Pandu sibuk dengan aktivitasnya. Sedari tadi dia mondar-mandir menata ini dan itu. Atap gedung yang semula kosong, kini sudah penuh dengan beberapa perabotan. Dua kursi dengan satu meja. Ditambah beberapa tanaman bunga dan juga lampu LED yang belum tertata rapi. Semuanya memang masih terlihat berantakan namun Pandu sudah mulai menatanya. Pandu memilih sudut gedung untuk mengeksekusi barang-barangnya. Karena dia ingin mempermudah semuanya. Memasang lampu LED disepanjang pagar dan menata bunga-bunga itu di setiap sisi meja dan kursi. Ada pula karpet berbulu yang dia siapkan. Tujuannya adalah dia akan mengajak Sakura duduk disana setelah makan malam. Menikmati hiasan-hiasan yang ada dilangit memang lebih nyaman ketika lesehan. Pandu benar-benar sudah merencanakan semuanya dengan matang.
Butuh waktu dua jam untuk Pandu menyelesaikan semuanya. Dia duduk diatas karpet berbulu itu. Dia menatap semuanya dengan fokus. Ini pertama kalinya dia membuat hal semacam ini. Dulu ketika dia masih normal dan mempunyai kekasih, dia sama sekali tidak pernah memberikan kejutan-kejutan seperti ini. Namun, bersama Sakura dia ingin memberikan yang terbaik. Dia ingin mendapatkan pengakuan dari Sakura jika dia laki-laki yang penuh kasih sayang.
"Semoga dia menyukainya." Gumam Pandu pelan. Dia merebahkan tubuhnya dengan nafas yang masih naik turun karena kelelahan.
Pandu sudah merencanakan semuanya dari semalam. Setelah mendengar kabar dari Sakura jika Sakura mendapat pekerjaan dia merencanakan ingin membuat kejutan untuk Sakura. Dia ingin merayakannya dengan Sakura.
Perlahan namun pasti, Pandu sudah terlelap. Mungkin karena dia terlalu lelah setelah menyiapkan kejutan untuk Sakura. Walaupun itu termasuk kejutan yang sederhana namun tetap saja membutuhkan tenaga untuk menyiapkannya.
***
"Mau pulang?" Tanya Delon yang kini sudah berjalan sejajar dengan Sakura.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dia semakin mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai di luar karena seseorang sudah menunggunya.
"Barengan yuk." Ajak Delon menawarkan diri.
"Nggak bisa, aku udah ada janji." Jawab Sakura dengan tegas.
"Pak Delon." Panggil seseorang dengan cukup keras.
Delon menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah memanggilnya begitu juga dengan Sakura. Namun tanpa butuh waktu lama Sakura sudah kembali melanjutkan jalannya. Dia tidak pedulikan Delon yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Pikirannya sudah tertuju kepada Pandu yang saat ini sudah menunggunya di depan.
"Ra, tunggu." Teriak Delon namun dia tidak bisa mengejar Sakura. Delon merasa jika malam ini dia harus melepaskan Sakura sejenak.
"Pak, ini hasil rapat tadi pagi." Kata wanita muda dengan pakaian yang membentuk tubuhnya.
"Kamu bisa taruh ini di meja saya lagian saya ceknya besok pagi." Balas Delon yang sedikit jengkel.
Delon melihat arah Sakura berlari tadi namun sudah tidak melihat gadis itu. Delon menjadi ingin meremas laporan yang ada ditangannya. Dia menatap tajam ke arah sekretarisnya itu namun tidak bisa mengatakan apapun. Delon hanya bisa melanjutkan jalannya dengan langkah gontai. Pulang seorang diri tanpa bersama pujaan hati.
^^^
Suara musik klasik menggema di dalam mobil. Bibir Sakura tidak berhenti ikut menyanyi begitu juga dengan bibir Pandu. Mereka seakan-akan sedang berduet bersama. Setiap syair lagu meluncur dengan lancar seakan mereka sudah menghafal diluar kepala. Alunan demi alunan musik mengalun indah membuat kepada Pandu dan Sakura ikut bergerak seiring musik.
"Kita mau kemana?" Tanya Sakura yang mulai sadar dengan sekitar. Dia tahu ini bukan jalanan menuju tempat biasanya dia menghabiskan waktu bersama Pandu, ini juga bukan jalanan menuju atap gedung yang kemarin malam dia kunjungi bersama Pandu.
Pandu hanya tersenyum melihat Sakura yang sepertinya udah mulai sadar. "Nanti tau sendiri." Jawab Pandu pelan.
Sakura memilih untuk diam saja dan hanya menurut. Dia berpikir jika Pandu tidak akan membawanya ke tempat yang aneh. Sakura menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dia memilih untuk diam saja tanpa banyak bicara.
"Capek ya?" Tanya Pandu pelan. Dia menolehkan kepalanya ke arah Sakura yang terlihat kelelahan.
"Sedikit tapi aku seneng kok." Jawab Sakura sambil tersenyum.
Pandu ikut tersenyum. Ini adalah hari pertama Sakura kerja, dia tahu bagaimana lelahnya seseorang yang baru mulai kerja dan bagaimana rasanya menerima gaji pertama yang didapat dari kerja kerasnya sendiri. Pandu sudah pernah mengalami itu semua tapi satu hal yang belum pernah dia alami, yaitu susahnya mencari pekerjaan dan sakitnya ketika ditolak oleh perusahaan yang dilamar.
"Lelahmu hari ini akan terbayarkan ketika kamu gajian nanti." Kata Pandu menyemangati.
"Kamu udah pernah ngerasain itu?" Tanya Sakura pelan.
Pandu menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Sudah, jadi aku udah faham sama apa yang kamu rasakan saat ini." Jawab Pandu.
"Aku jadi minder sama yang udah berpengalaman." Kata Sakura sambil bercanda. Melihat usia Pandu yang lebih tua darinya membuat Sakura berpikir jika Pandu sudah lebih lama terjun di dunia kerja yang rumit dan keras.
"Kalo di dunia kerja aku nggak ada apa-apanya kok. Masih banyak hal yang harus aku pelajari." Kata Pandu sambil tersenyum. Memang itu kenyataannya. Dia hanya duduk diam di ruangan yang gelap dan menyuruh seseorang untuk mengeksekusi pekerjaannya.
Sakura menganggap jika Pandu sedang merendah tapi kenyataannya apa yang dikatakan oleh Pandu adalah sebuah kebenaran. Dia selama ini selalu bersembunyi tanpa berani menunjukkan diri. Memang benar berkat ide-ide cemerlangnya dia berhasil membuat perusahaan Papanya meningkat pesat namun itu semua tidak ada artinya karena dia tidak pernah ikut rapat. Tidak pernah merasakan susahnya meyakinkan para investor. Tidak pernah merasakan gugupnya di ruang meeting ketika semua anggota menolak rencana yang sudah dibuat. Tidak pernah menangani masalah disetiap cabang. Semua hal yang berhubungan dengan lapangan adalah tugas Gilang jadi dia merasa jika Gilang lah orang yang paling berpengalaman dan ketika suatu saat nanti dia memutuskan untuk keluar dari ruangan gelap itu, dia harus banyak belajar dari sepupunya itu. Mungkin dia akan menganggap Gilang sebagai gurunya.
Pandu menghentikan mobilnya di depan gedung bertingkat. Dia menatap Sakura yang masih memandangi gedung itu tanpa mengedipkan mata. Pandu menyenggol lengan Sakura pelan menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Sakura yang sedikit terkejut menatap ke arah Pandu, seketika dia tersadar dari lamunannya.
"Kok bengong?" Tanya Pandu pelan.
"Ngapain kita kesini?" Tanya Sakura pelan.
"Kita sudah sampai." Jawab Pandu pelan.
"Oh iya." Kata Sakura sedikit gugup.
Pandu turun dari mobilnya setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk gadisnya itu. Dia mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Sakura. Mereka berjalan pelan menuju gedung itu. Sakura hanya menurut saja tanpa memberontak.Suara musik klasik menggema di dalam mobil. Bibir Sakura tidak berhenti ikut menyanyi begitu juga dengan bibir Pandu. Mereka seakan-akan sedang berduet bersama. Setiap syair lagu meluncur dengan lancar seakan mereka sudah menghafal diluar kepala. Alunan demi alunan musik mengalun indah membuat kepada Pandu dan Sakura ikut bergerak seiring musik.
"Kita mau kemana?" Tanya Sakura yang mulai sadar dengan sekitar. Dia tahu ini bukan jalanan menuju tempat biasanya dia menghabiskan waktu bersama Pandu, ini juga bukan jalanan menuju atap gedung yang kemarin malam dia kunjungi bersama Pandu.
Pandu hanya tersenyum melihat Sakura yang sepertinya udah mulai sadar. "Nanti tau sendiri." Jawab Pandu pelan.
Sakura memilih untuk diam saja dan hanya menurut. Dia berpikir jika Pandu tidak akan membawanya ke tempat yang aneh. Sakura menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dia memilih untuk diam saja tanpa banyak bicara.
"Capek ya?" Tanya Pandu pelan. Dia menolehkan kepalanya ke arah Sakura yang terlihat kelelahan.
"Sedikit tapi aku seneng kok." Jawab Sakura sambil tersenyum.
Pandu ikut tersenyum. Ini adalah hari pertama Sakura kerja, dia tahu bagaimana lelahnya seseorang yang baru mulai kerja dan bagaimana rasanya menerima gaji pertama yang didapat dari kerja kerasnya sendiri. Pandu sudah pernah mengalami itu semua tapi satu hal yang belum pernah dia alami, yaitu susahnya mencari pekerjaan dan sakitnya ketika ditolak oleh perusahaan yang dilamar.
"Lelah mu hari ini akan terbayarkan ketika kamu gajian nanti." Kata Pandu menyemangati.
"Kamu udah pernah ngerasain itu?" Tanya Sakura pelan.
Pandu menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Sudah, jadi aku udah faham sama apa yang kamu rasakan saat ini." Jawab Pandu.
"Aku jadi minder sama yang udah berpengalaman." Kata Sakura sambil bercanda.
"Kalo di dunia kerja aku nggak ada apa-apanya kok. Masih banyak hal yang harus aku pelajar." Kata Pandu sambil tersenyum.
Sakura menganggap jika Pandu sedang merendah tapi kenyataannya apa yang dikatakan oleh Pandu adalah sebuah kebenaran. Dia selama ini selalu bersembunyi tanpa berani menunjukkan diri. Memang benar berkat ide-ide cemerlangnya dia berhasil membuat perusahaan Papanya meningkat pesat namun itu semua tidak ada artinya karena dia tidak pernah ikut rapat. Tidak pernah merasakan susahnya meyakinkan pada investor. Tidak pernah merasakan gugupnya di ruang meeting ketika semua anggota menolak rencana yang sudah dibuat. Semua hal yang berhubungan dengan lapangan adalah tugas Gilang jadi dia merasa jika Gilang lah orang yang berpengalaman.
Pandu menghentikan mobilnya di depan gedung bertingkat. Dia menatap Sakura yang masih memandangi gedung itu tanpa mengedipkan mata. Pandu menyenggol lengan Sakura pelan menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Kok bengong?" Tanya Pandu pelan.
"Ngapain kita kesini?" Tanya Sakura pelan.
"Kita sudah sampai." Jawab Pandu pelan.
"Oh iya." Kata Sakura sedikit gugup.
Pandu turun dari mobilnya setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk gadisnya itu. Dia mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Sakura. Mereka berjalan pelan menuju gedung itu. Sakura hanya menurut saja tanpa memberontak.