia seakan-akan tidak melihat putranya yang duduk di depannya. Wajahnya melengos menatap layar televisi yang saat ini sedang menampilkan sebuah sinetron yang sebenarnya Rani tidak mengerti jalan ceritanya. Namun dia mencoba untuk menikmati itu daripada harus menatap wajah putranya. "Bagus, Ma." Balas Pandu lagi. Rani dan Bambang hanya diam saja. Rani masih fokus ke televisi namun sebenarnya dia sudah tidak sabar meluapkan kemarahannya kepada putra semata wayangnya itu. Sedangkan Bambang tidak berhenti menatap Pandu dengan tajam. Sorot matanya mengisyaratkan kemarahan yang sudah tidak bisa dia pendam lagi. Pandu hanya diam saja. Semakin lama dia semakin merasa jika suasana dalam ruangan ini menjadi panas, sesak dadanya. Kini mulutnya seakan-akan terkunci bingung mau mengeluarkan kata-kata seperti apa. Pandu hanya pasrah dan menunggu ucapan kemarahan yang membludak dari mulut Papa dan Mamanya nanti. Bambang mengeluarkan beberapa foto di atas meja. Foto itu langsung bisa dilihat oleh Pandu. Pandu menatap dengan lekat namun dia tidak bisa mengenali orang yang ada difoto itu. "Kamu tahu foto apa itu?" Tanya Bambang dengan tegas. Wajahnya sudah memerah karena emosi. Pandu mengambil foto itu dan memperhatikan lagi. Seketika dia ingat siapa orang yang ada difoto itu dan moment apa yang terjadi difoto itu. Itu adalah foto ketika perusahaannya menerima penghargaan dari Dinas Pariwisata. Ya, perusahaannya menerima penghargaan itu karena dianggap telah sukses membuat banyak orang mengunjungi wisata-wisata yang ada di negara ini. Itu semua tidak luput dari keputusan Pandu yang membuat diskon hari valentine kemarin. Keputusan yang sempat ditentang oleh banyak orang namun hasilnya sangat luar biasa. "Tau." Jawab Pandu singkat. Kini dia mulai paham alasan orang tuanya memanggilnya kesini dan dia juga sudah tahu alasan orang tuanya bersikap sinis kepadanya. "Maksud kamu apa? Penghargaan itu didapat karena kerja keras kamu tapi malah Gilang yang menghadiri acara itu." Kata Bambang dengan keras. "Papa kan tau sendiri kalau aku nggak suka ke acara-acara seperti itu." Jawab Pandu dengan santai. Dia meletakkan kembali foto-foto itu diatas meja. "Mama bisa maklumi kalau kamu nggak bisa berkumpul oleh banyak orang lagi tapi Mama yang terima kalau Gilang yang dianggap sebagai pahlawan oleh semua karyawan." Kata Rani dengan suara yang mulai keras. Kini matanya sudah tidak lagi menatap televisi namun kini menatap putranya dengan tajam walaupun dia tahu putranya tidak akan tahu. "Apa yang bakal ada dipikiran karyawan yang lain kalau lihat Pandu yang datang ke acara?" Tanya Pandu dengan nada mulai kesal. "Itu karna kesalahan kamu sendiri. Kamu tidak pernah mau muncul ke publik." Kata Rani masih terus menyalahkan putranya. "Pandu hanya diam saja. Ini bukan pertama kalinya dia disalahkan oleh orang tuanya karena dia memilih untuk bersembunyi dibalik ruangan gelap tanpa bisa dimasuki oleh karyawan lainnya. "Ini tidak adil buat kamu Pandu." Kata Rani lagi dengan nada jengah. Lama-lama dia mulai jengkel dengan kelakuan putranya itu. Semakin hari dia semakin tidak bisa mengerti dengan pikiran Pandu. "Kamu yang sudah bekerja keras tapi malah Gilang yang disanjung-sanjung oleh banyak orang." Kata Bambang dengan lemah. "Ini sudah menjadi keputusan Pandu dan Pandu bahagia dengan apa yang Pandu jalani saat ini." Kata Pandu sambil menatap kedua orang tuanya. "Tapi Mama dan Papa nggak bahagia melihat kamu seperti ini, Pandu." Balas Rani yang mulai menangis. Matanya berkaca-kaca karena memikirkan nasib putranya yang berat untuk dijalani. Terkadang Rani bisa mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Dia bisa menerima takdir yang harus dijalani oleh Pandu. Penyakit langka yang belum ada obatnya harus dirasakan oleh Pandu disisa usianya. Dia bisa tersenyum ketika melihat putranya yang seakan-akan tidak mempermasalahkan kekurangannya itu. Namun, ketika terjadi masalah-masalah seperti ini rasanya Rani ingin menyalahkan takdir. Dia tidak terima dengan apa yang terjadi oleh Pandu saat ini. Dengan sekian ribu juta manusia mengapa harus Pandu yang harus mengalami nasib seperti ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD