Tujuh Belas

1503 Words
Pandu memperhatikan deretan perhiasan yang disimpan di dalam etalase. Perhiasan-perhiasan itu memiliki bentuk yang menarik. Ingin rasanya Pandu membeli itu semuanya. "Mau cari apa, Mas?" Tanya pelayan itu dengan sopan. Dia melayani dengan sangat ramah. "Emmm saya mau cari cincin." Jawab Pandu menggantung seperti tidak yakin. "Untuk kekasih?" Tanya pelayan itu lagi. Pandu menggaruk belakang kepalanya. Dia bingung harus menjawab apa. Karena memang dia tidak punya pacar dan juga dia tidak tahu ukuran jari Sakura. "Untuk Mama saya." Jawab Pandu akhirnya setelah berpikir beberapa saat. "Untuk kado ulang tahun ya?" Tanya pelayan itu dengan ramah. Dia mencoba untuk mencairkan suasana karena sejak melihat kedatangan Pandu dia melihat keraguan Pandu. "Bukan. Hanya ingin memberi saja." Jawab Pandu pelan. Pelayan itu tersenyum setelah mendengar ucapan Pandu. Dia berfikir jika Pandu adalah anak yang sangat perhatian dengan Mamanya. Tanpa perlu bertanya lagi dia membantu Pandu memilihkan cincin yang cocok. Ada beberapa model cincin terbaru dan menurutnya salah satu dari itu akan cocok untuk pelanggan barunya itu. Pandu menunggu pelayan itu memilih. Dia juga mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang mungkin akan cocok untuk dia beli. Saat ini yang ada dipikirannya hanya Sakura. Entah mengapa dia ingin memberikan sesuatu untuk gadis itu. Mungkin sebagai tanda agar dia bisa lebih mudah mengenali gadis itu ketika bertemu. "Ini model terbaru. Modelnya sederhana namun sangat cocok dipakai oleh seorang Ibu." Kata pelayan itu sambil memberikan contoh cincin terbaru. Pandu menerima cincin itu. Dia memperhatikannya dengan seksama. Dari segi modelnya dia cukup menyukai karena memang sederhana namun jika dipakai akan terlihat mewah. "Saya mau yang ini." Kata Pandu tanpa berpikir lama lagi. "Ukurannya sudah cocok?" Tanya pelayan itu memastikan. Pandu mencoba memakainya di kelingking jarinya. Dia masih ingat ukuran jari Mamanya. Cincin Mamanya bisa dia pakai dijari kelingkingnya namun. Ketika dipakai Mamanya berada dijari tengah. "Iya, Mbak sudah pas." Jawab Pandu sambil tersenyum. Dia memberikan cincin itu kembali kepada pelayan untuk dibungkus. Sambil menunggu pelayan selesai membungkus, dia melihat-lihat etalase hingga matanya terhenti pada sebuah gelang dengan handuk bunga Sakura. "Mbak boleh lihat yang ini?" Tanya Pandu pelan. "Oh iya, Mas." Jawab pelayan itu dengan cepat. Dia mengambil gelas tangan yang ditunjuk oleh Pandu dan memberikannya kepada Pandu. Pandu melihat itu dengan tersenyum. Dia merasa jika gelang itu akan cocok untuk Sakura. Gandul yang sama seperti namanya akan memudahkan dia untuk mengenali Sakura dengan mudah. "Itu hanya ada satu. Bisa dibilang itu produk yang hanya dibuat satu itu saja. Bos kami sendiri yang mendesainnya." Kata pelayan itu menjelaskan kelebihan gelang itu kepada Pandu. Pandu yang semula memperhatikan gelang itu beralih memperhatikan penjelasan pelayan itu. Dia semakin tersenyum dengan lebar setelah mendengar penjelasan pelayan itu. Pandu berfikir gelang itu cocok untuk dia beli. "Bungkus yang ini juga." Kata Pandu kemudian. Dia memberikan gelang itu kembali kepada pelayan untuk dibungkus sambil menyerahkan kartu kreditnya. Pandu menunggu pelayan itu membungkus pesanannya. Matanya mengedar ke setiap sudut Mall. Walaupun dia tidak bisa melihat wajah seseorang namun dia bisa menikmati objek lainnya. Walaupun semua itu terasa menyeramkan namun Pandu mencoba menikmatinya. "Sudah, Mas." Kata pelayan itu dengan lembut. Dia mengembalikan kartu kreditnya Pandu dan menyerahkan barang yang dibeli oleh Pandu. "Terima kasih." Kata Pandu pelan. Dia tersenyum sekilas dan setelah itu dia pergi menemui Mamanya kembali. Pandu yakin jika saat ini Mamanya pasti kebingungan untuk mencari keberadaannya. Pandu tersenyum ketika melihat Mamanya seperti sedang kebingungan. Terlihat sedari tadi ponsel selalu ada ditelinga Mamanya dan dia melihat ponselnya berdering. Layar ponselnya menampilkan nama Mamanya yang sedang melevonnya. "Halo, Ma." Jawab Pandu begitu dia menerima panggilan telvon dari Mamanya. "Kamu itu lho kemana aja. Mama nyariin kamu dari tadi." Kata Mamanya dengan panik. "Tengok belakang, Ma." Kata Pandu singkat. Tanpa menjawab, Rani menuruti ucapan putranya. Dia menengok ke belakang dan seketika matanya menangkap sosok yang sudah sepuluh menit tadi dia cari. Putranya sedang tersenyum lebar melihat ke arahnya. Seketika perasaan kesal menghilang ketika melihat senyum lebar putranya. Rani mematikan sambungan telvon. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi. Setelah itu dia mendekati putranya dan melayangkan pukulan ke lengan kekar putranya. "Jadi anak nakal banget." Omel Rani seakan-akan sedang jengkel. Pandu hanya terkekeh pelan menanggapi ucapan Mamanya. Setelah itu dia merangkul Mamanya agar tidak marah lagi. Dia berjalan pelan masuk kembali ke dalam toko. Semua mata yang memandang mereka mengisyaratkan jika mereka sedang iri dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Rani. Jarang ada anak laki-laki yang begitu mendambakan dan memperlakukan Ibunya seperti ratu. "Laki-laki idaman, sama Ibunya aja baik banget apalagi nanti sama istrinya." Kata salah satu wanita muda yang melihat Pandu dan Rani. "Gue juga berdoa semoga jodoh gue kayak gitu." Kata yang lainnya sambil memandang Pandu dengan pandangan kagum. *** Matahari mulai bersemayam diperaduan. Langit biru berubah menjadi kuning dan menandakan senja telah tiba. Sebentar lagi bulan muncul menggantikan sang mentari. Burung-burung sudah mulai pulang ke sarangnya setelah seharian mencari makan atau hanya bermain-main saja. Pandu sedang duduk di salah satu bangku taman. Sudah setengah jam yang lalu dia disana. Dia sedang menunggu kedatangan gadis pujaan hatinya. Tadi mereka sudah janjian lewat telvon tapi entah mengapa sampai sekarang Sakura belum sampai juga. Sesekali Pandu melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Entah berapa lama lagi dia harus menunggu gadis itu hingga datang. Tapi Pandu akan tetap sabar menunggu. Bagi Pandu tidak ada yang lebih membahagiakan selain bertemu dengan Sakura. "Kamu udah lama nunggu ya?" Tanya seseorang tiba-tiba. Pandu menoleh ke sumber suara. Sejenak dia diam dan memperhatikan gadis itu dengan seksama. Pandu meneliti gaya rambut dan juga postur tubuh gadis itu. Setelah itu dia sadar jika gadis itu adalah gadis yang dia tunggu sejak tadi. "Nggak papa kok." Jawab Pandu sambil menyunggingkan senyumnya. Sakura mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Pandu menebak jika Sakura pasti lari dari saat menuju sini. "Ini minum dulu." Kata Pandu pelan sambil memberikan sebotol minuman kepada Sakura. "Makasih ya." Jawab Sakura pelan sambil menerima minum itu. Sakura membukanya dan langsung dia teguk hingga tinggal setengahnya. "Aku tadi mau kesini dikasih tambahan kerjaaan sama bos." Kata Sakura mulai bercerita. Walaupun Pandu tidak bertanya dengannya namun Sakura yakin jika Pandu pasti penasaran kenapa dia bisa sampai telat datang. "Iya gapapa. Kamu naik apa kesini?" Tanya Pandu pelan. Dia mengambil sapu tangan dan menyerahkan kepada Sakura. "Makasih." Kata Sakura lembut sambil menerima sapu tangan tersebut. "Tadi aku nebeng temen tapi cuma sampai g**g depan sana. Kesininya aku lari." Jawab Sakura menjelaskan. Tangannya mengusap peluh dengan sapu tangan pemberian Pandu. "Kan tadi aku udah nawarin buat jemput kamu di tempat kerja." Kata Pandu lembut. Dia memandang Sakura walaupun dia tidak tahu bagaimana raut wajah Sakura saat ini namun dia yakin jika Sakura kelelahan. Sakura hanya tersenyum. Dia tidak mau teman kerjanya tahu jika dia ada hubungan dengan laki-laki. Karena Sakura yakin salah satu dari mereka akan mengatakan kepada Mama tirinya. Dan dia tidak mau membuat Pandu berada dalam masalah jika Mama tirinya tahu tentang dia. "Aku kira tadi kamu udah pergi." Kata Sakura pelan. Dia sadar jika dia sangat terlambat. Ditambah ponselnya mati dia tidak bisa mengubungi Pandu. Ketika dalam perjalanan tadi dia sangat kuatir jika Pandu tidak sabar menunggunya dan memilih untuk pergi. "Aku sabar nungguin kamu kok." Kata Pandu pelan. Sakura menghela nafas dengan lega. Entah mengapa kata-kata sederhana dari Pandu tadi membuat dia menjadi bahagia. "Kamu kenapa tiba-tiba ngajak ketemu?" Tanya Sakura pelan. Pandu diam saja. Tiba-tiba saja dia menjadi gugup. Alasan dia mengajak Sakura bertemu karena dia ingin memberikan gelang yang dia beli tadi kepada Sakura. Namun sekarang dia menjadi gugup dan salah tingkah. "Kok diam? Apa ada hal penting?" Tanya Sakura pelan. Pandu mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. Dia memberikan itu kepada Sakura. Tangannya terlihat sedikit bergetar. Gugup dan gerogi menguasai hatinya. "Apa ini?" Tanya Sakura bingung. Dia menerima kotak itu dengan pelan. "Buka aja." Jawab Pandu singkat. Pandu tidak ingin melihat Sakura agar dia tidak merasa terlalu gugup. Sakura membuka kotak itu dengan perlahan. Jantungnya kini juga berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ini pertama kalinya dia mendapatkan hadiah dari laki-laki dan dia juga sudah lama tidak mendapatkan barang mahal. Gajinya selama ini hanya cukup untuk kebutuhan dia sehari-hari dan pengobatan untuk Papanya. "Cantiknya." Kata Sakura begitu matanya melihat gelang cantik dengan gandul bunga Sakura, sama seperti namanya. "Kamu suka?" Tanya Pandu pelan. Sakura menganggukkan kepalanya. Namun dia kembali menutup kotak itu dan mengembalikannya kepada Pandu. Dia merasa tidak pantas mendapatkan hadiah semewah itu. "Kenapa dikembalikan? Ini untuk kamu." Kata Pandu dengan bingung. Pandu mengira jika Sakura tidak suka. "Kamu nggak suka?" Tanya Pandu lagi. "Suka tapi aku nggak pantes terima barang semahal itu." Kata Sakura jujur. Pandu tersenyum mendengar ucapan Sakura yang merendah itu. Dia membuka kotak kecil itu dan mengambil gelang itu dari sana. Pandu menarik tangan Sakura dan dia memakaikan gelang itu dipergelangan tangan Sakura. "Kenapa memberikan ini untukku?" Tanya Sakura pelan. "Aku baru dapat bonus dari kantor terus beli kado buat Mama dan lihat ini terus inget kamu ya udah aku beli juga." Jawab Pandu. Ya dia memang baru saja mendapatkan bonus dari Papanya karena kinerjanya. "Lagian itu cocok buat kamu." Kata Pandu lagi dengan memperhatikan tangan Sakura. Sakura ikut tersenyum melihat pergelangan tangannya. "Terima kasih." Kata Sakura tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD