Sakura merapikan rambutnya yang masih basah. Dia memilih mengeringkannya menggunakan handuk daripada hair dryer karena memang hair dryer nya rusak dan dia sangat menyayangkan uanganya untuk membeli hair dryer yang baru. Sakura berfikir jika rambutnya kan kering sendiri ketika terkena angin, hal itu juga menjadi pendukungnya untuk tidak membeli yang baru. Setelah merasa rambutnya sudah rapi, Sakura memoleskan lipstik nude ke bibirnya. Warna yang natural untuk kulitnya yang putih. Make up yang tidak terlalu menor namun sudah membuatnya terlihat cantik.
Sakura tersenyum ketika melihat penampilannya yang dia rasa sudah cukup. Hari ini dia akan datang ke salah satu perusahaan besar yang ada di kotanya. Dia sangat berharap ini ada perusahaan terakhir yang dia lamar.
"Semoga hari ini berhasil." Kata Sakura pada dirinya sendiri.
Pintu kamar Sakura yang sedikit terbuka membuat seseorang bisa melihat yang ada didalam. Delon melirik ke dalam dan melihat Sakura yang sudah berdandan dengan rapi. Sepatu hak tinggi berwarna hitam terlihat sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Pakaiannya khas orang kantoran. Blouse warna merah maroon dipadukan dengan celana berwarna coklat muda. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dan terlihat masih sedikit basah.
Delon buru-buru pergi ketika melihat Sakura yang sudah selesai dan bersiap berangkat. Delon segera masuk kamarnya dan mengambil kunci mobilnya, setelah itu dia berangkat dan ketika berpapasan dengan Sakura dia pura-pura tidak ada yang terjadi.
"Selamat pagi, Cantik." Sapa Delon kepada Sakura.
Sakura hanya melihat sekelilingnya untuk memastikan siapa yang disapa oleh Delon.
"Aku sapa kamu, nggak ada siapa-siapa selain aku dan kamu." Kata Delon sambil tertawa kecil. Dia dibuat gemas dengan tingkah cuek Sakura.
"Oh." Balas Sakura singkat.
Sakura kembali melanjutkan jalannya dan melenggang pergi meninggalkan Delon. Dia tidak peduli dengan Delon yang terus memanggil namanya. Sakura hanya fokus agar dia bisa segera sampai jalan raya dan mencari ojek.
Delon buru-buru masuk ke mobilnya. Dia mengejar Sakura yang sudah sampai di pos satpam kompleks. Delon sangat penasaran dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Sakura. Gadis itu selalu berangkat pagi dan pulang malam. Bahkan pakaian yang digunakan juga sudah tidak lagi sama. Pagi memakai pakaian setelan kantor dan pulang hanya memakai celana jins dan sweeter.
Tin.. tin..
"Kamu mau kemana? Ayo aku anter." Teriak Delon dari dalam mobil.
Sakura masih tidak peduli dengan Delon. Dia terus berjalan lurus tanpa menoleh ke samping kanannya. Membiarkan Delon yang masih memanggil namanya dan menekan klakson mobil. Hingga akhirnya mobil Delon berhenti di depannya dan itu sukses membuat Sakura ikut berhenti.
Delon keluar dari mobilnya. Dia menatap Sakura sekilas dan setelah itu mendekati Sakura.
"Ada apa?" Tanya Sakura ketus.
"Mau kemana?" Tanya Delon lembut. Delon sudah terbiasa dengan sikap Sakura yang cuek dan dingin. Baginya, sikap Sakura dingin Sakura sudah menjadi ciri khas dari gadis itu.
"Minggir, nggak usah ikut campur." Kata Sakura dengan keras.
Delon sama sekali tidak menghiraukan ucapan Sakura. Dia masih berdiri di depan Sakura tanpa ada rasa takut. Sakura menghela nafasnya dengan keras.
"Jangan halangin jalan aku, kamu punya urusan sendiri aku juga punya urusan sendiri. Nggak usah saling ikut campur urusan kita masing-masing." Kata Sakura yang sudah sangat jengkel.
Delon melirik tas yang dia cangklong oleh Sakura. Dia melihat ada amplop coklat yang tertuliskan alamat, entah alamat siapa namun Delon Yakin jika itu adalah surat lamaran pekerjaan. Setelah itu Delon memperhatikan penampilan Sakura. Sudah sangat rapi dan itu membuat Delon semakin yakin jika Sakura sedang mencari pekerjaan.
Delon mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Secarik kertas kecil berisikan nama seseorang, nama dan juga alamat sebuah perusahaan terpampang disana. Delon menyodorkan kertas itu kepada Sakura. Semula Sakura tidak mau menerimanya. Dia hanya meliriknya saja namun Delon semakin menyodorkannya dan membuat Sakura tertarik ingin menerimanya.
"Di perusahaan itu ada lowongan pekerjaan, kamu bisa coba datang kesana." Kata Delon pelan. Dia menjelaskan maksudnya memberikan kartu nama itu.
Sakura membacanya dan mengerutkan keningnya. Ini adalah perusahaan besar yang bisnisnya sudah melebar hingga keluar negeri. Tiba-tiba saja Sakura merasa minder dan takut mencoba memasukkan lowongan pekerjaan di sana. Namun tidak ada salahnya dia mencobanya terlebih dahulu.
"Kamu sudah pernah melamar di sini?" Tanya Delon pelan. Dia melihat ekspresi Sakura yang ragu dan nampak berfikir keras. Delon mengira jika Sakura sudah pernah daftar kesana dan tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Ini perusahaan yang besar, aku merasa minder melamar di sini. Aku yakin karyawan yang bekerja di sini pasti lulusan luar negeri." Kata Sakura pelan. Matanya masih menatap kartu nama itu namun dia masih bisa fokus dengan apa yang dikatakan oleh Delon.
"Coba saja dulu. Jangan takut sebelum mencoba, jangan putus asa sebelum memulai." Kata Delon memberikan semangat untuk gadis pujaannya itu. Dia tidak ingin melihat gadis pujaannya itu putus asa. Ya, walaupun dia juga tidak bisa menjamin jika Sakura pasti diterima diperusahaan itu. Tapi Delon tetap percaya jika Sakura punya banyak peluang untuk diterima diperusahaan itu.
"Makasih sudah kasih info." Kata Sakura pelan. Dia memasukkan kartu nama itu ke dalam tasnya. Dia mulai berjalan lagi meninggalkan Delon yang masih berdiri ditempat awalnya.
"Ra, kamu beneran nggak mau aku antar?" Tanya Delon memastikan sekali lagi.
"Nggak." Jawab Sakura singkat tanpa menoleh ke belakang.
Delon hanya tersenyum kecil dengan matanya yang masih menatap Sakura dengan lekat. Delon bersyukur karena setidaknya Sakura juga tidak menolak kartu nama yang dia berikan. Walaupun Sakura masih tetap menolak tumpangan yang dia tawarkan.
***
Sakura berjalan pelan menyusuri bahu jalan. Tangan kirinya menenteng plastik dengan cap sebuah minimarket yang tidak asing didengar oleh orang Indonesia. Sakura berjalan dengan santai dan tenang. Raut wajahnya juga terlihat lebih bercahaya. Bibir yang biasanya cemberut kini tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
Mobil jazz merah berhenti di samping Sakura. Sakura yang sudah hafal dengan mobil itu langsung menyunggingkan senyumnya. Kaca jendela mobil terbuka memperlihatkan laki-laki tampan dengan kacamata hitam. Sakura berdecak kagum melihat ketampanan laki-laki itu.
"Masuk yuk." Ajak laki-laki yang ada di dalam mobil itu.
Sakura menganggukkan kepalanya dan langsung masuk ke dalam mobil. Laki-laki itu juga yang sebenarnya akan dia temui, tapi malah sekarang mereka bertemu dijalan.
"Aku kira kamu sudah disana." Kata Sakura membuka obrolan.
"Ada kerjaan mendadak tadi, aku selesaikan dulu." Jawab Pandu sambil tersenyum.
"Sekarang sudah selesai?" Tabya Sakura memastikan. Dia tidak ingin Pandu ditegur atasannya karena pekerjaannya belum selesai.
"Sudah." Jawab Pandu lembut.
"Oh iya aku tadi beli es krim. Kamu mau?" Kata Sakura sambil menunjukkan plastik yang dia bawa.
"Nanti aja, aku masih nyetir." Jawab Pandu pelan.
"Aku bantuin makan." Kata Sakura dengan semangat. Dia membuka es krim itu dan mulai menyuapi Pandu. Awalnya Pandu ragu namun akhirnya dia membuka mulutnya juga.
Sakura tertawa melihat bibir Pandu yang sengaja dia kotorin dengan es krim. Pandu hanya tertawa tanpa marah, dia mengambil tisu dan mengusapnya hingga bersih.
"Nggak usah rese." Kata Pandu sambil tertawa.
Suasana mobil terasa begitu ramai. Interaksi antara Sakura dan Pandu sangat hangat. Candaan mereka memenuhi ruangan mobil. Hubungan mereka memang hanya sebatas teman namun perasaan mereka seakan-akan mengungkapkan ketertarikan satu sama lain. Hanya saja salah satu diantara mereka tidak ada yang berani untuk memulai terlebih dahulu.