Pandu berjalan mondar-mandir didepan ruang IGD. Ini sudah lebih dari 30 menit namun dokter belum juga keluar dari ruangan. Pandu sangat kuatir dengan keadaan Sakura. Bahkan wajahnya terlihat sangat mengkuatirkan keadaan gadis yang tidak dia kenal itu.
"Semoga tidak ada hal buruk dengan dia Ya Allah." Doa Pandu dengan tulus.
Clek. Pintu UGD terbuka. Pandu yang mendengar suara itu langsung menoleh ke belakang. Dia dengan cepat menghampiri perempuan yang memakai jas putih tersebut.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Pandu dengan cepat.
"Lukanya tidak parah, pendarahannya juga sudah berhenti. Tadi juga sudah dijahit lukanya." Jawab dokter itu menjelaskan.
"Tidak ada luka dalam juga, Dok?" Tanya Pandu lagi memastikan.
"Tidak ada. Setelah ini akan kami pindahkan ke ruang rawat inap. Jika kondisinya sudah membaik, besok sudah bisa pulang." Jawab Dokter itu memberi penjelasan. Dia tahu jika laki-laki di depannya ini mengkuatirkan pasiennya. Mungkin laki-laki itu adalah kekasih pasiennya.
"Terima kasih, Dok." Kata Pandu dengan pelan. Dia bisa bernafas lega setelah mendengar ucapan dari Dokter yang menangani gadis yang sudah menolongnya itu.
Pandu menuju ke resepsionis untuk mengurus biaya perawatan Sakura. Dia tidak akan lepas tanggung jawab begitu saja karena Sakura mendapatkan luka juga karena menolong dia. Bahkan Pandu sudah berjanji jika akan bertanggung jawab dengan kebutuhan Sakura yang lainnya.
"Terima kasih." Kata Pandu pelan sambil menerima nota pelunasan pembayaran.
Pandu berjalan pelan menuju ke ruang rawat Sakura. Dia ingin melihat bagaimana keadaan gadis penolongnya itu. Walaupun dia tidak akan bisa melihat ekspresi gadis itu nanti setidaknya dia bisa melihat dari postur tubuhnya.
Pandu menghela nafasnya sebelum dia membuka pintu kamar. "Bismillah.." Kata Pandu pelan dan setelah itu dia masuk ke dalam kamar.
Pandu melihat seorang gadis muda yang terlentang diatas ranjang rumah sakit. Tangannya terdapat infus dan tubuhnya terlihat sangat lemah. Matanya masih terpejam dengan rapat. Pandu melangkah pelan mendekati ranjang. Dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Sakura. Dia memperhatikan Sakura dengan lekat walaupun dia tidak bisa melihat wajah Sakura.
"Aku nggak tau siapa nama kamu, aku juga nggak tau kamu orangnya seperti apa. Tapi yang aku tau kamu orang yang baik. Kamu nggak akan nolongin aku kalau hati kamu buruk." Kata Pandu pelan. Dia terus menatap Sakura yang masih memejamkan matanya.
"Terima kasih sudah mau membuat dirimu terluka demi menolongku walaupun kita tidak pernah saling kenal sebelumnya." Kata Pandu dengan pelan. Dia mengatakan itu dengan sangat pelan karena takut membuat Sakura terbangun.
Pandu memperhatikan wajah Sakura. Yang hanya bisa dia lihat hanyalah luka perban di pelipis Sakura. Dia sangat ingin melihat bagaimana rupa wanita yang sudah menolongnya itu. Pandu mengira jika gadis itu masih muda namun dia tidak tahu pasti.
"Gadis cantik segeralah bangun. Aku akan menyalahkan diriku sendiri jika kamu tidak bangun." Bisik Pandu ditelinga Sakura.
Hingga tanpa terasa ponsel yang ada di sakunya bergetar. Pandu sedikit terkejut dengan hal itu. Dia lantas mengambil ponsel itu dan membaca nama siapa yang memanggilnya.
Tertulis nama Mama di layar handphone. Pandu segera menekan tombol hijau sebelum mamanya marah. Karena jika wanita yang sudah melahirkannya itu marah akan lama.
"Hallo, Ma." Sapa Pandu begitu dia menempelkan ponsel ditelinganya.
"Kamu dimana? Mama udah nungguin dari tadi ini." Kata Rani dari seberang telvon.
Pandu menghela nafasnya. Dia lupa jika dia sudah ada janji dengan Mamanya. Dia berjanji akan menemani Mamanya pergi berbelanja. Namun dia malah melupakan itu dan berniat berjalan-jalan sendirian.
"Aduh maaf, Ma Pandu lupa." Kata Pandu dengan menyesal.
"Cepetan kesini. Mama sudah siap ini." Kata Mamanya lagi.
"Ma, Pandu masih ada urusan. Kita ganti besok saja ya, Ma." Kata Pandu lagi. "Nanti terserah Mama deh mau beli apa aja, Pandu turuti." Kata Pandu lagi mencoba merayu Mamanya.
"Memangnya kamu dimana? ada urusan apa?" tanya Rani pelan. Dia tidak masalah jika hari ini dia tidak jadi berbelanja namun dia ingin tahu urusan apa yang sedang dilakukan oleh putranya. Karena selama ini dia tahu jika putranya tidak pernah ada masalah apapun. Jangankan punya masalah, keluar di tempat umum pun jarang.
Pandu menggaruk belakang kepalanya. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kepada Mamanya jika ia berada di rumah sakit. Dia tidak ingin membuat Mamanya kuatir walaupun bukan dia sebenarnya yang terluka.
"Pandu lupa kalo ada janji sama Mama, ini Pandu udah terlanjur keluar jalan-jalan." Jawab Pandu dengan rasa bersalah. Dia tidak bermaksud membohongi Mamanya namun hanya itu yang terlintas dipikirannya. Toh, dia juga tidak sepenuhnya berbohong karena tadi memang dia sudah berencana untuk pergi jalan-jalan mencari angin segar dan juga kudapan.
Rani berteriak kecil. Dia tidak percaya jika Pandu anaknya mau berjalan-jalan keluar. Biasanya dia harus menarik anaknya itu dan berteriak serta memohon-mohon agar anaknya mau keluar ke publik.
"Ma, jangan teriak-teriak. Pandu nggak tuli." Kata Pandu protes.
"iya-iya maafkan, Mama. Mama cuma masih nggak percaya kalo kamu mau keluar ke publik. Biasanya nunggu Mama marah-marah dulu." Kata Rani meminta maaf.
"Ya, sekarang kan beda. Seharian Pandu kerja jadi sumpek terus pengen yang seger-seger." Kata Pandu jujur.
"Ndu, have fun ya, Nak. Mama mau jalan berdua sama Papa saja." Kata Rani lagi.
Pandu tersenyum kecil. Dia tidak pernah melihat Mama sedih sekarang. Entah Mamanya yang pintar menyembunyikan itu atau memang benar Mamanya tidak pernah bersedih. Tapi dia tetap bersyukur karena Mamanya tidak banyak bertanya dan minta foto dirinya. Karena kalau memang seperti itu, dia bisa ketahuan kalau sedang berbohong. Buktinya saat ini dia memang tidak sedang jalan-jalan tapi sedang di rumah sakit.
"Mama have fun juga ya pacaran sama Papa." Kata Pandu bercanda dengan Mamanya.
"Pasti dong pasti Mama seneng-seneng jalan sama Papa. Mama nggak bakalan gangguin kamu yang lagi seneng-seneng juga." Jawab Mamanya.
"Ya sudah, Ma Pandu tutup telvonnya. Mama hati-hati ya." Kata Pandu pelan.
"Iya, Sayang." Jawab Mamanya sebelum sambungnya telvon benar-benar ditutup oleh Pandu.
Pandu memandang ponselnya yang sudah mati. Dia meminta maaf karena sudah berbohong dengan Mamanya tapi Pandu berpikir itu lebih baik daripada harus mengatakan kepada Mamanya jika dia di rumah sakit karena membuat seseorang celaka setelah menolongnya.
Lama dia bengong dan tersadar setelah mendengar seseorang batuk. Pandu menoleh ke belakang dan melihat seseorang berbaring di ranjang rumah sakit sedang batuk. Pandu mendekati orang itu dan melihat orang itu mulai menggerakkan tangannya.