Empat

1011 Words
Sakura menatap dirinya di depan cermin. Hari masih sangat pagi namun dia sudah rapi dengan pakaian kantoran. Bukan, bukan karena Sakura akan pergi bekerja namun karena Sakura akan pergi mencari pekerjaan yang lebih layak dan sesuai dengan pendidikannya. Kemeja berwarna peach dengan celana kain berwarna hitam ditambah sepatu hak tinggi menghiasi tubuhnya. Jika orang yang melihat maka mereka akan mengira jika Sakura adalah wanita karir yang sukses diperusahaan tempatnya bekerja. Namun, nyatanya dia masih ingin mencari pekerjaan dan semoga saja berhasil. "Kamu keren, Ra." Kata Sakura mengomentari penampilannya sendiri. Dia mengambil tas yang tergantung ditembok dan setelah itu memakainya. Sakura keluar dari kamarnya. Dia masuk ke kamar Papanya untuk berpamitan dengan Papanya. Sakura melihat Papanya tidur dengan mata tertutup. Bibirnya sedikit menganga dan Sakura melihat jika Papanya sedang nyenyak menikmati tidurnya. "Pa, Ara berangkat dulu ya. Doakan Ara semoga Ara segera dapat pekerjaan." Ucap Sakura dengan lembut. Dia menyalami tangan Papanya dengan sangat pelan agar tidak membangunkan laki-laki itu. Sakura mencium kening Papanya dengan lembut. Dia mencoba untuk tetap tersenyum melihat kondisi Papanya yang semakin memburuk. Sakura hanya bisa menebus obat resep dokter tanpa bisa membawanya kontrol rutin setiap bulan. Sakura tidak mempunyai banyak uang untuk melakukan itu. "Assalamualaikum, Pa." Kata Sakura dengan lembut. Sakura berjalan pelan keluar dari kamar Papanya. Dia juga menutup pintu itu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara dan membuat Papanya bangun. Tanpa sepengetahuan Sakura, Joko sebenarnya hanya pura-pura tidur. Setelah Sakura keluar dari kamar, Joko meneteskan air matanya karena sedih melihat perjuangan putrinya yang ingin membuatnya hidup dengan layak dan mendapatkan pengobatan dengan benar. "Tolong putriku Ya Allah. Lancarkan usahanya dalam mencari pekerjaan." Doa Joko dalam hati. Dia tidak bisa membantu apa-apa lagi selain mendoakan putrinya. "Mau kemana pagi-pagi sudah rapi seperti itu?" Tanya Mama tirinya dengan ketus. "Mau cari kerjaan, Bu." Jawab Sakura dengan jujur. "Hmm kamu pikir cari kerjaan jaman sekarang gampang." Ejek Elmi merendahkan. "Sudahlah, Ma biarkan dia cari pekerjaan daripada merengek minta dipekerjakan diperusahaan malah bikin repot." Sahut Tasya tidak kalah ketus. "Itu perusahaan Papaku, harusnya aku yang berhak mengurus itu bukan kalian." Kata Sakura dengan keras. Dia sangat benci jika ingat perusahaan milik keluarganya dikuasai oleh Ibu tirinya. "Oh ya? Tapi buktinya Papa kamu sendiri yang meminta saya untuk mengelola perusahaan itu." Kata Elmi dengan mengejek. Sakura hanya bisa menahan emosinya. Dia mencoba untuk mengalah daripada bertengkar dan membuat suasana hatinya menjadi kacau. "Kamu harus ingat jika saya adalah Direktur di perusahaan itu. Dan saya tidak akan mempekerjakan kamu di perusahaan yang saya kelola." Kata Elmi dengan penuh penekanan. "Saya juga tidak akan mengemis untuk dipekerjakan di sana. Saya bisa mencari pekerjaan sendiri dan meraih kesuksesan saya sendiri." Jawab Sakura dengan tegas. Tasya dan Elmi tertawa dengan keras. Dia merasa jika Sakura asal bicara dan ucapannya tidak akan menjadi kenyataan. Karena mereka sangat tahu bagaimana dunia kerja jaman sekarang. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan di tahun ini. Kalaupun dapat pekerjaan pasti tidak akan jauh dari bantuan koneksi orang yang sudah menjadi petinggi diperusahaan tersebut. "Jangan terlalu banyak bicara. Usaha kamu akan sia-sia dan kamu akan malu karena tidak bisa membuktikan ucapan kamu." Kata Tasya mengejek. Sakura hanya diam saja. Dia menahan emosinya agar tidak keluar. Dia memilih untuk segera pergi dari hadapan mereka daripada meladeni ucapan mereka yang hanya akan membuat hatinya sakit. Sakura berjalan dengan cepat. Dia menuju ojek online yang sudah menunggunya. Ojek itu sudah dia sewa beberapa menit yang lalu. Dulu Sakura selalu pergi kemana-mana dengan mobil mewah tapi kini dia sudah terbiasa dengan ojek dan helm berwarna hijau itu. Dia sudah terbiasa dengan polusi udara dan angin yang membuat rambutnya berantakan. Sakura yakin jika dia tidak akan selamanya seperti ini. Dia akan segera bisa memperbaiki nasibnya yang hancur. Dia akan mengembalikan kehidupan damainya yang dulu. Semoga saja dia tidak terlambat dan bisa membuat Papanya kembali sembuh atau paling tidak lebih baikan dari kondisinya yang sekarang. "Kita kemana, Mbak?" Tanya tukang ojek itu. "Ke PT Tri Surya, Mas." Jawab Sakura memberikan petunjuk kepada tukang ojek itu. "Oke, Mbak." Balas tukang ojek itu menyanggupi. Semalam dia diberi informasi jika perusahaan tersebut sedang membutuhkan beberapa karyawan baru. Ya, walaupun lowongan yang tersedia hanya staf biasa tapi Sakura berharap bisa menjadi salah satu dari karyawan itu. Dia ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang lebih besar daripada pekerjaannya yang sebelumnya. "Ini, Mas. Terima kasih ya." Kata Sakura sambil memberikan helm dan uang kepada tukang ojek itu. "Semoga lancar ya, Mbak." Kata tukang ojek itu memberikan semangat kepada Sakura. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Sakura diperusahaan itu. Apakah Sakura akan melamar pekerjaan atau memang dia sudah karyawan. "Terima kasih, Mas. Semoga, Mas juga banyak orderan." Jawab Sakura sambil menyunggingkan senyumnya. Dia memang belum kenal dengan tukang ojek itu namun dia bahagia karena masih ada orang yang mau membagi semangat untuknya. "Sama-sama, Mbak." Jawab tukang ojek itu. Kemudian dia memutar balik untuk mencari orderan lagi. Sakura menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam perusahaan. Dia melihat perusahaan itu yang berdiri dengan sangat kokoh dan besar. Dia sangat berharap bisa bekerja disana walaupun dengan jabatan yang rendah. "Semangat, Ra. Kamu pasti bisa." Kata Sakura memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Dengan perlahan Sakura melangkahkan kakinya perlahan masuk ke perusahaan besar itu. Dia langsung menuju meja resepsionis dan memberi tahu apa tujuannya datang ke kantor itu. Resepsionis itu memberikan petunjuk ruangan apa yang harus Sakura tuju. Dan Sakura menuju ruangan itu sambil terus berdoa dan menenangkan dirinya. Ada beberapa orang yang sudah menunggu di ruangan itu. Sakura yakin jika mereka juga calon karyawan sama sepertinya. Sakura tidak menyangka jika saingannya lumayan banyak. Namun, Sakura sangat yakin jika dia bisa diterima di perusahaan ini. Karena kemampuan dan juga pendidikannya yang mumpuni. Dia tidak kalah dengan mereka yang dari lulusan luar negeri. Satu per satu dari mereka sudah dipanggil. Mungkin sebentar lagi giliran Sakura yang masuk. Bibirnya terus mengucapkan doa agar semuanya diberi kemudahan dan kelancaran. Sakura sangat membutuhkan pekerjaan ini. Dia tidak bisa terus menerus bekerja di rumah makan dengan penghasilan yang tidak seberapa. Sakura menginginkan pekerjaan yang lebih bagus dengan gaji yang lebih besar untuk membawa Papanya berobat ke rumah sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD