Sakura membuka pintu kamar Papanya dengan pelan. Dia melihat Papanya yang terbaring dan menutup matanya. Entah memang sudah tidur atau hanya pura-pura saja Sakura tidak tahu. Sakura mendekati ranjang Papanya. Dia duduk ditepi ranjang sambil mengelus punggung tangan Papanya.
“Papa tidur?” tanya Sakura pelan.
Joko yang mendengar suara putrinya langsung membuka matanya. Samar-samar dia melihat putrinya yang terlihat cantik. Make up natural dengan rambutnya yang disanggul kecil dan anak rambut yang dibiarkan tergerai ditambah toga hitam yang masih terpasang ditubuh putrinya. Joko menangis melihat itu, bukan tangisan kesedihan namun tangisan kebahagiaan.
Sakura tersenyum. Senyum yang dipaksakan, sebenarnya dia juga ikut sedih melihat Papanya menangis. Namun Sakura menahannya agar tidak membuat keadaan semakin haru.
“Pa, Sakura mendapat nilai sempurna.” Kata Sakura sambil menunjukkan ijazahnya.
Joko semakin menangis melihat IPK putrinya, rasa bangganya bertambah berkali-kali lipat. Sakura mengusap air mata Papanya. Dia meletakkan semua barang yang tadi dia bawa ke meja samping ranjang Papanya. Dia membuka lemari Papanya dan mengambil kemeja lengkap dengan jas dan dasinya. Sakura membantu mengganti pakaian Papanya.
“Pa, Ara bantuin ganti baju ya. Kita harus foto bareng untuk merayakan kelulusan Sakura.” Kata Sakura sambil tersenyum. Dia mencoba menyalurkan senyuman kepada Papanya.
Joko hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Dia diam saja dan nurut ketika Sakura sudah mulai mengganti bajunya. Sudah sangat lama dia tidak memakai pakaian seperti ini. Terakhir kali ketika dia memakai setelan jas ini saat ini mengalami kecelakaan 5 tahun yang lalu. Saat itu hujan sangat deras dan dia buru-buru pulang dari kantor karena istrinya menyuruhnya untuk segera pulang. Jalanan sangat licin dan pandangannya terhalang oleh rintikan air hujan sehingga tidak bisa melihat truk yang melaju kencang di depannya. Tanpa bisa menghindar lagi, mobil yang dikendarainya menabrak truk dari jalur berlawanan dan membuatnya terluka parah. Untung saja Allah masih memberikan nyawa untuknya sehingga dia masih tetap bernafas sampai saat ini hanya saja keadaannya yang tidak bisa bergerak.
“Papa masih terlihat ganteng dan gagah.” Puji Sakura dengan tersenyum lebar.
Joko ikut tersenyum walaupun tidak kentara. Sakura bernafas lega melihat senyum Papanya. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kamera berwarna hitam dia pegang. Sakura menatanya dengan sempurna sebelum dia mengambil foto. Setelah itu dia duduk di samping Papanya dengan tangan satu memegang bucket bunga dan satunya lagi menggandengan lengan Papanya. Kepalanya dia sandarkan di pundak Papanya.
“Papa senyum lebih lebar lagi deh.” Pinta Sakura sambil mencontohkan senyum yang dia maksud.
Joko mencoba menarik kedua ujung bibirnya agar bisa tersenyum lebih lebar seperti yang diinginkan oleh putrinya.
“Nah gitu, Pa. Tahan dulu ya senyumnya.” Kata Sakura lembut. Dia melepas toganya dan memasangkan toga itu dikepala Papanya.
“Kita ambil foto lagi.” Kata Sakura sambil memasang kamera lagi.
Berbagai gaya dicoba oleh Sakura. Walaupun Papanya tidak bisa banyak bergerak namun Sakura mencoba menyesuaikan dirinya agar dia bisa mendapatkan foto yang bagus. Dia bahagia karena dia punya foto kenangan wisuda bersama orang tuanya.
“Rrraaa.. da..pa iii ... tu da... mana?” tanya Joko sambil menunjuk kamera yang dipegang Sakura.
“Tadi sebelum pulang Sakura mampir ke rental kamera dulu buat sewa ini. Nanti sore Ara kembalikan ke rentalnya sekalian mau cetak foto ini.” Jawab Sakura menjelaskan.
Joko hanya mengangguk saja. Dia sangat tahu bagaimana kondisi keuangan putrinya itu. Jangankan untuk membeli kamera mahal itu, untuk jajan saja dia harus menghemat. Sejak dia lumpuh dan tidak bisa bekerja, semua urusan pekerjaan dikuasai oleh istrinya. Saat itu Sakura masih sangat muda untuk mengurus perusahaan jadi dia serahkan kepada istrinya. Dia mengira jika istrinya akan mengurusnya dan mengurus Sakura dengan baik, namun ternyata dia salah. Istrinya itu menguasai semua kekayaannya dan menelantarkan dia dan Sakura. Untung saja dia dan Sakura masih diijinkan tinggal di rumah itu tapi tetap saja Sakura dianggap sebagai pembantu.
^^^
“Kamu serius mau memberikan diskon di moment hari kasih sayang?” tanya Bambang pada anaknya ketika mereka baru selesai makan malam.
“Iya, Pa.” Jawab Pandu sambil menganggukkan kepalanya.
“Kamu sudah pikirkan itu baik-baik?” tanya Bambang lagi.
“Sudah.” Jawab Pandu singkat.
“Kamu sudah pikirkan bagaimana nasib perusahaan kita ke depannya?” tanya Bambang lagi. Dia masih punya banyak pertanyaan untuk putranya hanya saja dia ingin bertanya satu per satu.
“Kita lihat saja bagaimana keuangan kita bulan depan. Jika keputusan Pandu kali ini membuat kerugian besar di perusahaan, Pandu akan mundur dari posisi Pandu.” jawab Pandu dengan berani. Setiap dia membuat keputusan, dia sudah memikirkan itu dengan matang. Lagi pula dia tidak akan membuat keputusan yang bisa merugikan perusahaan yang sudah dibangun oleh Papanya sejak masih muda.
Pandu berdiri dari duduknya. Dia meninggalkan ruang makan tanpa berbicara lagi. Itu sudah menjadi kebiasaannya, setelah makan dia hanya akan berbincang sebentar dengan Papa dan Mamanya dan ketika suasana hatinya menjadi buruk dia akan pergi dari hadapan orang tuanya dan mengurung dirinya di dalam kamar yang sunyi.
“Pa, jangan terlalu keras dengan Pandu.” tegur Rani pada suaminya.
“Papa hanya bertanya saja.” Jawab Bambang membela dirinya.
“Tapi pertanyaan Papa tadi seperti tidak percaya dengan Pandu.” kata Rani lagi.
“Papa kuatir jika hasil yang akan didapatkan tidak sesuai dengan rencananya. Diskon 50 persen itu sangat besar. Yang harusnya kita mendapatkan pemasukan yang lebih besar tapi kita harus memotongnya hingga separuh.” Kata Bambang mengutarakan kekuatirannya.
“Pandu itu sudah dewasa, dan dia sudah memimpin perusahaan empat tahun, lagi pula dia juga sangat mencintai perusahaan itu. Tidak mungkin dia akan merugikan perusahaan.” Kata Rani masih membela putranya.
“Papa tahu dia tidak akan merugikan perusahaan, tapi kalau idenya kali ini tidak sesuai dengan ekspektasinya sama saja.” Bantah Bambang lagi.
“Mama yakin kalau Pandu pasti sudah memikirkan ini sebelumnya. Setiap dia membuat keputusan hasilnya selalu sesuai rencananya, ‘kan”
“Terserah Mama saja, Papa bicara seperti apapun juga tidak akan Mama ngerti.” Ucap Bambang putus asa. Dia bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar seperti yang dilakukan oleh putranya.
Rani hanya bisa menghela napasnya dengan keras. Dia melihat kepergian suaminya yang hampir hilang dari pandangannya. Setiap hari dia selalu merasakan hal ini. Kesepian, padahal dia memiliki putra dan suami yang tinggal satu atap dengannya. Tapi tetap saja dia merasakan kesendirian. Terkadang dia melampiaskan kesepiannya dengan bertemu teman-teman arisannya. Hanya saja sekarang hari sudah malam, tidak mungkin dia keluyuran sedangkan putra dan suaminya sedang di rumah. Dan mungkin saat ini mereka berdua sedang bekerja. Rani memang terpenuhi dalam hal materi namun untuk perhatian dari anak dan suaminya, Rani tidak pernah mendapatkan itu. Dulu hidupnya sangat bahagia karena memiliki suami dan anak yang sangat perhatian dengannya hingga membuat teman-temannya merasa iri dengannya, namun semua berubah setelah Pandu mengalami kecelakaan dan membuatnya mengidap penyakit langka yang belum ada obatnya hingga saat ini.