Dua

1061 Words
Sakura memotong wortel memanjang. Pagi ini dia tidak ingin masak yang terlalu ribet karena hari ini dia ada acara wisuda. Ya, siang nanti Sakura akan diwisuda dengan mendapatkan gelar barunya. Dia lulus lebih cepat dari pada teman seangkatannya. Sakura yang memang memiliki otak cemerlang dan juga semangatnya yang tinggi membuatnya lulus wisuda lebih cepat. Walaupun dia kesulitan ekonomi dan waktunya yang harus terbagi dengan kerja paruh waktu namun itu semua tidak menjadi penghalang Sakura untuk meraih gelar Sarjana. Sakura menata masakannya di atas meja makan. Di sana sudah ada nasi, ayam goreng, sambal kecap, pergedel, dan juga sayur sop. Sakura mengambil makanan terlebih dahulu untuk Papanya. Dia memang selalu melakukan hal itu, karena bagi Sakura Papanya masih kepala keluarga di rumah ini jadi dia patut dilayani terlebih dahulu. Sakura membuka pintu kamar Papanya pelan. Di sana dia hanya bisa melihat Papanya terbaring lemas dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan. Bahkan untuk berbicara saja Joko tidak mampu. Hanya matanya saja yang bergerak mengawasi tingkah laku setiap orang yang ada disekitarnya. “Pa, sarapan dulu ya.” Kata Sakura pelan. Sakura meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya di atas meja. Dia membantu Papanya untuk duduk dan menata bantal untuk dijadikan sandaran Joko. Sakura bangkit sebentar dan membuka gorden serta jendela. Ranjang Joko mengarah langsung pada jendela kamarnya jadi Joko bisa mendapatkan sinar matahari setiap pagi. Setelah Sakura rasa sudah cukup sempurna, dia langsung kembali ke tempatnya tadi, dia mulai menyuapi Papanya makan. “Pelan-pelan ya, Pa makannya.” Kata Sakura sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulut Papanya. Joko membuka mulutnya dengan pelan. Dia tidak bisa membuka dengan lebar karena penyakit yang dia derita. Selama ini dia hanya bisa berbaring saja, tidak bisa melakukan terapi atau pengobatan yang bisa mempercepat kesembuhannya. Itu semua karena keterbatasan biaya Putrinya dan karena istrinya tidak mau mengurusinya. Sakura tersenyum melihat Papanya makan dengan lahap. Walaupun penuh celemotan dan beberapa butir nasi yang jatuh, Sakura tetap telaten menyuapi Papanya. Ini sudah menjadi keseharian Sakura. Dia tidak pernah mengeluh karena harus mengurus Papanya yang sakit, karena Sakura sadar jika mengurus orang tuanya yang sedang sakit adalah kewajibannya. “Pa, hari ini Sakura akan wisuda.” Kata Sakura kepada Papanya. Joko tersenyum walaupun itu tidak terlalu kentara. Dia bahagia karena putri semata wayangnya bisa meraih gelar sarjana. Namun dia juga merasa sedih karena dia tidak bisa membantu putrinya itu dalam mewujudkan apa yang dia inginkan. “Tapi, maafin Ara karena Ara tidak bisa mengajak Papa hadir di wisuda Ara. Ibu melarang Ara untuk membawa Papa.” Kata Sakura lagi. Dia menundukkan kepalanya karena tidak bisa membendung air matanya lagi. “Heehhh,,, hmmm ngg..nggak kk pa.” Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Joko. Dia ingin mengatakan kepada putrinya jika dia baik-baik saja walaupun tidak ikut hadir di acara wisuda nanti. “Sakura janji akan membawa foto wisuda Sakura nanti. Dan kita harus tetap foto bersama.” Kata Sakura pelan sambil mengusap air matanya. Joko hanya bisa membalasnya dengan anggukan kepala yang dia paksakan. Sebenarnya dia merasa bersalah dengan Sakura karena dia sebagai seorang Ayah tidak bisa melindungi putrinya. Dia merasa sudah menelantarkan Sakura. Walaupun itu bukan dia sengaja namun dia tidak berdaya untuk melindungi putrinya. “Sakura berangkat dulu ya, Pa.” Kata Sakura pelan. Dia bersalaman dengan Papanya dan mencium pipi Papanya kanan dan kiri. Walaupun Papanya tidak segagah dulu namun Sakura masih merasa jika Papanya ada Papa terhebat di dunia. Joko hanya bisa memandangi kepergian putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ketika Sakura sudah benar-benar menghilang dari pandangannya, setetes air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga. Tangisan haru dan bahagia bercampur menjadi. Hati orang tua mana yang tidak merasa bangga ketika putrinya bisa lulus sebelum waktu yang ditentukan, namun hati orang tua mana lagi yang tidak sedih melihat anaknya berangkat wisuda seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun. Sakura seperti anak yatim piatu padahal sebenarnya dia masih memiki Ayah. ^^^ Gedung pertemuan Universitas tempat Sakura menempuh kuliah itu terlihat sangat ramai. Ribuan mahasiswa akan diwisuda hari ini. Di bangku belakang terlihat orang tua mahasiswa dengan raut wajah berseri-seri. Mereka sangat bangga bisa menyaksikan langsung putra dan putrinya di wisuda, begitu juga dengan mahasiswa lainnya. Namun berbeda dengan Sakura, walaupun sejak tadi bibirnya terus menyunggingkan senyum, tetap saja dia memendam perasaan sedih yang teramat dalam. Sejak tadi dia melafalkan doa untuk kedua orang tuanya. Satu per satu mahasiswa di wisuda oleh pimpinan kampus tak terkecuali Sakura. Kini Sakura berjalan pelan keluar dari gedung. Dia masih menggunakan toga lengkap dengan jubahnya, tangannya memegang slempang dengan bertuliskan c*m laude dan juga buket bunga. Bibir Sakura terus menyunggingkan senyum. Sakura menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang yang mungkin sengaja hadir di acara wisudanya. Namun ternyata dia harus menelan harapan itu sendiri karena tidak ada satu pun orang yang peduli dengan wisudanya. Hingga akhirnya Sakura meminta tolong kepada salah satu mahasiswa yang lewat di depannya, dia meminta mahasiswa itu untuk memotret dirinya di depan gedung kampus. “Terima kasih.” Kata Sakura ramah kepada orang yang dia mintai tolong itu. “Sama-sama.” Jawab laki-laki itu sambil tersenyum. Setelah itu dia berlalu dari hadapan Sakura. Sakura berjalan pelan keluar dari kampus. Acara wisuda sudah usai dan dia tidak ada alasan untuk berlama-lama di sana. Sakura menuju ke makan Mamanya. Dia bermaksud untuk memberi tahu Mamanya jika dia berhasil meraih gelar sarjana. Dia ingin membagi kebahagiaan itu kepada orang yang sangat dia cintai walaupun orang itu sudah tidak ada di dunia ini. “Hai, Ma. Bagaimana kabar Mama? Ara dan Papa di sini baik-baik saja.’ Kata Sakura pelan. Dia mengusap nisan Mamanya. “Hari ini Ara diwisuda, Ma. Ara mendapat nilai sempurna dan ini penghargaan dari kampus untuk Ara.” Kata Sakura sambil memamerkan paper bag berisi penghargaan untuknya. “Ara bahagia sekali karena Ara bisa meraih gelar ini, dulu Ara berpikir jika mungkin Ara tidak bisa lulus kuliah karena Ara tidak mampu bayar. Tapi ternyata Allah benar-benar baik, dia membantu Ara hingga Ara seperti ini.” Kata Sakura yang mulai meneteskan air matanya. “Tapi Ara juga sedih karena kalian tidak bisa menemani Ara diwisuda.” Lanjutnya dengan tangis yang sudah pecah. Sakura menangis sesenggukan. Dia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Hatinya benar-benar sedih karena orang tuanya tidak bisa melihat pencapaiannya saat ini. Walaupun dia tahu mungkin Mamanya juga merasa bangga kepadanya walaupun saat ini mereka sudah beda dunia, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan kesedihannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD