Dua Puluh Enam

1631 Words
"Tumben kamu yang ngajakin ketemu dulu." Gumam Pandu heran. Pasalnya selama ini selalu dia yang memulai pertemuan dan Sakura yang mengakhirinya. Namun, baru kali ini Sakura mengajaknya. Sakura hanya tersenyum saja. Dia berpikir memang baru kali ini dia mengajak Pandu bertemu. "Nggak papa, pengen aja gitu." Jawab Sakura pelan. Pandu hanya manggut-manggut saja. Bibirnya mengunyah kacang kulit yang tadi dibeli oleh Sakura. Kerlap-kerlip lampu kota metropolitan menjadi santapan mata Sakura dan Pandu. Melihatnya dari ketinggian terasa berbeda dibandingkan melihat dari dataran. Ya, saat ini Pandu mengajak Sakura di atap gedung apartemennya. Dia ingin memberikan suasana baru untuk Sakura dan dirinya. Bukannya dia bosan dengan pemandangan danau, hanya saja dia ingin sesuatu yang berbeda dan berharap bisa menjalin hubungan dengan status yang berbeda juga. "Aku ada kabar baik." Kata Sakura pelan. Dia menatap Pandu sambil tersenyum. "Kabar apa?" Tanya Pandu cepat. Dia tidak sabar dengan kabar yang dimaksud oleh Sakura. Semoga saja memang kabar baik bagi Sakura dan juga dirinya. "Aku...." Kata Sakura yang sengaja dia gantung. Dia ingin membuat Pandu penasaran. Melihat ekspresi Pandu yang tidak sabar membuat Sakura ingin menggoda laki-laki itu. "Apa?" Tanya Pandu lagi. Dia sudah tidak sabar namun dia mencoba untuk tetap tenang. "Aku diterima kerja." Kata Sakura sambil tersenyum. Dia memperlihatkan sebuah pesan yang ada di ponselnya. Itu pesan yang berisi jika dia sudah bisa bekerja mulai besok. Pandu membaca itu dengan hati-hati. Hingga akhirnya Pandu tersenyum dan ikut bahagia. Dia bersyukur karena akhirnya Sakura mendapatkan pekerjaan. Usaha-usaha yang dilakukan selama ini tidak sia-sia. "Selamat ya, Ara." Teriak Pandu memberikan selamat kepada Sakura. Sakura tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Sudah hampir satu bulan dia mencari pekerjaan kesana-kemari dan hari ini adalah hari terakhir bagi dia keluar masuk dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mencari pekerjaan. "Sesuai janjiku kemarin, begitu kamu diterima kerja aku bakal kasih kamu bucket bunga lagi." Kata Pandu dengan wajah berseri-seri. Sakura menengadahkan tangannya di depan Pandu. "Mana bunganya?" Tanya Sakura dengan bibir yang masih menyunggingkan senyum. Pandu terkekeh pelan dan menempel tangan Sakura. "Ya nggak sekarang, kan aku baru tau ini kalo kamu udah dapat kerjaan." Jawab Pandu pelan. Sakura hanya tertawa saja. Dia kembali menatap ke arah depan. Tangannya dia rangkulkan pada lututnya yang dia tekuk. Kulitnya mulai merasakan kedinginan. Angin yang semakin malam semakin bertiup dengan kencang juga suasana malam yang semakin mencekam membuat Sakura berpikir jika hari hampir larut malam. "Aku mau pulang." Kata Sakura pelan. Tangannya melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya. "Ayo aku antar." Jawab Pandu lembut. "Seperti biasa ya." Kata Sakura mengingatkan. Pandu menganggukkan kepalanya mengerti. Sakura selalu menolak dia ketika dia ingin mengantarkan sampai rumah, ya walaupun tidak sampai rumah setidaknya sampai di depan pintu pagar saja. Namun Sakura selalu menolak dan lebih memilih diantar sampai pos satpam. "Iya, di depan kompleks dan ujung² ditanyain sama Pak Tejo kan." Ucap Pandu seperti sudah hafal dengan kebiasaan itu. Pak Tejo adalah salah satu satpam yang sudah kenal akrab dengan Pandu. Mereka sering mengobrol setelah dia mengantarkan Sakura pulang dan memastikan Sakura hingga gadis itu masuk ke dalam rumah. Sakura tersenyum kecil. Dia melihat ekspresi Pandu yang sepertinya keberatan karena tidak pernah dia ijinkan untuk mengantar sampai rumah. Tapi tetap saja dia tidak bisa mengijinkan Pandu datang ke rumahnya. Akan terjadi hal yang besar menurutnya jika Pandu sampai nekad datang ke rumahnya. Sakura menerima uluran tangan dari Pandu. Setelah itu mereka meninggalkan atap gedung dan menuju ke mobil. Suasana sekitar sudah mulai sepi. Lampu apartemen sebagian sudah temaram menandakan jika pemiliknya sudah terlelap dalam tidurnya. Pandu dengan setia menggenggam tangan Sakura selama mereka jalan menuju parkiran. Entah dia tidak sadar atau memang sengaja menggandeng tangan Sakura tapi hal itu sukses membuat jantung Sakura berdetak kencang dan membuat wajahnya memerah. Pandu membuka pintu mobil untuk Sakura.. Tangannya yang sebelah memegang kap mobil agar kepala Sakura tidak terbentur. Perlakuan Pandu kepada Sakura sangat manis malam ini hingga Sakura sendiri tidak menyangka. Sakura merasa tidak siap jika terus mendapatkan perlakuan semanis ini dari Pandu. Dia takut semakin lama perasaannya akan semakin berkembang. *** "Kyaaaa......" Teriak Delon sambil menaburkan kertas tabur ke arah Sakura. Sakura yang saat itu baru masuk ke dapur langsung terkejut dengan tingkah Delon yang tiba-tiba. "Ihh apa nih." Kata Sakura sambil membersihkan potongan kertas yang ada ditubuhnya. Delon tersenyum. Dia membantu Sakura membersihkan potongan-potongan kertas itu. "Selamat." Kata Delon pelan. Bibirnya masih menyunggingkan senyum seperti tadi. "Ngapain kamu kasih ginian?" Tanya Sakura heran. Delon berjalan pelan ke arah kulkas. Dia mengambil cup cake coklat yang menusukkan lilin panjang diatasnya. Setelah itu dia menyalakan lilin dan mendekati Sakura lagi. Sakura memperhatikan setiap tingkah Delon. Dia memicingkan matanya dan berpikir apa lagi yang akan dilakukan laki-laki itu. "Sebelum tiup lilin kamu harus bikin permintaan dulu." Kata Delon pelan. Sakura hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Setelah itu dia menggenggam kedua tangannya sambil memejamkan matanya. Sakura terdiam dan berdoa di dalam hati. Dia meminta kesehatan untuk dirinya dan juga Papanya serta dia juga meminta di permudahkan segala urusannya. "Sudah." Gumam Sakura pelan. Seketika dia meniup lilin itu. Delon menyelamatinya sekali lagi. Dia meletakkan cup cake itu ke atas meja dan mengulurkan tangannya. Delon berniat untuk menyalami Sakura namun perempuan itu terlihat acuh. Delon kembali menarik tangannya dan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Terima kasih." Kata Sakura pelan. Delon tersenyum manis berharap Sakura mau mengakui karismanya. Tapi ternyata Sakura terlihat biasa-biasa saja, dia terlihat tidak tertarik dengannya. "Aku masuk dulu." Kata Sakura pelan. Delon yang melihat Sakura mulai melangkahkan kakinya, dia langsung mencekal lengan gadis itu. Delon masih ingin berlama-lama dengan gadis pujaannya itu. Sakura melihat lengannya yang dicekal oleh Delon. Matanya mengisyaratkan jika dia tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Delon saat ini. Tapi anehnya dia juga tidak berusaha melepaskan cekalan itu. "Ada apa?" Tanya Sakura dengan dingin. Delon mengedip-ngedipkan matanya. Dia bingung harus membuat alasan apa agar Sakura mau tetap tinggal di sana untuk beberapa waktu. Hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu secara frontal. "Temani aku makan malam." Ucap Delon dengan cepat. Sakura melirik ke arah meja makan. Tidak ada makanan apapun di sana. Dia tidak tahu mengapa Delon mengajaknya makan sedangkan tidak ada apapun yang terhidang. Delon yang sepertinya mengerti dengan isi pikiran Sakura langsung bertindak. "Kita bisa bikin makanan instan." Kata Delon dengan cepat. Terlihat sekali jika Delon sedang berusaha menahan Sakura. Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Aku malas masak." Kata Sakura dengan ketus. Dia menarik tangannya dari cekalan Delon. "Biar aku aja yang masak." Balas Delon sambil tersenyum kecil. Sakura menghela nafasnya dengan keras. Entah memang keberuntungan Delon atau memang Sakura merasa lapar akhirnya Sakura mengabulkan permintaan Delon. "Masak yang enak." Gumam Sakura pelan sambil berjalan pelan ke arah meja makan. "Tenang saja, kamu pasti akan ketagihan." Jawab Delon dengan percaya diri. Sakura menaruh tasnya di atas meja. Dia melipat tangannya dengan rapi seakan-akan sedang memperhatikan guru yang menerangkan di depan. Tapi nyatanya saat ini dia sedang memperhatikan Delon yang sudah mulai memasak. Tubuh kekar Delon kini dilapisi dengan apron biru yang biasanya dia gunakan. Tangan kanan laki-laki itu sedang memegang pisau dan tangan kirinya memegang bawang merah. Delon terlihat sudah terbiasa menggunakan pisau itu. Dari caranya memotong Delon terlihat handal. Sakura mengira mungkin Delon sudah terbiasa memasak sendiri. Sakura tidak tahu apa yang sedang dibuat oleh Delon. Namun dari harum yang tercium oleh hidungnya, Delon sedang menyiapkan hidangan yang lezat. Sakura sibuk dengan pikirannya sendiri. Ini pertama kalinya dimasakkan oleh seseorang setelah kematian Mamanya. Selama ini dia mengurus hidupnya sendiri, bahkan dia juga mengurus keperluan semua orang yang ada di rumah ini. Dan malam ini dia merasa kembali ke Sakura yang kecil. Sakura yang mendapatkan perhatian khusus dan dilayani dengan sepenuh hati. Delon membawa dua piring nasi goreng lengkap dengan telur dadar yang besar hingga menutupi seluruh nasi goreng yang ada di piring. Sakura memperhatikan nasi goreng itu dengan mata berkaca-kaca. Makanannya memang sederhana tapi dia melihat ada ketulusan di sana. Tanpa Sakura sadari, dia mulai merindukan kehidupannya yang dulu. Sakura seperti ingin melawan takdirnya. Dia ingin menyalahkan Tuhan yang sudah membuat hidupnya berantakan. "Astaghfirullah..." Gumam Sakura pelan. Dia beristighfar karena sudah memikirkan hal yang tidak pantas melintas di pikirannya. "Ada apa? Kamu kecewa dengan makanannya?" Tanya Delon dengan terkejut. Dia tidak tahu apa yang membuat Sakura beristighfar tapi dia merasa jika Sakura tidak menyukai hidangan yang sudah dia siapkan. "Bukan begitu. Aku hanya teringat dengan Mamaku." Jawab Sakura pelan. Dia tidak ingin membuat Delon salah paham. Delon tersenyum setelah mendengar pengakuan Sakura. Dia menyodorkan satu piring itu kepada Sakura. "Ayo makan, Ra nanti keburu dingin nggak enak." Kata Delon dengan lembut. Sakura tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya pelan. Dia mulai menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya. Menikmati rasa baru dengan lidahnya. Masakan sederhana yang dihidangkan oleh laki-laki tampan dan rasanya yang bisa diterima oleh mulut dan perut. Sakura ingin memberikan sanjungan namun dia tidak ingin membuat Delon besar kepala. "Enak nggak?" Tanya Delon pelan. Dia menatap Sakura disela-sela makannya. Sakura menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Dia terus melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Delon yang memperhatikannya. Bagi Sakura, dia ingin segera menghabiskan itu dan pergi dari ruang makan. Berlama-lama berada di satu ruangan yang sama dengan Delon membuatnya sedikit tidak nyaman apalagi menerima perhatian-perhatian dari Delon membuat dia ingin merasakan itu terus. Namun karena dia ingat kebenciannya kepada Elmi membuat Sakura ingin memutuskan interaksi dengan Delon juga. "Ya mungkin ini tidak seenak masakan kamu. Tapi selama aku di luar negeri aku sering masak sendiri jadi aku rasa rasanya nggak terlalu berantakan kok." Kata Delon lagi. Dia seolah-olah sedang membanggakan dirinya sendiri. "Ya rasanya memang masih bisa diterima oleh lidah." Sahut Sakura pelan. Delon tersenyum lebar. Dia senang mendapat pengakuan dari Sakura. Ini adalah masakan yang paling benar yang dia masak. Dia sangat hati-hati saat memasukkan bumbu-bumbu. Dia ingin menghidangkan masakan yang sempurna untuk gadis yang spesial juga baginya. Delon ingin memperlihatkan semua kelebihannya kepada Sakura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD