Enam

1042 Words
Cuaca hari ini terlihat begitu cerah. Gumpalan awan putih bergerombol menjadi satu di langit yang biru. Matahari bersinar memberikan panas ke bumi hingga beberapa orang memilih untuk berada di dalam ruangan. Berbeda dengan Pandu, laki-laki itu memilih untuk menikmati hari yang cerah ini. Dia berjalan pelan disepanjang trotoar. Kacamata hitam bertengger dimatanya untuk mengatasi silau matahari. Dia berjalan dengan santai sambil mengawasi sekitar. Walaupun dia tidak bisa menikmati setiap wajah yang bertatapan dengannya, namun Pandu berusaha menikmati alam semesta. Pandu akan menikmati alam indah yang sudah disiapkan oleh Tuhan ini, dia akan berlama-lama berada di luar ruangan. Membiarkan angin segar menerpa rambutnya, membiarkan sinar matahari menghantam kulitnya. Seharian berada di ruangan yang gelap dan engap dan berkutat dengan banyak dokumen serta berada di depan layar komputer membuatnya jenuh. Kepalanya menjadi pusing karena terlalu banyak bekerja dan kurang beristirahat. Dia memang orang yang penggila kerja, Walaupun dia bekerja dibalik layar. Dan saat ini Pandu akan menghabiskan sisa hari ini untuk mencari kudapan atau hanya sekadar untuk berjalan-jalan santai saja. Semua mata tertuju padanya. Sebenarnya dia merasa risih tapi dia tatapan seperti itu sudah sering dia terima. Bahkan di hidupnya yang serba tertutup pun dia masih sering menerima tatapan memuja seperti itu. Sudah tidak usah diragukan lagi tentang parasnya. Sejak dulu dia sudah digandrungi oleh banyak wanita. Banyak juga yang patah hati karenanya. Namun walaupun rupanya yang tampan dia tidak suka permainkan wanita. Bahkan dia hanya pernah berpacaran dengan 1 cewek saja. Dulu dia tidak terlalu memikirkan cewek karena dia ingin fokus pada pendidikannya terlebih dahulu. Dia juga lebih banyak menghabiskan waktu menekuni hobinya daripada menghabiskan waktu menuruti pacarnya untuk jalan-jalan. Mungkin hal itu yang membuat pacarnya dulu tidak betah dengannya dan memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. "Ampun deh ganteng banget cowok itu." Kata seorang wanita yang duduk di pada kursi yang ada di pinggir jalan. "Beneran itu kalo jadi laki gue nggak bakal gue lepasin. Gue bakalan jaga." Balas temannya yang duduk di sampingnya. Pandu berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ocehan cewek-cewek yang memuja ketampanannya. Dia berusaha menutup telinganya dan terus berjalan ke depan. Yang mereka lihat adalah ketampanan Pandu tanpa mereka tahu jika sebenarnya dia memiliki kekurangan yang mungkin tidak bisa mereka terima. Dia saja masih belum bisa menerimanya bagaimana dengan orang lain?. Dia mencoba untuk mengenali setiap orang dan tempat yang ada disekitarnya. Walaupun itu terasa sulit namun Pandu sudah biasa dengan keadaan ini. Kekurangan yang dia miliki karena kecelakaan membuatnya tidak hanya tidak bisa membedakan wajah manusia namun dia juga kesulitan melihat wajah hewan. Benturan keras pada kepalanya membuat sensor diotaknya tidak berfungsi dengan baik lagi. Hal itu membuatnya menjadi pasien pengidap Prosopagnosia sampai akhir hidupnya nanti. Walaupun Pandu sudah sangat berhati-hati namun tetap saja celaka bisa datang tanpa diduga, hingga dia tidak sadar ketika ada anjing liar yang lari kencang dari depan menuju arahnya. Anjing itu berlari semakin kencang namun Pandu masih tidak sadar. "Minggir!" Teriak seseorang meneriaki Pandu. Orang itu berusaha memberikan peringatan kepada Pandu agar Pandu fokus dengan apa yang ada didepannya. Namun itu semua sia-sia. Pandu masih tidak sadar dan terus berjalan seperti tidak ada apa-apa. Orang itu semula membawa baki berisi mangkok kosong langsung dia letakkan begitu saja. Dia lebih memilih menyelamatkan laki-laki yang tidak dia kenal itu daripada mengurusi mangkoknya yang tergeletak. Brukk. Guk guk guk.... "Ahhhh... aduduhhhh..." Keluh seseorang yang meneriaki Pandu tadi tatkala tubuhnya menubruk bahu jalan. Pandu yang terdorong "Ahh.." Keluh Pandu yang merasakan kepalanya pusing karena Terbentur aspal. Namun telinganya mendengar rintihan dari seseorang. Pandu mencoba menoleh ke kanan dan dia melihat seorang wanita tergeletak di sana. Pandu segera bangkit walaupun dia merasakan pusing. Dia menghampiri gadis itu dan memeriksa keadaan gadis itu sendiri. Banyak orang yang mengerubungi mereka. Namun hanya beberapa orang saja yang membantu Pandu untuk melakukan pertolongan pertama pada Sakura. Entah yang lainnya tidak mengerti atau memang karena mereka tidak tertarik dengan hal itu. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Pandu dengan panik ketika melihat gadis muda yang menolongnya masih tergeletak di pinggir jalan. Dia mengangkat kepala gadis itu dan dia tumpangkan dipangkuannya. "Ya, aku baik-baik saja." Jawab Sakura dengan lemah. Kepalanya terasa sedikit pusing dan nyeri karena terbentur trotoar. Pandu membentuk tangannya menjadi sebuah angka. Dia meminta gadis itu untuk menebaknya. Dan gadis itu hanya berhasil menebak satu huruf saja, yang lainnya dia tidak bisa menebaknya. "Kamu berdarah." Ucap Pandu sangat panik saat melihat darah menetes dari pelipis Sakura. Sakura mengarahkan tangannya ke kepala yang tadi terbentur aspal. Dia melihat tangannya yang ada darah segar. "Ayo kita ke rumah sakit." Kata Pandu dengan cepat. Dia sangat kuatir dengan keadaan Sakura. "Tidak perlu. Aku bisa mengobati ini sendiri." Jawab Sakura menolak. Pandu yang melihat darah segar terus mengalir dari pelipis Sakura tidak mengindahkan penolakan Sakura. Dia segera meminta bantuan kepada orang yang mengerubungi dia dan Sakura untuk menghubungi ambulans dan membawa Sakura ke rumah sakit. Walaupun dengan sedikit paksaan dan cek-cok karena Sakura tidak mau dibawa ke rumah sakit tapi tetap saja Pandu pemenangnya. Karena Pandu merasa bersalah melihat Sakura yang terkapar dan melihat pelipis Sakura yang mengeluarkan darah. Tidak butuh waktu lama ambulan sudah datang. Petugas rumah sakit menurunkan bankar untuk membopong Sakura. "Aku tidak perlu ke rumah sakit." Kata Sakura dengan lemah walaupun dia sudah diangkat untuk dimasukkan ke ambulans. Bahkan matanya sudah sayu menahan nyeri di pelipisnya namun dia masih sempat berontak dan menolak untuk dibawa ke ruang sakit. Pandu memegang dahi Sakura. Dia seakan-akan ingin membantu Sakura menutup matanya agar nyeri yang dirasakan Sakura tidak terlalu terasa. "Sudah kamu pejamkan matamu saja." Kata Pandu dengan lembut. Walaupun dia tidak mengenal gadis yang tidur di depannya itu tapi dia merasa harus memperhatikan gadis itu. Karena gadis itu yang sudah menolongnya dari insiden tadi. Mungkin jika gadis itu telat sedikit saja dia sudah terluka. Sakura memilih untuk diam. Dia sudah merasa lemas bahkan dia merasa jika bumi ini berputar. Dia menuruti ucapan laki-laki yang tadi dia tolong. Bahkan dia membiarkan tangan Pandu tetap bertengger di dahinya. "Sebentar lagi kita sampai." Kata Pandu sedikit berbisik kepada Sakura. Sakura menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia tidak bisa mengucapkan apapun lagi karena sudah lemas. Pintu mobil ambulan terbuka. Sakura yang tidur dibankar segera didorong untuk masuk ke ruang IGD agar segera mendapatkan pertolongan. Pandu terus berada disamping Sakura hingga akhirnya dia hanya bisa melihat Sakura yang mulai masuk ke ruang IGD.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD